oleh

Herowhin Laporkan “Penuntut” Kasus Dugaan Tipikor PD PAUS

Pematangsiantar, BatakToday

Goklif Manurung, salah satu pengurus PERKASA (Persatuan Pedagang Kecil Eks Terminal Sukadame), Pematangsiantar, yang getol ‘menuntut’ penuntasan Kasus Dugaan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) di tubuh Perusahaan Daerah Pembangunan dan Aneka Usaha (PD PAUS), dilaporkan Herowhin TF Sinaga, AP, Msi. ke Kepolisian Daerah Sumatera Utara.

Berawal dari pemberitaan BatakToday tanggal 11 Maret 2017 yang berjudul “Kasus PD PAUS: Kejari Siantar “Peralat” Instruksi Presiden”, yang kemudian dibagikan Goklif di media sosial Facebook, serta komentarnya atas berita yang dibagikan, dia dilaporkan atas dugaan penyebaran informasi yang memiliki muatan penghinaan dan atau pencemaran nama baik. Laporan tersebut tercatat dengan nomor surat Laporan Polisi Nomor: LP/330/III/2017/SPKT “III” tanggal 15 Maret 2017.

Baca berita terkait: Kasus PD PAUS: Kejari Siantar “Peralat” Instruksi Presiden

Laporan itu ditindaklanjuti dengan pemanggilan pertama terhadap Goklif Manurung, sebagai saksi, dengan surat panggilan per tanggal 12 Mei 2017. Pemeriksaannya saat ini dilimpahkan Polda Sumut kepada Kepolisian Resor (Polres) Kota Pematangsiantar.

Goklif yang ditemui sesaat setelah memenuhi panggilan pertama oleh Unit Ekonomi Satreskrim Polresta Siantar, membenarkan adanya pelaporan yang sebelumnya dilakukan Herowhin Sinaga.

“Betul, saya dilaporkan Herowhin Sinaga ke Poldasu, tapi panggilan pertama untuk pemeriksaan di Polres Siantar, saya sebagai saksi. Ada pelimpahan tugas dari Poldasu ke Polres Siantar,” ujar Goklif, Senin malam (15/05/2017).

Ketika ditanya detil pelanggaran hukum yang diduga dilakukannya, sehingga dipanggil pihak kepolisisan, Goklif tidak menyebut secara spesifik. Dia menyebut, bahwa langsung atau tidak, masalahnya memiliki hubungan dengan kasus PD PAUS.

“Selama ini kita yang kejar PD PAUS di Kejari Siantar, untuk penuntasan penyidikan kasus dugaan tipikor, tapi yang ini Herowhin Sinaga, yang notabene Dirut PD PAUS pula yang melaporkan saya. Sepertinya dua hal yang terpisah, sepertinya ya… Tapi, langsung atau tidak, ini berhubungan dengan kasus dugaan tipikor di PD PAUS, yang penyidikannya belum juga tuntas oleh Kejari Siantar. Dalam perjalanannya barangkali Herowhin, yang sekali lagi notabene Direktur Utama PD PAUS, melihat ada celah. Bisa saja untuk pengalihan masalah kasus PD PAUS. Lapangan pertempurannya mungkin mau dipindahkan dulu. Dari kita yang mengejar penuntasan kasus dugaan tipikor di PD PAUS, jadi coba dikejar balik. Katakanlah ini serangan balik, seperti dalam sepakbola, atau pertandingan catur. Setiap orang akan mencari celah untuk bisa lepas dari tekanan, dengan mencoba menyerang balik, kan begitu bang,” tuturnya tentang pandangannya atas laporan itu.

Saat diminta lebih jauh untuk memaparkan masalahnya, Goklif tetap mengaitkannya dengan kasus dugaan tipikor di tubuh PD PAUS, yang masih dalam tahap penyidikan di Kejari Siantar.

“Kalau di surat panggilan, memang tidak dikaitkan dengan PD PAUS, atau kasus dugaan tipikor di PD PAUS. Tapi masalah ini bermula dari kasus (dugaan tipikor,-red) PD PAUS. Ya dari ‘share’ berita media orang abang, BatakToday.com. Saya kan ‘share’ di Facebook bulan Maret 2017 lalu, lupa pula saya tanggalnya. Itu tentang Kejari yang berdalih dengan menggunakan Instruksi Presiden Jokowi, untuk tidak mempublikasi kasus sebelum masuk tahap penuntutan. Waktu itu kan saya yang ambil surat jawaban ke Kejari Siantar ini,”  sebutnya mengawali keterangannya.

Goklif lebih lanjut menerangkan, pelaporan yang dilakukan Herowhin Sinaga terhadap dirinya ke Poldasu adalah dengan menggunakan pasal 27 (3) Yo Pasal 45(3) UU RI Nomor 19 Tahun 2016 Perubahan Atas UU RI Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Sekali lagi, ini berhubungan dengan kasus PD PAUS. Kasus ini kan sudah lama, boleh dikatakan penanganan penyidikannya terkesan diperlambat. Ya itu, menurut kita proses penyidikannya sudah diluar kewajaran. Awalnya kan Kejari Siantar yang ‘main-main’, ya imbasnya begini. Entah bagaimana komentar kita di Facebook, itu nanti lah, itu sudah menyangkut materil. Katanya terindikasi melanggar UU ITE. Di surat panggilan disebutkan, bahwa dugaannya saya menyebarkan penghinaan atau pencemaran nama baik. Nama baik yang mana yang saya cemarkan, kalau dilihat di situ (surat panggilan,-red.), tentu maksudnya nama baik pelapor Herowhin Sinaga. Nanti juga ketahuan, apa iya komen saya itu nanti termasuk mencemarkan nama baik seseorang yaitu pelapor, Herowhin Sinaga? Tapi tolong juga lah dicatat, tak akan ada asap kalau tak ada api. Langsung atau tidak langsung, ini terkait PD PAUS. Herowhin itu kan Dirut PD PAUS, tidak usah saya jelaskan, silahkan menyimpulkan sendiri lah,” sebutnya.

Dia menyebutkan lagi, di satu sisi panggilan pemeriksaan ini tidak akan terjadi jika proses penyidikan kasus dugaan tipikor di tubuh PD PAUS oleh Kejari Siantar tidak berlarut-larut, dan tersangkanya belum juga ditetapkan.

“Coba kalau 400 hari yang lalu kasus ini sudah ada tersangkanya, panggilan ini kan tak akan pernah ada. Ini, satu sisi katakanlah nasib kami yang menuntut penuntasan kasus PD PAUS. Saya, satu dari sekian banyak warga Siantar yang menginginkan penuntasan kasus PD PAUS. Dan sekarang ada pihak tertentu yang ingin saya jadi tersangka, sementara kasus PD PAUS itu sendiri belum ada tersangkanya, walaupun sudah lebih 500 hari penyidikannya,” demikian dia mengingatkan tentang penanganan kasus PD PAUS.

Dengan gaya canda Goklif membandingkan penyidikan kasus PD PAUS dengan kemungkinan yang akan dihadapinya ke depan sehubungan dengan laporan pengaduan yang membuatnya dipanggil untuk diperiksa.

“Tapi tak tau jugalah, bisa saja 1000 hari ke depan pun barangkali saya tidak akan ditetapkan jadi tersangka, cukup fair kan? Ini proses awalnya masih di Kepolisian. Tapi kalau saya misalnya ditetapkan jadi tersangka, kan bakal ke Kejaksaan juga? Masak cuma kasus PD PAUS yang disidik Kejari Siantar yang bisa tanpa ada tersangka, biarpun sudah 500 hari lebih penyidikannya? Yang ini 1000 hari lebih pun barangkali bisalah ditunda untuk tidak terus ke tahap lanjutannya, kan tergantung Kejari Siantar. Lama-lama nanti SP3, seperti kasus Tembok RSUD Djasamen. Ha ha ha… Tapi kita lihat saja lah nanti, ini masih panggilan pertama, pemeriksaannya Selasa minggu depan. Oke bang?” demikian Goklif mengakhiri, setelah terlebih dahulu menyinggung Kasus Dugaan Tipikor pada Pembangunan Tembok RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar, yang penetapan tersangkanya dilakukan pada April 2013, tetapi akhirnya kasus ini ditutup dengan diterbitkannya Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) setelah penyidikan berlangsung 3 tahun lebih.

Baca berita: Kasus PD PAUS: Kejari Siantar Masih Serius, KPK Turut Awasi

Pemeriksaan terhadap Goklif di Unit Ekonomi Satreskrim Polresta Siantar, masih sebagai saksi, akan dilakukan hari Selasa pagi (23/05/2017).

Proses penyidikan kasus dugaan tipikor di tubuh PD PAUS hingga hari ini, Rabu (17/05/2017), telah memasuki hari ke-521, dan belum satu orang pun tersangka ditetapkan dalam penyidikan kasus ini oleh Kejaksan Negeri Pematangsiantar.

Sebelumnya, pada Senin petang (15/05/2017), saat Bataktoday menemui Kasipidsus Kejari Siantar, Herianto Siagian di kantornya, diperoleh informasi bahwa Tim Penyidik dari Kejaksaan Negeri Siantar yang menangani kasus dugaan tipikor di tubuh PD PAUS, masih menunggu hasil Audit Perhitungan Kerugian Negara oleh BPKP Perwakilan Sumatera Utara. Audit ini bermula setelah dilakukan gelar perkara di BPKP Sumut pada 27 Mei 2016, atau lebih 11 bulan yang lalu. (ajvg)

17-05 Hari ke 521-large

News Feed