oleh

Arti Sebuah Undangan (C6)

Seorang teman tak datang ke pesta atau hajatan teman yang lain, dengan alasan tidak dapat undangan. Katanya, kurang afdol rasanya datang sebagai tamu tak diundang.

Dia yang ‘kebetulan’ dari puak Simalungun mengatakan, bahkan di masa orangtuanya, biasa si empunya hajatan datang langsung untuk mengundang, dengan membawa napuran (puak Toba menyebutnya demban, atau juga napuran, bahasa Indonesia: sirih).

Seperti biasa, ada beberapa pendapat tentang hal undang mengundang ini, garis besarnya pro dan kontra. Sebagian orang ‘mau’ datang meski tanpa undangan. Dan yang lainnya, tak akan hadir tanpa sebelumnya menerima undangan.

Pernah terjadi dalam satu kumpulan marga di kota ini, satu anggota akhirnya memutuskan keluar, hanya karena merasa diabaikan dalam penyelenggaraan sebuah perayaan. Saat itu dia tidak menerima ‘selembar’ undangan untuk menghadiri. Padahal, pada pembicaraan tentang acara perayaan itu, sebelumnya, sudah diumumkan tanggal-hari-tempat acara itu dilangsungkan.

Begitu berartinya kah sebuah undangan, sehingga untuk hajatan yang sudah diketahui persis juga diharapkan datangnya undangan untuk kita bersedia datang?

Kembali ke napuran atau demban sebagai undangan, yang di beberapa puak pada Bangsa Batak sering dibubuhi dengan ‘kapur-sirih’ bahkan lembaran uang. Zaman dulu, kabarnya, dengan uang ringgit. Pembubuhan ini dimaksudkan sebagai ‘alas’ dari keinginan yang besar agar pihak yang diundang merasa berarti, dan juga sebagai sinyal untuk mempertegas keseriusan si pengundang, atau yang punya hajatan.

Berapa hari yang lalu, Pilkada Siantar sudah melaksanakan pemungutan suara. Kemudian terdengar di penjuru kota, orang-orang ‘ribut’ dengan Formulir C6-KWK, yang dalam hajatan demokrasi di daerah ini berguna dan bertujuan sebagai sebuah undangan kepada warga agar datang memberikan suaranya.

Sama, ada orang bahkan pihak, yang tidak ‘terlalu’ mempermasalahkan tidak sampainya undangan, yang populer dengan sebutan C6, kepada warga yang seharusnya menerima.

Di sisi lain, ada pihak yang keberatan, bahkan protes keras, oleh tidak sampainya C6 sebagai tanda untuk warga, agar hadir memberikan suara dalam hajatan demokrasi ini.

Di sini tidak kita bicarakan lebih jauh tentang C6 yang dibubuhi selembar atau dua lembar uang sebagai tanda keseriusan si “pengundang”, sekaligus menunjukkan betapa berartinya kehadiran pemilih dalam pilkada ini. Apalagi untuk membicarakan lebih jauh apa tujuan dari pembubuhan uang tersebut.

Namun, kita perlu berpikir tentang arti dari sebuah undangan. Jika undangan disampaikan, itu menunjukkan keseriusan penyelenggara, dan mengharapkan kehadiran kita. Arti sebaliknya, jika penyelenggara tidak berupaya agar undangan sampai di tangan kita.

Tentu lain halnya jika kita memang tidak ada hubungan dengan penyelenggaraan hajatan, atau mungkin saja memang terlarang untuk hadir.

Sekali waktu, kerabat sampai datang dua kali untuk menyampaikan undangan untuk memastikan undangannya sampai ke tangan pihak yang diundang.

Pernah juga, undangan orang tak dikenal, ditemukan terselip di celah bawah pintu rumah. Yang satu ini tentu undangan salah alamat… ***

News Feed