oleh

Januari 2017, Film Wiji Thukul Tayang di Seluruh Jaringan Bioskop Indonesia

Jakarta, BatakToday –

Diduga diculik pada bulan April 1998, sampai hari ini Wiji Thukul belum kembali, hilang tak tentu rimbanya. Setidaknya untuk melawan lupa, sutradara Yosep Anggi Noen mengangkat kisah hidup Wiji Thukul ke layar lebar. Film dengan judul Istirahatlah Kata-Kata itu dijadwalkan tayang di seluruh jaringan bioskop Indonesia pada Januari 2017 mendatang.

“Saat ini kami sedang melalui proses persiapan hingga film ini bisa dinikmati di layar-layar bioskop Indonesia pada Januari 2017 nanti,” ujar produser film Yulia Evina Bhara, Minggu (9/10/2016) seperti dilansir dari kompas.com.

Saat ini Istirahatlah Kata-Kata tampil pada 21st Busan International Film Festival di Korea Selatan.

Sutradara Yosep menjelaskan, sejak pemutaran perdana di Locarno (Swiss), Istirahatlah Kata-Kata sudah berkompetisi di dua ajang internasional, yakni Vladivostok Film Festival (Rusia) dan Hamburg International Film Festival (Jerman).

Sementara di Indonesia, film Istirahatlah Kata-kata berhasil menyabet penghargaan Film Terbaik Kategori Non Bioskop pada ajang Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2016 yang digelar di Manado, Sulawesi Utara, Sabtu (8/10/2016). Penghargaan dan Piala Dewantara tersebut diterima oleh Wahyu Susilo, adik Wiji. Pada kesempatan itu Wahyu membacakan puisi berjudul “Istirahatlah Kata-kata”.

Yosep mengapresiasi penghargaan yang diberikan kepada film tersebut.

“Terima kasih atas penghargaan yang diberikan oleh Apresiasi Film Indonesia 2016. Di saat yang sama, film kami juga diapresiasi di Busan International Film Festival. Apresiasi dari festival film di dalam dan di luar negeri adalah energi positif bagi film ini,” ujar Yosep.

wiji-tuhukul_solosolitude2_editedDari Busan, film yang  dibintangi oleh Gunawan Maryanto, Marissa Anita, Melanie Subono, Eduward Bolang Manalu, dan Dhafi Yunan ini akan mengikuti kompetisi di QCinema Film Festival di Filipina.

Sang Inspirator Penggulingan Rezim Orde Baru

Lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 26 Agustus 1963, Wiji Thukul dikenal dengan karya-karya seninya yang menyentil kekuasaan Orde Baru. Thukul adalah sosok manusia unik, orisinil, cerdas, dan blak-blakan. Ia tak hanya berpuisi, tetapi juga mengorganisir buruh dan petani.

“Kata-kata tak mengubah realitas, tapi mempertajam realitas!” demikian Thukul memaknai kata-kata dalam puisinya.

Ketika banyak seniman koleganya masih gamang untuk terlibat dalam perjuangan politik, Thukul dengan lantang menyerukan bahwa seniman adalah korban dari sistem yang antidemokrasi, untuk itu seniman harus ikut merebut kemerdekaannya sendiri. Thukul tak jeri kendati ditangkap dan dihajar senapan berkali-kali.

Peristiwa pada bulan Agustus 1995 menjadi salah satu pemicu memuncaknya radikalisme Thukul, saat ia menggelar Panggung 50 Tahun Indonesia Emas di depan rumahnya di Solo. Ada pentas drama, nyanyi, baca puisi dan lomba menggambar anak-anak. Tiba-tiba serombongan tentara datang mengepung rumahnya. Panggung sederhana itu pun diobrak-abrik, dan karya cukil kayu dan hasil gambar anak-anak dirampas paksa.

Thukul tak terima, ia menolak dibawa paksa. Ia melawan sambil terus membaca puisi. Kendati, akhirnya tubuh cekingnya diringkus dan diseret ke kantor polisi.

Ketika peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) meledak, Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang ikut didirikannya dibubarkan paksa dan semua anggotanya menjadi buronan. Wiji pun pamit kepada istrinya, Sipon, untuk pergi bersembunyi. Sejak itu ia mengembara dari satu kota ke kota lain, menghindar dari kejaran militer yang menganggap puisinya menghasut para aktivis untuk menentang rezim Soeharto.

Dari lokasi persembunyian ia masih menulis: ‘Aku masih utuh dan kata-kata belum binasa!

Jelang jatuhnya rezim Orde Baru, Thukul kembali merapat ke organisasi mahasiswa dan buruh, bekerja dalam kondisi politik yang sangat represif. Akhirnya, sejak April 1998 ia hilang tak tentu rimba, hingga hari ini. (JAS)

News Feed