oleh

Istana Kirimkan Sinyal Reshuffle Kabinet Jilid 3

Jakarta, BatakToday –

Sekretaris Kabinet Pramono Anung memberi sinyal bahwa reshuffle kabinet berikutnya mungkin terjadi jika Indonesia gagal mempersempit kesenjangan posisinya dengan kekuatan regional pada kemudahan melakukan bisnis tahun depan.

Pramono mengatakan, meskipun posisi Indonesia telah melonjak signifikan sebesar 15 tingkat dengan menempati posisi ke-91 sesuai World Bank’s Ease of Doing Business index for 2017 yang dirilis Oktober lalu, namun posisi itu masih jauh di bawah Singapura (2) dan Malaysia (23).

Perbaikan secara berkesinambungan yang saat ini sedang dilakukan, jelas Pramono, untuk memastikan Indonesia bisa mencapai posisi di atas 50, yang dianggap sebagai parameter bagi investor di seluruh dunia pada tahun depan.

“Presiden telah menyatakan bahwa tahun depan harus di atas 50. Kalau tidak, beliau akan menggantikan menteri terkait,” kata Pramono pada seminar “Indonesianisme Summit” yang digagas Ikatan Alumni ITB, di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Sabtu (10/12/2016).

Lebih lanjut diungkapkannya, pada bulan April lalu Presiden Jokowi mengeluarkan paket stimulus ekonomi 12 yang secara khusus menargetkan peningkatan yang signifikan dalam indeks Bank Dunia dengan memangkas banyak prosedur yang dapat mengurangi alokasi waktu dan biaya dalam memulai bisnis.

Lonjakan signifikan dalam peringkat Indonesia terjadi berdasarkan perbaikan yang dilakukan untuk memulai bisnis, mendapatkan listrik, pendaftaran properti, mendapatkan kredit, membayar pajak, perdagangan lintas batas dan menegakkan kontrak.

Pada tanggal 27 Juli lalu, Presiden mengumumkan susunan kabinet barunya dengan menunjuk sembilan nama baru menggantikan pejabat sebelumnya, dalam upaya untuk menciptakan Kabinet yang lebih efisien. Ini adalah perombakan kedua yang dilakukan Presiden setelah yang pertama pada bulan Agustus 2015, ketika ia mengganti enam anggota kabinet.

Turut hadir pada seminar, diantaranya Menteri Pariwisata Arief Yahya, dan dua anggota kabinet baru yakni  Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. (Phil/win/hwa)

News Feed