oleh

Batak Muda Dunia Mengenang Riyanto sebagai Pahlawan

Mojokerto, BatakToday-

Masih melekat di ingatan nama seorang Riyanto,  anggota Banser NU yang rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan umat Nasrani yang sedang menjalankan ibadah malam Natal di Gereja Eben Haezer Jalan Kartini, Mojokerto, pada 24 Desember 2000, sekitar 16 tahun lalu.

Riyanto pada malam itu, bersama 5 orang temannya dari Banser NU, ditugaskan GP Anshor Mojokerto untuk membantu polisi dalam mengamankan perayaan malam Natal di gereja itu. Diketahui kemudian, dia tewas dengan mengenaskan, ketika sebuah bom yang dibawanya untuk dibuang keluar dari dalam gereja, meledak dalam pelukannya.

Demikian dikisahan singkat oleh salah satu saksi mata, Amir, sesama anggota Banser NU yang bertugas bersama-sama dengan Riyanto pada malam itu, di sela-sela kunjungan silaturahmi Batak Muda Dunia ke rumah orangtua Riyanto, Sabtu siang (07/01/2016)

“Almarhum pada malam itu, bergegas membawa benda yang diyakini adalah sebuah bom, yang ditemukan dalam gereja. Semula almarhum Riyanto berupaya melemparkan bom sekuat tenaga, tapi tidak tau bagaimana, nyangkut tidak jauh dari pintu gereja. Almarhum kemudian mengambilnya lagi, membawanya berlari menjauhi gereja. Bom itu meledak dalam pelukan Riyanto. Bom meledak sangat kuat, saya sendiri saat itu sampai pingsan dan terluka, karena kena pecahan batu yang terbang menghantam kepala saya. Dari teman-teman kemudian saya tahu, ledakan bom itu menerbangkan dan menghancurkan tubuh Riyanto, hingga melewati bangunan rumah berlantai dua yang ada di dekat Gereja Eben Haezer. Kepala almarhum bahkan terbelah,” kisah Amir tentang kejadian malam itu.

Kedua orangtua Riyanto, Sukarmin dan Katinem, dalam kunjungan Batak Muda Dunia yang diwakili Victor E Simanjuntak dan istri, mengatakan ikhlas serta berbesar hati dengan tindakan anaknya yang telah mengorbankan jiwa raganya untuk menyelamatkan orang-orang dengan agama yang berbeda saat mereka menjalankan ibadah.

“Kami mengikhlaskan kepergian Riyanto. Dia semasa hidupnya, sejak masa kecilnya hanya orang biasa, dan memang bukan anak yang bengal. Dia sangat menyayangi kami dan keluarga semua, tetangga dan teman-temannya juga tidak pernah mengeluhkan Riyanto. Kami berbesar hati, karena kami yakin kematian Riyanto gak sia-sia. Dia mati untuk kebaikan, dan kami yakin dia juga dalam keikhlasan untuk melakukan semua itu,” ujar Sukarmin ayah Riyanto kepada BatakToday.

Mengenang dan menghargai jasa-jasanya, nama Riyanto kini telah dibuat sebagai nama jalan tempat orangtuanya bertempat tinggal, di Prajurit Kulon, kota Mojokerto. Pemerintah Kota Mojokerto juga membangun gapura di pangkal Jalan Riyanto, sebagai apresiasi atas tindakan warganya untuk kemanusiaan dan sebagai simbol toleransi di negeri ini.

Sukarmin, didampingi beberapa orang teman anaknya dari Banser NU Mojokerto yang turut bertugas malam itu, dengan kesederhanaannya menyampaikan pesan agar bangsa ini tetap menjaga perdamaian dan persaudaraan.

“Kita hidup bersama di Indonesia ini, satu sama lain harus saling menghargai. Seperti anak kami Riyanto, dan semua teman-temannya juga, yang menyayangi orang-orang lain tanpa memandang dari mana asalnya, sukunya, agamanya. Kami ingin negara ini damai. Jangan ada lagi gontok-gontokan, itu tidak ada gunanya. Kita semua bersaudara!” pesannya, diamini teman-teman Riyanto yang hadir dalam acara yang sangat sederhana bersama Batak Muda Dunia siang itu.

Victor  Simanjuntak, mewakili Batak Muda Dunia menyampaikan apresiasi kepada keluarga dan teman-teman Riyanto, atas segala jasa-jasa almarhum Riyanto yang telah rela mengorbankan jiwa raganya untuk kemanusiaan dan keberagaman di negeri ini.

“Kami dari Batak Muda Dunia, berupaya sedemikian rupa, agar kita sebagai sebuah Bangsa tidak melupakan jasa-jasa mas Riyanto. Berita tentang sikap hidup dan pengorbanan mas Riyanto kita harapkan akan menginspirasi banyak orang di Negeri ini, untuk lebih membangun toleransi dan merawat kebhinnekaan. Soal almarhum Riyanto ditetapkan oleh Negara atau tidak, sebagai seorang pahlawan, itu hal lain. Barangkali harus sesuai dengan tata caranya. Yang pasti, kami dari Batak Muda Dunia, dan oleh banyak orang di Negeri ini, mengenang dan menghargainya sebagai seorang pahlawan kemanusiaan dan pahlawan penjaga keberagaman di negeri ini. Kami juga sangat mengapresiasi teman-teman lainnya dari Banser NU, dan seluruh pribadi maupun institusi yang senantiasa turut mengawal keberagaman dan menjaga kerukunan di dalam kehidupan Bangsa ini,” sebut Victor.

Jauh hari sebelumnya, pada masa hidupnya Gus Dur pernah mengatakan, “Riyanto telah menunjukkan diri sebagai umat beragama yang kaya dengan nilai kemanusiaan. Semoga dia mendapatkan imbalan sesuai pengorbanannya!”

Dalam kunjungan silaturahmi ini, Victor Simanjuntak juga menyampaikan dana sebesar Rp 31 juta, yang dikumpulkan anggota Batak Muda Dunia sebagai tanda kebersamaan dan wujud perhatian, untuk membantu kedua orangtua yang ditinggalkan almarhum Riyanto. (ajvg)

News Feed