Mahasiswa USU Disiksa dan Diculik

Mahasiswa USU datangi Mako Satpam USU, untuk mengetahui kejelasan nasib Imanuel Silaban, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, yang diduga disiksa dan diculik anggota Satapam USU, Jumat pagi 20/10/2017 (Foto: Rie Vay Pakpahan)

Medan, BatakToday

Perbuatan yang jauh dari peradaban, yang seharusnya tidak terjadi di lingkungan lembaga pendidikan, diduga telah dilakukan sejumlah anggota Satpam Universitas Sumatera Utara (USU) Medan, dengan melakukan penganiayaan, penyiksaan dan penculikan terhadap Imanuel Silaban, mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) USU, Kamis malam (19/10/2017).

Atas kejadian tersebut, hingga saat ini, Jumat siang (20/10/2017), puluhan mahasiswa Universitas Sumatera Utara masih melakukan aksi di Mako Satpam USU. Massa aksi meminta klarifikasi atas hilangnya rekan mereka, Imanuel Silaban, dipanggil Nuel, dari kampus Fakultas Ilmu Budaya pada hari Kamis malam.

Sumber BatakToday menyebutkan, penganiayaan, penyiksaan dan penculikan, pada hari Kamis malam, dilakukan puluhan anggota Satpam USU.

Diterangkannya kronologi peristiwa yang berawal sekitar pukul 21.30 Wib, ketika Nuel berboncengan dengan temannya Frima, bergerak untuk pulang dari kampus FIB.

Sekitar 1,5 jam kemudian, pukul 23.00 Wib, Nuel kembali ke kampus FIB, dengan diikuti dan dikejar puluhan orang yang menaiki sepeda motor. Karena sepedamotor Nuel terjatuh di pintu masuk belakan FIB, saat dikejar, dia pun berlari masuk ke dalam Kampus FIB. Setelah bersembunyi sekitar 10 menit, kemudian puluhan anggota Satpam yang mengejar, menemukannya. Nuel dipukuli dengan kayu yang berpaku, linggis, rantai, dan benda-benda lainnya. Puluhan anggota Satpam menyiksa secara membabi buta. Sembari dipukuli dan disiksa oleh anggota Satpam, Nuel diseret masuk kedalam mobil pick up patroli Satpam USU. Setelah diangkat ke mobil, Nuel pun masih terus dipukuli.

Sekitar pukul 23.30 Wib, mobil patroli pick up Satpam USU membawa Nuel meninggalkan Kampus FIB.

Malam itu juga, sekitar pukul 24.00 Wib, teman-teman Nuel mencoba melacak keberadaannya dengan mendatangi Mako Satpam USU, namun tidak berhasil menemukannya di sana. Sejumlah teman-teman Nuel mecoba berdialog dengan Satpam, tetapi menemui jalan buntu, dan tidak mendapat konfirmasi tentang keberadaan Nuel.

Sekitar pukul 01.00 Wib, Jumat dini hari (20/10/2017), akhirnya puluhan anggota Kepolisian dan TNI memasuki kampus USU, tepatnya di Mako Satpam USU Jalan Dr Mansyur, lengkap dengan peralatan dan kendaraan. Disebutkan, alasan datangnya aparat Kepolisisan dan TNI, untuk mengamankan kampus USU.

Hingga pukul 06.00 Wib, Jumat (20/10), mahasiswa, teman-teman Nuel, masih bertahan di Mako Satpam, namun tetap tidak memperoleh konfirmasi tentang keberadaan Nuel, baik dari pihak universitas, maupun aparat keamanan.

Disebutkan lagi, di tempat kejadian penyiksaan dan penganiayaan, di Kampus FIB, telah ditemukan darah dan daging yang masih menempel di paku yang tertancap di kayu, diduga sebagai salah satu alat yang digunakan untuk menyiksa dan menganiaya Nuel.

Sumber BatakToday lainnya menyebutkan, sehari sebelum dugaan penyiksaan dan penganiayaan ini, Rabu malam (18/10/2017), terjadi perselisihan dan perkelahian, yang diduga melibatkan Nuel, dengan salah satu anggota Satpam USU. (ajvg)

Gong dan Jong Bataks Arts Festival #4

De Tradisi, salah satu penampil dalam Jong Bataks Arts Festival #4, yang akan diselenggarakan 25-28 Oktober 2017, di Taman Budaya Medan (ist)

Medan, BatakToday

Gong merupakan alat musik yang sangat terkenal di Asia Tenggara dan Asia Timur. Pada hakikatnya gong berfungsi sebagai penjaga untuk mengatur ritme dengan alat musik lainnya. Pada Jong Bataks Arts Festival kali ini, tema yang diusung adalah Gong. Sebagaimana Gong menjadi pengatur irama, begitu juga harapannya dalam konteks berkesenian Sumatera Utara, perlu adanya irama yang dibangun demi keberlangsungannya ke masa depan.

Jong Bataks Arts Festival merupakan agenda tahunan, dan tahun ini merupakan tahun ke empat. Dalam proses penyelenggaraannya, tema tahun lalu menggangkat Topeng sebagai tema utama. Bagi Rumah Karya Indonesia selaku penggagas dan pelaksana, bukanlah hal yang mudah mempertahankan keberlangsungan kegiatan ini.

Jong Bataks Arts Festival bukanlah sebagai festival tontonan semata, yang sifatnya sekedar hiburan. Jong Bataks Arts Festival menjadi sebuah edukasi dan penuntun bagi masyarakat luas terutama untuk kesenian tradisi.

Sumatera Incidental Music, turut tampil dalam JBAF#4 (ist)
Sumatera Incidental Music, turut tampil dalam JBAF#4 (ist)

Untuk kegiatan Jong Bataks Arts Festival tahun ini akan diselenggakan pada tanggal 25- 28 Oktober 2017, bertempat di Taman Budaya Sumatera Utara. Tahun ini melibatkan 36 komunitas yang bukan hanya dari Sumatera Utara saja, namun juga melibatkan perwakilan dari provinsi lain, yakni dari Sumatera Barat dan Riau. Dalam kegiatan ini juga akan diselenggarakan diskusi terkait Gong, yaitu “Gong sebagi Perekat Bangsa”.

Baca berita terkait: Jong Bataks Arts Festival #4: Hadirkan 36 Pekarya Sumut, Plus Riau&Sumbar

Direktur Program Jong Bataks Arts Festival #4 (JBAF#4), Ojax Manalu, mengungkapkan harapan kepada semua pihak, untuk kemajuan kegiatan seni budaya ini.

“Dengan spirit bagaimana membangun identitas dan pemersatu bangsa, untuk mewujudkan semboyan bangsa Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”, kami berupaya maksimal dalam penyelenggaraan festival ini. Namun kami menyadari,  masih banyak kekurangan. Dan untuk peningkatan ke depannya, kami mengundang seniman, politisi dan masyarakat umum untuk datang mengapresiasi kegiatan ini, serta memberi sumbangsih positif untuk kegiatan ini dan agar dapat lebih berguna, serta menjadi lebih baik ke depan,” ungkap Ojax Manalu. (rel/ajvg)

Jong Batak Arts Festival #4 (JBAF#4), 25-28 Oktober 2017, di Taman Budaya Medan
Jong Batak Arts Festival #4, 25-28 Oktober 2017, di Taman Budaya Medan

Terapi Musik Efektif Tingkatkan Kognisi Pasien Demensia

Ilustrasi (Sumber: http://www.campaign.com/SaveMusicIndonesia)
  • Mendengarkan musik bagi pasien demensia dapat mengurangi kecemasan dan memperbaiki suasana hati
  • Alzheimers  Indonesia  bekerjasama  dengan  Alumni Paragita  Universitas Indonesia  menggelar  konser  musik amal  untuk  meningkatkan  kualitas hidup orang dengan demensia dan pendampingnya

Jakarta, BatakToday-

Mendengarkan musik dapat membuat otak manusia untuk lebih aktif mengingat kembali berbagai kenangan penting. Stimulasi dari kenangan masa lalu akan membangkitkan emosi Orang Dengan Demensia (ODD) khususnya, secara positif.

Direktur Regional Alzheimer’s Disease International – Asia Pasifik, DY  Suharya,  menjelaskan mendengarkan musik dan bernyanyi akan mengaktifkan otak kiri dan kanan pasien demensia. Otak akan bekerja secara menyeluruh dan membuat ODD menggunakan kapasitas otak lebih dari biasanya dan memacu berbagai fungsi otak.

“Selain itu, mendengarkan musik bagi ODD dapat membuat suasana hati lebih  tenang  dan  merangsang  interaksi  positif,  memfasilitasi  fungsi kognitif dan mengkoordinasikan gerakan motorik,” kata DY Suharya.

Direktur Eksekutif Alzheimer’s Indonesia, Sakurayuki, menjelaskan, mendengarkan musik dapat membuat ODD lebih tenang dalam menghadapi sundown syndrome, yaitu perilaku saat ODD mengalami disorientasi dan kebingungan menjelang matahari terbenam. Musik dapat membantu ODD lebih rileks dan membuat suasana hati lebih terjaga.

“Sementara bagi anak muda dan lansia yang tidak terkena demensia, mendengarkan musik dapat mengurangi risiko demensia di masa yang akan datang karena mengurangi risiko depresi,” katanya.

Untuk itu, Alzheimer’s Indonesia berkolaborasi bersama Alumni Paragita Universitas  Indonesia  dan  berbagai  mitra  dan pendukung  lainnya membuat konser amal “Remember Me Charity Concert” dengan mengajak masyarakat untuk berbagi keceriaan dengan menyanyikan berbagai lagu-lagu populer.

Baca juga berita: Setiap Tiga Detik, Satu Orang di Dunia Mengalami Demensia

Konser ini akan digelar di Erasmus Huis, Jakarta pada Sabtu, 21 Oktober 2017 mendatang. Beberapa musisi dan penyanyi ternama seperti Aning Katamsi, Amoroso Katamsi, Andi Rianto, Dewi Lestari, Farman Purnama Disciples Voice dan Paduan Suara Mahasiswa Paragita UI beserta alumni Paragita   UI   juga   Gery Puraatmadja   selaku   Narator   siap   untuk berkontribusi dan menyumbang talentanya dalam konser amal ini.

“Seluruh hasil penjualan tiket akan disumbangkan melalui Alzheimer Indonesia untuk meningkatkan kualitas hidup ODD dan pendampingnya. Dengan konser ini kami harap kesadaran masyarakat terkait penyakit alzheimer dapat terus meningkat dan kualitas hidup masyarakat dapat terjaga dengan mendengarkan musik-musik berkualitas,” ujar Ketua Panitia Remember Me Charity Concert, Priska Hutabarat.

Remember Me Charity Concert (ist)
Remember Me Charity Concert (ist)

Tentang Alzheimer Indonesia

Yayasan Alzheimer’s Indonesia (ALZI) adalah organisasi non-profit yang memiliki  visi  untuk  membantu  meningkatkan kualitas  hidup  Orang Dengan Demensia (ODD) beserta keluarga dan caregivers di seluruh Indonesia.

Berdiri pertama kali pada Juli 2000 dengan nama Asosiasi Alzheimer Indonesia, dan resmi menjadi anggota Alzheimer’s Disease International (ADI) sejak 2009 lalu. Berkembangnya organisasi, dengan dukungan anggota dan relawan dari berbagai usia dan latar belakang membuat organisasi melakukan transformasi menjadi Alzheimer’s Indonesia pada 2013 lalu.

Kampanye   ALZI   telah   menjadi   contoh   kampanye   bagi organisasi Alzheimer lainnya di Asia Pasifik karena berhasil meningkatkan kesadaran akan penyakit demensia hingga 300%. Untuk informasi lebih lanjut kunjungi website ALZI di www.alzi.or.id serta ikuti informasi dan ‘like’ Facebook fanpage di facebook.com/Alzheimer Indonesia. (rel/ajvg)

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Alzheimer’s Indonesia Direktur Eksekutif, Sakurayuki, email: sakurayuki38sky@gmail.com, No.Hp.: 0811 900 416

Social Affair, Tuty Sunardi, No. Hp.: 0816 86 3136

Jangan Jadi Doktor “Pohon Pisang”

Rektor Undip Prof Dr Yos Johan Utama SH MHum (memegang busur) dalam Nightchestra 2017 di Lapangan Widya Puraya Kampus Undip Tembalang, Sabtu (14/10/2017) malam (ist)

Semarang, BatakToday

Memperingati Dies Natalis ke-60, Universitas Diponegoro (Undip) Semarang tidak hanya menggelar serangkaian kegiatan untuk menambah dan mempertajam kemampuan akademik mahasiswa dan dosen. Kampus tersebut juga membuka ruang yang seluas-luasnya untuk memperkuat aspek nonakademik yang dimiliki oleh mahasiswa dan civitas Undip.

Salah satunya, dengan digelarnya Nightchestra 2017 di Lapangan Widya Puraya Kampus Undip Tembalang, Sabtu (14/10) malam. Konser musik orchestra ini berhasil menyedot antusiasme mahasiswa dan masyarakat sekitar.

Pagelaran semakin meriah saat penyanyi dalam konser tersebut adalah Rektor Undip Prof Dr Yos Yohan Utama SH MHum beserta jajaran dekan dan mahasiswa yang memiliki talenta bermusik dan bernyanyi. Tidak ketinggalan, Sekda Jawa Tengah Ir Dr Sri Puryono KS MP dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi juga tampil bernyanyi diiringi Orchestra Jahannes Surja.

Pada konser tersebut Sekda Sri Puryono membawakan satu buah lagu berjudul ‘Juwita Malam’, Wali Kota Hendrar Prihadi membawakan lagu berjudul ‘Misteri’ dan Rektor Yos Johan Utama membawakan dua buah lagu, yakni ‘The Wonder of You’ dan ‘Delailah’.

Sekda Jawa Tengah Ir Dr Sri Puryono KS MP saat membacakan sambutan dari Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP (ist)
Sekda Jawa Tengah Ir Dr Sri Puryono KS MP saat membacakan sambutan dari Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP (ist)

Saat membacakan sambutan dari Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo SH MIP, Sekda Sri Puryono mengingatkan, Undip sebagai universitas yang masuk klaster 1 sebagai Perguruan Tinggi terbaik versi Kemenristekdikti harus terus berkontribusi mendukung kemajuan Jawa Tengah di segala bidang. Apalagi tantangan dan PR di Jawa Tengah masih sangat banyak, khususnya kemiskinan, pengangguran, kesenjangan pendidikan, kesehatan, dan juga energi.

“Jangan pernah berhenti berkontribusi. Tantangan pembangunan semakin kompleks, kompetisi atas SDM semakin ketat baik ditingkat lokal, nasional, regional, bahkan internasional,” katanya.

Kepada para civitas Undip dia berharap Ristek yang dihasilkan dapat lebih aplikatif dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. Jangan sampai Ristek tersebut tidak ada hilirisasi dan mangkrak di gudang-gudang laboratorium.

Selain itu, sebagai kaum terpelajar atau intelek mereka dituntut tidak menjadi doktor atau bahkan profesor pohon pisang, yang hanya menghasilkan satu karya ilmiah dan setelah itu tidak berproduksi lagi.

“Genderang perang melawan kejahatan intelektual harus ditabuhkan agar tidak ada jual beli gelar, jual beli kursi, plagiasi karya ilmiah, dan korupsi, gratifikasi, serta pungli,” ujarnya.

Sri Puryono berharap momentum Dies Natalis itu dibarengi spirit kegotongroyongan, kerja sama saling mengisi, melengkapi dan menguatkan. Dengan begitu Undip sebagai kampiun intelektual Jawa Tengah mampu menjadi role model bagi kontribusi nyata membangun Jawa Tengah menuju masyarakat yang sejahtera dan berdikari.

Reporter : Kh, Humas Jateng

Editor : Ul, Diskominfo Jateng

Sumber: Humas Biro Umum Provinsi Jawa Tengah

Literacy Coffee: “Antara Kopi dan Buku”

Literacy Coffee (ist)

Medan, BatakToday

Di tengah perkembangan dunia teknologi, buku konvensional atau buku yang terbuat dari kertas, menjadi sesuatu yang semakin asing dan makin sulit ditemukan. Banyak orang yang kemudian beralih ke buku digital, sehingga buku menjadi lebih jarang ditemukan.

Atas alasan minat baca yang sangat minim serta buku yang sudah mulai asing, Literacy Coffee memadukan konsep, kedai kopi dan buku, yang disertai dengan acara mengulas buku setiap minggunya. Hal ini dilakukan agar buku tidak semakin asing, terutama untuk kaum muda.

Literacy Coffee terletak di Jalan Jati II No. 1, belakang Kampus ITM, Teladan, Medan. Jhon Fawer Siahaan, sebagai pendiri, menyebutkan,  perpaduan antara kedai kopi dan buku yang digagasnya menjadi gerakan awal baginya dan rekan-rekannya, untuk mengembalikan ‘kejayaan’ buku.

“Memang kami menyadari bahwa hal itu bukan sebuah solusi yang produktif, namun itu menjadi sebuah gerakan awal, bagaimana pengunjung bisa mengenal buku. Dari sekian banyak koleksi yang dimiliki Literacy Coffee, diharapkan bisa memikat pengunjung, dan perlahan tapi pasti, akan mengembalikan buku ke tahtanya,” ujarnya sebagai gambaran harapan tentang buku.

Jhon Fawer Siahaan (ist)
Jhon Fawer Siahaan (ist)

Menarik dan unik, di Literacy Coffee terpajang dan dapat dibaca setiap pengunjung kedai ini, koleksi yang didominasi buku-buku kajian lokal yang berkaitan dengan Sumatera. Hal itu dilakukan untuk memenuhi minimnya lembaga-lembaga yang concern terhadap sejarah lokal.

Keberadaan Literacy Coffee menjadi jawaban bagi mereka yang ingin melakukan riset tentang kajian lokal. Di samping kegiatan bedah buku, kedai kopi yang dihiasi mural karya para perupa muda Sumatera Utara, Fedricho Ommz Purba dkk, juga membuka kelas menulis.

“Diharapkan, dari Literacy Coffee, kelak muncul penulis-penulis lokal untuk memperkaya kajian lokal, sebagai perimbangan atas dominasi penulis asing terkait sejarah Nusantara. Saat ini penulisan sejarah Nusantara masih didominasi oleh penulis asing,”sebut Jhon Fawer di balik harapannya.

Selain menjadi tempat yang terbuka bagi para pecinta dan peminat buku, untuk mengulas buku, dan dengan kelas penulisan sejarah, Literacy Coffee membuka kegiatan diskusi yang sifatnya tematik, pameran dan kegiatan sastra. Tujuannya untuk mencoba mengulang kembali masa kejayaan “Soematera Tempo Doeloe”.

“Kegiatan-kegiatan yang kita selenggarakan secara rutin maupun berkala, bisa menjadi pemicu munculnya sastrawan, perupa dan penulis-penulis baru. Dulu, Sumatera melahirkan banyak tokoh intelektual untuk Negeri ini, dan melahirkan kembali tokoh-tokoh intelektual, menjadi impian kita dari kedai ini,” harap Jhon Fawer yang juga dikenal sebagai founder Literasi Sumatera, sebuah lembaga independen yang mendukung perkembangan literasi, dokumentasi, serta pusat kajian, terutama tentang Sumatera.

Lyteracy Coffee, Jalan Jati II No. 1, Belakang Kampus ITM, Teladan, Medan (ist)
Lyteracy Coffee, Jalan Jati II No. 1, Belakang Kampus ITM, Teladan, Medan (ist)

Jhon Fawer menyampaikan pesan tentang pentingnya melahirkan produk-produk tulisan oleh para penulis lokal.

“Mungkin gerakan ini dapat memberikan sumbangsih kepada pemerintah atas program pencanangan literasi. Kami menyadari bahwa gerakan literasi bukan semata persoalan melek buku saja, tetapi bagaimana munculnya produk-produk tulisan lokal yang mampu mengimbangi tulisan-tulisan asing, agar kelak kita bukan hanya mengonsumsi buku yang ditulis asing, tapi kita juga punya produk tulisan yang  dibuat anak bangsa ini,” demikian pesannya.

Dari pengalaman BatakToday sebelumnya, sejak dibuka pada awal September 2017, Literacy Coffee bisa buka hingga larut malam, ketika orang-orang muda pecinta buku terlanjur terbenam dengan bacaannya, atau bahkan diskusi menarik tentang buku diantara mereka.

Di akhir relis yang diterima pada Minggu petang (15/10/2017), Jhon Fawer melayangkan  joke tentang kopi dan buku.

Membacalah, bahkan hingga kopimu tinggal ampas…,”

(rel/ajvg)

Jong Bataks Arts Festival #4: Hadirkan 36 Pekarya Sumut, Plus Riau&Sumbar

Riau Rhythm Chambers Indonesia, salah satu pekarya asal Riau, yang akan turut hadir dalam Jong Bataks Arts Festival #4 (JBAF#4), di Taman Budaya Medan, 25-28 Oktober 2017 (ist)

Medan, BatakToday

Rumah Karya Indonesia (RKI), adalah lembaga yang fokus dalam mengembangkan dan menjadikan seni tradisi sebagai sumber inspirasi, kreativitas, dan pengetahuan, untuk mencapai Indonesia yang berkepribadian. Untuk mewujudkannya, Rumah Karya Indonesia melaksanakan tiga program utama, yaitu Manajemen Seni, Riset dan Penerbitan, serta Diskusi/Seminar/Pelatihan.

Dalam pelaksanaannya, program dituangkan dalam kegiatan yang mengedepankan unsur tradisi, kebudayaan, dan kesenian local, dengan melibatkan anak-anak  muda dan masyarakat local. Salah satu kegiatan ‘rutin’nya adalah Jong Bataks Arts Festival.

Sebelumnya, sudah terlaksana 3 (tiga) kali, dan pada tahun ke-4 ini, Jong Bataks Ars Festival  hadir berbeda dengan sebelumnya. Kali ini tidak hanya menampilkan beragam pagelaran Budaya Batak, tetapi lebih luas lagi, Sumatera.

Pada gelaran tahun ini, Jong Batak Arts Festival mengusung salah satu alat musik tradisional sebagai tema, yaitu Gong . Di Indonesia, Gong mempunyai peranan penting dan strategis dalam kehidupan budaya masyarakat. Alat ini digunakan dalam upacara keluarga, masyarakat, kerajaan, dan keagamaan. Selain dikenal sebagai alat musik, gong juga sebeagai bentuk harta, emas kawin, pusaka, lambang dan status pemiliknya, perangkat upacara, dan fungsi lainnya juga sebagai alat komunikasi antar warga.

Sabou Band, grup musik yang biasanya membawakan lagu-lagu Simalungun, akan tampil di JBAF#4, Taman Budaya Medan, 25-28 Oktober 2017 (ist)
Sabou Band, grup musik yang biasanya membawakan lagu-lagu Simalungun, akan tampil di JBAF#4, Taman Budaya Medan, 25-28 Oktober 2017 (ist)

Dengan mengusung ‘semangat Gong’ sebagai sesuatu sumber informasi penting, dan berharga bagi orang banyak, Jong Bataks Art Festival kali ini mengajak berkolaborasi para pekarya dari luar Sumatera Utara, yaitu Riau Rhythm  Chambers Indonesia dan Minangapentagong, yang sangat kental dengan seni tradisi lokalnya masing-masing.

“Tidak hanya sampai di situ, Jong Bataks Arts Festival #4 dirangkai dengan kegiatan Workshop “Manusia dan Musik”, sebagai pewujudan program RKI dalam memanajemen seni, riset, diskusi, pelatihan dan seminar. Pemateri yang akan terlibat dalam workshop ini diantaranya Dr. Puluman P. Ginting, MSn, Wayan Dewa Supenida, S,Skar., M.Sn, Nurkholis S.Sn., M.Sn dan Rino Deza Pati,” ungkap Ojax Manalu, Direktur Jong Bataks Arts Festival #4.

Jong Bataks Arts Festival #4 (JBAF#4) akan dilaksanakan pada 25 – 28 Oktober 2017,  di Taman Budaya Medan. Setiap harinya dimulai pukul 14.00 Wib. Kegiatan ini terbuka untuk  pejalar dan umum.

JBAF#4 juga akan mendatangkan sejumlah penampil, diantaranya  Incidental Musik, Ghalinada Etno Musik Sentrum, De Tradisi, Etnomorfosa,  Hanna Pagiet, Toba Putri Dancer, Hendra Dkk, Nauli Sister, Arunika, Rhytemta, Sihoda Dancer, dan Estrada Ginting.

Minangapentagong, asal Sumatera Barat, yang kental dengan seni tradisional Minangkabau, akan tampil di JBAF#4, Taman Budaya Medan, 25-28 Oktober 2017 (ist)
Minangapentagong, asal Sumatera Barat, yang kental dengan warna seni tradisional Minangkabau, akan tampil di JBAF#4, Taman Budaya Medan, 25-28 Oktober 2017 (ist)

Kemudian ada pekarya dari Himapsi, Perempuan Hari Ini, Sabou Band, Rexon dkk, Sanggar Jolonew,  Komet “USU” 16, Gendang Kampung Perkusi, Tataring, Sanggar Seroja, Fayo Band, Achord Band, Medan Blues Society, dan Averiana Barus.

Serta tidak ketinggalan pekarya ‘serba bisa’ Tampe Mangaraja Silaban, seniman ‘desa’ asal Kabupaten Dairi. Kemudian, ada Poda Band, Boraspati Band, Kugitari, SMA Dharmawangsa Medan, YP HKBP Sidorame, SMAN2 Percut Sei Tuan, SMA Al Ulum, Halak Smantig, SMA Negeri Seni dan Budaya Raya, dan S Tradisi.

Brevin Tarigan M.Sn sebagai Manager Program, mengungkapkan, Jong Bataks Arts Festival #4 yang bertemakan Gong, diharapkan akan semakin merekatkan Indonesia.

“Melalui semangat Gong yang eksistensinya sangat berpengaruh di berbagai sisi kehidupan manusia, pertunjukan seni dan budaya, yang dirangkai dengan kegiatan peringatan Hari Sumpah Pemuda,  kiranya akan semakin merekatkan Indonesia,” ungkap Brevin. (rel/ajvg)

Pangkostrad “1/2 Hati”, Gubernur Sumut “Bebal”, Pemko “Takut”?

Salah satu poster bergambar Pangkostrad Letjend Edy Rahmayadi dan poster Gubernur Sumut Dr Ir T Erry Nuradi MSi yang dipakukan ke pepohonan, di depan Universitas Simalungun, Jalan Sisingamangaraja, Pematangsiantar, Selasa 10/10/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Pematangsiantar, BatakToday

Di Kota Pematangsiantar, hingga hari ini masih bertebaran berbagai poster ‘sosialisasi’ dengan gambar pejabat, maupun iklan usaha, yang dipakukan di pepohonan yang tumbuh di tepi jalan.

Dalam pemberitaan BatakToday sebelumnya, disebutkan poster-poster bertebaran di pepohonan sepanjang tepi Jalan Sisingamangaraja, dan beberapa ruas jalan yang lain di Kota Pematangsiantar diantaranya ‘milik’ Gubernur Sumatera Utara Dr Ir T Erry Nuradi MSi, Pangkostrad Letjend Edy Rahmayadi, perusahaan jasa keuangan non-bank, lembaga pendidikan, pencuci helm, kafe, rumah makan, tukang talang dan lain sebagainya.

Baca berita terkait:

Sumut Paten, Lanjutkan Memaku Pohon?

BPK “Sadar”, Pangkostrad “Menyerah”, Gubernur Sumut “Ngotot”

Citra BPK: Memaku Pohon, “Haram”…!

Dalam salah satu pemberitaan sebelumnya disebutkan, poster bergambar Pangkostrad Letjend Edy Rahmayadi yang dipakukan ke beberapa pohon telah dicabut, dan di beberapa tempat poster bergambar Pangkostrad ini dipasang pada tiang kayu yang ditancapkan ke tanah.

Namun dari amatan BatakToday, Selasa pagi (10/10/2017), poster bergambar Pangkostrad masih ditemukan terpasang dengan memakukannya di pepohonan di sekitar Kampus Universitas Simalungun, Jalan Sisingamangaraja. Dan poster-poster bergambar Gubernur Sumut, selain yang sebelumnya dicabut warga kota, maupun Satpol PP Kota Siantar, terlihat tetap terpaku di pepohonan di Jalan Sisingamangaraja dan beberapa ruas jalan lainnya di kota ini.

Poster bergambar Pangkostrad Letjend Edy Rahmayadi yang ditancapkan ke tanah, dan poster Gubernur Sumut Dr Ir T Erry Nuradi MSi yang dipakukan ke pepohonan, depan Universitas Simalungun, Jalan Sisingamangaraja, Pematangsiantar, Selasa 10/10/2017 (Foto: Arif JV Girsang)
Poster bergambar Pangkostrad Letjend Edy Rahmayadi yang ditancapkan ke tanah, dan poster Gubernur Sumut Dr Ir T Erry Nuradi MSi yang dipakukan ke pepohonan, depan Universitas Simalungun, Jalan Sisingamangaraja, Pematangsiantar, Selasa 10/10/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Simatupang (20), mahasiswa Universitas Simalungun yang tidak bersedia disebut nama lengkapnya dalam pemberitaan, ditemui di depan kampusnya, menyebutkan, tidak baik mengorbankan pohon sebagai tempat promosi.

“Kenapalah pohon-pohon ini yang jadi korban, dipakui untuk pasang poster atau baliho promosi. Kurang akal juga yang pasang ini. Mau usaha, mau pejabat, sama-sama nggak beres kelakuan orang-orang yang pasang ini,” ujarnya.

Dia juga menyesalkan pihak-pihak yang memaku pohon, maupun sikap Pemerintah Kota Pematangsiantar yang tidak peduli dengan keadaan ini.

“Macam kemarin itu, poster Edy Rahmayadi ini, kita pikirnya betulan, tadinya sempat dicabuti, ini dipasang lagi pakai paku. Padahal sudah cukup sportif kalau ditancap di tanah. Setengah hati juga kutengok. Kalau gubernur kita ini, sudahlah, nggak ngerti juga kita, nampaknya sudah bebal. Pemko (maksudnya Pemerintah Kota Pematangsiantar,-red.) ini pun tak perdulinya kutengok, nggak taulah, takut mungkin mencabut,” sebutnya dengan ‘repetan’ khas Siantar.

Beberapa daerah, seperti Surabaya dan Padang, telah memiliki Peraturan Daerah tentang Perlindungan Pohon, sebagai turunan dari UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. (ajvg)

Citra BPK: Memaku Pohon, “Haram”…!

Pohon di depan RM Citra BPK terlihat telah bersih dari papan nama dan papan informasi, Komplek Kehutanan, Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Bane, Pematangsiantar, Senin 9/10/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Pematangsiantar, BatakToday

Pengelola Rumah Makan BPK (Babi Panggang Karo) yang terletak di Jalan Sisingamangaraja, Komplek Kehutanan, Kelurahan Bane, Kecamatan Siantar Utara, akhirnya mencabut papan informasi dan papan nama yang sebelumnya dipakukan di pohon depan warungnya.

Dari amatan BatakToday, papan informasi dan papan nama yang sebelumnya terpasang di pepohonan, telah dicabut dan dipindahkan ke pagar dan bangunan rumah makan tersebut, Senin (9/10/2017).

Baca berita terkait: BPK “Sadar”, Pangkostrad “Menyerah”, Gubernur Sumut “Ngotot”

Sebelumnya, Putra Tarigan, pengelola, telah berjanji untuk mencabut sendiri papan-papan tersebut, ketika berbincang dengan BatakToday, pada Jumat (29/9/2017) lalu. Ketika itu, Putra mengakui ketidaktahuannya, bahwa memaku pohon adalah perbuatan yang tidak baik (untuk lingkungan).

Papan nama bertulis BPK yang sebelumnya dipakukan ke pohon, akhirnya dipindahkan ke pagar rumah makan Citra BPK, Pematangsiantar, Senin 9/10/2017 (Foto: Arif JV Girsang)
Papan nama bertulis BPK yang sebelumnya dipakukan ke pohon, akhirnya dipindahkan ke pagar rumah makan Citra BPK, Pematangsiantar, Senin 9/10/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Rumah Makan Citra BPK menjadi contoh yang baik, ketika menyadari bahwa perbuatan memaku pohon adalah tidak baik, dan kemudian memperbaikinya serta tidak melakukannya lagi. (ajvg)

Gelper Tembak Ikan Jalan Kartini 48 Buka Lagi, Polres Siantar Salah Gerebek?

Gelanggang permainan 'tembak ikan' Jalan Kartini 48, buka kembali setelah tutup beberapa hari pasca penggerebekan oleh Polresta Pematangsiantar pada hari Kamis 28/9/2017, Pematangsiantar, Selasa malam 3/10/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Pematangsiantar, BatakToday

Gelanggang permainan (gelper) ‘tembak ikan’ Jalan Kartini 48, dahulu bernama Abi Zone, digerebek tim dari Kepolisian Resor Kota (Polresta) Pematangsiantar pada Kamis malam (28/9/2017), pekan lalu. Pada malam setelah penggerebekan dilakukan, tempat ini ‘langsung’ tutup dan selama beberapa hari dipasangi garis polisi. Namun, Selasa pagi (3/10/2017), tempat ini kembali beroperasi seperti sedia kala.

Baca berita terkait:

Gelper Tembak Ikan Jalan Kartini 48 Digerebek Polresta Siantar

Gelper Tembak Ikan Jalan Kartini 48 Tutup, Dipasangi Garis Polisi

Minta namanya tidak disebut dalam pemberitaan, salah satu pedagang makanan di bilangan Jalan Kartini, Pematangsiantar, yang turut menyaksikan pihak Polresta Siantar datang melakukan penggerebekan dan mengangkut karyawan serta beberapa pemain saat itu, dengan nada menyindir, kepada BatakToday mengatakan, kemungkinan sebelum melakukan penggerebekan, pihak kepolisisan belum memiliki dasar hukum yang kuat, Selasa malam (3/10/2017).

“Mungkin belum lengkap pasalnya, bang. Atau polisinya salah gerebek, cuma buru-buru saja kemarin itu. Jangan-jangan bukti pelanggaran hukumnya tidak cukup. Barangkali yang di sini tidak dianggap judi, makanya boleh buka lagi. Padahal kalau dilihat cara membawa orang-orang malam itu, macam betul aja,” ujarnya diikuti tawa, tanpa menjelaskan secara detil arti kata ‘macam betul’.

Diketahui pada malam penggerebekan itu, sejumlah karyawan dan pemain, diangkut dengan menggunakan truk Polresta Pematangsiantar. Dari pantauan BatakToday, setidaknya 19 orang diangkut untuk diamankan tim Polresta Pematangsiantar dalam penggerebekan itu. (ajvg)

CPNS Dinkes Simalungun Akhirnya Terima SK, “Pertolongan dari Nagori Atas”

Tiga orang CPNS Dinas Kesehatan Simalungun, dari kiri ke kanan: Priska Sinaga, Pretty br Malau, Nova Hutahaean; seusai menerima SK CPNS dari Pemkab Simalungun, lapangan parkir Kantor Bupati Simalungun, Selasa 3/10/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Simalungun, BatakToday

Tiga dari lima orang CPNS Dinas Kesehatan Simalungun, yang sebelumnya dikabarkan tidak turut menerima Petikan Surat Keputusan (SK) CPNS pada penyerahan secara ‘kolektif’ dalam acara yang diselenggarakan di Kantor Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten Simalungun pada Senin sore (2/10/2017), akhirnya menerima SK tersebut, di ruang kerja Sekretaris Daerah (Sekda), Kantor Bupati Simalungun, Pematang Raya, Selasa sore (3/10/2017).

Tidak diketahui penyebab CPNS tersebut tidak turut menerima SK CPNS dalam acara itu. Namun kelimanya, diketahui terkait dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) Saber Pungli di Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun pada Senin (3/7/2017) lalu.ban’

Dari kelimanya, empat diantaranya ada di daftar ‘korban’ dugaan pungutan liar di lingkungan Dimas Kesehatan Simalungun, yaitu Pretty br Malau, Nova Hutahaean, Nora Damanik, dan Maya Sidauruk. Sementara itu, Priska Novelita Sinaga, saat itu berada di lokasi saat OTT itu berlangsung. Kemudian, dua diantaranya menjadi saksi dalam pemeriksaan dan penyidikan kasus OTT ini, yaitu Pretty br Malau dan Priska Novelita Sinaga.

Ketiga CPNS yang akhirnya menerima SK-nya sore tadi, Selasa (3/10/2017), sekitar pukul 16.15 Wib, di ruangan Sekda Kabupaten Simalungun, adalah Nova Hutahaean, Pretty br Malau, dan Priska Novelita Sinaga. Sementara dua orang lainnya, kelihatan tidak turut hadir, sejak dari Kantor BKPPD Simalungun hingga sorenya di Kantor Bupati Simalungun.

Baca berita terkait: CPNS Dinkes ‘Korban’ OTT Saber Pungli Dipanggil Sekda Simalungun

Ketika BatakToday mendekati ketiganya, dan meminta keterangan tentang penyebab SK tidak diterima bersama-sama dengan CPNS Dinas Kesehatan yang lain, dalam acara sebelumnya, Priska Novelita Sinaga, disebutkannya, berdasar penjelasan yang diterima di ruangan Sekda, karena sebelumnya terjadi kesalahan pengetikan.

“Katanya karena salah ketik, makanya kemarin kami tidak terima sama-sama dengan yang lain,” ujarnya.

Ketika coba dikejar, bagaimana mungkin, kelima CPNS yang ‘terkait’ dalam OTT Saber Pungli Dinkes Simalungun, secara bersama-sama, kebetulan mengalami kesalahan pengetikan, Priska tidak memberi jawaban yang cukup beralasan.

“Itulah katanya, makkela (Bahasa Simalungun: paman atau mertua,-red.), masak kami paksa cari alasannya? Yang penting SK ini sudah diberikan kepada kami. Cuma itunya yang kami perjuangkan,” sebut Priska.

Ditanya, sebelumnya siapa saja yang dihubungi saat mereka bertiga terlihat sibuk bertelepon dari Kantor BKPPD Simalungun, dan hubungannya dengan akhirnya SK diserahkan di ruangan Sekda, Priska setelah memandang kedua temannya sesama CPNS ‘senasib’ yang bersama-sama sejak siang harinya, memberi jawaban diplomatis.

“Siapa pun yang bisa menolong kami, kalau di jalannya, pasti kami mintai tolonglah. Pertama, pasti kami sampaikan doa ke Nagori Atas (surga,-red.), dan kami percaya dari sanalah akan mengutus orang-orang yang akan menolong kami. Orang kecil tidak selamanya harus menyerah, pertolongan pasti akan datang, iya kan makkela? Kami tentu bersyukur kepada Tuhan, dan terimakasih kami untuk semua orang yang kemudian menolong kami,” ujarnya dengan wajah berseri-seri.

Petang tadi, sekitar pukul 16.30 Wib, dalam cuaca mendung setelah hujan sepanjang siang hingga petang, ketiga CPNS ini pulang dari Kantor Bupati Simalungun dengan wajah berseri-seri, dan senyuman tak lepas dari ketiganya beserta keluarga yang turut mendampingi. (ajvg)