oleh

Elegi Ulos Batak, Elegi Degradasi Budaya Bangso Batak

Medan, BatakToday

Kain tenun ikat Ulos Batakmemiliki fungsi simbolik dengan keunikan yang sangat menawan. Ulos lahir dari rahim harmoni yang nyaris sempurna antara ketulusan hati, konsentrasi tanpa henti, komitmen yang kuat, serta jemari cekatan sang penenun, dan itu hanya bisa terjadi di tengah lingkungan yang nyaman dan orisinil. Namun gemuruh mesin modernisasi yang miskin nilai kini mengancam salah satu adikarya leluhur Bangso Batak itu. Jika tidak ada gerakan restorasi yang kuat sekaligus arif, maka ulos ke depan tak lebih dari sebuah produk inferior yang dihasilkan oleh robot-robot tanpa jiwa.

“Sangat disayangkan, budaya hedonisme saat ini menimbulkan kekhawatiran tergilasnya karya seni lokal yang bernilai tinggi dan sarat makna tersebut,”  ungkap disainer Torang MT Sitorus, di Loom Galery Jl Sultan Hasanuddin Medan, Rabu (21/10).

Kekhawatiran serupa, juga mulai muncul di kalangan para pecinta dan seniman tenun ulos. Bahkan, kini pemahaman orang Batak tentang nilai ulos kian terkikis sehingga makna yang terkandung di dalamnya semakin hilang. Kain tenun ikat itu  hanya dianggap sebagai tempelan-tempelan motif tanpa mengandung makna. Padahal, menurut Sitorus, ulos merupakan kain tenun yang tidak terlepas dari perjalanan kehidupan masyarakat Batak sejak dulu.

Pemilik Loom Galery itu mengatakan, ulos menjadikan orang Batak berbeda dengan suku lain yang ada di Indonesia bahkan di dunia. Sejak berada dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, menikah, bahkan saat meninggal pun orang Batak tidak terlepas dari makna dan penggunaan ulos. “Ulos tidak sama dengan kain yang lain. Bahkan Batak satu-satunya suku di Indonesia yang perjalanan hidupnya setiap saat selalu ada ulos,” ujarnya.

Histori terciptanya ulos, kata dia, berdasarkan harmoni serta ketulusan jiwa dan di sana bekerja juga “roh”, sebagaimana rumah bolon (rumah adat orang Batak) yang pada setiap ornamennya memiliki makna, serupa halnya dengan yang dimiliki ulos.

Dulu sumber benang untuk kain ulos berasal dari kapas yang dicari di hutan karena belum ada perkebunan kapas, kemudian dikumpulkan dan selanjutnya dipintal menjadi benang untuk dijadikan ulos yang disebut parsiaragu.

Motif dalam ulos tidak asal dibentuk, melainkan ada lambang-lambang tertentu yang harus diikuti. Jika aturan dan makna yang terkandung di dalamnya tidak terpenuhi, maka ulos tersebut disebut produk gagal. Pada zaman dulu, seorang gadis disebut dewasa dan bisa menikah jika telah mampu menenun ulos.

Torang menjelaskan, ulos menjadi sarat makna dan bernilai tinggi karena salah satu jenis ulos yang diperuntukkan sebagai selimut itu dihiasi ‘rubi’ atau batu-batuan yang nilainya mahal. “Saya sudah cek, rubi yang ditanam dalam ulos yang diperuntukkan sebagai selimut atau gobar itu , berasal dari batu mulia,” sebutnya.

Ia mencontohkan, Ulos Ragi Hotang dalam sirat-siratnya bukan hanya sekedar gorga saja, namun ada juga gambar binatang yang masing-masing memiliki makna berbeda. Misalnya, gambar burung elang, merupakan doktrin bagi manusia, jika sudah memiliki, jangan sampai dilepas. Sayangnya, ulos tenun seperti itu kini tidak ada lagi.

Torang juga menjelaskan cara membedakan makna ulos dan peruntukannya, seperti orangtua yang menikahkan anak laki-lakinya akan mendapat ulos passamot (Ragi Idup) dari besan pihak perempuan. Ragi Idup itu pembuatannya tidak dikerjakan satu orang, melainkan oleh tiga orang, masing-masing mengambil peran untuk mengerjakan sisi, badan dan ulu (kepala) ulos.

“Perencana ulos akan memberikan ukuran untuk ulos yang dikerjakan, sehingga jika sisi badan dan ulu tidak sesuai, disebut gagal dan harus diganti,” ujarnya.

Orang yang sudah beranak cucu, saat pelaksanaan adat mengenakan Rujjat, sehingga ulos yang dipakai mampu menggambarkan posisi seseorang saat acara adat. Biasanya, Ulos Rujjat dikenakan para orangtua dengan dilengkapi selendang sangkar-sangkar berhiaskan warna merah.

Sitorus menuturkan, pengerjaan Ragi Hotang menjadi sulit saat mangiran (mengikat ulos), karena menggunakan benang berwarna merah yang berasal dari kayu. Sementara pembuatan sehelai Ulos Sibolang, proses pengerjaannya cukup lama dan tidak cukup satu bulan untuk membuatnya.

Torang menambahkan, ada juga ulos yang peruntukannya bagi keluarga yang tak kunjung memiliki keturunan, disebut Ulos Harungguan.

Oleh sebab itu pada setiap pameran kain tenun unik, seperti di Bali, Amerika maupun Jerman, yang paling banyak diburu para kolektor kain antik adalah ulos. Proses pembuatan dan makna yang ada di dalam ulos itu kemungkinan yang menjadi daya tariknya.

Menurut Torang, penenun itu bukan pengrajin, tapi seorang seniman. Sebagai desainer yang juga kolektor ulos, dia berharap agar semakin banyak yang mendorong masyarakat untuk lebih mencintai kain tenun ikat kebanggan orang Batak itu.

“Jangan sekedar memakai ulos. Patut diapresiasi, kemampuan orang Batak menciptakan kain ulos tidak bisa ditandingi bangsa-bangsa lain. Apalagi, ulos tenunan berusia ratusan tahun yang sangat halus dan lembut,” tutupnya.

Lebih dari sekedar paparan tentang ulos, penuturan Torang Sitorus ini sesungguhnya adalah andung-andung (ratapan) untuk sebuah komunitas besar yang menyebut dirinya Bangso Batak. Bangso yang hari-hari ini sedang tersesat di tengah pusaran manipulasi nilai-nilai luhur budayanya sendiri. Ketika makna filosofis hamoraon diplesetkan menjadi hedonisme. Ketika hamoraon dipandang dapat membeli segalanya (hasangapon dan hagabeon). Jika tidak ada gerakan restorasi budaya yang masif dan arif, maka perlahan tapi pasti, Bangso Batak akan tercerabut dari akar budayanya yang luhur. Dan hari ini, ‘prosesi’ itu sudah dimulai dengan pemaknaan yang salah terhadap salah satu adikarya leluhur Bangso Batak: ULOS. (AFR)

 

Keterangan foto:

Disainer Torang MT Sitorus saat menjelaskan ulos koleksinya kepada undangan suatu diskusi beberapa waktu yang lalu.

News Feed