oleh

Hutan Sumut Menyimpan Banyak Satwa Langka

Medan,BatakToday

Hamparan hutan yang semakin sempit di Sumut menjadi ancaman kepunahan ratusan satwa langka yang tersimpan di dalamnya. Diketahui, di kawasan Sumut masih ditemukan harimau sumatera (panthera tigris sumatrae) yang hidup di alam liar, namun semakin terancam dengan alih fungsi hutan dan perburuan. Membanggakan lagi, masih ditemukan golden cat (kucing emas/gatokuma) yang diperkirakan hanya ada 50 ekor di dunia.

Satwa langka yang dilindungi ini ditemukan tim Bukitbarisan Sumatran Tiger Rangers (BSTR) saat melakukan penelusuran hutan lindung di kawasan Kabupaten Labuhanbatu Utara, Padang Lawas Utara, Labuhan Batu Selatan, dan Labuhan Batu, selama dua tahun terakhir.

diskusi 1_edited“Bukan saja harimau sumatera yang kita temukan, bahkan ada banyak satwa langka lainnya seperti semut dengan panjang tubuh sampai 2,5 cm,” ujar pendiri BSTR, Haray Sam Munthe, pada forum diskusi yang mengambil topik “mengenal perilaku harimau sumatra di alam liar serta upaya pelestariannya”.

Forum dihadiri kalangan mahasiswa dari 10 perguruan tinggi di Sumatera Utara yang tergabung dalam My Trip My Adventure (MTMA) Go Green, dan Plt Kepala Kelompok Pengelola Hutan Lindung (KPHL) Unit XXII Tobasa Labura, Leonardo Sitorus, di Medan, Rabu (18/11/2015) malam.

Dijelaskannya, di hutan lindung yang merupakan bagian dari Bukit Barisan, ditemukan berbagai jenis satwa langka yang mungkin tidak lagi dikenal generasi muda, seperti jenis burung rangrong (penabur benih), cendrawasih sumatera, tapir, kambing hutan, dan satwa langka lainnya.

Haray mengatakan, populasi satwa liar dan dilindungi sangat terancam karena habitatnya semakin tergusur. Misalnya harimau sumatera yang menurut data tahun 2010 hanya tersisa 350 ekor. Pembunuhan terjadi akibat minimnya pengetahuan warga tentang satwa yang memiliki belang paling menarik ini.

“Bahkan saat menemukan harimau, warga cenderung melaporkannya kepada pemburu. Padahal, harimau sumatera bukanlah pemangsa manusia. Namun pada kondisi tidak normal, bisa saja melakukan penyerangan. Maka itu, kita perlu mempelajari karakternya sehingga bisa berdampingan dengan satwa liar tanpa saling membunuh. Karena manusia tidak akan bisa hidup tanpa keberadaan satwa liar,” ujarnya.

Kemudian, lanjut Haray, bagaimana bangsa ini bangga mengembangbiakkan kambing dari luar negeri yang bisa mencapai bobot 80 kg, sementara kambing hutan yang terdapat di hutan Sumut saja bisa mencapai ratusan kilogram.

“Untuk itu, kami sangat berharap, generasi muda kiranya mau perduli dengan satwa langka yang ada di daerahnya,” harapnya.

Haray menjelaskan, warga Desa Pematang, Kecamatan Na IX-X, Kabupaten Labura telah menjadi warga binaan BSTR. Warga diberikan pengetahuan tentang satwa langka dan hakikatnya, sehingga saat ini tidak ada lagi warga yang membunuh satwa liar.

Plt Kepala KPHL Unit 22 Tobasa Labura, Leonardo Sitorus, mengungkapkan kekhawatiran yang sama akan bahaya kepunahan satwa langka, diantaranya harimau sumatera. Untuk itu, pihaknya sebagai lembaga pemerintah telah melaksnakan program pelestarian hutan sehingga layak sebagai habitat satwa liar, sekaligus mampu mendukung perekonomian warga.

“Kita sedang membangun sebuah kawasan hutan buah. Buah bisa dimanfaatkan warga, sementara ekosistem hutan bisa terjaga,” ujarnya.

Sitorus mengapresiasi gerakan yang dilakukan BSTR sebagai contoh yang layak ditiru. Sebab, saat ini upaya mempertahankan ekosistem hutan mengalami dilema yang kompleks. Dari hasil penelurusan tim nya, di hutan Tobasa dan Labura sudah ditemukan sekitar 63 jenis burung,  diantaranya 13 burung jenis langka.

“Bahkan kita ada temukan satu jenis burung, yang ternyata spesies tersebut endemik di China. Ada juga kita temukan beruang madu, bahkan jenis kodok yang langka seperti kodok harimau,” kata Sitorus.

Rangers MTMA Go Green, Raja Banggas Rambe, yang turut dalam penelusuran BSTR mengatakan, kegiatan tersebut menjadi awal edukasi bagi para mahasiswa yang tergabung di organisasinya. Pemahaman yang memadai terhadap satwa liar akan semakin menambah kecintaan mahasiswa terhadap ekosistem hutan terutama satwa langka. (AFR)

Foto: Suasana diskusi tentang satwa langka di Medan, Rabu (18/11) yang dihadiri mahasiswa/i dari berbagai perguruan tinggi di Sumut. (bataktoday/afr)

News Feed