oleh

Danau Toba ‘Masih’ Cukup Dalam untuk Diselami Bersama

Oleh: Arif JV Girsang*

Kawasan Danau Toba hari ini sedang ‘didesain’ menjadi Kawasan Strategis Nasional (KSN), sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), Geopark Kaldera Toba, dan sebagai salah satu dari 10 Destinasi Pariwisata Unggulan Nasional.

Tidak bisa dipungkiri bahwa rencana yang dibuat pada masa pemerintahan Presiden Jokowi saat ini, menimbulkan pro kontra dan polemik dalam masyarakat maupun diantara para tokoh, akademisi, pengamat maupun aktivis, termasuk berbagai komunitas yang sedang mengarahkan fokusnya ke kawasan Danau Toba.

Polemik dan pro kontra yang timbul, sebagian adalah seputar eksistensi, keterlibatan dan pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan, dan isu dampak sosial budaya.

Sebagian lagi isu lingkungan hidup, termasuk di dalamnya keberadaan perusahaan besar seperti PT Toba Pulp Lestari (PT TPL Tbk) perusahaan bubur kertas, PT Alegrindo di bidang peternakan babi, PT Aqua Farm Nusantara (PT AFN) dan PT Suri Tani Pemuka Arta Lautan Mulia (ALM) di bidang budidaya ikan nila menggunakan karamba jaring apung (KJA), bahkan termasuk juga KJA rakyat.

Yang kemudian digarisbawahi di sini, bukan tentang formulasi dan solusi terbaik untuk polemik, pro dan kontra yang terjadi, melainkan cara berkomunikasi antara masing-masing pihak.

Berbagai polemik, pro kontra, bisa kita ikuti di berbagai media, termasuk media sosial.  Sejauh itu dilakukan untuk formulasi dan pencarian solusi terbaik demi mendukung rencana pengembangan kawasan, tentunya tidak menjadi masalah. Namun ketika komunikasi yang terbangun saat berpolemik, saat ber-pro-kontra, justru membuat masing-masing pihak menjadi terkotak-kotak, tentunya hal itu menjadi kontra produktif. Dan kenyataannya, sangat disayangkan, hal yang terakhir inilah yang telah terjadi.

Semua pihak tentu pada awalnya menginginkan hal-hal yang baik akan terjadi dalam proses maupun hasil dari rencana pengembangan kawasan. Lantas, apakah tak ada lagi ruang untuk duduk bersama bagi masing-masing pihak dalam polemik dan pro kontra ini?

Di akhir pro kontra ini tentu kita ingin mencatatkan sesuatu yang bisa menjadi contoh baik yang bermanfaat bagi kita maupun orang lain, tentang bagaimana sebaiknya menyelesaikan suatu perbedaan pendapat yang bermula dari perbedaan pandangan maupun kepentingan.

Kuncinya, pertama kita harus menyadari, bahwa terdapat perbedaan latar belakang atau alasan masing-masing sebelum masuk ke dalam polemik ini.

Kemudian, jangan memaksakan pendapat apalagi kehendak. Kadang memaksakan sesuatu kepada yang lain bisa menjadi boomerang, apalagi hal yang kita paksakan itu diluar jangkauan atau wewenang yang dimiliki.

Ingatlah juga, bahwa satu pun diantara kita tak ada yang sempurna. Akan menjadi tidak efektif dan efisien jika kita memaksa untuk mendapatkan jawaban yang sempurna. Itu akan menjadi suatu hal yang sia-sia belaka.

Mari kita melapangkan dada untuk sebuah mimpi bersama tentang Danau Toba yang indah dan baik, untuk kehidupan manusia yang tinggal di sekitarnya dan menarik bagi mereka yang akan datang ke sana.

Kepada yang mendapat manfaat dari kondisi kawasan saat ini, maupun untuk yang akan mendapat manfaat dari pengembangan kawasan, mari coba bersikap adil. Kita ada bukan untuk saling meniadakan, melainkan sebaliknya, untuk ada dan tetap ada, dan saling menopang dalam pengembangan kawasan Danau Toba. Upaya untuk saling meniadakan akan berakhir sia-sia.

Danau Toba bukan warisan manusia, bahkan bukan warisan nenek moyang suku bangsa Batak, melainkan warisan pemberian alam, ciptaan Yang Maha Kuasa.

Mari lupakan perselisihan yang telah terjadi sebelumnya, sehingga waktu menjadi terasa singkat dalam mempersiapkan segala sesuatunya untuk mempertahankan dan mengembangkan kawasan Danau Toba.

Jangan lagi mengungkit jika ada kesilapan dan kesalahan di antara kita dalam komunikasi sebelumnya. Bagaimanapun sikap mengungkit-ungkit kesalahan yang lain tidak akan membangkitkan semangat kebersamaan untuk kebaikan Danau Toba.

Kita juga harus meyakini bahwa sebelumnya telah ada orang yang berbuat lebih dari kita, untuk Danau Toba.

Mari berdamai untuk mengemban tugas dan tanggungjawab bersama terhadap keberadaan dan keberlangsungan Danau Toba…

Penulis terinspirasi untuk menyampaikan semua ini, sesaat setelah Danau Toba ‘membisikkan’ sebait puisi tanpa judul berikut ini,

kesedihan yang larut bersama kemarahan,

baru saja menenggelamkan jiwa,

kegelisahan melayang tentang kepemilikan cinta

rasa syukur mengambangkan kesadaran,

mengarungi danau, bukan melemahkan jiwa

menenggak air danau, bukan memuntahkan kebencian

memandangi danau, bukan menebar amarah

menyelami danau, bukan menenggelamkan rasa

danau di mata lain belum terjelajahi,

sebab danau masih cukup dalam untuk diselami bersama,

(Siantar, 12 Juni 2016)

*) Penulis adalah pengguna media sosial Facebook, yang mengikuti polemik dan pro kontra sehubungan rencana pengembangan kawasan Danau Toba

Foto:

Danau Toba, Pulau Samosir, Sabtu 4/6/2016 (doc Kedai Kopi H, Pematangsiantar)

News Feed