oleh

Berita Pembalakan Hutan Pinus Humbahas Mengundang Ancaman

Humbahas, Bataktoday

Terkait pemberitaan tentang maraknya penebangan kayu pinus di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) yang muncul di sejumlah media cetak dan online, wartawan Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) untuk kabupaten ini, Eddy R Eben Ezer Pakpahan mengaku mendapat telepon gelap berisikan kata-kata ancaman dari seorang tak dikenal, Selasa (21/6).

”Nomor tak dikenal memanggil ke handpone saya. Setelah diangkat, yang besangkutan sontak mengeluarkan kata-kata pengancaman. Katanya, gara-gara berita kayu,” ujar Edy kepada Bataktoday mengawali penjelasannya tentang peristiwa itu, Rabu (22/6) di warung Coffe Lintong Dolok Sanggul.

Edy selanjutnya menjelaskan, peristiwa pengancaman tersebut bermula ketika ia sedang menikmati suasana santai sambil menulis sebuahberita di kediamannya, Desa Purba Dolok, Kecamatan Dolok Sanggul.

Namun, sekitar pukul 16.02 WIB (kemudian diketahui dari data panggilan yang tercatat di telepon selulanya), Edy yang sedang asyik menulis di berita di laptopnya, mendapat panggilan dari nomor yang tidak terdaftar di telepon selular miliknya.

Nada pria yang bersembunyi dibalik nomor yang tidak dikenal itu  mengeluarkan kata-kata ancaman dalam Bahasa Tapanuli.

Aha do maksud ni baritami lae. Unang dok pembalakan, naeng tabo dope lae di Humbang on. Halak ro do lae tu Humbang on da (Apa maksud berita lae, jangan bilang pembalakan, masih mau enak lae di Humbang ini, orang pendatangnya lae disini,-red.),” ujar Edy menirukan percakapan telepon dengan orang tak dikenal itu.

Mendapat ancaman seperti itu, Edy yang merasa dirinya dan keluarga kecilnya  terganggu, segera melaporkan kejadian itu ke pihak redaksinya.

”Setelah menerima ancaman di telepon, langsung kulaporkan ke redaksi,” katanya.

Disinggung, apakah ancaman itu dilaporkan ke polisi, Edy belum memastikan.

”Nantilah, petunjuk dari kantor belum ada,” tambahnya.

Pun demikian, Edy berharap atas kejadian itu, oknum yang tidak dikenalnya agar melakukan klarifikasi ke pihak redaksi, jika ada hal yang dianggap kurang pas dalam pemberitaan terkait.

“Bukan cara seperti ini, ancam mengancam. Memangnya dia yang menentukan hidup manusia,” sesal Edy.

Sembari itu, ia juga mengharapkan kepada rekan-rekan persnya yang melakukan peliputan di Kabupaten Humbahas ini, agar merapatkan barisan untuk menghadapi hal-hal sejenis.

“Kita berharap kawan-kawan pers untuk tetap bersatu. Karena suatu saat kejadian seperti ini bisa saja menimpa lainnya. Mari kita solid,” pinta Edy.

Menanggapi peristiwa ini, Andi Siregar didampingi Firman Lumbantobing, Koko Syahputra, Pahala Sihite dan beberapa rekan pers lainnya, mengencam aksi pengancaman oleh oknum tersebut. Bahkan, mereka menilai aksi itu bukanlah main-main. Namun sudah merupakan teror bagi Kemerdekaan Pers, kebalikan dari amanat Undang-Undang yang memberikan perlindungan untuk Kemerdekaan Pers.

“Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus membentuk kesatuan untuk menghadapi orang-orang yang buta akan kebebasan Pers. Jangan mereka-mereka yang bersembunyi dibalik uang hasil kejahatan ini beranggapan dirinya hebat. Sebab hukum berlaku untuk siapa saja, tanpa terkecuali,” tegas Andi, mantan mahasiswa Fakultas Hukum UNITA ini. (FT)

Foto :

Wartawan Harian Sinar Indonesia Baru (SIB) yang bertugas di Kabupaten Humbang Hasundutan, Eddy R Eben Ezer Pakpahan (tengah), saat bercerita didampingi kedua rekan persnya, Andi Siregar  (topi hitam) dan Frans Simanjuntak, Coffe Lintong, Dolok Sanggul 22/6/2016 (bataktoday/ft)

News Feed