oleh

BKSDA Sumut Beri “Kesaksian Palsu”, Petani Meranti Timur Masuk Penjara

Meranti Timur, BatakToday

Dari Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Komisi A DPRD Sumatera Utara, di Gedung DPRD Sumatera Utara, Medan, Selasa (04/4/2017), terungkap bahwa anggota Kelompok Tani Meranti Timur (Ketanratim), Desa Meranti Timur, Kecamatan Pintu Pohan Meranti, Kabupaten Toba Samosir, tidak pernah melakukan pengrusakan hutan konservasi, hutan Suaka Margasatwa Dolok Surungan, seperti yang dilaporkan oleh BKSDA Sumatera Utara kepada penegak hukum sebelumnya.

Namun, hingga saat ini 10 orang petani dari Ketanratim, Gompar dkk, harus menjalani vonis hakim PN Balige, meringkuk dalam sel Lembaga Pemasyarakatan.

Robin Sarumpaet, warga Meranti Timur, yang 2 orang saudara kandung dan ayahnya turut dipidana saat ini, menyebutkan bahwa dalam RDP tersebut tak terbantahkan, Kelompok Tani Meranti Timur sama sekali tidak pernah merusak apalagi membakar hutan.

Baca Berita: Komisi A DPRDSU: BKSDA Segera Laporkan Perusak Hutan Meranti Timur yang…

“Kalau ada yang bersaksi di pengadilan, mengatakan saudara dan ayah saya, dan kawan-kawan lainnya anggota Kelompok Tani Meranti Timur, merusak hutan, serta melakukan pembakaran hutan suaka margasatwa Dolok Surungan, silahkan artikan sendiri kesaksiannya itu. Dalam RDP di DPSRD Sumut, jelas dibuka, tidak pernah ada hutan yang dirusak petani Meranti Timur, perusahaan sawit yang sebelumnya yang menggundul hutan di sana. Seharusnya penegak hukum membongkar kebobrokan semua pihak dalam proses hukum tas keluarga dan kawan-kawan dari Ketanratim,” ujarnya melalui sambungan telepon kepada BatakToday, Selasa malam (11/04/2017).

Dia juga menyesalkan, dan menyebut ‘orang kampungnya’ jadi korban fitnah dan kesaksian palsu.

“Yang melaporkan siapa, kan BKSDA Sumut. Nah, saksi-saksi dari mereka tentu ada, diminta keterangannya mulai dari kantor polisi, oleh kejaksaan, di pengadilan, ‘kan diperiksa dan bersaksi Di sana tak ada lagi hutan, itu pasti…! Jadi, yang bikin kita sangat kecewa, pasti juga ada kesaksian palsu dari pihak yang melaporkan. Masakan dibilang orang kampung kami merusak dan membakar hutan. Hutannya mana? Penegak hukum memangnya tidak tahu kalau di sana itu tidak ada lagi hutan?” ujarnya kecewa.

Namun dia tidak menjelaskan langkah hukum apa yang saat ini sedang dilakukan atas perbedaan laporan dengan kenyataan sebenarnya dalam kasus yang menimpa keluarga dan warga desanya.

Baca Berita: Gompar dkk Korban Kelamnya Sejarah Kehutanan Indonesia

Dalam pemberitaan sebelumnya, Komisi A DPRD Sumut meminta BKSDA Sumut untuk melaporkan pihak yang sebelumnya telah melakukan penggundulan hutan untuk dijadikan kebun kelapa sawit di areal yang dituduhkan kepada 10 orang anggota Ketanratim sehingga mereka dijebloskan ke dalam penjara.

Hingga berita ini diturunkan, belum diperoleh informasi tentang tindaklanjut dari BKSDA Sumut atas permintaan DPRD Sumut untuk melaporkan perusak hutan yang sebenarnya. (ajvg)

News Feed