oleh

JBAF#3: “Merubuhkan Sekat, Menjadikannya Jembatan”

Medan, BatakToday

Jong Bataks Arts Festival 3 (JBAF#3) yang berlangsung 25-28 Oktober 2016, di Taman Budaya Sumatera Utara, menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatannya Jumat (28/10), sekitar tengah malam.

Sebelumnya, di panggung utama malam itu, telah diikrarkan keberlanjutan Jong Bataks Arts Festival yang ke-4 tahun 2017 yang akan datang, dan bahkan meningkatkan lagi dengan ikrar untuk penyelenggaraan Jong Sumatera Arts Festival 2017.

Ojax Manalu, Direktur Jong Bataks Arts Festival #3, sesaat setelah seluruh pertunjukan malam itu terlaksana, menyempatkan diri untuk berbincang dengan BatakToday  ketika ditemui di sekitar panggung utama tempat event ini dirampungkan. Sebagai direktur dalam festival seni budaya ini, Ojax mengawali perbincangan dengan pemaparan tentang harapan dan pencapaian yang diinginkan dari penyelenggaran  JBAF#3.

“Jong Bataks Arts Festival bermanfaat untuk banyak kalangan, tidak hanya untuk anak muda, orang tua juga bisa melihat, bagaimana anak muda itu bisa saling berinteraksi, saling bisa mengisi, saling bekerjasama. Sebenarnya panutan-panutan seperti ini yang dibutuhkan anak-anak muda dari orangtua. Itu saya pikir sangat minim saat ini,” demikian Ojax mengawali.

Selanjutnya Ojax menyebutkan hal terpenting adalah terbangunnya jembatan dalam kehidupan kaum muda yang datang dari latar belakang yang berbeda-beda, melalui penyelenggaraan  JBAF#3 maupun dalam dua festival sebelumnya.

“Saya berani mengatakan, Jong Bataks Arts Festival, mulai yang pertama hingga yang barusan kita lakukan, itu telah merubuhkan sekat-sekat perbedaan yang ada. Suka tidak suka harus diakui, sekat itu pernah ada, tapi bukan di Jong Bataks ini. Jong Bataks Arts Festival telah merubuhkan sekat-sekat yang ada, dan sekaligus menjadikannya jembatan untuk kaum muda menuju keadaan dimana kita dapat menerima keberagaman sebagai sebuah keindahan dan keunggulan, dalam perkembangan kebudayaan, yang berarti perkembangan peradaban. Sekaligus itu yang kita maknai juga melalui festival ini, sebagai suatu bangsa dalam memaknai semangat Sumpah Pemuda. Saya pastikan, setidaknya bagi semua orang yang terlibat dan menyaksikan festival ini, jembatan itu telah dibangun dari sekat yang dirubuhkan, dan kita telah menjalaninya bersama” demikian Ojax menyampaikan penuh semangat,  seperti juga ditunjukkannya selama berlangsungnya JBAF#3.

“Mudah-mudahan forum ini, festival ini, bukan hanya sekedar festival, tetapi banyak hal yang bermanfaat, banyak hal yang terpendam di dalamnya, yang teman-teman, 481 orang, yang datang untuk berkarya di sini, dan menemukan apa yang terpendam itu. Setidaknya 481 orang yang berelaborasi di sini telah belajar tentang banyak hal, tidak hanya belajar dengan ‘puak’nya. Mungkin dia dari puak Toba, tapi dia belajar tentang Karo. Kemudian yang dari puak Karo belajar tentang Toba, saling bersinergi diantara mereka. Itu yang paling penting saya rasakan dan inilah hal yang paling mendasar dari kegiatan ini,” jelasnya lebih lanjut.

Tortor, dipersembahkan anak-anak dari Bale Marojahan (bataktoday/ajvg)
Tortor, persembahan anak-anak binaan Bale Marojahan (bataktoday/ajvg)

Dalam JBAF#3 hadir berkarya banyak orang, dari berbagai tingkatan usia dan latar belakang ‘puak’ yang ada di Sumatera Utara, selain Bataks, Melayu, bahkan dari puak Gayo. Diminta pandangannya tentang keberlanjutan dan hubungan JBAF#4 2017 dengan rencana menyelenggarakan Jong Sumatera Arts Festival #1 yang pertama pada tahun 2017 yang akan datang.

“Jong Bataks tetap ada, tetapi ada 2 penggabungan, JBAF#4 dan Jong Sumatra Arts Festival (JSAF). JSAF 2017  ini lebih kepada mengakomodir keinginan dari rekan-rekan di luar Medan dan Sumatera Utara yang mau mengisi dan membangkitkan semangat berkarya, sementara forumnya tidak ada. Kalau kita menggunakan nama Jong Bataks tentu akan kurang mengena, sehingga kita menggunakan nama Jong Sumatera, tentu akan lebih memberi kesan yang lebih terbuka, dan bahkan akan memberi kesan lebih “universal” lagi.

Menurut Ojax, mengingatkan, Jong Batak dan Jong Sumatera sama-sama ikut mem-‘proklamasi’-kan Sumpah Pemuda. Sehingga dengan kegiatan membawa nama Jong Sumatera, tentunya gaung ung membangitkan semangat nasionalisme  akan menjangkau dan berbicara tentang hal yang lebih luas dan lebih besar lagi.

Untuk menjawab tantangan yang lebih besar di tahun yang akan datang, untuk dua event sekaligus, JBAF#4 dan JSAF, Ojax menyinggung dukungan Pemerintah RI melalui Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF).

“Dengan bantuan, kemarin ada pernyataannya dari Badan Ekonomi Kreatif, tahun depan kita akan dibantu semaksimal mungkin. Maka kita menyiapkan semua program-program, dan mudah-mudahan semuanya berjalan baik,” sebutnya.

“Anak-anak muda di Medan dan Sumatera Utara ini berbuat, berkarya, menciptakan sesuatu, membuat peluang, tetapi tidak punya ruang yang lebih besar untuk bergerak. Saya berharap Pemerintah Kota Medan dan Sumatera Utara, bisa lebih welcome dengan anak-anak muda yang ingin berkarya. Demikian juga pemerintah kabupaten/kota di Sumatera Utara ini,” harap Ojax.

Ikrar untuk penyelenggaraan JBAF#4 dan Jong Sumatera Arts Festival 2017 (bataktoday/ajvg)
Ikrar untuk penyelenggaraan JBAF#4 dan Jong Sumatera Arts Festival 2017 (bataktoday/ajvg)

Dia menambahkan juga, kondisi Taman Budaya Sumatera Utara saat ini tidak representatif menjadi tempat sebuah pertunjukan yang menarik.

“Orang untuk datang ke sini saja berfikir, walaupun kita menyajikan sebuah pertunjukan yang menarik. Tapi kita tetap syukuri apa adanya,” ujar Ojax ironis.

Ojax sangat berharap, dan menyampaikan pesan khusus untuk Pemerintah Kota Medan, maupun Pemprov Sumatera Utara, betapa pentingnya tempat yang representatif sebagai media bagi masyarakat, terutama anak-anak muda,  berkarya dalam bidang seni budaya.

“Saya pikir menjadi permenungan bagi seluruh stake-holder di negeri ini, dalam hal ini untuk kita di Sumatera Utara, khususnya kota Medan sebagai pusat kawasan, akan seperti apa kita ke depan, tanpa membangun karakter budaya dalam masyarakat kita, dan yang terutama lagi bagi kaum muda, termasuk anak-anak. Salah satu yang dapat dilakukan dalam pembangunan karakter adalah melalui seni budaya. Untuk merangsang tumbuh kembangnya, salah satunya melalui seni pertunjukan. Terlepas dari segala kekurangan, itu yang kami lakukan melalui Jong Bataks Arts Festival selama ini. Bisa dibayangkan bagaimana festival ini telah “menyita”  waktu dan perhatian sekian banyak kaum muda dan anak-anak dalam festival ini. Dan saat mereka “tersita” oleh dan untuk event ini, di situlah lahir dan tumbuh karakter positip. Di awal saya sudah katakan tadi, bagaimana event ini merubuhkan segala sekat. Jadi yang jelas, untuk merubuhkan sekat, masyarakat dan kaum muda, anak-anak,dan bahkan ng-orang tua sekali pun, siapa saja, butuh media untuk membangun karakter, salah satunya melalui seni budaya. Inihal yang sangat penting, masyarakat dan para pekarya, membutuhkan tempat yang representatif. Apalagi dihubungkan dengan pengembangan ekonomi kreatif, yang merupakan salah satu peluang yang dimiliki bangsa ini, tentu termasuk daerah kita ini,” jelas Ojax sekaligus sebagai sebuah harapan untuk adanya sebuah tempat yang representatif untuk menyelenggarakan event-event seni budaya di kota Medan dan Sumatera Utara.

Rumah Karya Indonesia, perhimpunan yang didirikan kaum muda di kota Medan dan Sumatera Utara, yang membidani dan menyelenggarakan Jong Bataks Arts Festival secara berkelanjutan, tidak menutup, bahkan membuka kerjasama dengan pihak-pihak yang peduli dengan pelestarian seni budaya, termasuk perusahaan swasta. Namun Ojax, yang memiliki nama lengkap

“Selagi swasta itu peduli dengan budaya, peduli dengan lingkungan, tidak ada masalah. Yang penting mereka (perusahaan swasta,-red.) memiliki hal-hal yang menunjukkan rasa kemanusiaan yang tinggi. Jangan sampai kita bekerjasamas dengan pihak yang di luar seperti yang saya sebut ini. Minta maaf lah kalau untuk yang bukan menjunjung tinggi kemanusiaan, kebudayaan  dan untuk mereka yang tidak peduli dengan lingkungan. Sekali lagi, minta maaflah, kita tidak akan bekerjasama dengan mereka yang tidak sejiwa dengan kegiatan kita,” tegas Ojax.

Marojahan Andrian Manalu, lebih dikenal dengan nama Ojax Manalu, Direktur Rumah Karya Indonesia, sekaligus direktur untuk event  Jong Batas Arts Festival #3, menerangkan, Rumah Karya Indonesia adalah perhimpunan/komunitas anak-anak muda lintas budaya dan lintas sektor di Medan dan Sumatera Utara, yang aktif di bidang kesenian dan kebudayaan, dan bergerak untuk menyelenggarakan berbagai festival seni budaya di Sumatera Utara.

Rumah Karya Indonesia (RKI)menjelang akhir tahun ini, akan mempersiapkan kegiatan-kegiatan atau event seni budaya untuk tahun 2017 yang akan datang.

“Setelah merampungkan event Silahi Sabungan Arts Festival yang berlangsung 2-4 Desember 2016, di akhir tahun kami akan mematangkan rencana untuk event di sepanjang 2017,” demikian Ojax mengakhiri perbincangan, lewat tengah malam setelah semua kegiatan Jong Bataks Arts Festival #3 berakhir. (ajvg)

News Feed