“Andung-Andung Tao Toba”, Doa dan Solidaritas untuk Tragedi KM Sinar Bangun

“Andung-Andung Tao Toba”, Doa dan Solidaritas untuk Tragedi KM Sinar Bangun

1895
Penyalaan lilin dalam Andung-andung Tao Toba, solidaritas untuk Tragedi KM Sinar Bangun, Taman Budaya Sumatera Utara, Jl Perintis Kemerdekaan No. 33, Medan, Sabtu 30/6/2018 (ist)

Medan, BatakToday

Tidak kurang dari 700 orang warga Kota Medan yang tergabung dalam Forum Harmoni Toba menghadiri acara “Andung-andung Tao Toba” di open stage Taman Budaya Sumatera Utara, Jalan Perintis Kemerdekaan No. 33, Medan, Sabtu (30/6/2018). Kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas atas tragedi tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, Tigaras, Simalungun, Senin sore, (18/6/2018).

Dengan mengenakan t-sirt hitam, para peserta yang umumnya anak-anak muda tersebut mengekspresikan keprihatian atas kejadian ini melalui aktivitas seni budaya. Rasa empati mendalam untuk seluruh korban ditunjukkan dengan memanjatkan doa, aksi teatrikal, musikalisasi puisi, bernyanyi, orasi dan penyalaan lilin.

Masing-masing komunitas tampil secara bergantian dengan performance masing-masing. Martahan Sitohang, yang sengaja datang dari Jakarta untuk kegiatan ini, menampilkan gondang dan seruling sebagai bentuk doa.

“Doa bisa dipanjatkan melalui gondang, dengan bunyian memberi refleksi bagi kita, sekaligus ungkapan belasungkawa bagi semua korban,” kata Martahan.

“Tragedi yang memilukan, yang membuat kita menangis, menjerit tapi tak berdaya. Kita menangis saat melihat orang-orang berhamburan dari kapal mencoba menyelamatkan diri. Namun, entah dimana sebagian dari mereka. Ada yang bilang mereka semua 128, tapi esoknya dikatakan 160 orang. Lalu, tak lama kemudian disebutkan 180 orang. Ada ibu-ibu, anak-anak muda yang sedang bepergian, berlibur menikmati alam. Jangan kau bilang ada anak-anak atau ibu yang tidak bisa berenang, hatiku akan hancur dan air mataku tak kan habis menahan pilu,” sambung Tonggo Simangunsong dalam orasinya.

Salah satu performance dalam Andung-andung Tao Toba, Taman Budaya Sumatera Utara, Jl Perintis Kemerdekaan No. 33, Medan, Sabtu 30/6/2018 (ist)
Salah satu performance dalam Andung-andung Tao Toba, Taman Budaya Sumatera Utara, Jl Perintis Kemerdekaan No. 33, Medan, Sabtu 30/6/2018 (ist)

Ojak Manalu kemudian menegaskan, agar tetap mencintai dan datang ke Danau Toba yang merupakan kampung halaman bersama.

“Danau Toba itu tetap kampung kita bersama, jangan lagi terjadi kejadian yang sama, jangan lagi pemerintah abai terhadap keselamatan, tegakkan peraturan dan benahi semua transportasi danau,” tegasnya.

Untuk diketahui, ketika kegiatan ini berlangsung, pemerintah masih mengupayakan pegangkatan kapal KM Sinar Bangun yang tenggelam di dasar danau berikut dengan para korban.

“Agar kiranya saudara-saudara kita yang belum diangkat ke darat, secepatnya mereka dapat diangkat,” terang Ojak.

Karmel Simatupang salah satu dari panitia menambahkan, Forum Harmoni Toba terbentuk secara spontanitas yang diawali dari diskusi kecil terhadap respons kapal tenggelam. Forum ini terdiri dari berbagai komunitas, diantaranya, Jendela Toba, Rumah Karya Indonesia, Sihoda, Etno Batak Instrumen, Himapsi USU, Parfi Sumut, Nature Batih, Ikatan Mahasiswa Etnomusikologi, Arunika, Sidalanen Etnik, Forum Sisingamangaraja XII, Moderamen GBKP, dan Persatuan Keluarga Batak Medan. (rel/ajvg)