oleh

Foto Hantu di Gunung Sinabung…

Oleh: Hotli Simanjuntak*)

Pasca meletusnya gunung Sinabung, banyak cerita supernatural yang merebak di kalangan masyarakat Karo. Bahkan ada yang percaya bahwa, penunggu gunung yang dikenal sebagai seorang wanita bermarga Sembiring, sedang marah akibat ulah manusia yang tidak mau menjaga dan menghormati lingkungan di sekitar Gunung Sinabung. Gunung Sinabung merupakan gunung berapi yang sudah hampir 4 abad tertidur. Gunung ini terletak di Tanah Karo Sumatera Utara, sekitar 60 km dari kota Medan, ibukota provinsi Sumatera Utara.

Saya adalah termasuk orang yang agak sukar mempercayai soal-soal yang sifatnya supernatural ataupun mistis. Ketidak percayaan akan hal-hal yang gaib dan mistis ini diperkuat dengan hobby saya yang suka memotret dan bekerja sebagai fotografer. Sebagai seorang fotografer, saya selalu berhadapan dengan hal-hal yang sifatnya logic dan masuk akal. Karena fotografi juga selalu menyajikan hal-hal yang logic dan rasional melalui hasil-hasil jepretan kamera.

Ketika saya ditugaskan untuk meliput gunung Sinabung yang sedang aktif, saya mendapati pengalaman yang aneh dan menurut saya agak sedikit mistis dan agak sulit dijelaskan dengan logika akal sehat. Saya berhasil memotret penampakan kelebat cahaya yang turun dari balik gunung Sinabung. Beberapa orang lokal yang saya tanya, mengatakan bahwa berkas cahaya yang terekam di kamera saya adalah bayangan “hantu” yang sedang melintas di daerah Tiga Pancur, Simpang Empat, Tanah Karo Sumatera Utara. Bayangan yang ditangkap oleh kamera tersebut tidak memiliki wujud yang jelas, hanya berkas cahaya yang kelihatannya datang dari balik Gunung Sinabung menuju ke tempat saya memotret.

Foto “hantu” tersebut berhasil saya tangkap secara tidak sengaja dengan menggunakan teknik long exposure, yaitu membuka rana kamera selama mungkin agar sensor penangkap image dan cahaya yang ada di dalam kamera mampu memotret objek yang ada di depannya. Hal ini dilakukan karena cahaya sangat sedikit, jadi perlu waktu yang lama dibutuhkan sensor untuk menangkap objek dengan minim sinar. Dari metadata yang saya lihat di foto tersebut, rana kamera membuka selama 1507 detik, atau setara dengan 25,11 menit, atau kira-kira setengah jam. Dijepret pada tanggal 4 September 2010, pukul 1:31 AM dengan menggunakan kamera Canon EOS 20D.

Mungkin bagi orang-orang yang memiliki pandangan yang logis dan tidak percaya soal hal yang mistis-mistis, mesti mereka mengatakan bahwa itu adalah rekayasa digital. Apalagi saat ini sangat banyak program-program komputer yang bisa melakukan manipulasi foto secara canggih. Saya tidak akan mempersalahkan pendapat mereka. Namun, saya yakin bahwa jika mereka mengalaminya secara pribadi, pastilah menimbulkan pertanyaan yang sama dengan yang ada di kepala saya saat itu, yaitu betulkah ini foto “hantu”?

Baca juga: Tobatak Festival 2017: Penampakan saat Tongam Sirait dan Viky Sianipar “Bersama…

Sejak sore hari pada tanggal 3 September 2010, saya memang sudah berniat untuk hunting foto gunung Sinabung dengan menggunakan teknik long exposure. Ketika sampai di sebuah warung, di desa Tiga Pancur, Tanah Karo, saya langsung memasang tripot dan mulai memotret. Karena tidak puas dengan hasil jepretan yang pertama, saya mengulangi lagi hingga beberapa kali dengan pola dan exposure timing yang berbeda. Dari beberapa foto yang saya hasilkan, saya tertarik dengan foto yang ke 3.

Sesaat setelah saya melihat foto tersebut, saya tertegun dan sedikit bergidik. Dalam frame yang ke-3 tersebut saya melihat berkas sinar aneh yang terekam di dalam foto saya. Saat itu suasana di warung yang terletak di tepi lembah tersebut memang terasa agak seram. Ditambah dengan udara dingin yang sangat menusuk, membuat siapa saja merasa bergidik dan tidak nyaman. Warung tersebut terletak di tepi jurang yang langsung berhadapan dengan gunung Sinabung. Secara fotografis view-nya memang sangat bagus untuk memantau gunung Sinabung.

Saya akhirnya memutuskan untuk menunjukkan foto tersebut kepada rekan-rekan jurnalis yang saat itu istirahat di warung tersebut. Mereka juga heran dan tidak bisa menjelaskan apa gerangan yang tertangkap oleh kamera saya tersebut. Perdebatan panjang terjadi di kalangan jurnalis yang ada di warung tersebut. Tapi tak ada satu pendapatpun yang bisa menjawab bayangan apa yang ada di foto saya tersebut, kecuali pendapat pemilik warung, yang mengatakan bahwa itu merupakan bayangan “hantu” penjaga wilayah tempat warung itu berdiri.

“Hantu penjaga di sini menyerupai ular panjang. Tapi dia tidak pernah mengganggu orang.  Mungkin dia sedang memperlihatkan dirinya bang” kata pemilik warung.

Informasi yang diberikan pemilik warung diamini oleh salah sorang penduduk desa Tiga Pancur yang kebetulan sedang berada di warung tersebut.

“Daerah ini merupakan daerah tempat membuang mayat pada jaman Belanda dulu. Daerah ini termasuk daerah angker. Banyak orang yang melintasi jalan ini melihat sesosok ular sedang melintas di jalan, tapi mereka tidak pernah melihat kepalanya” kata warga Kampung desa Tiga Pancur tersebut.

Foto itu menjadi perdebatan antara percaya atau tidak. Bahkan beberapa kawan Jurnalis mengatakan bahwa foto itu merupakan foto dahan atau kunang-kunang yang sedang melintas di depan lensa, dan menyarankan saya untuk menjepret ulang di tempat yang sama. Setelah di ulang, ternyata tidak ada cahaya apapun seperti foto yang ke-3 tadi.

Setelah diteliti dengan seksama, argumen soal dahan tidak bisa diterima, karena lokasi tempat meletakkan kamera berada di lokasi terbuka yang tidak terhalang oleh apapun. Kemudian argumen soal kunang-kunang juga tidak bisa diterima dengan akal sehat, karena jika ada kunang-kunang yang melintas di depan kamera, maka image yang timbul tidak akan menyerupai garis yang sangat rapi, sebab image itu dibuat dengan teknik long exposure. Kalau melihat pola garis cahayanya, pastilah objek yang melintas tersebut bergerak sangat perlahan dan sangat teratur. Sedangkan kunang-kunang terbangnya tidak memiliki pola yang rapi seperti garis yang ada di foto.  Akibatnya, sepanjang malam kita masih membahas dan bertanya soal apa sebenarnya yang terekam di foto ini?

Foto MG 5101 adalah foto yang diambil pada jam 12:24 AM. Dalam foto itu terlihat jelas TIDAK ada garis cahaya seperti foto MG 5103. Yang ada hanya garis cahaya membentuk leter S di bawah foto. Cahaya ini muncul dari cahaya mobil yang bergerak di jalan, tepat di bawah warung lokasi pemotretan. Pemotretan di lakukan dengan teknik long exsposure sekitar 237 detik. (Foto: Hotli Simanjuntak)
Foto MG 5101 adalah foto yang diambil pada jam 12:24 AM. Dalam foto itu terlihat jelas TIDAK ada garis cahaya seperti foto MG 5103. Yang ada hanya garis cahaya membentuk leter S di bawah foto. Cahaya ini muncul dari cahaya mobil yang bergerak di jalan, tepat di bawah warung lokasi pemotretan. Pemotretan di lakukan dengan teknik long exsposure sekitar 237 detik. (Foto: Hotli Simanjuntak)

Jikalau pertanyaan itu dilempar ke saya saat ini, saya hanya bisa angkat tangan dan menjawab tidak tahu. Tapi, beberapa hari sebelum foto “hantu” tersebut terekam di kamera, saya juga mengalami hal-hal yang menurut saya aneh.

Seingat saya, pada tangal 2 September 2010, saya merasa sangat gelisah dan sangat takut berada di dekat Gunung Sinabung. Padahal, saya sudah berada di wilayah desa Suka Nalu semenjak tanggal 30 Agustus 2010.

Sejak Gunung Sinabung meletus, banyak jurnalis yang memutuskan untuk tinggal sedekat mungkin dengan puncak Gunung Sinabung agar bisa terus-menerus memantau keadaan gunung dari dekat. Meski hal tersebut sebenarnya sangat beresiko. Namun demi kepentingan masyarakat banyak, terkadang para jurnalis tidak mempertimbangkan soal keselamatan.

Saya bergabung dengan kelompok jurnalis yang menurut saya berani. Kita memutuskan untuk tinggal di desa Suka Nalu, Kecamatan Simpang Empat. Di desa ini, kita tinggal di sebuah mesjid. Di sinilah kami menetap dengan ditemani oleh satu group polisi Brimob yang ditugaskan untuk menjaga desa Suka Nalu yang sudah ditinggalkan oleh para penduduknya.

Tanggal 2 September 2010, sejak subuh, para jurnalis sudah berangkat ke arah desa Berekah, sekitar 1 kilometer dari desa Suka Nalu. Saat sedang asyik memotret, kita mendengar kabar bahwa di desa Suka Nalu akan ada upacara ritual untuk berkomunikasi dengan penunggu gunung. Saya dan beberapa teman langsung menuju desa Suka Nalu. Namun di tengah jalan saya melihat ada satu keluarga yang sedang memetik cabe, dan saya akhirnya memutuskan untuk berhenti dulu dan memotret keluarga yang sedang memanen cabe tersebut.

Puas memotret, saya memutuskan untuk ke Suka Nalu mengejar momen ritual tolak bala yang diadakan oleh beberapa dukun yang diyakini memiliki hubungan spiritual dengan penjaga gunung Sinabung. Namun ternyata saya terlambat dan upacara tersebut sudah berakhir sebelum saya tiba.

Beberapa saat kemudian, teman saya Mahdi Muhammad dari Harian Kompas mengabarkan bahwa ada peserta lain yang akan melakukan ritual tolak bala. Mereka akan mengadakan upacara di tepi danau Lau Kawar di kaki gunung Sinabung. Belakangan saya tahu bahwa mereka berasal dari Jaringan Doa Indonesia yang akan berdoa bersama agar Gunung Sinabung tidak meletus.

Dalam perjalanan menuju Lau Kawar, bersama teman Hasbi Azar yang mengemudikan mobil saya secara tidak sengaja menoleh ke puncak Gunung Sinabung. Saat menoleh tersebut, tiba-tiba saya merasa tersentak dan ketakutan sendiri.

“Kok gunung ini kelihatan seram ya Hasbi, saya kok merasa sedang berada di hadapan sebuah raksasa yang ingin menelan saya” ucapku kepada Hasbi.

“Mungkin itu perasaanmu saja Hot” kata Hasbi menenangkan.

Sejak saat itu, jantung terasa berdegub kencang dan merasa ingin segera meninggalkan kaki Gunung Sinabung saat itu juga. Kita memutuskan untuk berkeliling di sekitar kaki gunung Sinabung untuk memotret keadaan sekitarnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke base-camp di Mesjid Desa Suka Nalu.

Pukul 22:01 Wib malam itu, kita menerima sebuah peringatan dari wartawan Kompas, Mahdi Muhammad yang baru saja menerima SMS dari PVMBG bahwa Gunung Sinabung menunjukkan aktifitas yang mengkhawatirkan. Diduga gunung akan segera meletus.

Peringatan tersebut ternyata diterima oleh kelompok Brimob yang sedang berjaga-jaga di luar mesjid. Tak beberapa lama, Brimob tersebut langsung meninggalkan desa Suka Nalu tanpa memberitahu apa yang sedang terjadi. Melihat anggota Brimob kabur, para jurnalis yang tadinya tenang-tenang langsung bergegas untuk menyelamatkan diri dan meninggalkan desa Suka Nalu sesegera mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Semua jurnalis akhirnya memutuskan untuk mengungsi ke desa Perteguhan, sejauh kira-kira 8 kilometer dari puncak gunung. Kita memutuskan untuk beristirahat di mesjid yang ada di desa Perteguhan.

Tepat pukul 4:40 Wib tanggal 3 September 2010, Gunung Sinabung kembali meletus untuk yang ke 3 kalinya. Suara letusan gunung menyerupai bunyi suara jet yang terbang di atas kepala. Para jurnalis yang sedang tertidur, langsung terbangun dengan kocar-kacir untuk menyelamatkan diri. Kondisi kocar-kacir juga terjadi di tengah-tengah masyarakat yang ketakutan. Mereka langsung meninggalkan desa untuk mengungsi ke kota Kabanjahe.

Di dalam hati saya merasa beruntung karena insting dan ketakutan saya pada siang harinya membuat saya merasa awas. Perasaan gelisah yang saya alami ternyata merupakan tanda-tanda bahwa saya harus segera meninggalkan daerah sekitar puncak gunung Sinabung.

Pengalaman-pengalaman seperti ini terus-menerus menghinggapi perasaan saya. Setiap saya merasa tidak nyaman dan merasa gelisah, maka akan diikuti dengan aktifitas gunung Sinabung. Mulai dari meletus hingga hanya sekedar mengeluarkan debu vulkanik.

Setelah berada di kawasan kaki Gunung Sinabung selama 7 hari, pada tangal 6 September 2010, akhirnya kantor menarik dan memerintahkan saya untuk pulang ke Banda Aceh. Saat meninggalkan desa Beras Tepu, tempat para jurnalis meliput pasca letusan tangal 3 September 2010, perasaan gelisah dan takut kembali menerpa. Esoknya, pada tanggal 7 September 2010, Sinabung kembali meletus dan meleparkan debu vulkanik setinggi 5000 meter dan menebarkan debunya hingga sejauh 8 kilometer dari puncak gunung.

Kembali ke soal foto “hantu”, sebenarnya secara fotografis hantu bisa tertangkap oleh kamera. Karena kamera dilengkapi oleh sensor yang sangat sensitif dengan cahaya. Bahkan ada cahaya yang tidak bisa di tangkap oleh mata telanjang, mampu di tangkap oleh sensor kamera. Misalnya sinar Ultra Violet maupun sinar Infra Merah. Salah satu ahli fotografi, Dale Kaczmarek pernah membuat ‘ramuan’ dan teknik fotografi yang dipercaya bisa menangkap gambar hantu. Jadi memotret hantu bukanlah hal yang mustahil dilakukan, apalagi dengan menggunakan kamera digital.

Selain secara tak sengaja, hantu juga bisa di potret secara sengaja melalui “hunting” foto hantu. Secara teknis tidak banyak keahlian maupun peralatan yang dibutuhkan. Bisa dengan kamera analog atau kamera digital. Yang pasti tripot dan kabel release adalah peralatan yang penting untuk digunakan dalam hunting foto hantu. Bagi kamera analog, film infra merah adalah media yang bagus untuk memotret hantu. Satu lagi alat yang tak kalah penting dibanding peralatan kamera adalah “keberanian” untuk bertemu hantu itu sendiri

Selain teknis fotografi, ada pendekatan khusus yang harus dilakukan untuk bisa memotret hantu, yaitu pendekatan secara gaib melalui getaran komunikasi dengan hantu itu sendiri. Bagi orang yang sensitif, biasanya mereka memiliki tenaga dan aura yang mampu menangkap kehadiran mahluk halus dan mahluk gaib di sekitarnya. Kemampuan untuk berkomunikasi dengan hantu ini bisa menjadi penentu berhasil tidaknya kita memotret hantu tersebut. Jika kita mampu mengajak hantu tersebut jalan-jalan ke alam manusia, maka kesempatan kita untuk memotret hantu tersebut sangat besar. Jika kita tidak punya kemampuan itu, maka berharaplah bahwa keberuntunganlah yang membawa si hantu ke dunia manusia dan sejenak berpose di depan kamera anda.

Tulisan ini juga tidak bermaksud mengajak anda untuk percaya kepada hantu. Namun lebih kepada memaparkan fakta-fakta ilmiah melalui teknik fotografi yang pada kenyataanya mampu merekam kehadiran mahluk gaib dari dunia yang berlainan dimensi dengan manusia.

*) Penulis adalah seorang ‘Writer’ di The Jakarta Post dan Fotografer anggota EPA European Pressphoto Agency. Tulisan ini sebelumnya telah diposting sebagai ‘Note’ di akun media sosial Facebook, atas nama penulis sendiri, Hotli Simanjuntak, pada 17 September 2010, pukul 23:04 Wib.

News Feed