oleh

Jong Bataks Arts Festival #3: Topeng tanpa Isu SARA, Apalagi Pungli…!

Redaksi

Jong Batak Arts Festival #3 (JBAF#3) telah dirampungkan. Rumah Karya Indonesia, yang menjadi pelopor dan penyelenggara festival seni budaya ini, menuntaskan semua kegiatan dan pertunjukan pada Jumat (28/10/2016), tengah malam.

Menjadi catatan penting dari hajatan seni budaya ini, bahwa sekat-sekat perbedaan, terutama diantara kalangan muda dan anak-anak, termasuk para pengunjung dari berbagai kalangan, telah dirubuhkan.

Pencapaian terpenting dari JBAF#3, dengan semangat “Memaknai, Merawat dan Menghidupkan Tradisi”, dengan tema Topeng, dengan waktu penyelenggaraan yang ‘selalu’ bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, adalah terbangunnya jembatan yang menjadikan perbedaan sebagai suatu keindahan dan keunggulan, setidaknya bagi mereka yang terlibat untuk penyelenggaraan festival, maupun bagi setiap orang yang hadir untuk festival ini.

Sedikit hal yang mengurangi, namun tidak akan pernah “menghilangkan” semangat dari JBAF#3, yaitu ketidakhadiran Gubernur Sumatera Utara Erry Nuradi dalam acara pembukaan, maupun Walikota Medan Dzoelmi Eldin dalam acara penutupan.

Semoga ketidakhadiran ‘petinggi’ Sumut dan kota Medan, bukan menjadi gambaran kekurangpedulian penguasa terhadap makna, perawatan, dan kepedulian untuk menghidupkan tradisi yang baik untuk mendukung perkembangan peradaban di daerah ini, maupun di negeri ini.

Dalam Diskusi Kebudayaan sebagai rangkaian dari festival, “Duo Irwansyah”, budayawan Sumatera Utara, memberikan dua pertanyaan dan pernyataan yang penting bagi kita semua.

Irwansyah Harahap memberikan pertanyaan, “Orientasi kita kemana? Barat atau…” Dia sengaja mengosongkan kalimat bagian terakhir dari kalimat ini, sebagai isyarat ‘terserah’ pendengar ingin menjawab apa didalam benak masing-masing.

Sebuah refleksi yang disampaikan menjadi pertanyaan berat bagi kemajuan bangsa Indonesia. Baginya, anak muda cenderung menjadi ‘orang lain’ dalam kehidupan berbudaya sekalipun ada kebudayaan yang melekat sebagai sekadar identitas.

Irwansyah Harahap juga menyatakan bahwa Nusantara, yang menjadi cikal bakal NKRI, sebenarnya telah teruji sekian lama, ratusan bahkan ribuan tahun, dengan masuknya berbagai budaya, namun Nusantara tetap eksis, dan akhirnya seperti digaungkan dalam Soempah Pemoeda, bahwa kita berbahasa, bertanahair, dan berbangsa satu.

Dari Irwansyah Hasibuan, ‘keluar’ pernyataan bahwa perubahan politik sepanjang sejarah negeri ini, belum membawa bangsa ini ke jalur yang tepat, untuk membawa kita kepada cita-cita berdirinya negara Republik Indonesia, yang termaktub dalam Konstisusi. Dia meyakini, perubahan dalam bidang kebudayaan lah yang mampu mendorong dan membawa kita kepada cita-cita bangsa ini.

Keterlibatan kalangan muda dan anak-anak, serta ‘sedikit’ orang tua dalam festival JBAF#3, menumbuhkan keyakinan, bahwa ‘selalu’ anak muda yang dapat membawa perubahan, tentunya anak-anak juga, yang nantinya akan mendapat sebutan sebagai anak muda.

Pemerintahan RI di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi baru-baru ini membentuk Satgas Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli). Momen ini menjadi  salah satu mile-stone bagi bangsa ini untuk membangun kebudayaan ‘baru’ yang dapat mencerminkan peradaban baru bangsa Indonesia.

Republik Indonesia yang berdiri lebih dulu dari negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia, sangat jauh tertinggal ‘peradaban’nya dalam hal pungutan liar. Seharusnya bangsa ini malu dengan ketertinggalan peradaban ini.

Di sisi lain, hiruk pikuk Pilkada DKI, marak diwarnai suara-suara yang bau SARA-nya sangat menyengat. Jauh sebelumnya juga, di negeri ini banyak kejadian yang berlatarbelakang isu SARA. Sungguh sangat memalukan, terutama jika hal-hal buruk dengan isu SARA menulari anak muda di negeri ini, apalagi anak-anak yang harusnya dibiarkan polos, untuk kemudian diwarnai dengan keberadaban.

Kemudian dihubungkan dengan anak muda, apalagi anak-anak, mereka yang hadir di Jong Bataks Arts Festival, mampu membangun jembatan melalui seni budaya, dan setelah berhasil merubuhkan sekat-sekat perbedaan di antara ‘mereka’. Tentu menjadi harapan, yang seharusnya tidak baru lagi, bagi kita untuk belajar dari mereka bagaimana membangun budaya dan peradaban baru yang menerima secara total keberagaman di negeri ini.

Dalam Jong Bataks Arts Festival, tidak ada pungutan liar, mereka yang ingin menyaksikan pertunjukan terlebih dahulu membeli tiket, tanpa calo tentunya. Panitia, melalui ‘penjaga pintu’, tidak melakukan pungutan liar, dengan memasukkan penonton melalui pintu samping, atau uang sogok.

Di dalam festival, hadir berbagai seni budaya dari latar belakang berbeda-beda. Alangkah akan menyedihkan jika misalnya hanya satu ‘warna’ budaya sepanjang festival yang berlangsung 4 hari. Dan kekuatan serta menjadi keunggulan festival ini justru di keberagamana seni budaya yang ditampilkan.

Untuk berubah dan membangun kebudayaan baru, kita tidak perlu malu, mari belajar dan bercermin pada “Topeng” yang dipakai anak-anak dan pemuda di Jong Bataks Arts Festival. Sebab walaupun mereka mengenakan topeng, di sana tidak ada pungli, dan tanpa bau busuk dari isu SARA. (***)

News Feed