oleh

Henry Manik: “Samosir Music International Membawa Nama Pulau Lebih Mendunia”

Pulau Samosir, BatakToday

Event Samosir Music International  tahun 2018 ini merupakan edisi yang ke-4 sejak dimulainya tahun 2014. Pertama kali event ini menghadirkan 90an musisi orkestra dari Austria ke Samosir, atas inisiatif Hermann Delago sebagai pimpinan orkestra, dan Henry Manik, putera Batak yang berdomisili di Belanda , sebagai eksekutor terhadap ide ini sejak dari awal.

Dinas Pariwisata Seni Budaya (Disparsenbud) Kabupaten Samosir memberi dukungan sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 2014, dan juga dengan menjadikannya sebagai kalender tahunan Horas Samosir Fiesta. Dari tahun ke tahun, pengunjung event ini semakin banyak, bahkan menjadi salah satu event terbesar  di sekitar Danau Toba. Pencapaian yang sangat baik ketika Samosir Music International menjadi event bertaraf internasional, dan tentunya membawa imbas positip untuk pariwisata Pulau Samosir.

Festival musik ini berbeda dari semua  festival musik yang sudah ada selama ini, baik di dalam maupun di luar negeri. Setiap artis/musisi yang terlibat baik yang dari Eropa maupun Indonesia wajib membawakan lagu-lagu daerah Batak. Setiap orang yang terlibat butuh persiapan lama untuk mempelajari lagu-lagu Batak.  Keunikan konsep ini merupakan salah satu nilai yang membuat banyak orang tertarik untuk hadir menyaksikan aksi panggung para artis yang akan tampil.

Secara tidak langsung, konsep event ini  mengangkat nilai Habatakon (nilai Kebatakan), melalui jalur musik.

“Kita ingin menunjukkan, bahwa lagu Batak itu sangat indah dan flexible , bisa digubah ke segala genre musik yang ada. Tentu, nilai promosi akan daerah sangat terkandung juga di dalamnya. Event ini memberi dampak positip terhadap banyak hal,” sebut Henry Manik dalam relis yang diterima BatakToday, Rabu (25/7/2018).

Menurut Henry lagi, Hermann Delago sebagai pencetus ide ini mulai dari awal, akan selalu dilibatkan selama dia bersedia.

“Walaupun nanti ke depannya mungkin hanya sekedar menyapa pengunjung dari panggung, Hermann Delago sebagai pencetus event ini akan tetap dilibatkan. Ini merupakan bentuk appresiasi dan rasa hormat atas apa yang dilakukan Hermann Delago terhadap musik Batak, baik di Samosir maupun di Austria,” ujar Henry, Project Manager Samosir Music International.

Baca berita terkait: Samosir Music International Kembali Digelar, 25 Agustus 2018 di Tuktuk Siadong

Penampilan Nadine Beiler tahun 2017 lalu di Samosir, sangat dikagumi pengunjung. Karakter vokalnya yang tinggi dan indah, serta kemampuannya menyanyikan lirik lagu-lagu Batak  dengan begitu kental,  persis seperti orang Batak ‘asli’.

“Tidak mudah untuk bisa melibatkan artis Eropa selevel Nadine Beiler, dan bisa diarahkan untuk membawakan lagu daerah. Secara umum, untuk mendapatkan artis dari mana saja, ketika ada suatu kewajiban lagu yang harus dibawakan pasti tidak mudah. Henry Manik memiliki cara khusus untuk mencari dan melakukan pendekatan yang baik terhadap artis artis selama ini.

“Keindahan Samosir , keramahan orang-orang di daerah, keunikan musik dan Budaya Batak, serta keprofesionalan semua tim panitia yang mengurusi event menjadi daya tarik utama bagi  Nadine untuk ingin kembali tampil di Samosir tahun ini. Nadine akan membawakan beberapa lagu Batak yang baru, yang harus dipelajarinya selama ini,” papar Henry tentang kembalinya Nadine Beiler tampil tahun ini.

Demikian juga Band pengiring band dari Austria JB’S Band. Sebuah band anak muda, yang semuanya berlatar belakang pendidikan musik dari Conservatorium, dan sudah memiliki banyak aksi panggung di Eropa.

“Keinginan memberi sedikit warna dengan tambahan flute atau sulim dalam aransemen musik mereka nanti, kali ini akan dilibatkan salah satu Flute Player dari Vienna. Kento Friesacher keturunan Jepang-Austria yang biasanya meniup suling India, atau suling klasik, nantinya akan memainkan suling Batak, walau cara memainkannya cukup beda,” sebut Henry lebih jauh. Untuk memenuhi itu, Henry Manik memberi satu set seruling Batak untuk dipelajari .

Demikian juga pemain drum dari JB band, akan memainkan gondang Batak, yang beberapa bulan ini sudah dilatih, dengan gondang Batak dikirim ke Austria. Nantinya mereka ini juga akan berkolaborasi dengan artis dan pencipta lagu Batak, Tongam Sirait.

Selain Nadine Beiler yang telah tampil sebelumnya, Bernadeta Astari, pemenang kontes lagu klasik Belanda , juga akan kembali ikut meramaikan event di Samosir nanti. Kali ini Bernadeta mengajak violist dari Swiss, Ken Lila Ashanty. Ken Lila perempuan kelahiran Jakarta, dan mendapatkan Master musiknya di Swiss, dengan Cum Laude.

Banyak prestasi yang sudah diraih Ken Lila, baik di Asia maupun di Eropa, serta terlibat di banyak konser musik klasik yang tergolong besar, baik di Indonesia maupun di Eropa. Bernadeta akan tampil trio, bersama pianist dari Jakarta Yoshephine Madju, yang tahun lalu juga ikut terjun ke Samosir. Mereka nanti akan menampilkan jenis musik klasik untuk lagu Batak yang akan dibawakan.

Viky Sianipar yang sudah sangat dikenal dengan aransemen musiknya yang ‘jenius’, dan sangat concern terhadap pengembangan musik untuk lagu-lagu Batak , akan turut hadir di Samosir bersama band-nya, dengan Alsant Nababan sebagai vokalis.

Untuk lebih meramaikan lagi, Louis Sitanggang yang merupakan vokalis dari Deredia, kali ini akan turut hadir. Tentunya tak ketinggalan musisi tuan rumah, yang tinggal di Tuktuk, yaitu Jajabi Band, yang sebelumnya juga selalu ikut ambil bagian.

Persiapan untuk event ini sudah tergolong rampung, meski masih terus mencari dukungan ke banyak pihak. Hal ini mengingat masih minimnya pendanaan yang didapatkan sebelumnya. Besar harapan event ini bisa mendapat perhatian yang lebih serius terutama dari pemerintah Propinsi dan Pusat, agar nantinya event ini bisa tetap digelar dan bisa semakin dikembangkan.

Setiap tahunnya sebelum dan sesudah event, Menteri Pariwisata Arief Yahya selalu menyampaikan apresiasinya. Namun sebagai pelaksana event, Henry Manik, lebih membutuhkan dukungan yang nyata dibanding hanya dengan ucapan apresiasi.

“Kita membutuhkan dukungan nyata, bukan hanya sekedar apresiasi. Apalagi daerah ini (maksudnya Danau Toba,-red.) telah menjadi salah satu daerah prioritas untuk pembangunan pariwisata oleh Pemerintah Pusat. Sangatlah wajar jika event seperti ini bisa mendapat perhatian yang benar dan serius agar penyelenggaraannya bisa berkelanjutan,” harap Henry Manik.

Mengingat musibah kapal dan banyaknya korban di Danau Toba, di saat pagelaran nanti akan disediakan waktu untuk mengingat sekilas kejadian tersebut.

“Ini sebagai bentuk penghormatan kepada semua korban. Dengan harapan, renungan ini nantinya bisa lebih menyadarkan semua pihak untuk tetap sadar atas perlunya kenyamanan dan keselamatan semua orang, baik di danau, darat, atau dimanapun,” seru Henry.

Sebagai penutup, Henry menyampaikan harapannya untuk perkembangan pariwisata di Pulau Samosir.

“Semoga pariwisata Samosir makin maju, aman, nyaman dan makin populer ke seluruh dunia. Samosir Music International memiliki visi misi untuk membawa nama Samosir ke dunia yang lebih luas, dengan menjadikan event ini menjadi salah satu event bergengsi yang harus diikuti oleh artis-artis, baik dalam maupun luar negeri,” pungkas Henry. (rel/ajvg)

News Feed