oleh

Banyaknya pembangunan gedung buat Jakarta makin rentan banjir

Merdeka.com – Wilayah DKI Jakarta makin sulit menahan banjir dikala musim hujan. Berkurangnya daerah resapan akibat berdirinya gedung-gedung menjulang dianggap sebagai penyebabnya.

Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Mudjiadi membenarkan bila penyebab utama banjir Jakarta lantaran minimnya daerah penyerapan. Akibatnya, air hujan tidak lagi bisa diserap lantaran maraknya pembangunan gedung bertingkat.

“Wilayah resapan air sekarang jadi kantor dan mal yang dibangun lebih tinggi dari jalan. Jadi kalau dulu air itu masuk ke tanah, sekarang karena semua dibangun dan dibeton, air itu jadi ke jalan. Dari situ kelihatan bahwa fenomena ini berbeda dengan tahun-tahun dulu,” kata Mudjiadi di Jakarta, Jumat (13/2).

Menurut dia, terdapat tiga parameter banjir, yakni luas genangan, tinggi dan lamanya. Untuk banjir yang terjadi belakangan ini, pihaknya menegaskan ketidakpemilikan sistem drainase di ibukota jadi penyebab utama.

Dalam upaya memecahkan masalah tahunan, Mudjiadi mengaku terus memperbaiki aspek hulu hingga hilir. Untuk daerah hulu, wilayah Puncak, Bogor, Jawa Barat menjadi sasarannya.

Selanjutnya, daerah tengah mulai dari Bendungan Katulampa, Depok dan Jakarta. Terkahir, daerah hilir atau muara yang berada di Utara Jakarta.

“Jadi kalau di hulu, bagaimana hujan yang turun ditahan selama mungkin. Kita lakukan reboisasi dan konservasi. Juga bangun Waduk Ciawi dan Sukamahi,” ujarnya.

Langkah yang sudah dilakukan, untuk wilayah hulu, Kementerian PU-Pera sedang menggarap waduk Ciawi dan Sukamahi. Namun, permasalahan berat justru berada di wilayah muara.

Penurunan tahan 7 cm sampai 10 cm tiap tahunnya, menyebabkan wilayah Utara Jakarta justru kerap diserang banjir rob. Pasalnya, ketinggian tanah makin menurun dibandingkan laut.

Pembangunan Giant Sea Wall dianggap solusi tepat. “Jadi Giant Sea Wall itu adalah keniscayaan, harus dilakukan. Misalnya untuk elevasi-elevasi, kalau tanggul jebol bisa bahaya sekali,” terangnya.

[bim]

News Feed