oleh

Bantu Polisi Tangkap Politik Uang

Jakarta, BatakToday

Sebagai bentuk partisipasi konkrit dari seluruh anggota dan simpatisan Gerakan Batak Muda Dunia yang berbasis gerakan kebudayaan Batak dan ke-Indonesia-an, untuk melawan praktik Politik Uang, gerakan ini memulai dengan mengajak, mendorong serta memfasilitasi siapapun warga Jakarta, untuk membantu polisi menangkap pemberi maupun penerima dalam politik uang.

Penerima apalagi pemberi adalah penjahat alias kriminal, sesuai peraturan dan perundang-undangan yang ada.  Hal ini diatur Undang-undang Nomor 10 Tahun 2016 sebagaimana perubahan UU Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada, yang mengatur sanksi pidana bagi pihak manapun yang menjalankan praktik politik uang.

Mulyono sebagai anggota kehormatan dalam gerakan Batak Muda Dunia serta mantan Sekretaris Barisan Relawan Jokowi Presiden (BARA JP) di Pilpres 2014 yang lalu, mengingatkan kembali apa yang pernah dikatakan Jokowi (saat itu belum jadi presiden) tentang demokrasi yang harus menggembirakan rakyat.

“Seperti kata Jokowi saat Pilpres dulu, demokrasi haruslah menggembirakan rakyat.  Artinya, pilkada haruslah seperti kita sedang berpesta, makanya disebut pesta demokrasi. Harus menggembirakan semua dan bermartabat. Semua merasa bersatu dalam pesta besar, meski pilihan Paslon berbeda…!” sebutnya tentang hajatan pilkada.

Selanjutnya Mulyono mengatakan,  justru melalui Pilkada seharusnya ikatan persaudaraan bangsa ini semakin menguat, yaitu sebagai satu bangsa, satu bahasa satu tanah air, yaitu Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

“Lawan praktik politik uang yang malah semakin marak dan merajalela, karena akan merusak kegembiraan dan martabat kita sebagai manusia dan bangsa. Jika dibiarkan, usai pilkada ujung-ujungnya akan bikin rakyat makin susah untuk sejahtera dan maju. Karena, politik uang itu, artinya jiwa Rakyat telah dibeli oleh para politisi dan gerombolannya, serta kita akan terpecah-belah,” ujar Mulyono mewanti-wanti.

Hal penting lainnya, Gerakan Batak Muda Dunia mengajak seluruh suku-suku yang ada, penduduk Jakarta, untuk bergerak membantu polisi menangkap pelaku politik uang.

“Waktu yang tersisa memang tak banyak lagi, namun bila semua suku-suku Nusantara yang ada di Jakarta bangkit bahu-membahu, menjadi sebuah gerakan bersama yang besar dan semakin membesar, kita yakin praktek politik uang akan jauh berkurang. Karena, siapapun sesungguhnya tak ada yang ingin ditangkap dan dipenjara, kan? Iya nggak?  Jadi, Paslon yang mana pun terpilih nantinya, rakyat kita telah semakin berdaulat dan bermartabat,“ jelas Sabar Mangadu Tambunan, salah satu inisiator Gerakan Batak Muda Dunia.

Menurut Sabar Mangadu, dengan daulat dan martabat rakyat, siapapun yang akan terpilih jadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta nantinya,  secara otomatis rakyat Jakarta akan mengawasi dan mengawalnya dengan ketat. Karena bila daulat rakyat kuat dan besar, maka otomatis juga bisa lebih menjamin demokrasi akan mampu menyejahterakan dan memajukan rakyat banyak. Namun, bila daulat rakyat lemah seperti selama ini, rakyat hanya akan jadi mangsa empuk bagi kaum politisi busuk, birokrat korup, penegak hukum bengis, beserta gerombolan mafia-nya.

“Di sinilah pentingnya gerakan yang di-inisiasi dan dimotori oleh Batak Muda Dunia ini! Demokrasi adalah kedaulatan terletak ditangan rakyat, sehingga harus terus kita perjuangkan bersama, terus menerus secara berkelanjutan. Karena hal ini tidak otomatis terberikan, melainkan harus diperjuangkan. Tidak hanya pada saat Pilkada ini. Lanjut terus usai Pilkada,” ujar Sabar menyebar semangat gerakan ini.

Nuel, salah satu anggota Gerakan Batak Muda Dunia, saat ditemui di kawasan Cakung Barat, Jumat (06/01), saat bersama teman-temannya sedang memasang spanduk “Tangkap Politik Uang” menyatakan ketertarikannya bergabung dengan gerakan ini, karena merasa hal ini sesuatu yang sangat ‘menantang’ baginya. Sebuah komunitas suku bergerak melawan politik uang.

Dia sendiri berasal keluarga Batak bermarga Hutapea, ibunya juga suku Batak. Dia seperti kedua orangtuanya adalah Batak ‘tulen’. Tetapi, teman-temannya yang turut bersamanya saat itu berasal dari berbagai suku. Ada suku Betawi, Jawa, Sunda, Flores, Dayak, Banjar, bahkan banyak dari ‘hasil’ perkawinan campuran antar suku.

“Di Jakarta ini semua suku ada, juga hasil kawin campur. Mereka ada yang sudah tinggal di jakarta sejak 3 atau 4 generasi diatasnya. Kakek-nenek buyut bahkan kakek-nenek cicit ya… Kami semua ingin bersaudara dan bersatu dalam berdemokrasi atau Pilkada kali ini. Gerakan yang diinisiasi oleh Batak Muda Dunia ini sungguh menggugah kami semua. Andaikan tadinya dimulai lebih awal lagi yaa…, tapi sudahlah…, pokoknya kita gerak sekarang sekuat-kuatnya. Moga warga Jakarta lainnya juga ikut bergerak bersama kami. Bantu Polisi Tangkap Pemberi dan Penerima Politik Uang…!“ tandas Nuel. (rel/ajvg)

News Feed