oleh

Diresmikan Kemarin, Sopo Parguruan Bius Motung Langsung Beroperasi

Motung, BatakToday


Sehari setelah melangsungkan acara adat Pangompoion (memasuki bangunan baru), pada hari Rabu kemarin (11/12/2019), Sopo Parguruan Bius Motung Siopat Marga, Desa Motung, Kecamatan Ajibata, Toba Samosir, langsung digunakan.

Ditemui di halaman Sopo Parguruan yang berada di Lumban Tonga-tonga salah satu dusun Desa Motung, Kamis petang (12/12), seorang anak lelaki remaja menyebut mereka akan berlatih uning-uningan, salah satu bentuk musik etnis Toba selain gondang sabangunan.

“Sore ini kami sudah mau mulai lagi latihan uning-uningan,” sebut anak remaja itu tak sabar.

Amatan BatakToday, sejumlah anak-anak dan remaja, di senja hari, sekitar pukul 18.30 Wib, terlihat ‘berebut’ untuk berlatih musik tradisional di dalam Sopo.

Acara adat Pangompoion Sopo Parguruan, pada hari Rabu (11/12) berlangsung meriah, sejak pagi hingga malam, berakhir sekitar pukul 21.00 Wib.

Hadir dalam acara ini, Bupati Toba Samosir beserta perangkat pemerintahan Kecamatan Ajibata dan Desa Motung dan Motung Pardomuan, pemuka agama Motung sekitarnya, Kapolres Toba Samosir, dari Ruma Parguruan Inang Nauli Basa Sibisa Parsaoran, rombongan Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT), warga kedua desa Bius Motung, serta sejumlah undangan lainnya.

Sopo Parguruan ini didirikan sebagai wadah Pendidikan Adat dan Budaya, terutama untuk anak-anak, remaja dan pemuda di wilayah adat Bius Motung Siopat Marga yang mencakup Desa Motung dan Motung Pardomuan.

Bius Motung Siopat Marga terdiri dari marga Manurung, Sitorus, Sirait dan Ambarita. Namun Sopo Parguruan ini berdiri untuk seluruh warga dari seluruh marga yang ada di wilayah adat Bius Motung.

Tujuan utama Sopo Parguruan ini, melalui pendidikan adat dan budaya, diharapkan generasi muda; anak-anak, remaja dan pemuda; akan tumbuh dan terbentuk karakter positip sesuai dengan adat dan budaya warisan leluhur, serta memiliki identitas budaya yang tidak terlindas dan terpinggirkan oleh potensi serbuan budaya asing, terutama oleh pengaruh pariwisata yang akan dikembangkan Pemerintah RI di Kawasan Danau Toba.

Termasuk juga untuk mempersiapkan mental generasi muda Masyarakat Adat Bius Motung menghadapi potensi ancaman berkembangnya pergaulan bebas, narkoba, dan hal-hal lain yang ‘terikut’ dalam perkembangan pariwisata sebagaimana kerap terjadi di seantero Nusantara maupun di negara-negara lain.

Tidak terbatas untuk tujuan dan fungsi di atas, Sopo Parguruan juga akan menjadi media pembelajaran untuk perkembangan dan pendidikan pertanian maupun industri kreatif bagi warga, serta untuk kepentingan lainnya demi kemajuan warga Masyarakat Adat Bius Motung.

Di samping itu, Sopo Parguruan juga akan menjadi pusat komunitas, baik untuk pertemuan-pertemuan Bius Motung maupun pertemuan-pertemuan sehubungan adat budaya, serta hal-hal positip lainnya dalam Masyarakat Adat.

Anak-anak dan remaja sedang belajar memainkan uning-uningan (musik etnik Toba) di Sopo Parguruan Bius Motung Siopat Marga, Lumban Tonga-tonga, Desa Motung, Kecamatan Ajibata, Toba Samosir, Kamis malam 12/12/2019 (foto: ajvg/bataktoday)

BPODT Bangun Sopo Parguruan, Terbantahkan!
Sebelumnya sempat beredar berita di beberapa media online, menyebut bahwa Sopo Parguruan Bius Motung Siopat Marga dibangun oleh Badan Pengelola Otorita Danau Toba (BPODT). Namun berita itu dibantah bulat-bulat oleh Sahat Gurning, warga asal Lumban Gurning, Porsea, sukarelawan yang tinggal dan bekerja selama 6 bulan lebih di Desa Motung untuk persiapan dan pembangunan fisik Sopo Parguruan ini.

“Limper (lima perak atau lima rupiah,-red.) dibelah tujuh, satu biji paku atau sepenggal kayu pun tak ada dari BODT (maksudnya BPODT) untuk mendirikan Sopo ini! BODT benar hadir dalam acara peresmian kemarin, dan ada menyumbangkan buku-buku dan peralatan-peralatan musik untuk anak-anak. Tapi jangan sebut Sopo ini dibangun atas bantuan BODT, apalagi sampai dikatakan mereka yang membangun,” bantahnya tentang pemberitaan itu.

Sahat menyebutkan lagi, bahwa seluruh biaya, maupun bahan untuk pembangunan bersumber dari iuran dan uang gugu (kontribusi) warga Bius Motung Siopat Marga dari dua desa, yaitu Motung dan Motung Pardomuan, serta sumbangan warga dalam bentuk bahan bangunan, misalnya kayu dari ladang warga. Ditambah dengan sumbangan anak rantau asal Motung sekitarnya, dan sumbangan  dari masyarakat luas atau simpatisan.

“Biaya, termasuk sebagian bahan, terkumpul atas partisipasi warga Masyarakat Adat Bius Motung Siopat Marga, serta syukur dan terimakasih, juga atas sumbangan anak rantau dari Motung dan sekitarnya, CU (Credit Union) juga, dan dari masyarakat luas yang mendukung pembangunan Sopo ini. Dalam acara peresmian kemarin, sumber dana dan sumber daya lainnya untuk pembangunan Sopo Parguruan dibacakan panitia di depan halayak ramai, sama sekali tidak ada yang dari BODT,” tegas Sahat. (ajvg)

News Feed