oleh

Gubernur akan Evaluasi Direksi & Komisaris PT Perkebunan Sumatera Utara

Medan, BatakToday –

Kinerja direksi PT Perkebunan Sumatera Utara (PT PSU) dalam tiga tahun terakhir terus mengalami penurunan. Produksi Crude Palm Oil (CPO) sebagai produk utama PT PSU terus mengalami menurunan dari 56.782,5 ton pada tahun 2013, turun menjadi 53.806,3 ton pada tahun 2014, dan kembali turun menjadi 50.644,7 ton pada tahun 2015.

Menyikapi penurunan kinerja tersebut, pemegang saham berencana  melakukan evaluasi terhadap jajaran direksi dan komisaris perusahaan daerah milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut tersebut.

Gubernur Sumatera Utara (Sumut)Tengku Erry Nuradi selaku pemegang saham PT PSU mengemukakan hal itu usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Kantor PT PSU Jalan Jamin Ginting, Medan, Rabu (22/6/2016).

Hadir dalam rapat, Komisaris Utama Herawati, Komisaris Rahim Matondang dan Edhy Mirwandhono, Direktur Utama Darwin Nasution, Direktur Produksi & Umum Elfina Hasibuan, dan Direktur Keuangan Bilson Silaen.

Diungkapkan, tren pendapatan dari penjualan produksi tahun 2013 tercatat Rp 460,91 miliar, kemudian mengalami kenaikan menjadi Rp 505,33 miliar pada tahun 2014, namun turun signifikan menjadi Rp 396,98 miliar pada tahun 2015.

“Sedangkan perolehan laba bersih juga mengalami penurunan 22 persen dari tahun 2014, dimana laba bersih tahun 2014 tercatat 21,78 miliar, turun menjadi 16,96 miliar,” ujar Erry.

Lebih lanjut dijelaskan, nilai aset PT PSU tercatat Rp 555,70 miliar pada tahun 2015, turun 1,41 persen dibanding tahun 2014 senilai Rp 563,67 miliar. Aset lancar sendiri mengalami penurunan signifikan, dari Rp 117,29  miliar pada tahun 2014 menjadi Rp 60,43 miliar pada tahun 2015, atau turun 48,48 persen.

Terhadap penurunan kinerja tersebut, Gubernur Erry mendesak manajemen PT PSU untuk meningkatkan kinerja untuk mendongkrak produksi.

“Saya berharap dalam situasi sulit, direksi dan karyawan harus benar-benar bekerja dengan seluruh kemampuan. Direksi kalau perlu kerja sampai malam, extraordinary,” tegas Erry.

Gubernur meminta jajaran manajemen PT PSU harus mampu menyikapi kelesuan sektor perkebunan akhir-akhir ini,  diantaranya dengan keterlibatan direksi turun memantau kinerja ke lapangan, guna mengidentifikasi langsung kendala dan mencari solusi.

“Harusnya produksi terus meningkat, tapi kenapa turun terus. Walaupun ada kendala-kendala, harus tetap ada usaha. Kalau turun terus seperti ini, saya akan lakukan evaluasi. Demikian juga komisaris, saya harap benar-benar melakukan pengawasan,” tegas Erry.

Erry menilai, kinerja Direksi PT PSU belum maksimal untuk mendorong kemajuan perkebunan.

“Sekarang zaman berbeda dengan dulu. Semua dituntut kerja, kita kerja saja belum tentu orang puas. Harus ada terobosan dan upaya, agar kedepan bisa lebih baik,” imbau Erry.

Erry menegaskan, direksi harus turun ke lapangan setidaknya sebulan sekali, dan melakukan komunikasi dua arah dengan manajer kebun.

“Presiden saja turun ke lapangan, kenapa kita enggak,” pungkasnya.

Erry pesimis, meski dilakukan penambahan penyertaan modal dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut, tidak akan menyehatkan PT PSU jika kinerja Direksi PT PSU tidak mengalami perbaikan.

“Kalau kebijakan direksi tidak taktis dan strategis dalam menggenjot kinerja, saya tidak akan setujui,” tegas Erry.

Sementara Direktur Utama PT PSU, Darwin Nasution mengatakan, opini akuntan publik atas Laporan Keuangan PT PSU tahun 2015 adalah Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Sedangkan kinerja perseroan berdasarkan Keputusan Mendagri masih dalam kategori sehat dengan skor 69,50, meski mengalami penurunan dari skor 75,36 pada tahun 2014.

Menurut Darwin, kondisi tersebut disebabkan terjadinya penurunan harga jual CPO dan kernel pada tahun 2015.

“Disamping itu, kenaikan upah tenaga kerja tahun 2015 cukup tinggi dan harga sarana produksi meningkat. Begitu juga adanya faktor pembatas iklim yaitu curah hujan tahunan yang rendah pada tahun 2013 hingga 2015 yang menyebabkan terjadinya bulan kering serta defisit air yang berpengaruh nyata terhadap produksi,” terang Darwin.

Komisaris Utama Herawati dalam laporannya menyampaikan, manajemen harus ekstra giat dalam upaya mencari TBS untuk memenuhi kapasitas olah pabrik karena ketergantungan yang tinggi terhadap TBS luar.

“PT PSU memiliki dua pabrik pengelohan CPO di Batubara, yakni Pabrik Tanjung Kasau dengan kapasitas 20 ton TBS per jam dan di Simpang Gambir dengan kapasitas 30 ton TBS per jam. Di pabrik Tanjung Kasau 40 persen kapasitasnya dipenuhi dengan membeli TBS dari luar kebun milik PT PSU, sedangkan Tanjung Gambir 60 persen TBS berasal dari luar,” jelas Herawati.

Total areal kebun PT PSU 14.276,55 hektar, terdiri atas areal bertanam 10.736,62 hektar (75,22 persen), areal tidak bertanam 291,55 hektar (2,04 persen), dan areal belum bertanam 3.246, 38 hektar (22,74 persen).

PT PSU memproduksi TBS, CPO, Palm Kernel dan karet. Untuk TBS terjadi kenaikan produksi dari 115.955 ton pada tahun 2014, menjadi 122.489 ton pada tahun 2015. Produksi Palm Kernel turun 5,25 persen dari 12.437 ton pada tahun 2014 menjadi 11.784 tahun 2015. Produksi karet mengalami kenaikan 12 persen, dari  396 ton pada tahun menjadi 450 ton pada tahun 2015. (AFR)

Foto: Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi saat memimpin Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan pengesahan Laporan Tahun Buku 2015 di Kantor PT PSU Jalan Jamin Ginting Medan, Rabu (22/6/2016). (ist)

News Feed