oleh

Integritas, Tantangan untuk Pemimpin Baru Kota Siantar

Di Stadion Teladan Medan, ada yang khas dari Anak Medan selama ini. Sebagai penonton dalam pertandingan sepakbola, kerap memberi ‘teguran’, yang sebenarnya lebih tepat disebut tekanan kepada wasit, sebelum pertandingan dimulai. Ada nyanyian khas yang dapat diingat dengan mudah, dengan syair yang bernada negatif, tujuannya untuk memberi ‘teladan’ kepada wasit, agar memimpin pertandingan dengan baik dan adil. Para wasit Nasional yang pernah memimpin pertandingan di sana mengakui penonton di Stadion Teladan sangat kritis, dan membuat wasit akan lebih berhati-hati memimpin pertandingan. Penonton menuntut wasit untuk memimpin dengan baik dan punya integritas, serta menerapkan segala peraturan dalam permainan sepakbola.

Kemarin, Hefriansyah SE MM dilantik jadi Wakil Walikota Pematangsiantar Periode 2017-2022, oleh Gubernur Tengku Erry Nuradi di Aula Martabe Kantor Gubernur Sumut. Hefriansyah, walau masih jadi Wakil Walikota, untuk saat ini menjadi pejabat tertinggi di Pemerintah Kota Pematangsiantar.

Unik, dan kejadian yang pertama di Indonesia, seorang Wakil Walikota tanpa atasannya, yaitu Walikota, dilantik sendirian sebagai hasil dari sebuah Pilkada. Sebagai wakil, siapa atasannya langsung? Tanpa adanya Walikota dalam pelantikan ini, barangkali atasannya langsung adalah rakyat Kota Siantar, yang sekaligus juga harus dilayaninya. Atasan seorang pejabat tertinggi dalam sebuah kota adalah rakyat kota itu sendiri, yaitu orang-orang yang harus dilayaninya, bagus kan? Siantar hebat…!

Hari Kamis pagi (23/02/2017), Hefriansyah memimpin apel gabungan pertama yang dihadiri para pimpinan SKPD dan ASN Pemko Siantar lainnya. Dia, meski masih sebagai Wakil Walikota ‘akan’ bekerja memimpin Pemerintah Kota Siantar.

Seperti wasit di Stadion Teladan, di kota yang sama dengan tempat Hefriansyah dilantik, BatakToday dari Siantar, perlu untuk memberikan ‘teguran’ di awal kepemimpinan Hefriansyah di Kota Siantar. Tujuannya kuranglebih sama dengan tujuan para penonton kepada para wasit di Stadion Teladan, agar memimpin kotanya dengan baik dan adil. Dengan harapan, Hefriansyah juga akan lebih berhati-hati, agar menjadi pemimpin yang baik dan punya integritas, sehingga menerapkan semua peraturan dengan benar dalam memimpin kota ini.

Perlu juga diketahui, sebelum mencalon sebagai Wakil Walikota dalam Pilkada Siantar 2015, Hefriansyah pernah menjadi Anggota sekaligus Wakil Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Pematangsiantar. Namun

Namun, BatakToday mencatat sebuah pelanggaran, setidaknya ketidakjujuran yang dilakukan Hefriansyah sehubungan dengan keterlibatannya di BPSK Kota Pematangsiantar.

Ketika itu, hari Kamis 7 April 2016, di masa penundaan Pilkada Siantar 2015, di mana Hefriansyah sebenarnya telah mengundurkan diri sebagai Anggota BPSK, namun dia bertindak sebagai Anggota sekaligus Wakil Ketua BPSK, dalam audiensi ke Rumah Dinas Walikota untuk menemui Pj Walikota Pematangsiantar yang saat itu dijabat Jumsadi Damanik. Tentu tidak seharusnya lagi Hefriansyah bertindak untuk dan atas nama BPSK, saat dia bukan lagi bagian dari institusi tersebut. Anggota BPSK yang telah mengundurkan diri atas kemauan sendiri, otomatis berhenti sebagai anggota, begitu peraturannya.

Baca berita: Pj Walikota Siantar: “BPSK Harus Gencar Sosialisasi Agar Dikenal Publik”

Apakah keikutsertaannya dalam kunjungan itu berakibat buruk atau tidak, itu hal lain. Namun di sisi lainnya, tentu timbul pertanyaan tentang integritas Hefriansyah sebagai seorang calon pemimpin saat itu. Bahkan akan jadi pertanyaan, jangan-jangan dia masih menerima honor sebagai Anggota BPSK dalam periode masa setelah dia mengundurkan diri dari institusi itu?

Seseorang yang memiliki integritas, akan melakukan sesuatu sebagai mestinya, terlepas dari ada atau tidak pihak yang melihat atau mengawasinya. Ini adalah hal yang selanjutnya harus dimengerti dan dilakukan oleh Hefriansyah. Sebab seorang pemimpin kota, harus bersikap, berbuat, dan bertindak sebagaimana seorang pemimpin yang punya integritas.

Sebagai bahan permenungan buat warga Kota Siantar, juga Hefriansyah, adalah proses Pilkada Siantar, yang kemudian menghasilkan Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Hulman-Hefriansyah sebagai pemenang Pilkada. Sehubungan Pilkada Siantar ini, tidak terbantahkan, telah terjadi praktik Politik Uang dan pelanggaran-pelanggaran, serta kekurang dalam penyelenggaraan lainnya. Pilkada Siantar Susulan 2016 ini tidak bagaimana harusnya atau layaknya sebuah Pilkada yang baik.

Baca berita berikut ini :   

Pilkada Siantar Tinggal Hitungan Jam, Pemilih Pemula Terancam Tidak Ikut Memilih

Kadisdukcapil Siantar Gagal Paham, Pemilih Pemula Batal Nyoblos?

Pilkada Siantar: “Dinodai” dengan Tinta Palsu?

Arti Sebuah Undangan (C6)

Catatan Pilkada: “Selamat Datang Peradaban Lama Kota Siantar!”

Tak Dapat C6, Ratusan Warga Siantar Timur & Marihat Minta Pilkada…

Ketua Panwaslih: 2 ASN Pemko Siantar Terlibat Sosialisasikan Paslon

Ada yang mengatakan, tidak semua orang masuk penjara oleh suatu pelanggaran, namun bukan berarti semua orang yang tidak masuk penjara tidak ada diantaranya yang pernah melakukan pelanggaran.

Benar, secara legal formal Hefriansyah akhirnya dinyatakan sah dan kemudian dilantik sebagai Wakil Walikota Pematangsiantar, sebagai hasil dari Pilkada Siantar. Tetapi, diyakini sebagian warga kota mengetahui apa yang telah terjadi dalam Pilkada Siantar Susulan 2016, yang kemudian menghasilkan Paslon Pemenang, yang kemudian membawa Hefriansyah menjadi Wakil Walikota. Mari kita jujur, benarkah Pilkada Siantar Susulan 2016 bebas dari Politik Uang?

Kemudian menjadi pemimpin sebuah kota, dengan latar belakang sebagai seorang pengusaha, tentu diharapkan Hefriansyah dapat memajukan kota Siantar, sebagaimana dia memajukan usahanya di masa lalu.

Hefriansyah diketahui sebelumnya pernah berhubungan dengan orang-orang di Pemerintah Kota Pematangsiantar ketika dia menjadi pengusaha, itu tidak terbantahkan. Dan jelas juga Hefriansyah mengetahui ‘cara-cara’ yang tidak dibenarkan telah dilakukan sebagian pengusaha dalam upaya maupun dalam melaksanakan pekerjaannya yang dananya bersumber dari APBD kota Siantar.

Sebagai pemimpin Kota Siantar periode 2017-2022, Hefriansyah sebagai Wakil Walikota yang baru diharapkan dapat membersihkan Pemerintah Kota Pematangsiantar dari Korupsi-Kolusi-Nepotisme (KKN) dalam pelayanan masyarakat, proses pelaksanaan pembangunan, penempatan perangkat daerah, maupun di bidang-bidang lain yang merupakan tugas pemerintah kota. Tentu untuk itu dibutuhkan Hefriansyah sebagai pemimpin yang jujur dan punya integritas.

Seseorang pernah berkata, “Jangan tanyakan bagaimana saya sebelum berada di tempat ini, tetapi lihat apa yang saya perbuat di sini.” Kiranya demikian juga dengan Wakil Walikota Pematangsiantar yang baru, untuk periode 2017-2022. Yang ditunggu adalah apa yang akan dilakukannya selama menjadi pemimpin kota ini.

Tantangan dari BatakToday untuk pemimpin baru Kota Pematangsiantar, yang jawaban serta kenyataannya di dalam bersikap dan berbuat hanya Hefriansyah dan TUHAN ALLAH yang tahu, adalah tentang integritas sebagai seorang pemimpin kota.

Kiranya TUHAN ALLAH menolong…!!! (***)

News Feed