oleh

Jong Bataks Arts Festival 2015: Membangkitkan Semangat Gotong Royong dan Regenerasi

Medan,BatakToday

Murni Surbakti
Murni Surbakti

Kali kedua, perhelatan Jong Bataks Arts Festival digelar dengan menghadirkan sederet seniman Batak kontemporer, diantaranya Irwansyah Harahap, Martogi Sitohang, Hendrik Perangin-angin, Murni Surbakti, Idris Pasaribu, Tampe Mangaraja Silaban, Mangatas Pasaribu, Togu Sinambela, selama lima hari (27-31 Oktober 2015) di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Jalan Perintis Kemerdekaan Medan. Perhelatan akbar seni budaya Batak kali ini juga diharapkan akan melahirkan seniman-seniman muda Batak yang kelak akan melanjutkan dan mengembangkan dunia seni budaya Batak.

Seniman-seniman ini turut ambil bagian dalam perhelatan kebudayaan ini dengan semangat gotong royong, semangat yang belakangan mulai tergerus oleh karakter individualistis. Waktu yang sangat berharga bagi mereka, disisihkan untuk pagelaran ini bersama pekarya-pekarya muda lainnya untuk menggugah publik Sumatera Utara tentang makna dari warisan leluhur bangsa. Jong Bataks tahun ini fokus pada gerakan budaya untuk melestarikan eksistensi kearifan lokal budaya Batak.

“Secara materi, mungkin panitia Jong Bataks Arts Festival tidak mampu memberikan honor yang tinggi. Namun secara spirit mereka dapat menyatukan energi di satu ruang yang bernama panggung kebudayaan,” ujar Jhon Fawer Siahaan, direktur Rumah Karya Indonesia di Medan, Jumat (23/10/2015).

Martogi Sitohang
Martogi Sitohang

Dijelaskan, Irwansyah Harahap, Martogi Sitohang, Hendrik Perangin-angin, Murni Surbakti selalu berkontribusi di dunia kesenian lewat bunyi. Mereka meramu bunyi menjadi sesuatu yang menggugah emosi dan pemikiran publik. Dengan teknik dan kepekaan rasa, mereka dapat menarik perhatian public pendengarnya memasuki wilayah-wilayah hening,  tajam, senduh, kencang, tragis, imajiner, romantis atau rindu yang menyayat.

“Dengan ketajaman dan kelembutan bunyi yang mereka produksi lewat seluruh potensi diri, kita dapat menikmati dunia yang mungkin saja belum pernah dilihat. Bagaimana terbang dengan mengendarai suara atau kita memasuki belantara leluhur yang ditumbuhi bunyi-bunyi sakral. Mereka mampu menghipnotis seluruh indera kita untuk keluar dari kepenatan rutinitas sehari-hari yang kadangkala menjauhkan kita dari nilai-nilai kemanusiaan,” lanjutnya.

Irwansyah Harahap
Irwansyah Harahap

Karya-karya musik Irwansyah Harahap dengan SUARASAMA-nya pada dasarnya mengacu pada elemen konseptual maupun praktikal dari berbagai musik tradisional dunia (roots music). Selain menggunakan alat-alat musik tradisional dunia, ia juga cenderung untuk merancang ulang (redisain) peralatan musik konvensional ke dalam bentuk-bentuk tuning, teknik permainan, maupun karakteristik idiomatik bunyi yang berbeda-beda untuk memenuhi estetika musikal yang ingin dicapai. Terkadang ia juga membuat disain alat musik khusus (custom) untuk memenuhi kebutuhan komposisi musik yang ia kerjakan. Selain itu, ia juga seringkali melakukan sintesa ulang gagasan konspetual maupun paraktikal dari fenomena musik dunia ke dalam formula baru, baik dalam hal pembentukan struktur dasar ritmikal maupun orientasi pada unsur melodiknya.

SUARASAMA memainkan world music yang memadukan musik Batak, Melayu, Timur Tengah, dan Afrika. Mereka mengeluarkan album berjudul Timeline yang dirilis oleh Space Rec (Jakarta). Sebelumnya album mereka dirilis oleh Radio France Internationale yang kemudian dirilis ulang oleh Drag City Records (USA).

SUARASAMA berkembang ketika ia mendapat undangan dari Sapto Rahardjo untuk terlibat dalam Jogjakarta International Gamelan Festival 1997. Undangan itu berlanjut dengan permintaan perekaman musiknya oleh Jerome Samuel, seorang produser dari Radio France Internationale. Selanjutnya Irwansyah Harahap menerima undangan untuk menghadiri forum Asia Pasific Performance Exchange (APPEX) 1997 di Los Angeles Amerika Serikat, dimana ia mempresentasikan karya-karyanya dalam tajuk Music, Trends, and Future.

Idris Pasaribu
Idris Pasaribu

Hingga di tahun ke-17 berdirinya kelompok SUARASAMA, telah menghasilkan banyak karya, antara lain Fajar di Atas Awan (RFI France 1998; DragCity Chicago 2008), Rites of Passages (Suarasama Indonesia-Wellington New Zealand), Lebah (Suarasama, Indonesia) dan akan merilis album Timeline pada tahun ini. Secara pribadi, Irwansyah Harahap pernah menjadi artist in residence dalam kegiatan Wellington-Asian Artists Residence Exchange (WARE) oleh Wellington-Asian Foundation selama tiga bulan bersama istrinya.

Martogi Sitohang adalah seorang seniman yang selalu menginspirasi anak muda. Gerakan-gerakan yang selalu kita bayangkan sulit untuk terwujud, di tangan seorang Martogi Sitohang bisa terwujud karena semangat, intensitas totalitas dan jaringannya. Jebolan Entomusikologi Universitas Sumatera Utara (USU) ini sudah melalangbuana di dunia internasional melalui musik tradisional. Beberapa tahun ini ia berjuang untuk mewujudkan seruling menjadi alat musik nasional, dengan menggelar Konser Satu Juta Seruling.

Hendrik Peranginangin
Hendrik Peranginangin

Murni Surbakti adalah salah satu penyanyi berdarah Karo yang sudah punya pengalaman musik di kancah nasional maupun internasional. Dengan latar belakang aliran musik jazz, Murni Surbakti juga tidak lupa membawa lagu-lagu Karo di beberapa tour ke New York,USA. Ia pernah bernyanyi keliling Indonesia bersama Rita Nasution, Diana Nasution, Glen Fredly, Yoppy Latul, Meriam Bellina, dan Dorce Gamalama. Tahun 1993 membentuk Trio Ryms ( Rey Wowor, Yuyun George, Murni ) dan bernyanyi ke luar negeri untuk acara kenegaraan seperti Indonesia Independence Day di Sydney, Australia.

Pada tahun 1994 Murni Surbakti bergabung dengan band senior D ‘Lloyd, show tours keliling Malaysia ( Kuala Lumpur, Kuala Pilah, Penang, dan Johor ) selama satu setengah bulan dengan Yuyun George. Tahun 1999 mulai bergabung bersama musisi dan komposer senior Elfa Secioria (almarhum) mempelajari tehnik vocal private untuk persiapan album pertamanya.

Tahun 2000 Murni meluncurkan album pertama ” Pesta Dansa ” (Dancing Party). Di tahun yang sama bersama Elfa Secioria Jazz Choir mengikuti kontes Championship Jazz Choir dunia dengan peserta dari 86 negara di Linz, Austria, dan berhasil membawa nama harum Indonesia setelah meraih gelar juara. Kini ia menetap di Bali.

Hendrik Peranginangin, nama yang selalu membumi dikalangan anak muda Kota Medan. Sosok yang menginspirasi dan selalu mendukung kegiatan anak-anak muda Sumatera Utara agar berani melangkah dan berkontribusi kepada negeri ini. Komposer yang rendah hati ini sudah memperdengarkan  bunyi-bunyi yang ia garap sampai ke luar negeri.

Selain musik, seniman berpengaruh di bidang  sastra juga akan mengisi panggung Jong Bataks Arts Festival 2015. Siapa yang tidak kenal Idris Pasaribu? Sastrawan gaek yang pantang disebut tua. Dia tak pernah lelah mendidik anak-anak muda menjadi sastrawan. Dari bawah pohon asam Taman Budaya Sumatera Utara, puluhan sastrawan lahir dari olah jiwanya.

Sejak tahun 1977 puisi-puisinya mulai mengisi antologi sastra Sumatera Utara. Antologi puisi bersamanya terbit di Aceh, Jakarta dan Yogyakarta. Antologi cerpen bersama diikutkan di berbagai antologi yang terbit di Medan, Aceh, Jakarta, bersama Hamsad Rangkuti dan penulis lainnya (Aisyah, Di balik Tirai Jendela) serta antologi cerpen bersama cerpenis Malaysia-Indonesia di Muara I dan Muara III.

Karya-karya sastra Idris Pasaribu mengambil tema-tema sejarah, budaya, dan kritik sosial. Seorang pengamat sastra Martin Alaeda, menilai cerpen-cerpennya memiliki gaya sastra reportatif. “Dia yang pertama kali mengatakan ada sastra reportatif, yaitu saya sendiri, Idris Pasaribu,” ujarnya.

Di bidang seni rupa ada Mangatas Pasaribu dan Togu Sinambela, akan menggelar karya-karya yang selalu berbicara tentang ke-Batak-an.

“Para seniman berpengaruh sengaja diturunkan pada ajang ini untuk memberi darah segar bagi kreator-kreator muda agar terus berkarya dalam kondisi sesulit apapun,” ujar Jhon Fawer Siahaan.

Perhelatan akbar seni budaya Jong Bataks Festival kali ini juga diharapkan akan melahirkan seniman-seniman muda Batak yang kelak akan melanjutkan pengembangan seni budaya Batak. Festival adalah kegembiraan kolektif dari suatu komunitas yang bersehati menggelarnya. Maka mempersiapkan regenerasi penggiat seni budaya Batak di tengah kegembiraan Jong Bataks Festival menjadi sesuatu yang lebih mudah dan lebih indah untuk dilakukan. Selamat berpesta! (AFR)

News Feed