oleh

Dokan Arts Festival #3 : Menjadi Saksi Ritual Penusur Sira

Desa Dokan, BatakToday

Adat dan Tradisi adalah warisan yang berharga mahal dan tidak dapat dibeli dengan uang atau wujud materi apapun. Jika tidak dilestarikan, maka tamatlah riwayatnya tanpa meninggalkan jejak apapun kepada generasi selanjutnya. Maka, timbullah inisiatif yang tercetus dari generasi muda untuk memaknai, merawat dan menghidupkan tradisi.

Dalam penyelenggaraan Dokan Arts Festival #3, tentu bukan suatu hal yang mudah dalam mengadakan ritual tradisi yang sudah lama tidak dilakukan. Pada kali ketiga ini, tema yang di angkat adalah Tradisi Lisan dan sekaligus menghadirkan sebuah ritual bernama “Penusur Sira” atau menurunkan garam.

Ritual Penusur Sira dalam keyakinan yang disebut ‘Pemena’ tersebut diyakini dapat menerawang hal baik dan buruk. Sira (Garam) yang ada di rumah adat Siwaluh Jabu diyakini masyarakat Dokan adalah jelmaan dari Nini si beru Pakkar. Menurut beberapa narasumber yang ada di Desa Dokan, sumber garam yang ada di Siwaluh Jabu tidak pernah habis walaupun telah dipakai berkali-kali, khusus untuk aktivitas masyarakat setempat. Tradisi kuno tersebut saat ini seakan menjadi kenangan yang tersimpan rapi sebagai kearifan lokal Desa Dokan.

Pemilik sira yaitu Ginting Mergana beserta Anak Beru bersedia apabila ritual tersebut dilaksanakan dalam rangka penyelenggaraan Dokan Arts Festival #3. Meskipun konteks zaman kini sudah modern, ritual tetap dijalankan seperti cara pelaksanaan ritual akan tetap dijalankan sebagaimana mestinya.

Panitia Dokan Arts Festival #3 yang diwakili oleh Brevin Tarigan selaku Manajer Festival mengharapkan kehadiran dari seluruh masyarakat, tanpa memandang RAS dan status sosial agar menjadi saksi peradaban masyarakat Karo di Desa Dokan, khususnya menyaksikan Ritual Penusur Sira.

“Beramai-ramai datang menyaksikan sebuah ritual yang bersifat sakral di suatu daerah tidak semestinya diartikan sebagai tontonan semata, sebab hal tersebut adalah warisan budaya yang patut diapresiasi oleh seluruh masyarakat. Selain itu, melalui ritual budaya generasi muda dapat mempelajari nilai-nilai tradisi yang memercikkan rasa cinta akan budaya tersebut sehingga suatu hari nanti seluruh generasi muda dapat ‘menghadiahkannya’ kepada anak cucu sebagai peninggalan paling mahal,” sebut Brevin.

Rumah Karya Indonesia bersama-sama dengan masyarakat Tanah Karo, khususnya Keluarga Besar Masyarakat Desa Dokan akan menghadirkan ritual yang disebut “Ritual Penusur Sira” atau secara harfiah berarti Ritual menurunkan garam. Ritual ini akan di adakan pada Kamis, 11 Mei 2017 saat matahari mulai terbit di Desa Dokan, Kecamatan Merek, dalam Dokan Arts Festival #3. (rel/ajvg)

News Feed