Lalu Lintas Siantar – Sp Dolok Merangir Kembali Lancar

Lalu lintas di Simpang Dolok Merangir (Km 21 Jalan Siantar-Medan) terlihat ramai lancar, Senin 26/6/2017, sekitar pukul 21.00 Wib (bataktoday/ajvg)

Simpang Dolok Merangir, BatakToday

Setelah mengalami kemacetan yang berlangsung sekitar 4 jam, akhirnya lalu lintas di ruas jalan yang menghubungkan Pematangsiantar dengan Simpang Dolok Merangir atau Km 21 Jalan Siantar-Medan, kembali lancar, Senin malam (26/6/2017), sekitar pukul 21.00 Wib.

BatakToday yang meninggalkan titik pantau sebelumnya di Simpang Dolok Ulu Km 12,5 Jalan Siantar-Medan, dengan kecepatan rata-rata 50 km per jam bergerak tanpa halangan berarti menuju Simpang Dolok Merangir.

Arus kendaraan dari Siantar menuju Medan dan sebaliknya diantara dua titik ini, antara Simpang Dolok Ulu dan Simpang Dolok Merangir, meski terlihat masih cukup ramai, namun bergerak lancar. (ajvg)

Siantar – Simpang Dolok Ulu, Satu Jam!

Simpang Dolok Ulu, BatakToday,

Pengendara yang melintas di ruas jalan Pematangsiantar-Simpang Dolok Merangir banyak yang mengalami kelelahan akibat kemacetan yang terjadi.

Salah satunya, Jintar Purba, warga Nagori Dolok, Kecamatan Silau Kahean, Simalungun, yang memilih beristirahat sejenak bersama isterinya, boru Saragih, di Simpang Dolok Ulu, Km 12,5 Jalan Siantar-Medan.

“Naik kereta dari Siantar, Parluasan, satu jam lah baru samapai di sini,” ujarnya kepada BatakToday yang memantau di Sp.Dolok Ulu, Senin malam (26/6/2017), sekitar pukul 19.15 Wib.

Jintar menyebutkan, yang paling parah kemacetan terjadi di sekitar jembatan perbatasan kota Siantar.

“Capek kita, kadang harus dari beram (bahu jalan,-red.). Macam mana lagi yang naik mobil itu. Paling parah waktu kami lewat, sekitar 3 kilometerlah dari sini, yang dari arah Medan macet total. Berlapis mobil itu,” ujarnya.

Lalu lintas dari arah Medan menuju Siantar masih mengalami kemacetan, Km 12,5 Jalan Siantar-Medan, Senin 26/6/2017, sekitar pkl 19.45 Wib (bataktoday/ajvg)
Lalu lintas dari arah Medan menuju Siantar masih mengalami kemacetan, Km 12,5 Jalan Siantar-Medan, Senin 26/6/2017, sekitar pkl 19.45 Wib (bataktoday/ajvg)

Sesuai keterangan Jintar, dan juga pantauan di lapangan, terlihat arus lalu lintas dari arah Siantar menuju Medan sudah relatif lancar dibandingkan satu jam sebelumnya. Sementara kendaraan dari arah Medan sering harus terhenti.

Hingga berita ini diturunkan, sekitar pukul 19.45 Wib, dari titik pemantauan di Km 12,5 Jalan Siantar-Medan, volume lalu lintas dari arah Medan menuju Siantar belum terlihat ada penurunan. (ajvg)

Siantar-Sp.Dolok Merangir Macet Berat, “Lomba Jugul, Makin Macetlah…!”

Kemacetan diperparah oleh ketidakdisiplinan pengendara yang menyalip dari bahu jalan, Simpang Dolok Ulu, Senin petang 26/6/2017 (bataktoday/ajvg)

Simpang Dolok Ulu, Batak Today

Lebaran hari kedua, jalan raya lebih ramai dari sehari sebelumnya. Ruas jalan Pematangsiantar-Sp.Dolok Merangir mengalami macet berat. Volume lalu lintas yang semakin meningkat, ditambah dengan ketidakdisiplinan pengguna lalulintas memperparah keadaan, Senin petang (26/6/2017), sekitar pukul 18.00 Wib.

BatakToday yang memantau di Simpang Dolok Ulu, kurang lebih 2 km dari Sinaksak arah ke Medan, di Kecamatan Tapian Dolok, sejak pukul 16.00 Wib sudah melihat gejala akan terjadinya kemacetan parah.

Kemacetan terjadi pada dua jalur Jalan Siantar-Sp. Dolok Merangir (bataktoday/ajvg)
Kemacetan terjadi pada dua jalur Jalan Siantar-Sp. Dolok Merangir (bataktoday/ajvg)

Salah satu pengemudi yang akhirnya terjebak kemacetan di Simpang Dolok Ulu, dengan kesal mengeluhkan ketidakdisiplinan dan ketidaksabaran pengendara, yang menyalip dari bahu jalan, sehingga pada titik tertentu akan memperparah kemacetan.

“Inilah bang, lomba jugulnya pula kita ini, mau cepat sendiri, tapi akhirnya semua jadi lambat,” keluhnya, dan menyebut tujuannya dari Siantar mau kembali ke Tebing Tinggi.

Sejumlah kendaraan, terutama minibus, mencoba mendahului kendaraan di depannya melalui bahu jalan. Keadaan kurang lebih sama baik dari arah Medan ke Siantar, atau sebaliknya.

Dalam kemacetan, salah satu mobil kanvas membuka pintu sampingnya (bataktoday/ajvg)
Dalam kemacetan, salah satu mobil kanvas membuka pintu sampingnya (bataktoday/ajvg)

Beberapa pengemudi akhirnya menepi, terutama pengguna pengendara sepedamotor yang terdiri dari kaum muda yang berpasang-pasangan, dan memarkir sepedamotornya di bawah pohon karet di areal perkebunan Bridgestone.

Pengemudi yang datang dari arah Medan menyebutkan, dia mengalami kemacetan sejak dari Simpang Dolok Merangir, sekitar 21 km dari kota Pematangsiantar.

Hingga berita ini diturunkan, sekitar pukul 18.35 Wib, langsung dari Simpang Dolok Ulu, kemacetan masih tetap berlangsung. Di lokasi BatakToday memantau tidak terlihat ada petugas kepolisian yang melintas, baik dari arah Simpang Dolok Merangir, maupun dari arah Sinaksak. (ajvg)

Komunikasi Sampah

Komunikasi 'Sampah' ala Haranggaol (Foto: Arif JV Girsang)

Oleh: Arif JV Girsang*)

Belum lama ini Kawasan Danau Toba ditimpa ‘musibah’ berupa ketidakpedulian Pemerintah Kabupaten Simalungun yang menjadikan bibir pantai Danau Toba sebagai tempat pembuangan (TPA) sampah, di Huta Tangga Batu, Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan.

Baca berita: Bukannya Dukung Pariwisata, Pemkab Simalungun Jadikan Pantai Haranggaol TPA Sampah

Ketika penulis mendatangi langsung lokasi pembuangan sampah di kelurahan itu, dijumpai bentuk komunikasi yang unik antara Lurah Haranggaol dengan warga Haranggaol yang menolak sikap dan tindakan buang sampah yang ternyata telah berlangsung sejak beberapa waktu sebelumnya.

Lurah Haranggaol yang kemudian dihubungi via sambungan telepon, pertama menyebutkan telah menempatkan pemberitahuan sebagai larangan membuang sampah di tempat itu. Kemudian menyebutkan bahwa tentang sampah adalah merupakan tugas dan tanggungjawab Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) terkait di lingkungan Pemkab Simalungun, dan selebihnya dapat melakukan komunikasi dengan Camat Haranggaol Horisan yang menjadi atasannya.

Sedikit unik di ‘lokasi TPA’ di Huta Tangga Batu, pemberitahuan larangan membuang sampah, atau lurah menyebutnya pamflet, yang berbunyi “Dilarang Buang Sampah di Sini”, dibubuhi ‘ttd’ Lurah Haranggaol, kemudian dijawab warga juga dengan pamflet yang ditempatkan di ‘TPA’ yang sama. Tulisan warga berbunyi, ”Loh…??? Memang Siapa yang Buang Sampah di Danau ini Pak Lurah???” dan “Ditunggu Jawabannya ya Pak Lurah…GBU”, keduanya ‘ttd’ Warga.

Sampah yang dibuang dan dibakar, di Huta Tangga Batu, Kelurahan Haranggaol, Kabupaten Simalungun (Foto: Arif JV Girsang)
Sampah yang dibuang dan dibakar, di Huta Tangga Batu, Kelurahan Haranggaol, Kabupaten Simalungun (Foto: Arif JV Girsang)

Tentu menjadi pertanyaan, apakah pertanyaan warga Haranggaol di atas juga akan dijawab lurahnya dengan tulisan di tempat sampah itu?

Saat penulis kemudian mencoba untuk menghubungi Camat Haranggaol Horisan, didapat jawaban normatif tentang kejadian pembuangan sampah di tepi danau. Camat menyebutkan itu adalah tugas dari dinas terkait, disebutkannya  Badan Lingkungan Hidup (BLH) Pemkab Simalungun, dan tambahannya, bahwa dia telah memerintahkan lurahnya untuk membakar sampah yang ada di tempat itu, serta berkoordinasi dengan pihak BLH untuk penanganan selanjutnya. Penulis yang dalam komunikasi dengan Camat Haranggaol Horisan telah memperkenalkan diri sebagai jurnalis dari media online BatakToday.com, tidak mendapat informasi lain, misalnya solusi atau langkah selanjutnya sehubungan masalah pembuangan sampah di tepi danau.

Di jalan pulang menuju Pematangsiantar, di tepi jalan melihat beberapa WC atau toilet yang terletak di atas saluran. Kemudian memasuki daerah Kecamatan Purba, tepatnya di tepi jalan di kawasan Hutan Sigiringgiring, sekitar satu kilometer dari gapura di Simpang Haranggaol, penulis masih menemukan tumpukan sampah yang ditempatkan begitu saja, di tepi jalan pada dua tempat di kawasan hutan itu. Sebelumnya, Camat Haranggaol Horisan telah menerangkan bahwa kawasan Hutan Sigiringgiring berada di luar teritorialnya, itu berada di Kecamatan Purba, bukan kecamatannya lagi.

Toilet di tepi jalan menuju Haranggaol (Foto: Arif JV Girsang)
Toilet di tepi jalan menuju Haranggaol (Foto: Arif JV Girsang)

Menjadi pertanyaan, camat sebagai pemangku kepentingan di daerahnya, pernahkah membangun komunikasi dengan pihak terkait di Pemkab Simalungun tentang sampah di Hutan Sigiringgiring ini? Pernahkah ada komunikasi dengan BLH, bahwa sampah sebaiknya bukan dibakar? Pernahkah melakukan komunikasi dengan warganya yang menempatkan WC di tepi jalan, di atas saluran?

Haranggaol, selain daerah pertanian, daerah perikanan, juga menjadi salah satu daerah tujuan wisata. Memang di waktu terakhir ini, oleh adanya keramba jaring apung (KJA) dan buruknya infrastruktur, terutama jalan, Haranggaol hampir kehilangan pamornya sebagai daerah tujuan wisata. Namun hampir dapat dipastikan juga, dari kabar tentang sampah, tentang toilet di pinggir jalan, masalah komunikasi dalam pemerintahan di daerah ini menjadi salah satu kendala untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada.

Sampah di Harangan Sigiringgiring, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun (Foto: Arif JV Girsang)
Sampah di Harangan Sigiringgiring, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun (Foto: Arif JV Girsang)

Ketika penulis bertemu dengan salah satu penggiat dan pengurus Asosiasi Dearma Haranggaol Horisan, yang beberapa waktu terakhir aktif bersama warga Haranggaol lainnya untuk mengatasi berbagi masalah, termasuk kebersihan, perbaikan jalan, serta kesetimbangan antara KJA dengan Pariwisata. Dia kemudian justru memberikan ‘kabar tak sedap’, bahwa postingannya di media sosial, yang menyebarkan berita tentang sampah di daerahnya, mendapat tanggapan miring dari pihak lain.

Ada pihak yang berkomunikasi dengan pengurus Asosiasi Dearma Haranggaol Horisan sehubungan masalah sampah itu. Tetapi penekanannya bukan untuk membantu mencari solusi, justru melancarkan tudingan bahwa postingan di media sosial tentang sampah, disebutkan sebagai upaya politisasi, yaitu hubungannya dengan ‘kabar’ bahwa Bupati Simalungun saat ini berencana untuk maju dalam Pilkada Sumut 2018.

Warga membersihkan saluran di Kelurahan Haranggaol (Foto: Arif JV Girsang)
Warga membersihkan saluran di Kelurahan Haranggaol, Selasa 20/6/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Adakah pihak yang mau datang begitu saja untuk ‘membangun’ komunikasi dengan warga Haranggaol, sehubungan dengan berita tentang sampah tersebut, tanpa di belakangnya ada keterkaitan dengan unsur Pemkab Simalungun?

Pemerintah Kabupaten Simalungun bukannya membangun komunikasi internal maupun eksternal yang efektif untuk mencari solusi masalah sampah di Haranggaol, justru yang sedang terjadi adalah komunikasi yang penulis melihatnya tidak berguna atau berharga, atau berkualitas rendah.

Hal-hal yang dianggap tidak berguna atau berharga, atau berkualitas rendah, juga dapat disebut sebagai sampah. Sehingga penulis menyebut komunikasi yang sedang ada dan sedang dibangun Pemerintah Kabupaten Simalungun saat ini, sehubungan masalah sampah di Haranggaol, adalah Komunikasi Sampah.

Tak lama setelah kejadian terkait sampah di Haranggaol, penulis menghadiri sebuah acara di Kota Pematangsiantar, yang diselenggarakan oleh pemerintah kotanya, dengan judul “Temu Pers Pimpinan Daerah”, bertemakan “Menjalin Komunikasi yang Sinergis antara Pemerintah Kota Pematangsiantar dengan Insan Pers dalam Mewujudkan Kota Pematangsiantar Mantap, Maju dan Jaya”.

Baca berita: Judulnya untuk Komunikasi yang Sinergis, Nyatanya Hefriansyah Tinggalkan Insan Pers

Plh Walikota Siantar meninggalkan acara yang dari temanya jelas bertujuan untuk menjalin komunikasi yang sinergis dengan insan pers, tetapi meninggalkan acara tersebut tanpa komunikasi dengan pihak yang diharapkan untuk memberi masukan, yang berkomunikasi dengannya sebagai pimpinan daerah. Lagi-lagi ini adalah komunikasi yang setali tiga uang, Komunikasi Sampah…!

Temu Pers Pimpinan Daerah, dengan tema: “Menjalin Komunikasi yang Sinergis antara Pemerintah Kota Pematangsiantar dengan Insan Pers dalam Mewujudkan Kota Pematangsiantar Mantap, Maju dan Jaya”, Ruang Data Pemko Pematangsiantar, Kamis 22/6/2017 (Foto: Arif JV Girsang)
Temu Pers Pimpinan Daerah, dengan tema: “Menjalin Komunikasi yang Sinergis antara Pemerintah Kota Pematangsiantar dengan Insan Pers dalam Mewujudkan Kota Pematangsiantar Mantap, Maju dan Jaya”, Ruang Data Pemko Pematangsiantar, Kamis 22/6/2017 (Foto: Arif JV Girsang)

Jika komunikasi adalah suatu proses untuk saling membagi informasi atau ide antara para pihak yang terlibat di dalamnya, baiklah pemerintah juga sedemikian rupa melakukannya secara efektif dan dalam sebuah sistem yang efisien.

Menjadi pelajaran bersama, baik bagi pemerintah daerah maupun pemerintah atasannya, juga bagi seluruh pemangku kepentingan, agar membangun sebuah komunikasi yang baik, dalam menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada dan tentunya untuk mempercepat pembangunan Bangsa dan Negeri Tercinta, Indonesia…!

*) Penulis adalah redaktur di media online BatakToday.com

Judulnya untuk Komunikasi yang Sinergis, Nyatanya Hefriansyah Tinggalkan Insan Pers

Temu Pers Pimpinan Daerah, Thema: “Menjalin Komunikasi yang Sinergis antara Pemerintah Kota Pematangsiantar dengan Insan Pers dalam Mewujudkan Kota Pematangsiantar Mantap, Maju dan Jaya”, Ruang Data Pemko Pematangsiantar, Kamis 22/6/2017 (bataktoday/ajvg)

Pematangsiantar, Bataktoday

Acara Temu Pers Pimpinan Daerah yang diselenggarakan Pemerintah Kota Pematangsiantar, Kamis pagi (22/6/2017), dengan thema “Menjalin Komunikasi yang Sinergis antara Pemerintah Kota Pematangsiantar dengan Insan Pers dalam Mewujudkan Kota Pematangsiantar Mantap, Maju dan Jaya” berakhir tanpa komunikasi yang sinergis antara Plh Walikota Hefriansyah, SE .MM, dengan insan pers yang hadir, seperti disebut sebagai thema pertemuan ini.

Hefriansyah dalam acara ini didampingi Plt Sekda Ir. Reinward Simanjuntak, MM, Staf Ahli Bidang Pemerintahan Drs. Pardamean Silaen, MSi, dan beberapa pimpinan SKPD. Di awal sambutannya Hefriansyah menyebutkan perlunya komunikasi antara pemerintah kota dengan insan pers.

“Selama saya menjabat Wakil Walikota Pematangsiantar, secara langsung kita belum pernah bertatap muka, belum pernah bersilaturahim. Saya katakan kepada Kabag Humas, apa yang bisa kita komunikasikan, apa yang bisa kita buat bersama dengan rekan-rekan pers,” demikian Hefriansyah di awal sambutannya.

Disampaikannya juga ajakan kepada insan pers untuk bersinergi dan menjadi kontrol sosial dalam membangun Kota Pematangsiantar.

“Sebagai kontrol sosial  diharapkan insan pers dapat memberikan kontribusi maupun masukan yang bersifat konstruktif guna mewujudkan kemajuan Kota Pematangsiantar. Di era kebebasan pers saat ini, tentunya media memiliki peranan penting dalam proses berdemokrasi, hal ini menjadi masukan yang baik untuk pelaksanaaan program-program Pemko Siantar. Sehingga, pers harus mendukungnya melalui pemberitaan yang akurat dan berimbang,” sebut Hefriansyah.

Dalam sambutannya Hefriansyah menyebutkan tentang sosialisasi berbagai program selanjutnya akan diserahkan kepada perangkat Pemko Siantar yang mendampinginya, berhubung ada kegiatan lain yang harus dijalaninya.

“Saya tidak bisa berlama-lama di sini karena ada kegiatan yang lain yang menantikan,” ujarnya di bagian akhir sambutannya dan membuka secara resmi acara Temu Pers Pimpinan Daerah yang diselenggarakan di Ruang Data Pemko Pematangsiantar.

Beberapa awak media yang hadir dalam acara ini mencoba untuk mengejar dan mencoba meminta penjelasan kepada Hefriansyah, ketika dia meninggalkan ruangan dan menuju ke mobil dinasnya. Saat BatakToday meminta menyebut bahwa kehadiran insan pers adalah untuk berjumpa dan bersinergi serta berkomunikasi dengannya sebagai pimpinan di Pemko Siantar, sesuai thema acara itu, dia memberi jawaban bahwa ada SKPD yang akan bersinergi dengan para insan pers yang hadir.

“Sudah jumpa kita. Saya kan punya SKPD, nanti bersinergi dengan mereka,” jawabnya dan mengelak untuk memberi jawaban lebih lanjut ketika awak media menyampaikan kekecewaannya atas sikapnya yang meninggalkan acara tanpa terlebih dahulu ada komunikasi langsung dengannya seperti thema acara pagi itu. (ajvg)

Bukannya Dukung Pariwisata, Pemkab Simalungun Jadikan Pantai Haranggaol TPA Sampah

Dump Truk pengangkut sampah milik Pemkab Simalungun, saat membongkar muatan sampah di bibir pantai Huta Tangga Batu, Kelurahan Haranggaol (Foto: Darma Purba)

Haranggaol, BatakToday

Pemerintah Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo menetapkan Kawasan Danau Toba (KDT) menjadi salah satu dari 10 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional yang diprioritaskan dalam program kerja Kementerian Pariwisata. Untuk keberhasilan dari program ini masalah-masalah yang ada tentunya harus dapat diatasi, diantaranya  terkait infrastuktur untuk aksesibilitas, investasi untuk membangun sarana dan prasarana pariwisata, dan terkait produk wisata yang akan ditawarkan kepada para wisatawan. Namun hal lain yang juga menjadi sangat penting adalah kelestarian Danau Toba, termasuk kebersihan lingkungan kawasan.

Sementara para pemangku kepentingan (stake holder) masih direpotkan dengan isu dan polemik tentang keramba jaring apung (KJA) dan perusahaan perusak lingkungan yang beroperasi di KDT, Pemerintah Kabupaten Simalungun sebagai salah satu kabupaten yang berada di kawasan ini menambah permasalahan dengan menjadikan bibir danau menjadi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

Kejadian ini disaksikan langsung oleh Tim Asosiasi Dearma Haranggaol Horisan, ketika truk pengangkut sampah milik Pemkab Simalungun membuang sampah di tepi jalan yang letaknya berdekatan dengan bibir pantai Huta Tangga Batu, Haranggaol, Kelurahan Haranggaol, Kecamatan Haranggaol Horisan, Simalungun, Jumat (16/6/2017).

Bibir Pantai Huta Tangga Batu, Haranggaol, dijadikan TPA sampah oleh Pemkab Simalungun (Foto: Darma Purba)
Bibir Pantai Huta Tangga Batu, Haranggaol, dijadikan TPA sampah oleh Pemkab Simalungun (Foto: Darma Purba)

Darma Purba, salah satu pengurus Asosiasi Dearma Haranggaol Horisan, yang juga menjadi mentor dalam Gerakan Batak Muda Dunia, saat dihubungi via telepon selular, Senin siang (19/6/2017), menyebutkan sikap dan tindakan Pemkab Simalungun dengan menjadikan kawasan danau menjadi TPA sampah sangat keterlaluan.

“Sementara kami masyarakat Haranggaol berupaya untuk memperbaiki daerah ini, justru Pemerintah Kabupaten Simalungun menunjukkan sikap yang sangat tidak baik dan memalukan. Lihat daerah kami ini, sudah lama kami menanti perhatian Pemkab Simalungun, responnya tak cukup pantas sebagai pemerintah. Jalan sedang kami perbaiki sendiri, kami bersihkan, bahkan sampah yang selama ini mereka buang juga kami bersihkan. Ketika kami sedang giat-giatnya bergotong royong memperbaiki daerah ini, menambal lubang-lubang di jalan yang sudah semakin parah, membersihkan saluran, membabat semak di bahu jalan yang tak terurus, justru Pemkab Simalungun membuang sampah ke tepi danau, ini sudah keterlaluan! Kebijakan seperti apa yang sedang mereka (Pemkab Simalungun,-red.) lakoni?” ujar Darma dari ujung telepon, seraya meminta BatakToday datang untuk menyaksikan langsung apa yang sedang diupayakan masyarakat Haranggaol beberapa hari terakhir, selain gotong royong memperbaiki jalan untuk kelancaran transportasi juga dalam mendukung pariwisata kawasan, terutama menyambut libur Hari Raya Lebaran yang tak lama lagi.

Ditambahkannya lagi, jika Pemkab Simalungun tidak punya rencana untuk membangun Haranggaol sebagai daerah tujuan wisata, setidaknya bukan menambah permasalahan untuk kawasan tersebut.

“Tolong catat, kalau Pemkab Simalungun di bawah kepemimpinan bupati yang sekarang tidak punya rencana menjadikan Haranggaol sebagai salah satu prioritas dalam program pembangunan pariwisata di kabupaten ini, setidaknya tidak menambah permasalahan bagi kami di daerah ini. Bagaimana mungkin memajukan pariwisata kalau daerah kami malah dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah terbuka seperti itu,” sebutnya, dan menyebut Harangan (Hutan) Sigiring-giring yang terletak di jalan menuju Haranggaol juga dijadikan tempat pembuangan sampah tanpa penanganan yang seharusnya oleh Pemkab Simalungun.

Tepi jalan menuju Haranggaol, di kawasan Hutan Sigiring-giring, dijadikan TPA sampah oleh Pemkab Simalungun (Foto: Darma Purba)
Tepi jalan menuju Haranggaol, di kawasan Hutan Sigiring-giring, dijadikan TPA sampah oleh Pemkab Simalungun (Foto: Darma Purba)

Ketika salah satu direktur Badan Otorita Danau Toba (BODT), Basar Simanjuntak dimintai pendapat tentang keadaan ini, dia menyebut agar dilakukan melalui penegakan hukum agar ke depannya menjadi pelajaran untuk semua pihak.

“Secara teritorial tentu yang lebih tahu adalah pemerintah daerah sendiri, dalam hal ini Pemkab Simalungun, termasuk perangkatnya hingga ke kecamatan, dan desa atau kelurahan. Namun kami melihatnya sebagai suatu hal yang perlu ditindaklanjuti secara hukum, sehingga ke depannya akan menjadi pelajaran bagi semua pihak. Di satu sisi, akan percuma upaya Pemerintah Pusat, jika pemerintah daerah di Kawasan Danau Toba tidak mendukung. Mari kita lihat Danau Toba sebagai satu daerah konservasi yang harus dilestarikan. Baik dari segi hukum dan perundang-undangan, maupun dari sisi kepantasan, kawasan danau apalagi sudah sampai ke bibir danau, jelas tempat itu bukan tempat pembuangan sampah,” tegasnya ketika dihubungi BatakToday, Senin siang (19/6/2017), saat berada di atas ferry penyeberangan Tomok-Ajibata, dalam perjalanan dari Samosir menuju Balige. (ajvg)

Guyonan Seperti SARA

Tulisan pendek yang dikutip dari group WA Pemburunews, membentuk persepsi menggelitik. Terkesan bersenggolan dengan SARA, padahal hanya guyonan semata.
Sila dibaca:

Di dalam KRL dari Bogor menuju Cikini

Seorang pemuda menepuk pundak bapak yang berdiri di depannya
Pemuda (P) : Bapak Pancasila?
Bapak (B) : Saya Indonesia !
P : Kalo gitu mohon minggir dulu
B : Lho kenapa saya mesti minggir?
P : Karena Pancasila dulu pak, baru Indonesia
B : Salah nak, Indonesia dulu !
P : Bapak gimana? saya bilang Pancasila dulu.
B : Memangnya bapakmu asalnya dari mana?
P : Bapak saya dari Jakarta asli lho pak.
Si bapak tersenyum sambil geleng-geleng kepala
B : Oh pantas… sudahlah nak, minggir dulu, saya Indonesia
P : Saya Pancasila pak! Saya dulu!
B : Indonesia dulu, baru Pancasila!
Kuatir terjadi perselisihan, Seseorang mencoba menengahi
Orang (S) : Sudahlah pak, mas, jangan ribut, jadi bapak ini Indonesia?
B : Ya, saya Indonesia
S : Trus mas ini Pancasila?
P : Ya, saya Pancasila
S : Kalo begitu dua-duanya
minggir dulu!!
B & P : Lho? Kenapa kita mesti minggir???
S : Karena saya Cina !

*Kommuter mania boleh ngakak*

Urutannya :
Stasiun Pondok Cina – Stasiun Univ. Indonesia – Stasiun Univ. Pancasila

***********
Yang terpaku pada alinea awal akan sesali persepsinya karena mungkin keliru, setelah membaca bait terakhir.

Guyonan ini seperti selaras dengan panasnya isi dunia digital Indonesia terkait SARA, akhir-akhir ini.

Sumber: Perkumpulan Opini-Persepsi (POP)

Foto: Stasiun KA Pondok cina depok 1980-an (Diambil dari akun Facebook a.n Kang Elan Butenzorg)

Keterangan:

POP terdaftar pada SK Kemenhumham RI No. AHU-0009683.AH.01.07.TAHUN 2017, menyimpul persepsi dari berbagai informasi/opini digital yang tayang pada group FB, Google+, Instagram, Kakao Talk, Line, Path, Telegram, Twitter, You Tube, WA, We Chat & secara khusus jejaring FB Wartawan Indonesia, link berita Ikatan Wartawan Online (IWO) serta Teknologi Media Hijau.

Ini bentuk kebebasan mengeluarkan pikiran terkait warna-warni persepsi.

@Direktur Eksekutif POP
Teuku Yudhistira
@Pengkaji
Iskandar Sitorus
Moh Gunawan Abdullah
Bivi Edward Panggabean
Dwi Christianto
@pop 081319770808
08126360319

LBH Wartawan Online Segera Berdiri

Jakarta, BatakToday

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Wartawan Online akan segera didirikan. Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Wartawan Online (IWO) sudah mengeluarkan surat mandat untuk pembentukan LBH Wartawan Online.

Nantinya, LBH Wartawan Online akan berdiri di semua Provinsi di tanah air guna memberikan perlindungan dan melakukan pendampingan hukum terhadap wartawan ketika mendapatkan tindak kekerasan dalam melakukan tugas peliputan.

“Surat mandat pembentukan LBH Wartawan Online nomor 0127/MAN-LBH/PP-IWO/VI/2017 sudah kami tandatangani malam tadi bersama Ketua Umum IWO Jodji Yudono. LBH ini kami anggap penting didirikan agar wartawan merasa nyaman ketika melakukan tugas peliputan dilapangan,” kata Sekretaris Jenderal (Sekejend) IWO Witanto dalam siaran pers Sabtu (17/6/2017).

Dikatakannya, surat mandat ini diberikan kepada 6 orang pengacara muda yakni: Ralian Jawalsen, S.sos, SH, Anggiat Gabe Maruli Tua Sinaga, SH, Saibun Manurung, SH, MH, Ferdinand Purba, SH, Willyam Benyamin Robert Sakti, SH (Obed Sakti Andre Dominika) dan Rismawati Sibarani, SH.

Menurut pria kelahiran Yogyakarta ini, para pemegang mandat ini diberikan kewenangan untuk membentuk susunan dan atau jajaran Pengurus Pusat, Dewan Etik, Dewan Pakar, Dewan Pertimbangan, Pengurus daerah dan atau Pengurus Wilayah LBH Wartawan Online.

“Surat mandat sudah berlaku sejak ditandangani,” jelasnya.

Sekjend berharap Pimpinan Wilayah IWO di masing-masing Provinsi agar mempersiapkan LBH Wartawan Online.

“Alasan yang mendasar pembentukan LBH Wartawan Online adalah ketika wartawan di daerah mengalami kekerasan dalam melakukan tugas peliputan bisa langsung mendapatkan pendampingan hukum. Jadi tidak perlu menunggu pendampingan hukum dari Jakarta,” pungkasnya. (rel/ajvg)

Silahisabungan Arts Festival #2, Bantu Hidupkan Ekonomi Masyarakat

Medan, BatakToday

Silahisabungan Arts Festival (SAFe) #2 ditargetkan mendatangkan 2500-an pengunjung. Festival seni budaya yang dipersembahakan Rumah Karya Indonesia ini akan diselenggarakan 21-23 Juli 2017, dipusatkan di Bukit Baha, Desa Paropo, Kecamatan Silahisabungan, Dairi.

Hal ini disampaikan Direktur Rumah Karya Indonesia, Ojax Manalu, dalam pemaparannya pada Pre Event Silahisabungan Arts Festival (SAFe) #2 yang dilangsungkan di d’Caldera Coffee, Jalan Sisingamangaraja 132, Medan, Sabtu malam (17/6/2017).

Ojax Manalu, Direktur Rumah Karya Indonesia (bataktoday/ajvg)
Ojax Manalu, Direktur Rumah Karya Indonesia (bataktoday/ajvg)

Sebelumnya, Ketua Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba, Alimin Ginting, menyampaikan dukungan untuk penyelenggaraan SAFe#2. Disebutkannya bahwa kawasan Silahisabungan memiliki ketiga hal yang menjadi pendukung untuk Geopark Kaldera Toba, yaitu geodiversity, biodiversity dan culturediversity.

Selain pertunjukan seni budaya yang diisi kolaborasi seniman dan masyarakat setempat, Opera Batak, dan Karnaval Budaya, juga akan diramaikan dengan Aksi Anak, Tabur Bibit Ikan Menanam Pohon dan Bunga, Pameran, dan Stand Kuliner Tradisional.

M Passiona Lumbantoruan, Event Manager SAFe#2 (bataktoday/ajvg)
M Passiona Lumbantoruan, Event Manager SAFe#2 (bataktoday/ajvg)

Selain kegiatan tersebut di atas, SAFe#2 seperti juga tahun sebelumnya, akan semakin lengkap dengan Camping Ground dengan kapasitas 2000 peserta.

Rilis Onyva membawakan Tari Sawan (bataktoday/ajvg)
Rilis Onyva membawakan Tari Sawan (bataktoday/ajvg)

Selain peserta camping ground, festival ini diperkirakan akan mendatangkan sekitar 500 wisatawan. Sehingga dengan kehadiran pengunjung diharapkan menambah denyut perekonomian bagi masyarakat setempat.

Alimin Ginting, Ketua Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (bataktoday/ajvg)
Alimin Ginting, Ketua Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (bataktoday/ajvg)

Hadir dalam pre event malam ini, dari Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba, yaitu Gagarin Sembiring dan Karmel Sianturi. Juga anggota DPRD Sumut yang membidangi pariwisata, yaitu Siti Aminah Peranginangin dan Jenny Brutu, serta Event Manager M Passiona Lumbantoruan.

Lagu Sagu-sagu Marlangan, VG Pemuda Silahisabungan (bataktoday/ajvg)
Lagu Sagu-sagu Marlangan, VG Pemuda Silahisabungan (bataktoday/ajvg)

Sejumlah pertunjukan seni musik dan tari, turut memeriahkan acara malam ini, Tampil diantaranya Hanna Pagit dengan lagu tradisionalnya, Tari Sawan oleh Rilis Onyva Samosir dan lagu tentang Sagu-sagu Marlangan yang dibawakan  VG Pemuda Silahisabungan.

Puisi yang berjudul Bukit Baha, yang dibawakan oleh penulisnya sendiri Agus Susilo, sejenak membuat pengunjung tersentak, senyap sejenak oleh energi yang terpancar dari syair dan ekspresi Agus seperti biasanya.


Hanna Pagiet (bataktoday/ajvg)

Saat berita ini diturunkan masih berlangsung diskusi dan tanya jawab tentang event Silahisabungan Arts Festival #2.

D’Caldera Coffe malam ini dipadati sekitar 100 orang pengunjung, yang mengikuti acara sambil menikmati makan malam akhir pekannya. (ajvg)

Triadil Saragih, di Jalan Sepi Pelestarian Seni Budaya Simalungun

Triadil Saragih, Seniman Muda Simalungun (doc Triadil Saragih)

Masyarakat Simalungun, dalam rentang waktu yang panjang terlihat seperti acuh akan seni budayanya. Namun dengan semakin seringnya pementasan seni budaya Simalungun belakangan ini, diharapkan akan menggugah masyarakat Simalungun untuk boleh kembali memaknai, memelihara dan menghidupkan bagian dari budayanya ini.

Demikian disebutkan Triadil Saragih, seniman muda Simalungun, mengekspresikan harapan dibalik kegalauannya terhadap ketidakpedulian puak Simalungun akan seni budayanya.

“Saya ambil contoh, dari sekian banyak orang yang memperdalam pengetahuan tentang seni budaya, termasuk musik, itu sangat sedikit sekali yang berlatarbelakang suku Simalungun. Ini saya katakan sebagai salah satu gejala bahwa kita dari Simalungun kurang keinginan untuk menekuni seni, apalagi seni budaya Simalungun,” ujar Triadil lebih lanjut melalui pembicaraan melalui sambungan telepon dengan BatakToday, pada Kamis malam (15/06/2017).

Triadil Saragih (Foto: Andy Siahaan)
Triadil Saragih (Foto: Andy Siahaan)

Lahir di Tanjung Morawa, Oktober 1992, sebagai anak ke-5 dari 6 bersaudara dari pasangan  T. Salan Saragih dan Marselina Purba. Kemudian pria dengan nama lengkap Selamat Triadil Saragih ini dibesarkan di Huta Ujung Saribu, Bangun Purba, Kabupaten Deli Serdang. Meskipun secara administratif huta (kampung) tempatnya dibesarkan berada di Kabupaten Deli Serdang, namun lingkungan Triadil dibesarkan masih cukup kental dengan budaya Simalungun.

Setelah menamatkan pendidikan dari SMK Swasta RK Serdang Murni, Lubuk Pakam, tahun 2011, melalui jalur undangan diterima di Jurusan Sendratasik, Program Studi Pendidikan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Medan (UNIMED). Triadil menyelesaikan studi dari universitas ini Mei 2016 lalu.

Triadil berterusterang tentang kegalauannya akan masa depan pelestarian seni budaya Simalungun. Dia menyebut karya seniman dari Simalungun juga tidak seperti yang diharapkan, untuk dapat mendorong pelestarian dan pengembangan seni budaya Simalungun.

“Ada banyak karya seni musik berbahasa Simalungun, tetapi ciri kesimalungunannya tidak cukup dipertahankan. Bahkan diantara mereka yang belajar seni musik, misalnya di jurusan Seni Musik Unimed ataupun di Etnomusikologi USU, banyak yang dari Simalungun, tetapi yang mereka kembangkan bukan seni musik yang cukup menunjukkan warna Simalungun, justru lebih kepada seni tradisi yang lain,” demikian dia mengkritisi.

Triadil Saragih (tengah), aktif dalam berbagai kegiatan seni budaya Simalungun (doc Triadil Saragih)
Triadil Saragih (tengah), aktif dalam berbagai kegiatan seni budaya Simalungun (doc Triadil Saragih)

Dia berharap teman-temannya, orang muda Simalungun yang menuntut ilmu di UNIMED, USU, Universitas HKBP Nommensen, agar benar-benar mendalami seni musik Simalungun.

“Supaya nanti ke depannya musik Simalungun itu tidak monoton, tetapi justru semakin berkembang dari yang telah ada, tanpa meninggalkan kekhasan dari tradisi Simalungun, teman-teman seharusnya lebih mendalami seni budaya, khususnya seni musik Simalungun,” tutur Triadil lebih jauh.

“Kualitas lagu Simalungun itu sendiri secara alamiah menurunkan minat orang-orang Simalungun terhadap seni musiknya sendiri. Sebagian orang Simalungun tidak merasa rindu lagi dengan lagu-lagu tradisinya, malah mendengar lagu dari daerah lain mereka itu lebih bersemangat. Tetapi sekali lagi, ini berhubungan dengan kualitas karya-karya lagu Simalungun yang sekarang ini, dan justru di situ lah kita harus peduli untuk mengembangkannya, ” terangnya.

Gitar, alat musik yang pertama dimainkan Triadil Saragih(doc Triadil Saragih)
Gitar, alat musik yang pertama dimainkan Triadil Saragih(doc Triadil Saragih)

Alat musik yang pertama kali ditekuninya adalah gitar. Namun di kemudian hari lebih menekuni Sarunei Simalungun. Triadil mengapresiasi seni musik dan lagu-lagu Simalungun yang terdahulu, yang menurutnya begitu berkualitas, dan sangat disukai banyak kalangan.

“Tapi sangat disayangkan, lama-kelamaan semakin menurun. Jika kita kembali ke masa Ompung Taralamsyah, yang kita dengar, musik Simalungun itu sangat bergema. Sekarang, lama-kelamaan malah rekaman lagu-lagu Simalungun juga relatif berkurang, kalah jauh dibandingkan dengan para seniman daerah lain di Sumatera Utara ini,” ujarnya sekali lagi menunjukkan kegusarannya tentang perkembangan seni musik Simalungun.

Tercatat aktif di grup seni sejak duduk di bangku perkuliahan, diantaranya Paduan Suara Solfeggio Choir UNIMED yang tampil pada beberapa event, antara lain Pesparawi Nasional di Kendari, Pesparawi Mahasiswa di Ambon, dan Bali Internasional Choir Festival (BICF). Demikian juga dalam kepengurusan organisasi, seperti di HIMAPSI (Himpunan Mahasiswa dan Pemuda Simalungun), serta kepanitiaan-kepanitian yang berkaitan dengan seminar maupun event seni budaya. Dia juga kerap tampil mengisi berbagai panggung seni, terutama seni musik Simalungun. Aktivitas ini membawanya ke berbagai tempat di Nusantara, antara lain Jakarta, Jayapura, Bandar Lampung, Batam, dan tempat-tempat lainnya.

Tampil di berbagai panggung seni dan kegiatan seni budaya lainnya, membawa Triadil Saragih untuk beprgian ke berbagai tempat di Nusantara (doc Triadil Saragih)
Tampil di berbagai panggung seni dan kegiatan seni budaya lainnya, membawa Triadil Saragih untuk beprgian ke berbagai tempat di Nusantara (doc Triadil Saragih)

Awal April 2017 lalu, Triadil ‘mandah’ dari kota Medan ke Jakarta, untuk melanjutkan studi S2 ke Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dia menyebut studinya ini masih dalam rangka upaya melanjutkan perjuangan melestarikan seni budaya Simalungun.

“Untuk memperjuangkan seni budaya Simalungun ini sebenarnya ngeri-ngeri sedap. Belakangan ini semakin tidak banyak yang memikirkan seni budaya ini. Ketika memulai untuk menekuni, saya menemukan begitu banyak tantangan. Bagi saya pribadi, adalah menjadi tantangan khusus untuk memperjuangkan seni Simalungun ini. Dalam diri saya akhirnya timbul niat yang semakin kuat, harus bisa, seni Simalungun harus tetap lestari,” tegasnya, dan menyebut banyak yang harus dikerjakan dalam perjuangan ini.

Triadil Saragih, yang tampil dalam Jong Bataks Arts Festival #3, di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan 27 Oktober 2016 (bataktoday-ajvelah tampil di panggunstival #3, 27
Triadil Saragih, tampil dalam Jong Bataks Arts Festival #3, di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan 27 Oktober 2016 (bataktoday/ajvg)

Akhir Oktober tahun 2016 yang lalu, BatakToday menyaksikan langsung penampilan Triadil bersama rekan-rekan mudanya di panggung Jong Batak Arts Festival #3 di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan, dengan menampilkan seni budaya Simalungun. Triadil menyampaikan harapannya tentang tanggungjawab kaum muda Simalungun agar berkarya untuk seni budayanya, serta juga dukungan dari para seniornya.

“Pemuda Simalungun harus sadar bahwa kelestarian seni Simalungun itu tanggung jawab bersama. Nah, kami orang muda Simalungun tentu harus terus berkarya, dan tentunya juga para senior kami diharapkan untuk tetap memberikan bimbingan dan dukungan untuk itu,” demikian salah satu harapannya untuk masa depan seni budaya Simalungun.

(ajvg)