oleh

Dokan Arts Festival #3: Ritual Penutur Sira Dihelat Kembali

Desa Dokan, BatakToday

Ritual warisan Masyarakat Karo, Penutur Sira, dihelat kembali setelah yang terakhir 25 tahun lalu, di Desa Dokan oleh Rumah Karya Indonesia (RKI), Karang Taruna Desa Dokan, beserta Masyarakat Tanah Karo dan sekitarnya, sebagai rangkaian dari Dokan Arts Festival #3, Kamis (11/04/2017).

Antusiasme masyarakat dan pengunjung, termasuk diantaranya beberapa turis asing dari Perancis dan Jerman, untuk menyaksikan ritual Penutur Sira ini telah terlihat sejak pagi, pukul 08.00 WIB.

Ritual tersebut dimulai dengan adanya merdang merdem yang merupakan salah satu tradisi yang dilakukan untuk persiapan dalam pertanian, agar jauh dari bala. Sebanyak 25 perempuan yang membawa beberapa jenis tanaman yang masing-masing memiliki nilai filosofis. Beru Sembiring, salah satu perempuan yang terlibat dalam ritual mengatakan bahwa sebelum ritual menurunkan garam, didahului tradisi lainnya berupa ritual agar kegiatan bercocok tanam berhasil.

Para wanita melakukan penanaman dalam ritual Merdang Merdem (ist)
Para wanita melakukan penanaman dalam ritual Merdang Merdem (ist)

Anak Beru, sebagai satu pihak dalam adat berperan dalam ritual ini menjelaskan kepada seluruh hadirin tentang beberapa jenis tanaman yang dibawa oleh 25 perempuan dalam aksi ritual, misalnya Daun Pakis melambangkan doa supaya penanaman padi berhasil. Kemudian, Daun Betah-betah yang diyakini dapat membuat padi kering menjadi padi berisi. Daun Selambing sebagai lambang perkakas pertanian supaya membawa keberhasilan. Engkal yang dulu digunakan untuk menggemburkan tanah sebelum ada traktor. Daun Sengketen yang bermakna apapun hasil pertanian dapat menjadi pundi-pundi. Daun Sanggar, yang diyakini dapat mengusir roh jahat, bahkan tikus. Serta Daun Bertuk yang merupakan simbol perlindungan.

Setelahnya, 25 perempuan tersebut berjalan menuju lahan pertanian dan melakukan serangkaian prosesi, diantaranya Ngerentes, Mengkal, Bejah, Nampari, Meduki, Ngerongka, Madi-madi, Merdang dan Nebu. Seluruh jenis tanaman ditanamankan melalui proses tersebut.

Kemudian, seluruh wanita itu langsung berlari pulang dan tidak ada yang diperbolehkan menghalangi jalan. Dan bagi mereka yang menghalangi jalan bisa terkena pukulan kayu yang dipegang masing-masing wanita tersebut.

Menurunkan sira (garam) dari rumah adat (ist)
Menurunkan sira (garam) dari rumah adat (ist)

Setelah merdang merdem dilaksanakan, maka wanita-wanita itu pulang dan disambut dengan sajian makan siang.

Setelahnya, barulah ritual Penusur Sira dilaksanakan. Anak Beru sebagai ‘pelaksana’ menghimbau seluruh pengunjung untuk berkumpul di rumah adat Simbelin.

Setelah Anak Beru menurunkan sira (garam) yang berbentuk panjang seperti padi, berwarna hitam dengan rasa sedikit getir dan asin dari atas rumah adat, mereka membagikannya kepada seluruh pengunjung untuk dicicipi. Diantara mereka yang mencicip, ada juga yang menyebutkan rasanya hambar.

Pada sore harinya diselenggarakan seminar tentang tradisi lisan dengan pembicara Dr.Pulumun P.Ginting,M.Sn. Dan malam harinya dilanjutkan dengan acara pertunjukan seni budaya. (rel/ajvg)

News Feed