Hefriansyah akan Terapkan Prinsip “The Right Man On The Right Place”

Walikota Pematangsiantar, Hefriansyah Noor, SE, MM saat memimpin apel gabungan yang pertama setelah dilantik menjadi walikota definitif, Senin 14/8/2017 (ist)

Pematangsiantar, BatakToday

Menempatkan seseorang sesuai dengan kompetensinya sehingga bisa bekerja dengan optimal, akan diterapkan dalam menempatkan pejabat struktural di lingkungan pemko Pematangsiantar, demikian ungkapan Hefriansyah, SE, MM saat memimpin apel gabungan seluruh ASN dan tenaga harian lepas pemerintah kota Pematangsiantar di halaman Balai kota, Jalan Merdeka No.6, Senin (14/8/2017).

“Lebih kurang dua tahun lamanya kota Pematangsiantar mengalami masa transisi kepemimpinan, tentunya dalam  masa transisi ada banyak perubahan yang terjadi, baik  itu perubahan kebijakan, perubahan program, dan perubahan gaya kepemimpinan. Perubahan merupakan hal yang wajar sebagai sebuah dinamika  dalam pemerintahan,” sebut Hefriansyah.

Dilanjutkannya lagi, seluruh ASN harus meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan.

“Namun, apapun perubahan yang terjadi, integritas, loyalitas, dedikasi, etos kerja sebagai aparatur sipil negara dalam peningkatan kinerja dan kualitas pelayanan harus diperkuat,” ujarnya.

Baca juga berita: Hebat kalau Nyata! Plh Walikota Siantar Perintahkan OPD Hentikan Korupsi

Selain itu Walikota juga menjelaskan, bahwa pada masa sekarang ini kita dihadapkan dengan tantangan yang lebih kompleks dalam mengemban amanah masyarakat kota Pematangsiantar.

“Kita dituntut bekerja tidak lagi sekedar biasa bahkan harus luar biasa. Masyarakat kota Pematangsiantar menaruh harapan besar kepada kita, guna mewujudkan kota yang lebih mantap, maju dan jaya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya menghimbau kepada kita semua, untuk meningkatkan kapasitas individu sebagai wujud profesionalitas, serta melakukan berbagai inovasi guna peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat,” demikian disampaikannya dalam apel perdananya setelah resmi dilantik Gubernur Sumatera Utara sebagai Walikota definitif di Aula Martabe Kantor Gubsu Jalan Dionegoro Medan, Kamis (10/08/2017) (rel/ajvg)

Foto Hantu di Gunung Sinabung…

Foto MG 5103 adalah foto yang di ambil pada jam 1:31 AM. Lokasi pemotretan persis sama dengan lokasi pemotretan foto MG 5010. Di foto ini terlihat sebuah garis cahaya melengkung memanjang yang kelihatan seperti berasal dari belakang Gunung Sinabung. Pemotretan dilakukan dengan teknik long exposure sekitar 1507 detik (Foto: Hotli Simanjuntak)

Oleh: Hotli Simanjuntak*)

Pasca meletusnya gunung Sinabung, banyak cerita supernatural yang merebak di kalangan masyarakat Karo. Bahkan ada yang percaya bahwa, penunggu gunung yang dikenal sebagai seorang wanita bermarga Sembiring, sedang marah akibat ulah manusia yang tidak mau menjaga dan menghormati lingkungan di sekitar Gunung Sinabung. Gunung Sinabung merupakan gunung berapi yang sudah hampir 4 abad tertidur. Gunung ini terletak di Tanah Karo Sumatera Utara, sekitar 60 km dari kota Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara.

Saya adalah termasuk orang yang agak sukar mempercayai soal-soal yang sifatnya supernatural ataupun mistis. Ketidak percayaan akan hal-hal yang gaib dan mistis ini diperkuat dengan hobby saya yang suka memotret dan bekerja sebagai fotografer. Sebagai seorang fotografer, saya selalu berhadapan dengan hal-hal yang sifatnya logic dan masuk akal. Karena fotografi juga selalu menyajikan hal-hal yang logic dan rasional melalui hasil-hasil jepretan kamera.

Ketika saya ditugaskan untuk meliput gunung Sinabung yang sedang aktif, saya mendapati pengalaman yang aneh dan menurut saya agak sedikit mistis dan agak sulit dijelaskan dengan logika akal sehat. Saya berhasil memotret penampakan kelebat cahaya yang turun dari balik gunung Sinabung. Beberapa orang lokal yang saya tanya, mengatakan bahwa berkas cahaya yang terekam di kamera saya adalah bayangan “hantu” yang sedang melintas di daerah Tiga Pancur, Simpang Empat, Tanah Karo Sumatera Utara. Bayangan yang ditangkap oleh kamera tersebut tidak memiliki wujud yang jelas, hanya berkas cahaya yang kelihatannya datang dari balik Gunung Sinabung menuju ke tempat saya memotret.

Foto “hantu” tersebut berhasil saya tangkap secara tidak sengaja dengan menggunakan teknik long exposure, yaitu membuka rana kamera selama mungkin agar sensor penangkap image dan cahaya yang ada di dalam kamera mampu memotret objek yang ada di depannya. Hal ini dilakukan karena cahaya sangat sedikit, jadi perlu waktu yang lama dibutuhkan sensor untuk menangkap objek dengan minim sinar. Dari metadata yang saya lihat di foto tersebut, rana kamera membuka selama 1507 detik, atau setara dengan 25,11 menit, atau kira-kira setengah jam. Dijepret pada tanggal 4 September 2010, pukul 1:31 AM dengan menggunakan kamera Canon EOS 20D.

Mungkin bagi orang-orang yang memiliki pandangan yang logis dan tidak percaya soal hal yang mistis-mistis, mesti mereka mengatakan bahwa itu adalah rekayasa digital. Apalagi saat ini sangat banyak program-program komputer yang bisa melakukan manipulasi foto secara canggih. Saya tidak akan mempersalahkan pendapat mereka. Namun, saya yakin bahwa jika mereka mengalaminya secara pribadi, pastilah menimbulkan pertanyaan yang sama dengan yang ada di kepala saya saat itu, yaitu betulkah ini foto “hantu”?

Baca juga: Tobatak Festival 2017: Penampakan saat Tongam Sirait dan Viky Sianipar “Bersama…

Sejak sore hari pada tanggal 3 September 2010, saya memang sudah berniat untuk hunting foto gunung Sinabung dengan menggunakan teknik long exposure. Ketika sampai di sebuah warung, di desa Tiga Pancur, Tanah Karo, saya langsung memasang tripot dan mulai memotret. Karena tidak puas dengan hasil jepretan yang pertama, saya mengulangi lagi hingga beberapa kali dengan pola dan exposure timing yang berbeda. Dari beberapa foto yang saya hasilkan, saya tertarik dengan foto yang ke 3.

Sesaat setelah saya melihat foto tersebut, saya tertegun dan sedikit bergidik. Dalam frame yang ke-3 tersebut saya melihat berkas sinar aneh yang terekam di dalam foto saya. Saat itu suasana di warung yang terletak di tepi lembah tersebut memang terasa agak seram. Ditambah dengan udara dingin yang sangat menusuk, membuat siapa saja merasa bergidik dan tidak nyaman. Warung tersebut terletak di tepi jurang yang langsung berhadapan dengan gunung Sinabung. Secara fotografis view-nya memang sangat bagus untuk memantau gunung Sinabung.

Saya akhirnya memutuskan untuk menunjukkan foto tersebut kepada rekan-rekan jurnalis yang saat itu istirahat di warung tersebut. Mereka juga heran dan tidak bisa menjelaskan apa gerangan yang tertangkap oleh kamera saya tersebut. Perdebatan panjang terjadi di kalangan jurnalis yang ada di warung tersebut. Tapi tak ada satu pendapatpun yang bisa menjawab bayangan apa yang ada di foto saya tersebut, kecuali pendapat pemilik warung, yang mengatakan bahwa itu merupakan bayangan “hantu” penjaga wilayah tempat warung itu berdiri.

“Hantu penjaga di sini menyerupai ular panjang. Tapi dia tidak pernah mengganggu orang.  Mungkin dia sedang memperlihatkan dirinya bang” kata pemilik warung.

Informasi yang diberikan pemilik warung diamini oleh salah sorang penduduk desa Tiga Pancur yang kebetulan sedang berada di warung tersebut.

“Daerah ini merupakan daerah tempat membuang mayat pada jaman Belanda dulu. Daerah ini termasuk daerah angker. Banyak orang yang melintasi jalan ini melihat sesosok ular sedang melintas di jalan, tapi mereka tidak pernah melihat kepalanya” kata warga Kampung desa Tiga Pancur tersebut.

Foto itu menjadi perdebatan antara percaya atau tidak. Bahkan beberapa kawan Jurnalis mengatakan bahwa foto itu merupakan foto dahan atau kunang-kunang yang sedang melintas di depan lensa, dan menyarankan saya untuk menjepret ulang di tempat yang sama. Setelah di ulang, ternyata tidak ada cahaya apapun seperti foto yang ke-3 tadi.

Setelah diteliti dengan seksama, argumen soal dahan tidak bisa diterima, karena lokasi tempat meletakkan kamera berada di lokasi terbuka yang tidak terhalang oleh apapun. Kemudian argumen soal kunang-kunang juga tidak bisa diterima dengan akal sehat, karena jika ada kunang-kunang yang melintas di depan kamera, maka image yang timbul tidak akan menyerupai garis yang sangat rapi, sebab image itu dibuat dengan teknik long exposure. Kalau melihat pola garis cahayanya, pastilah objek yang melintas tersebut bergerak sangat perlahan dan sangat teratur. Sedangkan kunang-kunang terbangnya tidak memiliki pola yang rapi seperti garis yang ada di foto.  Akibatnya, sepanjang malam kita masih membahas dan bertanya soal apa sebenarnya yang terekam di foto ini?

Foto MG 5101 adalah foto yang diambil pada jam 12:24 AM. Dalam foto itu terlihat jelas TIDAK ada garis cahaya seperti foto MG 5103. Yang ada hanya garis cahaya membentuk leter S di bawah foto. Cahaya ini muncul dari cahaya mobil yang bergerak di jalan, tepat di bawah warung lokasi pemotretan. Pemotretan di lakukan dengan teknik long exsposure sekitar 237 detik. (Foto: Hotli Simanjuntak)
Foto MG 5101 adalah foto yang diambil pada jam 12:24 AM. Dalam foto itu terlihat jelas TIDAK ada garis cahaya seperti foto MG 5103. Yang ada hanya garis cahaya membentuk leter S di bawah foto. Cahaya ini muncul dari cahaya mobil yang bergerak di jalan, tepat di bawah warung lokasi pemotretan. Pemotretan di lakukan dengan teknik long exsposure sekitar 237 detik. (Foto: Hotli Simanjuntak)

Jikalau pertanyaan itu dilempar ke saya saat ini, saya hanya bisa angkat tangan dan menjawab tidak tahu. Tapi, beberapa hari sebelum foto “hantu” tersebut terekam di kamera, saya juga mengalami hal-hal yang menurut saya aneh.

Seingat saya, pada tangal 2 September 2010, saya merasa sangat gelisah dan sangat takut berada di dekat Gunung Sinabung. Padahal, saya sudah berada di wilayah desa Suka Nalu semenjak tanggal 30 Agustus 2010.

Sejak Gunung Sinabung meletus, banyak jurnalis yang memutuskan untuk tinggal sedekat mungkin dengan puncak Gunung Sinabung agar bisa terus-menerus memantau keadaan gunung dari dekat. Meski hal tersebut sebenarnya sangat beresiko. Namun demi kepentingan masyarakat banyak, terkadang para jurnalis tidak mempertimbangkan soal keselamatan.

Saya bergabung dengan kelompok jurnalis yang menurut saya berani. Kita memutuskan untuk tinggal di desa Suka Nalu, Kecamatan Simpang Empat. Di desa ini, kita tinggal di sebuah mesjid. Di sinilah kami menetap dengan ditemani oleh satu group polisi Brimob yang ditugaskan untuk menjaga desa Suka Nalu yang sudah ditinggalkan oleh para penduduknya.

Tanggal 2 September 2010, sejak subuh, para jurnalis sudah berangkat ke arah desa Berekah, sekitar 1 kilometer dari desa Suka Nalu. Saat sedang asyik memotret, kita mendengar kabar bahwa di desa Suka Nalu akan ada upacara ritual untuk berkomunikasi dengan penunggu gunung. Saya dan beberapa teman langsung menuju desa Suka Nalu. Namun di tengah jalan saya melihat ada satu keluarga yang sedang memetik cabe, dan saya akhirnya memutuskan untuk berhenti dulu dan memotret keluarga yang sedang memanen cabe tersebut.

Puas memotret, saya memutuskan untuk ke Suka Nalu mengejar momen ritual tolak bala yang diadakan oleh beberapa dukun yang diyakini memiliki hubungan spiritual dengan penjaga gunung Sinabung. Namun ternyata saya terlambat dan upacara tersebut sudah berakhir sebelum saya tiba.

Beberapa saat kemudian, teman saya Mahdi Muhammad dari Harian Kompas mengabarkan bahwa ada peserta lain yang akan melakukan ritual tolak bala. Mereka akan mengadakan upacara di tepi danau Lau Kawar di kaki gunung Sinabung. Belakangan saya tahu bahwa mereka berasal dari Jaringan Doa Indonesia yang akan berdoa bersama agar Gunung Sinabung tidak meletus.

Dalam perjalanan menuju Lau Kawar, bersama teman Hasbi Azar yang mengemudikan mobil saya secara tidak sengaja menoleh ke puncak Gunung Sinabung. Saat menoleh tersebut, tiba-tiba saya merasa tersentak dan ketakutan sendiri.

“Kok gunung ini kelihatan seram ya Hasbi, saya kok merasa sedang berada di hadapan sebuah raksasa yang ingin menelan saya” ucapku kepada Hasbi.

“Mungkin itu perasaanmu saja Hot” kata Hasbi menenangkan.

Sejak saat itu, jantung terasa berdegub kencang dan merasa ingin segera meninggalkan kaki Gunung Sinabung saat itu juga. Kita memutuskan untuk berkeliling di sekitar kaki gunung Sinabung untuk memotret keadaan sekitarnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke base-camp di Mesjid Desa Suka Nalu.

Pukul 22:01 Wib malam itu, kita menerima sebuah peringatan dari wartawan Kompas, Mahdi Muhammad yang baru saja menerima SMS dari PVMBG bahwa Gunung Sinabung menunjukkan aktifitas yang mengkhawatirkan. Diduga gunung akan segera meletus.

Peringatan tersebut ternyata diterima oleh kelompok Brimob yang sedang berjaga-jaga di luar mesjid. Tak beberapa lama, Brimob tersebut langsung meninggalkan desa Suka Nalu tanpa memberitahu apa yang sedang terjadi. Melihat anggota Brimob kabur, para jurnalis yang tadinya tenang-tenang langsung bergegas untuk menyelamatkan diri dan meninggalkan desa Suka Nalu sesegera mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Semua jurnalis akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke desa Perteguhan, sejauh kira-kira 8 kilometer dari puncak gunung. Kita memutuskan untuk beristirahat di mesjid yang ada di desa Perteguhan.

Tepat pukul 4:40 Wib tanggal 3 September 2010, Gunung Sinabung kembali meletus untuk yang ke 3 kalinya. Suara letusan gunung menyerupai bunyi suara jet yang terbang di atas kepala. Para jurnalis yang sedang tertidur, langsung terbangun dengan kocar-kacir untuk menyelamatkan diri. Kondisi kocar-kacir juga terjadi di tengah-tengah masyarakat yang ketakutan. Mereka langsung meninggalkan desa untuk mengungsi ke kota Kabanjahe.

Di dalam hati saya merasa beruntung karena insting dan ketakutan saya pada siang harinya membuat saya merasa awas. Perasaan gelisah yang saya alami ternyata merupakan tanda-tanda bahwa saya harus segera meninggalkan daerah sekitar puncak gunung Sinabung.

Pengalaman-pengalaman seperti ini terus-menerus menghinggapi perasaan saya. Setiap saya merasa tidak nyaman dan merasa gelisah, maka akan diikuti dengan aktifitas gunung Sinabung. Mulai dari meletus hingga hanya sekedar mengeluarkan debu vulkanik.

Setelah berada di kawasan kaki Gunung Sinabung selama 7 hari, pada tangal 6 September 2010, akhirnya kantor menarik dan memerintahkan saya untuk pulang ke Banda Aceh. Saat meninggalkan desa Beras Tepu, tempat para jurnalis meliput pasca letusan tangal 3 September 2010, perasaan gelisah dan takut kembali menerpa. Esoknya, pada tanggal 7 September 2010, Sinabung kembali meletus dan meleparkan debu vulkanik setinggi 5000 meter dan menebarkan debunya hingga sejauh 8 kilometer dari puncak gunung.

Kembali ke soal foto “hantu”, sebenarnya secara fotografis hantu bisa tertangkap oleh kamera. Karena kamera dilengkapi oleh sensor yang sangat sensitif dengan cahaya. Bahkan ada cahaya yang tidak bisa di tangkap oleh mata telanjang, mampu di tangkap oleh sensor kamera. Misalnya sinar Ultra Violet maupun sinar Infra Merah. Salah satu ahli fotografi, Dale Kaczmarek pernah membuat ‘ramuan’ dan teknik fotografi yang dipercaya bisa menangkap gambar hantu. Jadi memotret hantu bukanlah hal yang mustahil dilakukan, apalagi dengan menggunakan kamera digital.

Selain secara tak sengaja, hantu juga bisa di potret secara sengaja melalui “hunting” foto hantu. Secara teknis tidak banyak keahlian maupun peralatan yang dibutuhkan. Bisa dengan kamera analog atau kamera digital. Yang pasti tripot dan kabel release adalah peralatan yang penting untuk digunakan dalam hunting foto hantu. Bagi kamera analog, film infra merah adalah media yang bagus untuk memotret hantu. Satu lagi alat yang tak kalah penting dibanding peralatan kamera adalah “keberanian” untuk bertemu hantu itu sendiri

Selain teknis fotografi, ada pendekatan khusus yang harus dilakukan untuk bisa memotret hantu, yaitu pendekatan secara gaib melalui getaran komunikasi dengan hantu itu sendiri. Bagi orang yang sensitif, biasanya mereka memiliki tenaga dan aura yang mampu menangkap kehadiran mahluk halus dan mahluk gaib di sekitarnya. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan hantu ini bisa menjadi penentu berhasil tidaknya kita memotret hantu tersebut. Jika kita mampu mengajak hantu tersebut jalan-jalan ke alam manusia, maka kesempatan kita untuk memotret hantu tersebut sangat besar. Jika kita tidak punya kemampuan itu, maka berharaplah bahwa keberuntunganlah yang membawa si hantu ke dunia manusia dan sejenak berpose di depan kamera anda.

Tulisan ini juga tidak bermaksud mengajak anda untuk percaya kepada hantu. Namun lebih kepada memaparkan fakta-fakta ilmiah melalui teknik fotografi yang pada kenyataanya mampu merekam kehadiran mahluk gaib dari dunia yang berlainan dimensi dengan manusia.

*) Penulis adalah seorang ‘Writer’ di The Jakarta Post dan Fotografer anggota EPA European Pressphoto Agency. Tulisan ini sebelumnya telah diposting sebagai ‘Note’ di akun media sosial Facebook, atas nama penulis sendiri, Hotli Simanjuntak, pada 17 September 2010, pukul 23:04 Wib.

Tobatak Festival 2017, Nadine: “Sekarangpun Sudah Ingin untuk Kembali ke Tuktuk”

Nedine Beiler, dalam salah satu penampilannya di Open Stage Tuktuk Siadong, Tobatak Festival 2017, Sabtu malam 12/8/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Tuktuk Siadong, Bataktoday

Nadine Beiler yang tampil ‘all out’ dalam penampilannya di Open Stage Tuktuk Siadong, Tobatak Festival 2017 atau Samosir Music International 2017, menyebut energi yang dimiliki penonton malam itu tidak dapat dia bandingkan dengan penonton yang menyaksikan penampilannya di tempat lain.

“Saya pernah tampil di televisi, dengan 300 juta-an pemirsa. Untuk live show, menyanyi di panggung, langsung di hadapan 60 ke 100 ribu-an penonton. Jumlah penonton malam ini bukan rekor buat saya, tetapi energi yang mereka miliki, menurut saya, tidak dapat dibandingkan dengan penonton di manapun,” ujar Nadine.

“I’m feeling really great, and it’s amazing…!” sambung Nadine lagi.

“Malam ini saya menyanyi di depan penonton yang sangat cool, dan begitu banyak penonton yang menyanyi bersama-sama dengan saya malam ini. Sekali lagi, ini sangat luar biasa buat saya…!” Nadine tak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Saat tampil untuk beberapa nomor lagu Batak bersama Hermann Delago yang malam itu ‘Batak kali’, seperti juga tahun-tahun sebelumnya, Nadine mendapat sambutan hangat dari penonton yang merangsek ke depan panggung.

Hingga melewati tengah malam, Nadine Beiler bertahan di panggung untuk ‘menghadapi’ serbuan sejumlah penonton untuk berfoto bersama dengannya.

Nadine menyebut sangat menikmati pertunjukan di depan penonton yang begitu bersemangat malam itu. Baginya itu sangat luar biasa, bahkan menurutnya akan terbawa hingga ke Sri Lanka, tempatnya berlibur sepulangnya dari Tuktuk, Pulau Samosir-Danau Toba.

“Sekarang saja pun, saya sudah sangat ingin untuk kembali ke tempat ini tahun depan, Tuktuk…!” akunya, dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajahnya.

Entah Nadine Beiler masih akan kembali ke Open Stage Tuktuk Siadong…, entah dia tahu kalau banyak penonton di Open Stage yang ‘menggilai’nya sejak malam itu. Tapi yang pasti, dengan keramahan dan gaya penuh canda, sebelum berpisah dengan Bataktoday, malam itu dia menyanyikan penggalan salah satu lagu yang baru saja dibawakannya di panggung.

Sepenggal syair dari lagu yang berjudul ‘Rap’, ciptaan Adolin Sibuea (AHA Band). Apakah Nadine Beiler mengerti arti syair itu? Atau, mengira akan terlupakan, setelah apa yang dia berikan kepada semua orang di Open Stage Tuktuk Siadong malam itu? Atau, apakah Nadine masih akan terlupakan setelah apa yang telah dia berikan untuk Pulau Samosir, dan untuk Danau Toba…???

“Rap, sai nimmu tu ahu… Dung tundalanmau, lupa do ho….” 

(Ikut, selalu kau katakan padaku… Setelah di belakangku, kau lupa…)

(ajvg)

#tobatakfestival2017 #samosirmusicinternational2017 

#tobatakfestival #tobatak #samosirmusicinternational 

#tuktuksiadong #tuktuk #hermanndelago #nadinebeiler

Tobatak Festival 2017: Penampakan saat Tongam Sirait dan Viky Sianipar “Bersama Lagi”

Sebuah 'penampakan' yang ditangkap kamera saat penampilan bersama Tongam Sirait dan Viky Sianipar, Open Stage Tuktuk Siadong, Tobatak Festival 2017, Sabtu 12/8/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Tuktuk Siadong, BatakToday

Sebuah ‘penampakan’ tertangkap kamera BatakToday saat Tongam Sirait dan Viky Sianipar tampil bersama, sepanggung, dalam Tobatak Festival 2017, di Open Stage Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Samosir, Sabtu malam (12/8/2017).

Dalam penampilan keduanya pada festival yang juga dikenal sebagai Samosir Music International 2017, terlihat adanya ‘penampakan’ berupa sepasang tangan yang kerap diartikan sebagai isyarat tangan saat menyampaikan permohonan kepada yang tentunya ‘lebih tinggi’ dari si pemohon.

Viky Sianipar sendiri saat bersama di panggung, Open Stage Tuktuk Siadong, menyampaikan gambaran perasaannya setelah dapat tampil bersama, dengan Tongam Sirait setelah 10 tahun lebih ‘berpisah, sejak terakhir kali mereka merilis lagu Nommensen.

“Menjadi kebahagiaan tersendiri pada malam ini dapat tampil bersama lagi dengan Tongam, setelah 10 tahun lebih berpisah,” sebut Viky disambut gemuruh dukungan dan tepuk tangan puluhan ribu penonton, menjelang tengah malam. (Bukan 7 tahun seperti diberitakan sebelumnya.)

Baca juga berita: Tobatak Festival 2017: Tongam Sirait dan Viky Sianipar, Reuni setelah Tujuh…

Saat disinggung tentang kemungkinan dan harapan untuk dapat bersama dalam berkarya atau berkolaborasi dengan Viky, Tongam yang ditemui BatakToday di panggung setelah seluruh acara pada malam itu usai, secara diplomatis memberi jawaban bahwa semuanya tergantung kesesuaian antara mereka.

“Bisa saja kami sama-sama lagi jika masing-masing menemukan ada kecocokan,” ujar Tongam singkat, dan kemudian meladeni para penggemarnya yang meminta untuk foto bersama.

Penampilan mereka malam itu diisi dengan beberapa nomor lagu dari album hasil kolaborasi bersama, yang sudah sangat akrab di telinga para penonton, terutama orang-orang muda yang mengambil posisi di depan panggung. (ajvg)

#tobatakfestival2017 #samosirmusicinternational2017 

#tobatakfestival #tobatak #samosirmusicinternational 

#tuktuksiadong #tuktuk #hermanndelago 

#vikysianipar #tongamsirait

Tobatak Festival 2017: Tuktuk Siadong jadi “Kota Baru”

Tuktuk Siadong, BatakToday

Menyambut penyelenggaraan Tobatak Festival 2017, Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir, ‘berubah’ suasananya ibarat di tengah sebuah kota, Sabtu malam (12/8/2017).

Manusia dan kendaraan berdatangan menuju kawasan Open Stage yang berada di jantung kawasan wisata ini.

Pengunjung yang datang menumpangi kapal danau yang berangkat dari pelabuhan Tigaraja, Parapat, terlihat berombong-rombongan mendarat hingga awal malam ini.

Demikian juga kendaraan yang menyeberang dari Ajibata ke Tomok, maupun dari Tigaras ke Simanindo, semakin memadati jalan poros Tuktuk.

Lalu lintas mulai macet, pengemudi kurang sabar dan mencoba menjangkau tempat parkir dekat dengan lokasi pertunjukan, Sabtu malam 12/8/2017, pukul 19.45 Wib (Foto: Arif JV Girsang)
Lalu lintas mulai macet, pengemudi kurang sabar dan mencoba menjangkau tempat parkir dekat dengan lokasi pertunjukan, Sabtu malam 12/8/2017, pukul 19.45 Wib (Foto: Arif JV Girsang)

Kemacetan parah mulai terjadi sekitar pukul 19.45 Wib. Hal ini terutama disebabkan pengendara, terutama mobil, memaksakan untuk parkir atau menjangkau tempat acara, Open Stage Tuktuk Siadong.

Petugas dari Kepolisian dibantu warga setempat terlihat kelabakan mengarahkan para pengemudi mobil agar memarkir kendaraannya jauh sebelum lokasi pertunjukan.

Acara yang telah dimulai sejak sore, saat ini disambut cuaca cerah berangin sejuk, setelah sebelumnya sempat diragukan bakal terganggu oleh hujan, seperti di ‘seberang danau’, daratan Sumatera.

Diperkirakan, beribu orang masih dalam perjalanan menuju Tuktuk hingga pukul 21.00 Wib, menjelang puncak dari pertunjukan musik malam ini. (ajvg)

Tobatak Festival 2017, Nadine Beiler: Bandingkan Lagu ‘Didia Rokkaphi’ dengan ‘Don’t Cry for Me Argentina’

Nadine Beiler, penyanyi asal Austria yang tampil di Tobatak Festival 2017, di Open Stage Tuktuk Siadong, Samosir (Foto: Arif JV Girsang)

Pematangsiantar, BatakToday

Nadine Beiler, penyanyi asal Austria yang akan tampil di Open Stage Tuktuk Siadong, Samosir, dalam Tobatak Festival 2017 atau dikenal juga sebagai Samosir Music International 2017, menyebut, bahwa baginya lagu ‘Didia Rokkaphi’ seperti menyanyikan ‘Dont’t Cry for Me Argentina’.

Lagu ‘Didia Hokkaphi’, salah masterpiece (karya terbaik) di blantika musik pop Batak, karya Dakka Hutagalung. Lagu ‘Don’t Cry for Me Argentina’, ditulis Tim Rice dan direkam pertamakali dalam album Julie Covington pada tahun 1976, dan kemudian dipopulerkan juga oleh Madonna.

“Seperti lagu ‘Didia Rokkaphi’, bagian liriknya ‘unang sai marsak ho, unang sai tangis ho’, itu sangat menyenangkan dan nadanya mudah bagi saya. Bagi saya, menyanyikan lagu ini seperti menyanyikan lagu Don’t Cry for Me Argentina. Pada bagian ‘all through my wild days, my mad existence’, iramanya sama,” sebut Nadine, sembari menyanyikan potongan dari kedua lagu seperti disebut di atas, dan kemudian tertawa lepas.

Ketika bersama salah satu jurnalis yang hadir dalam konperensi pers pagi tadi, ditanyakan tentang faktor kesulitan dalam mempelajari lagu-lagu Batak yang dibawakannya dalam tournya di Indonesia, Nadine menyebut tidak terlalu sulit.

“Pengucapan kata dalam Bahasa jerman tidak terlalu berbeda dengan bahasa Batak, bagaimana menuliskannya begitu juga membacanya. Sehingga tidak terlalu sulit bagi saya untuk menyebutkan lirik lagu berbahasa Batak. Kemudian saya juga mendengarkan lagu-lagu Batak melalui Youtube, dan mencoba untuk menyanyikannya,” sebutnya.

Penyanyi Austria ini eksis dengan genre musik Soul dan R&B, dan menjuarai Starmania 2007, sejenis kontes idol di negerinya. Kemudian dia mewakili Austria di Eurovision 2011. Dia memiliki penilaian tersendiri tentang irama dan melodi dalam lagu-lagu Batak yang didengar dan dipelajarinya.

“Saya tentu belum mendengar cukup banyak lagu Batak. Tapi dari yang saya dengar, irama dan melodinya sangat menyenangkan, saya menyukainya,” ujar Nadine dengan ekspresi menunjukkan rasa senangnya.

Nadine Beiler (Foto: Arif JV Girsang)
Nadine Beiler (Foto: Arif JV Girsang)

Nadine menambahkan lebih spesifik lagi, sangat menyukai nada dan irama lagu-lagu Batak yang dimainkan dengan ‘suling’. Dia juga telah meminta Hermann Delago, tokoh dibalik kesediannya untuk tampil di Tobatak Festival 2017, agar mengaransir lagu dalam versi Batak untuk albumnya yang akan datang.

“Saya minta Hermann Delago untuk mengaransir lagu dalam komposisi Batak untuk album saya yang akan datang. Isteri Hermann yang orang Batak tentu akan membantu untuk menerjemahkan dan menuliskan lagu-lagu itu ke dalam lirik Batak,” terang Nadine.

Sebelum berpisah dengan Nadine Beiler, dia kesulitan untuk mengingat dan menyebut nama jurnalis BatakToday. Setelah dicoba memberi titian ingatan dengan kata wiseman, Nadine langsung menyanyikan penggalan lagu yang begitu populer dari Elvys Presley, “I Can’t Help Falling in Love with You”.

“Wise men say, only fools rush in…. But I can’t help, Fallin in love with you…” lantunnya, dan tertawa kocak setelah ‘berhasil’ menyebut nama jurnalis BatakToday.

Nadine Beiler dan Bataktoday berpisah di Sapadia Hotel, pagi menjelang siang, dengan ‘janji’ akan bertemu lagi di Tuktuk Siadong-Samosir, untuk Tobatak Festival 2017…!!! (ajvg)

#tobatakfestival2017 #samosirmusicinternational2017 

#tobatakfestival #tobatak #samosirmusicinternational 

#tuktuksiadong #tuktuk #hermanndelago #nadinebeiler

 

Tobatak Festival 2017: “Love and Trust”

Project Manager Tobatak Festival 2017 Henry Manik (paling kiri, depan), Bintang Kabid Promosi Dinas Pariwisata Samosir Bintang Naibaho Naibaho (kedua dari kiri, depan), berpose bersama seusai Konperensi Pers untuk menyambut Tobatak Festival 2017, di Sapadia Hotel, Pematangsiantar, Kamis 10/8/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Pematangsiantar, Bataktoday

Tobatak Festival 2017 terselenggara dengan didasari oleh dua hal, yaitu Love (cinta) dan Trust (kepercayaan). Demikian disebutkan oleh Robintang Naibaho, Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir, dalam konperensi pers, Kamis pagi (10/8/2017) di Sapadia Hotel, Pematangsiantar, untuk menyambut pelaksanaan even seni budaya yang juga dikenal dengan Samosir Music International 2017.

Robintang Naibaho menyampaikan, festival tersebut tidak akan terselenggara jika tidak ada rasa cinta dari pihak yang terlibat, dan rasa percaya dalam persiapan dan pengelolaan even.

“Jika tidak ada rasa cinta akan Batak, cinta Danau Toba, cinta untuk musik, ini tidak akan terjadi. Kemudian yang kedua, rasa percaya. Mustahil kita, Samosir (maksudnya Pemerintah Kab. Samosir,-red.), menyelenggarakan even internasional, jika tidak ada rasa percaya kepada seseorang. Dan saat ini saya ungkapkan, Pemerintah Kabupaten Samosir sangat percaya kepada Project Manager even ini, yaitu tulang Henry Manik. Kami percaya kepada beliau, bahwa even ini akan menjadi lebih menarik,” demikian disampaikan Robintang, sekaligus menyampaikan apresiasinya kepada Henry Manik sebagai Project Manager Tobatak Festival 2017.

Bintang Naibaho, Kabid Promosi Dinas Pariwisata Samosir (Foto: Arif JV Girsang)
Robintang Naibaho, Kabid Promosi Dinas Pariwisata Samosir (Foto: Arif JV Girsang)

Disampaikannya juga harapan ke depan, agar Henry Manik tetap bersedia untuk mengelola even ini secara berkelanjutan.

“Dan tahun depan, mudah-mudahan, tulang Henry tidak berpindah ke lain hati, tetap menjadikan even ini menjadi salah satu bagian dari Samosir Fiesta 2018,” sebutnya tentang harapannya, yang juga menjadi harapan Pemerintah Kabupaten Samosir.

Robintang juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran dan keterlibatan para penampil dalam Tobatak Festival 2017. Diantara penampil yang hadir saat itu adalah Hermann Delago Manik, Tongam Sirait, Nadine Beiler, JB Band dari Austria, Bernadeta Astari, Yosphine Madju, Jay Bano Band (JB Band), dan Lisa Supadi.

Secara khusus dia menyampaikan terimakasih dan apresiasinya kepada Hermann Delago, yang dia sebut sebagai salah satu ‘roh’ dari kegiatan tersebut.

“Kami menyampaikan terimakasih atas kehadiran dan keterlibatan semua penampil dalam festival ini. Dan secara khusus menyampaikan penghargaan kepada Herman Delago, yang kami menyebutnya sebagai salah satu ‘roh’ dari Tobatak Festival,” ujar Robintang, setelah sebelumnya menyebutkan nama-nama penampil yang hadir dalam konperensi pers tersebut.

Diketahui sebelumnya, setelah penyelenggaraan Samosir Music Festival 2016 pada 27 Agustus 2016 lalu, berita di beberapa media online maupun media cetak, tidak menyebutkan peran besar Henry Manik sebagai Project Manager. Dalam berita-berita dimaksud, Henry Manik, putra Garoga-Simanindo yang telah berdomisili di Belanda, disebut ‘hanya’ sebagai pendukung untuk mempromosikan keberadaan even itu di Eropa, tanpa menyebutkan peran besarnya dalam perencanaan, persiapan, dan penyelenggaraan even. Justru yang ditekankan saat itu, terselenggaranya even adalah ‘hasil’ komunikasi dan kerjasama Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir dengan Kementerian Pariwisata RI. Juga tidak disebutkan bahwa Henry berperan untuk menghadirkan para artis dalam maupun luar negeri secara sukarela, mencari dana dan sponsor, serta mencari dukungan para pihak untuk penyelenggaraan even.

Tobatak Festival 2017, atau Samosir Music International 2017, akan diselenggarakan pada hari Sabtu, 12 Agustus 2017, mulai pukul 16.00 Wib, di Open Stage Tuktuk Siadong, Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir. Even ini adalah bagian dari Samosir Fiesta 2017, rangkaian kegiatan seni budaya dan pariwisata Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir.

Para penampil dalam festival kali ini, diantaranya Herman Delago, Viky Sianipar, Tongam Sirait, Alsant Nababan, Bernadeta Astari, Nadine Beiler, Yosphine Madju (pianis), Jay Bano Band (JB Band), Lisa Supadi (harpa), Punxgoaran, Samisara, Jajabi, dan Supra purba Tambak. (ajvg)

#tobatakfestival2017 #samosirmusicinternational2017 

#tobatakfestival #tobatak #samosirmusicinternational 

#tuktuksiadong #tuktuk #hermanndelago #vikysianipar

#tongamsirait #alsantnababan#bernadetaatsari

#nadinebeiler #yosephinemadju #jaybanoband

#lisasupadi #punxgoaran #samisara #jajabiband

#suprapurbatambak #henrymanik

Menyusui Dukung Anak Tumbuh Optimal

Foto: Ilustrasi (sumber: nakita.grid.id)

Jakarta, (9/8/2017)

Direktur Jenderal (Dirjen) Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan dr. Anung Sugihantono mengatakan, dukungan menyusui merupakan kunci keberhasilan pembangunan berkelanjutan.

”Bukti manfaat menyusui membantu kelangsungan hidup dan mendukung anak kita untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sudah tidak diragukan lagi,” katanya pada sambutan Pekan ASI Sedunia 2017 di Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Rabu (9/8/2017).

Menurut Anung, banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan menyusui, dimulai dari faktor ibunya sendiri, suami dan keluarga, tenaga dan fasilitas kesehatan, masyarakat hingga kebijakan di berbagai level pemerintahan terkait menyusui, termasuk kebijakan yang mendukung ibu menyusui di tempat kerja.

Sementara itu The Lancet Breastfeeding Series, 2016 menyatakan bahwa memberi ASI dapat menurunkan angka kematian bayi akibat infeksi sebesar 88%. Selain itu, menyusui juga berkontribusi terhadap penurunan risiko stunting, obesitas, dan penyakit kronis di masa yang akan datang.

Sebanyak 31,36% dari 37,94% anak sakit, karena tidak menerima ASI Ekslusif. Lebih jauh lagi beberapa studi menyebutkan investasi dalam upaya pencegahan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), Stunting dan meningkatkan inisiasi menyusui dini (IMD) dan ASI Eksklusif berkontribusi dalam menurunkan risiko obesitas dan penyakit kronis.

Keberlangsungan Menyusui

Dengan Tema Pekan ASI Sedunia (PAS) tahun 2017, yakni Sustaining Breastfeeding Together yang dalam konteks Indonesia diadaptasi menjadi ”Bekerja Bersama untuk Keberlangsungan Pemberian ASI”, pemerintah pusat dan daerah daerah sudah mengeluarkan beberapa kebijakan dan regulasi untuk mempromosikan, melindungi dan mendukung menyusui. Selian itu, dilakukan juga peningkatan kapasitas petugas di tingkat layanan kesehatan dan masyarakat melalui pelatihan konselor ASI dan Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA).

Namun, upaya yang sudah dilakukan ini belum cukup untuk mencapai hasil yang diharapkan tanpa dukungan dan kerjasama dari sektor terkait dan seluruh lapisan masyarakat.

”Kerja sama dan kemitraan merupakan faktor penting dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan,” ujar dr. Anung.

Dalam rangka meningkatkan dukungan terhadap peningkatan cakupan ASI, terutama ASI Eksklusif, diperlukan penguatan advokasi kepada semua pemangku kepentingan terkait, baik di pemerintahan maupun mitra pembangunan termasuk organisasi masyarakat sipi. Tujuannya agar perempuan dan anak-anak mendapatkan hak nya dalam memberikan dan mendapatkan ASI.

”Saya mengajak semua pihak, pemerintah, dunia usaha dan semua lapisan masyarakat, untuk bekerjasama secara terus menerus dan berkelanjutan dalam mendukung keberhasilan menyusui,” tambah dr. Anung. (BKPMKemenkes/marc)

Tobatak Festival 2017: Tongam Sirait dan Viky Sianipar, Reuni setelah Tujuh Tahun ‘Pisah’

Tongam Sirait, akan tampil bersama dengan Vikky Sianipar di panggung Tobatak Festival 2017, di Open Stage Tuktuk Siadong (Foto: Arif JV Girsang)

Pematangsiantar, Bataktoday

Tidak disebutkan penyebabnya, tujuh tahun terakhir Tongam Sirait dan Viky Sianipar, dua seniman yang tidak asing di blantika musik pop Batak ini, tidak pernah lagi tampil bersama di panggung pertunjukan. Namun, dalam Tobatak Festival 2017, atau Samosir Music International 2017, yang akan digelar Sabtu (12/8/2017) akhir pekan ini, keduanya akan kembali tampil bersama-sama.

Hal ini disampaikan Tongam Sirait dalam konperensi pers menyambut even Tobatak Festival 2017, yang dilangsungkan di Sapadia Hotel, Jalan Diponegoro, Pematangsiantar, Kamis pagi (10/8//2017).

“Tahun ini kita buat surprise. Ada permintaan-permintaan untuk tampil bersama dengan Viky. Pada tahun 2004 saya membuat album bersama Viky. Setelah bersama dalam lagu Nommensen, kami menghilang, separate (pisah,-red). Tapi untuk ini, kami akan bersama lagi. Jadi suatu kejutan, kami akan bersatu lagi,” ujar Tongam disambut tepuk tangan hadirin dalam konperensi itu.

Hermann Delago Manik, yang disebut juga sebagai salah satu ‘roh’ dari Tobatak Festival yang akan diselenggarakan untuk ketiga kalinya, setelah 2014 dan 2016 juga menyampaikan kegembiraannya dengan tampilnya kedua artis pop Batak ini, bersama-sama di panggung Open Stage Tuktuk Siadong pada Sabtu (12/8/2017) akhir pekan ini.

Dalam kesempatan ini, Henry Manik selaku Project Manager Tobatak Festival 2017, menyebutkan, Viky Sianipar tidak dapat hadir dalam konperensi pers. Viky tiba di Tanah Batak, pada hari ini, melalui Bandara Silangit, Siborongborong, dan akan langsung bergabung dengan rombongan di Tuktuk Siadong, Samosir. (ajvg)

#tobatakfestival2017 #samosirmusicinternational2017 

#tobatakfestival #tobatak #samosirmusicinternational 

#tuktuksiadong #tuktuk #hermanndelago 

#vikysianipar #tongamsirait #henrymanik

Gubsu Lantik Walikota Pematangsiantar

Gubernur Sumatera Utara, T Erry Nuradi, melantik Hefriansyah Noor sebagai Walikota Pematangsiantar, Kamis 10/8/2017 (ist)

Medan, BatakToday

Setelah sempat lima bulan lebih Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar tidak memiliki Walikota definitif, akhirnya Gubsu melantik Hefiansyah,SE, MM jadi Walikota.

Atas nama Presiden Republik Indonesia, Gubernur Sumut Ir H Tengku Erry Nuradi MSi secara resmi melantik Hefriansyah menjadi walikota di Aula Martabe Kantor Gubsu Jalan di Ponegoro Medan Kamis (10/08/2017).

Dalam relisnya, Humas Pemprov Sumut dan Pemko Siantar menyebutkan, pelantikan ini untuk menindaklanjuti Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) No:131.12-3233 tahun 2017 sekaligus memberhentikan Hefriansyah sebagai Wakil Walikota Pematangsiantar.

“Atas nama Presiden Republik Indonesia, saya Gubernur Sumut Ir H Tengku Erry Nuradi resmi melantik Hefriansyah sebagai Walikota Pematang Siantar Periode 2017-2022. Saya percaya saudara Hefriansyah dapat menjalankan amanah dan tanggungjawab sebaik-baiknya,” ujar Gubsu usai mengambil sumpah jabatan Walikota Pematangsiantar.

Dalam sambutannya, Gubsu Erry mengucapkan selamat kepada Hefriansyah yang telah dilantik menjadi Walikota Pematangsiantar. Selain itu Gubsu mengucapkan rasa duka yang mendalam kepada keluarga Almarhum Hulman Sitorus dan berharap keluarga senantiasa diberi ketabahan dan dapat bersama-sama membangun Kota Pematangsiantar.

Lebih lanjut dikatakannya, setelah pelantikan Walikota definitif tentu terjadi kekosongan pada posisi Wakil Walikota Pematang Siantar. Oleh karenanya diharap agar proses pengusulan Wakil Walikota dapat segera dilaksanakan sesuai mekanisme yang diatur dalam peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

“Saya berharap dapat segera diusulkan calon wakil walikota Pematangsiantar agar dapat membantu Walikota dalam menjalankan roda pemerintahan sehingga program kerja yang telah disusun dapat berjalan maksimal,”ujar Gubsu.

Dalam kesempatan itu Gubsu juga berharap Pemko Pematangsiantar jeli memanfaatkan keberadaan sejumlah proyek strategis nasional yang ada di Sumatera Utara.

Menurut Erry keberadaan proyek strategis nasional di Sumut seperti halnya pembangunan jalan Tol, pembangunan Pelabuhan HUB dan juga Kereta Api dapat menjadi peluang untuk peningkatan pembangunan dan perekonomian masyarakat.

“Saya ucapkan selamat kepada Hefriansyah. Kerjalah dengan hati, lepaskan ego-ego sektoral. Saling hormat-menghormati dan jaga persatuan dan kesatuan, menghindari provokasi yang akan mengganggu ketertiban masyarakat,” pungkasnya. (rel/ajvg)