oleh

Bioskop Ria, Riwayatmu Kini…

Oleh: David Simamora* –

Bioskop Ria atau Ria Theater Jalan Sudirman Pematangsiantar yang pada masa jayanya termasuk bioskop yang  selalu ramai dikunjungi penonton, bahkan sampai berdesak-desakan saat membeli tiket masuk, sekarang  menjadi bangunan yang telantar.

Pertunjukan yang terpampang saat ini, hanya berupa gedung tua yang tidak terawat. Hampir seluruh cat gedung mengelupas,  warnanya suram, kusam, buram, dan sepi merana, bak seorang perawan yang malas berdandan akibat badai patah hati, ditinggal kekasih yang berkhianat. Simbol kemegahan dan gengsi yang dulu menjadi kebanggan masyarakat Siantar-Simalungun ini, kini sirna tinggal kenangan.

Terbetik berita, diatas lahan ex-bangunan Bioskop Ria akan dibangun mal. Hal ini sudah puluhan tahun terdengar, sejak aset PD Aneka Industri dan Jasa (AIJ) milik Pemprovsu ini tidak difungsikan lagi. Pada tahun 2013 sempat terdengar rencana renovasi gedung  Bioskop Ria untuk dijadikan pusat perbelanjaan. Namun, hingga saat ini belum terlihat tanda-tanda aktivitas pembangunan, dan para pedagang di sekitar bioskop masih tetap berjualan disana.

Niat untuk mengulang rencana tersebut kembali bergaung, seiring pernyataan Penjabat (Pj) Walikota Jumsadi Damanik saat menghadiri acara diskusi pengembangan sistem sadar wisata di Taman Hewan Pematang Siantar (THPS), Selasa (20/2/2016) lalu. Ceritanya, ex-Bioskop Ria ini akan disulap menjadi sebuah mal.

Wacana tersebut sangat disayangkan dan menimbulkan keprihatinan. Alangkah bijaksananya bila pemerintah memberikan pendidikan dan penyadaran publik tentang pentingnya pelestarian peninggalan sejarah masa lalu. Seharusnya masyarakat didorong untuk menjaga dan mempertahankan jejak peninggalan sejarah kebudayaan kota ini.

Jika ex-Bioskop Ria menjadi mal, yang tersisa hanya catatan sejarah belaka. Itupun jika nantinya masih ditemukan literatur atau dokumentasi tentang bangunan ini. Seperti kita ketahui, sangat minim catatan tentang bioskop-bioskop yang pernah ada di kota ini. Sulit untuk menemukan catatan tentang ex-gedung bioskop yang masih ada, apalagi gedung bioskop yang sudah duluan “lenyap”.

Booming produksi film di era 1950-an sampai awal 1980-an turut mendorong pertumbuhan bioskop di negeri ini, tak terkecuali di Kota Siantar. Bioskop milik pengusaha lokal terus tumbuh sampai dekade 1980-an, hingga kemudian redup dikalahkan televisi dan jaringan kartel bioskop nasional.

Jika menilik sejarah bioskop di Indonesia, sebelum tahun 1970 sarana hiburan rakyat yang bersifat visual masih sangat terbatas atau sederhana, karena tempat pelaksanaan hiburan tersebut belum difokuskan pada suatu bangunan yang khusus. Artinya, pelaksanaan hiburan ini masih dilaksanakan di tempat terbuka seperti di lapangan ataupun di tempat-tempat yang lebih luas. Hiburan ini pada masa itu disebut “layar tancap” (bioskop keliling). Layar tancap ini bersifat gratis yang memang ditujukan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat kecil di suatu daerah.

Layar tancap ini telah ada sejak lama, tepatnya sejak zaman penjajahan. Orang-orang Belanda menggelar layar tancap di kawasan perkebunan yang mereka  usahai. Hiburan lebih ditujukan bagi para pekerja perkebunan, sehingga lebih bersifat tertutup bagi masyarakat umum. Kegiatan ini biasanya dilaksanakan bersamaan dengan acara pasar malam.

Dalam perkembangannya, masyarakat mulai tergerus modernisme dan  menanggalkan cara-cara tradisional dalam bertindak, bergaya pakaian, berbicara, dan lain-lain. Modernisme dibawa melalui pemutaran film. Film sangat fenomenal, mampu mengubah segala bentuk tradisionalisme menjadi modernisme. Industriawan mengenalkannya dalam bentuk pembangunan gedung-gedung bioskop di berbagai sudut kota.

Di Pematangsiantar sendiri, berdiri bioskop-bioskop yang menjadi kebanggaan masyarakat kota untuk bersantai menikmati tontonan. Namun sekarang semuanya telah berhenti bernafas. Semua itu tinggal kenangan, digerus perubahan yang terus melaju dan melindas. Bioskop Ria tinggal bangkai,  Bioskop Deli “selesai”, Bioskop Riang sekarang menjadi Siantar Plaza. Menyedihkan sekali nasib semua usaha bioskop ini, hampir rata-rata dihantam badai kebangkrutan.

Permasalahannya sangatlah jelas. Semua itu diawali membanjirnya video VHS, dilanjutkan oleh video compact disc (VCD) bajakan yang murah meriah, dan produk lanjutannya.

Di saat pembajakan belum mereda, pada awal 1990-an para pengusaha bioskop juga dihadapkan pada permasalah berikutnya, dengan munculnya siaran televisi asing lewat parabola. Ancaman berikutnya adalah hadirnya televisi swasta nasional. Kini saluran televisi sangat banyak, VCD murah meriah, sehingga masyarakat dapat menonton sendiri di rumah.

Paling yang sedikit mirip dengan bioskop, hanya Sinemax yang ada di Siantar Plaza. Bioskop yang mengadopsi style home theatre yang elegan di Kota Siantar yang menawarkan beberapa film dengan fasilitas yang cukup nyaman.

Budaya nonton film pun berubah drastis, tidak saja di Kota Siantar, tapi juga di seluruh Indonesia. Bahkan kapitalisme telah merasuki dunia hiburan termasuk bioskop, mengubah paradigma hiburan mutakhir.  Nonton film bersama,  sambil bergurau dan berkomentar di sela-sela pemutaran film, atau sambil makan kacang rebus, tidak ada lagi.

Fenomena menonton sekarang hanya untuk konsumsi pribadi dan dilakukan sendiri, Jangankan budaya nonton film, budaya nonton televisi pun berubah. Kalau dulu satu keluarga nonton tivi bersama-sama, sekarang di kamar anak-anak ada televisi sendiri-sendiri. Bahkan, televisi sudah masuk ke telepon seluler, sehingga orang bisa menonton televisi dimana saja.

Hal itu pastinya menyebabkan usaha bioskop menjadi berantakan. Para pengunjung sedikit demi sedikit menghilang, dan akhirnya sirna. Puncaknya, usaha tontonan bioskop gulung tikar, menggelepar dan mati di Kota Siantar ini.

Bioskop sebagai bagian dari sejarah kota Pematangsiantar tak seharusnya musnah. Kalaupun tak bisa mempertahankan seluruhnya, paling tidak Bioskop Ria yang tinggal sebagai warisan kebudayaan harus dijaga dan dilestarikan. Jika memungkinkan, Pemerintah Kota bisa membeli dan mengambil alih Bioskop Ria, Tak sekedar mempertahankan sebagai saksi perkembangan kota dan gaya hidup warganya, tetapi bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata, dimana warga yang pernah merasakan atmosfir kejayaan dapat bernostalgia.

Bisa juga dijadikan sebagai salah satu rujukan tentang sejarah perfilman nasional dengan koleksi film-film lawas. Konsep wisata bioskop juga bisa dijadikan sarana edukasi. Pihak yang ditunjuk sebagai pengelola bisa menggelar jadwal pemutaran film-film dokumenter yang merekam aktivitas masyarakat di masa lalu.

Bioskop Ria juga dapat dihidupkan kembali menjadi gedung pusat pertunjukan kesenian dan budaya, mengingat masyarakat Kota Pematangsiantar sangat heterogen dengan beragam etnis, mulai dari etnis Simalungun, Toba, Karo, Melayu, Jawa, Minang, India maupun Tionghoa. Hal ini merupakan pasar yang potensial jika dapat dikelola dengan baik.

Hendaknya Pemerintah Kota Pematangsiantar tidak memaknai perkembangan laju perekonomian dan modernitas dengan berdirinya bangunan mal dan sejenisnya. Walaupun Bioskop Ria terasa begitu terasingkan, sepi di tengah keramaian dan kesibukan jantung kota, namun perlu dicermati, bahwa gedung dan ruang itu tidak hanya menawarkan hiburan semata, tetapi telah ikut membentuk sebagian besar karakter penontonnya dengan apa yang tengah disajikannya pada masa lalu.

Bioskop Ria sebagai produk budaya perkotaan adalah bagian penting dari sejarah masyarakat Pematangsiantar maupun sejarah perfilean Indonesia.

Bagaimana nasib Bioskop Ria selanjutnya? Kita tunggu saja. Mudah-mudahan Pemerintah Kota Pematangsiantar maupun Pemprov Sumatera Utara mau melakukan pemanfaatan gedung Bioskop Ria untuk tujuan wisata, edukasi, arsip dan dokumentasi, serta ruang kreasi seni dan budaya. Atau insan pencinta arsitektur dan sejarah kota, yang membeli bioskop Ria kemudian merenovasinya kembali ke bentuk aslinya. Selain dapat tetap dijadikan bioskop, dapat pula dijadikan museum kecil mengenai perfilman dan per-bioskop-an di Tanah Air.

Menjelang perhelatan Pilkada (tunda) Kota Pematang Siantar, semoga lahir pemimpin kota yang arif dan bijaksana, dengan mengedepankan pembangunan yang berorientasi pada nilai sosial, kultural dan historis, sehingga tindakan pengrusakan dan penghancuran terhadap bangunan yang turut membentuk wajah kota ini atas nama pembangunan, dapat dicegah. Semoga.

*Penulis adalah pendiri Siantar Heritage Society

Foto: Puluhan tahun terakhir ini, halaman dan sekeliling Bioskop Ria menjadi tempat penjual rokok dan penjual makanan, Rabu 10/2/2016 (ajvg/bataktoday)

Catatan dari redaksi:

Berhubung pencantuman gambar yang salah pada penerbitan awal, Selasa 9/2/2016, bahwa gambar tersebut bukan Bioskop Ria, melainkan bioskop lain yang kemudian berubah nama menjadi Bioskop Riang. Redaksi mohon maaf, dan kami telah menggantinya. Terimakasih.

News Feed