oleh

Bus Rapid Transit (BRT) Mebidang Akhirnya Diluncurkan

Medan, BatakToday

Pemerintah Provinsi Sumut akhirnya meluncurkan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Medan-Binjai-Deliserdang (Mebidang), Kamis (5/11/2015). Dua tahun proyek ini mangkrak, operasi bus yang melayani dua koridor ini belum didukung infrastrukur yang memadai terutama ketersediaan halte. Sejumlah halte yang dibangun dua tahun silam kondisinya sudah rusak.

Pelaksana Tugas Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi mengatakan, bus ini beroperasi di wilayah Mebidang, sehingga untuk pengadaan halte akan disediakan masing-masing kabupaten/kota. Halte yang rusak akan diperbaiki dengan anggaran dari daerah masing-masing.

Sebanyak 30 bus yang bersumber dari hibah pemerintah pusat diserahkan pengelolaannya kepada Perum Damri. “Harga satu busnya Rp1,4 miliar.  Kita harapkan Damri bisa mengelolanya dengan baik, dan tinggal melakukan perawatan sehingga bisa lebih baik ke depannya,” kata Erry di pelataran Kantor Gubernur Sumut.

Erry dalam sambutannya mengatakan, saat ini operasional angkutan massal Trans Mebidang sangat diperlukan untuk mengantisipasi tekanan laju urbanisasi. Pasalnya, pertumbuhan penduduk di Medan, Deliserdang, Binjai, dan Karo terus meningkat. “Pertumbuhan penduduk ini memang memberikan dampak positif bagi perkembangan wilayah pinggiran sebagai tempat tinggal mereka. Namun di sisi lain, kondisi ini menuntut adanya sarana transportasi yang mampu mengimbangi pertumbuhan tersebut,” katanya.

Mantan Bupati Serdang Bedagai ini merinci, potensi komuter di kawasan Mebidang saat ini mencapai lebih dari 600.000 orang per hari. Jumlah tersebut didominasi pengguna sepeda motor 56,6 persen, mobil pribadi 19,3 persen, dan angkutan umum 20,6 persen.  Menurut Erry, seharusnya jumlah pengguna angkutan umum lebih besar, dan pada tahun 2019 diharapkan mencapai 32 persen.

Erry juga mengungkapkan kekuatirannya atas pertumbuhan populasi kendaraan bermotor. Berdasarkan data Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara, rata-rata pengurusan STNK per hari mencapai 800 unit. “Dikurangi hari Sabtu dan Minggu, maka pertambahan kendaraan baru bisa  mencapai sebanyak 200 ribu kendaraan yang didominasi sepeda motor baru,” ujar Erry.

“Melihat kondisi ini, jelas saat ini kita sangat membutuhkan bus massal untuk mengatasi kemacetan di inti kota,” jelasnya.

Kepada Perum Damri sebagai pengelola, Erry mengingatkan agar senantiasa mengadakan penegcekan kondisi air conditioner (AC), dan mengusulkan penyediaan fasilitas WiFi dan CCTV, agar penumpang mendapatkan kenyamanan dan kemanan ketika menggunakan BRT, sehingga para pengguna kendaraan bermotor secara berangsur akan beralih ke BRT.

Sebelumnya, Tengku Erry bersama Dirut Damri, Agus Subrata juga Ketua Dewan Pengawas Damri, Irjen Pol Purn Rismawan, mencoba menumpangi BRT Trans Mebidang dengan rute Jalan Diponegoro, masuk ke Jalan Palang Merah, lalu ke Jalan Imam Bonjol dan kembali ke kantor Gubernur melalui Jalan Kartini.

Kepala Dinas Perhubungan Sumut, Anthony Siahaan dalam laporannya mengatakan, rencana awal bus Trans Mebidang ini dioperasikan untuk sembilan koridor. Namun saat ini baru dioperasikan dua koridor, yakni Medan-Lubuk Pakam dan Medan-Binjai dengan total 30 bus. Tarif koridor Lubuk Pakam-Pusat Pasar Rp 7 ribu (jauh dekat), sedang koridor Binjai-Medan Rp 6 ribu.

“Selanjutnya, kami masih terus mengembangkan tujuh koridor lainnya agar segera beroperasi. Keseluruhan koridor nantinya akan membentuk jaringan pelayanan angkutan massal yang bisa mengurangi kemacetan,” ujarnya, seraya berjanji akan terus menambah jumlah halte sesuai kebutuhan.

Anthony menjelaskan, saat ini masing-masing kabupaten/kota telah  sejumlah halte, yakni Medan menyediakan 18 halte, Deliserdang 12 halte dan Binjai sebanyak 8 halte.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Medan, Renward Parapat, mengakui  beberapa halte yang ada di Medan dalam kondisi rusak.

“Halte yang rusak nanti akan kami perbaiki. Tahun ini kami juga akan menambah 20 halte. Halte baru akan selesai sebelum akhir Desember ini. Saya kira ini sudah mendukung pengoperasian BRT,” terang Rendward.

Dirut Damri, Agus Subrata mengatakan, di tahun 1976 Damri sangat berjaya di Kota Medan,  armada yang beroperasi mencapai 100 unit. “Oleh karena itulah kami siap melayani masyarakat Sumut. Kerjasama ini akan kami tingkatkan, demikian juga kinerja pelayanan,” pungkas Agus.

Berdasarkan rilis yang diperoleh BatakToday, Koridor Satu (Medan-Lubuk Pakam), rute berangkat mulai dari Pusat Pasar, Jalan Asia, Jalan Pandu, Jalan Sisingamangara, Jalan Medan, Tanjung Morawa, dan berakhir di Terminal Lubuk Pakam. Untuk rute kembali, berangkat dari Terminal Lubuk Pakam, Jalan Sisingamangaraja, Jalan Rahmadsyah, Jalan Sutomo, Jalan MT Haryono dan berakhir di Pusat Pasar.

Sementara itu, untuk Koridor Dua (Medan-Binjai), berangkat dari Terminal Binjai, Jalan Medan-Binjai, Jalan Gatot Subroto, Jalan Kapten Maulana Lubis, Jalan Raden Saleh, Jalan Balai Kota, Jalan Bukit Barisan, Jalan Stasiun KA, Jalan MT Haryono dan berakhir di Pusat Pasar. Untuk rute kembali, berangkat dari Pusat Pasar, Jalan Sutomo, Jalan Prof M Yamin, Jalan Putri Hijau, Jalan Guru Patimpus, Jalan Gatot Subroto, Jalan Medan-Binjai, dan berakhir di Terminal Binjai. (AFR)

Keterangan Foto:

Peluncuran Bus Trans Mebidang di pelataran Kantor Gubernur Sumatera Utara, Jalan Diponegoro Medan, Kamis (5/11)

News Feed