oleh

DEKLARASI KEADILAN

Oleh: Shohibul Anshor Siregar*)

Anakku Sahat S. Gurning!!!!! Saya berharap kau baik-baik saja. Peradilan terhadap dirimu atas tuduhan penistaan terhadap Lambang Negara telah membuat semua orang yang masih cinta Pancasila meratapi nasibnya yang semakin jauh dari arah pencapaian cita-cita dan perjanjian luhur bangsa kita.

Saya sangat yakin bahkan para aparatur negara yang berusaha sekuat tenaga menyematkan status (hukum) ketersangkaan dan keterdakwaan terhadapmu sebagai penista, jauh di lubuk hatinya paling dalam juga menangis pilu, bahkan sebelum mereka mendengar ketuk palu hakim pada sidang mahkamah.

Para hakim yang lazimnya dipersamakan dengan “Wakil Tuhan di Bumi” pastilah berusaha sekuat tenaga menepis dan menolkan semua kemungkinan datangnya asa buruk ke dalam pikiran yang bersumber dari berbagai bisikan syaithon, untuk secara tegar dan bangga memenangkan kebenaran dan keadilan hakiki. Memang itulah missi suci mereka.

Mereka semua, para hakim itu, akan merujuk secara sungguh-sungguh esensi misi profetik mereka yang antara lain ternukil dalam kalimat sakral “Atas Rahmat Allah Yang Maha Esa, Demi Keadilan dan Kebenaran” sebelum menentukan apa yang diperintahkan tuhannya untuk mereka putuskan.

Pada dasarnya mereka, para hakim itu, bukanlah instrumen birokasi seperti yang terkesan secara umum. Tidak, anakku!!!!! Jubah mereka menyimbolkan sesuatu yang meniscayakan mereka sangat takut amarah dari Tuhan Yang Maha Adil, Yang Maha Kasih, dan Yang Maha Pemaaf.

Anakku Sahat S. Gurning!!!!! Telah banyak variasi perjuangan keadilan sepanjang peradaban manusia sebelum kita tiba pada masalah yang menginterupsi kemanusiaan ini. Kau tahu itu semua. Setelah ini kita pun belum boleh istirahat, dan tak boleh ‘loja’ (lelah,-red.), karena masih banyak lagi yang perlu kita perjuangkan. Zaman menagih kita untuk tetap berdiri tegak melawan kebathilan.

Karena itu, tegarlah seperti para raja kita dahulu yang tak pernah barang sedikit terbertik dalam hatinya untuk berkompromi dengan hal-hal yang subhat sekali pun. Dengan sikap dan moral pendirian itulah para raja kita itu telah menyelamatkan sejarah kita dan harkat serta martabat semua anak cucu yang dicintainya. Sadarilah, tak terhingga besar andil itu untuk memungkinkan Indonesia merdeka. Banggalah kepada para raja kita itu, anakku!!!!! Berdo’alah untuk kemaslahatan mereka.

Tegaskan pendirianmu, anakku: 
“TIDAK ADA YANG SIA-SIA DI PERMUKAAN BUMI INI”

Medan, 1 April 2017.

Saya baru membaca sms dari anakku Sahat S. Gurning demikian:

“Dengan hormat.
SIDANG PUTUSAN kasus PANCAGILA hari Rabu tgl. 12 April 2017 di PN Balige pukul 10 WIB”

(Sahat S. Gurning, Parmaksian, Porsea, Tobasa)

*) Shohibul Anshor Siregar, berprofesi sebagai Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan. Pendiri ‘nBASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif dan Swadaya) yang fokus di bidang pemberdayaan masyarakat melalui upaya mendorong perubahan dari dalam. Metode yang dipilih ‘nBASIS ialah pencerahan dengan jalan ilmu pengetahuan, dengan konsep “Tidak dengan intimidasi, pembodohan, apalagi kekerasan”.

Hadir sebagai Saksi Ahli atas inisiatif pribadi untuk terdakwa Sahat S. Gurning, dalam persidangan kasus dugaan penghinaan/penistaan lambang negara, atau dikenal dengan sebutan Kasus Pancagila, pada hari Senin (10/1/2017), di Pengadilan Negeri Balige, Kabupaten Toba Samosir. 

Baca Berita: Shohibul Anshor: “Makna di Balik Tindakan” Sahat Gurning

Sumber: Laman Facebook Sahat S. Gurning1 April at 17:05

Editor: Arif JV Girsang

News Feed