oleh

Dari Kampung EWP Tambunan, untuk Bangsa Batak Bersatu

Tambunan Lumban Gaol, BatakToday

Berdiri puluhan tahun yang lalu, Desa Lumban Gaol, Tambunan, Kecamatan Balige, Toba Samosir, akhirnya  memiliki Kantor Desa. Dengan dihadiri penduduk desa dan beberapa undangan, Selasa (20/12/2016) pagi, kantor desa ini, resmi dimasuki.

Kepala Desa Lumban Gaol, Edward Tambunan kepada BatakToday menyebutkan, dengan adanya kantor ini diharapkan program desa akan dapat berjalan dengan baik.

“Pembangunan Kantor Desa ini adalah keinginan dan kerinduan kami sebagai masyarakat Desa Lumban Gaol, setelah beberapa puluh tahun kami nantikan. Pembangunan ini diupayakan dengan menggunakan Alokasi Dana Desa (ADD) tahun 2016. Berdirinya kantor ini adalah hasil sinergi dari Badan Perwakilan Desa (BPD) dengan aparatur desa, dan kelembagaan yang ada,” terang Kepala Desa yang sebelumnya sempat merantau ke Jakarta, namun kemudian memilih ‘pulang kampung’, berpartisipasi membangun desanya.

Kantor Desa Lumban Gaol yang baru diresmikan, Tambunan, Balige (bataktoday/ajvg)
Kantor Desa Lumban Gaol yang baru diresmikan, Tambunan, Balige (bataktoday/ajvg)

Sebelumnya, meskipun belum ada kantor desa, Edward menyebutkan bersama masyarakat telah menyiapkan berbagai program sehubungan pengembangan Pariwisata Kawasan Danau Toba. Bersama masyarakat desa berencana untuk mengembangkan pantai terbuka dengan berbagai jenis wisata air.

Edward menyebutkan harapan warga desa untuk dukungan perantau asal Desa Lumban Gaol, agar bersama-sama memajukan wisata di daerah ini. Dia mewakili warganya menyampaikan harapan dukungan perantau, terutama untuk restu dan persetujuan keturunan Raja Marsingati Tambunan Lumban Gaol, atas sebidang lahan yang direncanakan sebagai kawasan pengembangan wisata.

Edward Waldemar Pahala Tambunan, Gubernur Sumatera Utara 1978-1983 (doc. tatan daniel)
Edward Waldemar Pahala Tambunan, Gubernur Sumatera Utara 1978-1983 (doc. tatan daniel)

“Kami mohon kepada perantau asal desa ini, untuk memberikan dukungan, baik pemikiran ataupun dukungan dalam bentuk lainnya, demi mengembangkan pariwisata di Desa Lumban Gaol ini. Secara khusus kepada keluarga pomparan (keturunan) Raja Marsingati Tambunan Lumban Gaol, untuk bersedia membuka komunikasi dengan kami, untuk memenuhi kebutuhan lahan untuk program ini,” demikian harapan disampaikannya.

Diterangkannya, bahwa mereka telah mencoba menyurati dan menghubungi keluarga keturunan Raja Marsingati, namun belum membuahkan hasil hingga saat ini.

.Desa ini dulu adalah bagian dari Kenagarian Tambunan, yang terdiri dari 3 desa, yaitu Lumban Pea, Baruara, dan Lumban Gaol sendiri. Dalam perjalanannya desa ini dimekarkan, sehingga berdirilah Desa Tambunan Sungai. Desa Lumban Pea juga dimekarkan, dengan berdirinya Desa Lumban Pea Timur. Sehingga, secara keseluruhan Kenagarian Tambunan di masa lalu, saat ini menjadi 5 desa.

Desa Lumban Gaol tercatat telah melahirkan pemimpin panutan untuk Sumatera Utara, bahkan untuk Indonesia. Gubernur Sumut tahun 1978-1983, Edward Waldemar Pahala Tambunan, lebih dikenal dengan nama EWP Tambunan.

EWP Tambunan dikenal sebagai tokoh dengan penampilan yang sangat sederhana, anti korupsi-kolusi-nepotis (KKN) di era Orde Baru. Mendedikasikan hidupnya untuk membangun toleransi, kebhinnekaan, pemerataan pembangunan, dan ekonomi kerakyatan, selama menjadi Gubernur Sumut.

Persawahan di tepi jalan menuju rumah masa kecil EWP Tambunan (bataktoday/ajvg)
Persawahan di tepi jalan menuju rumah masa kecil EWP Tambunan (bataktoday/ajvg)

Di masa kepemimpinan EWP Tambunan, diperkenalkan pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) yang mewajibkan perusahaan perkebunan untuk bermitra dengan masyarakat. Bahkan di bidang pariwisata perhotelan, pola ini kabarnya sempat diterapkan di kota wisata Parapat. Tidak diketahui alasannya, pada kepemimpinan gubernur berikutnya, program kemitraan dengan masyarakat ini akhirnya terlupakan.

Dari penuturan salah satu warga, Batara Tambunan, yang turut hadir dalam acara peresmian kantor desa yang berlangsung sederhana, menyebutkan bahwa di masa kepemimpinannya di Sumut, EWP Tambunan selalu berupaya untuk berlaku adil. Desa Lumban Gaol sebagai tanah kelahirannya, dan desa lainnya yang menjadi bagian Kenagarian Tambunan, tidak mendapat hak privilage atau perhatian istimewa sehingga didahulukan dalam pembangunan.

Dituturkannya, EWP Tambunan saat itu lebih menonjolkan pemerataan pembangunan untuk seluruh desa di Sumatera Utara. Hal ini juga dapat disaksikan hari ini, bahwa di desa-desa yang merupakan bagian dari Kenagarian Tambunan, tidak ditemukan bangunan atau fasilitas yang berlebihan, layaknya desa yang telah melahirkan seorang gubernur.

Pantai Lumban Gaol, perlu penataan dan pengembangan untuk menjadi objek wisata (bataktoday/ajvg)
Pantai Lumban Gaol, perlu penataan dan pengembangan untuk menjadi objek wisata (bataktoday/ajvg)

“Jadi, jalan-jalan di kampung kami ini, dulu katanya paling hanya jalan batu, sebagian malah jalan tanah. Mendiang (EWP Tambunan,-red.) bilang, merata dulu pembangunan itu untuk semua kampung di Sumut ini. Kalau sudah bisa dijalani semua kampung, baru kita sama-sama maju lagi, sama-sama diaspal. Prinsip mendiang, ya begitulah, makanya kampung kami ini pun biasa-biasa saja, biarpun Gubernur Sumatera Utara pernah ada dari anak kampung Tambunan ini. Beliau itu orangnya tegas, jujur, tidak mardikkan (pilih bulu), bersih dan sederhana. Lihat saja rumah orangtuanya itu, ada yang luar biasa di situ? Tidak kan,” sebut Batara.

Ketika berjalan di sekitar kantor desa yang baru diresmikan, Kepala Desa Edward Tambunan menerangkan salah satu program masyarakat untuk mendirikan Sopo, atau Balai Pertemuan di sekitar lapangan yang terletak berdekatan dengan pantai Danau Toba.

“Kita mau mendirikan sopo, untuk tempat pertemuan. Sopo itu nantinya tidak terbatas hanya untuk orang kampung sini, tetapi kami bermimpi tempat itu menjadi tempat pertemuan semua orang, dari mana pun mereka datang. Impian kami, sopo itu terutama sebagai tempat Bangsa Batak bersatu,” terang Edward bersemangat.

Kepala Desa Lumban Gaol,Edward Tambunan (tengah), berpose bersama Batara Tambunan (kiri), dan salah satu keturunan warga kelahiran Desa Lumban Gaol, Sabar Mangadu Tambunan (kanan) (bataktoday/ajvg)
Kepala Desa Lumban Gaol, Edward Tambunan (tengah), berpose bersama Batara Tambunan (kiri), dan salah satu keturunan perantau asal Desa Lumban Gaol, Sabar Mangadu Tambunan (kanan) (bataktoday/ajvg)

Edward juga menyinggung, ‘jejak’ persatuan Bangsa Batak ada di derahnya. Tercatat keturunan dari Desa Lumban Gaol sebagai simbol pemersatu ‘orang Batak’, selain EWP Tambunan, ada Cosmas Batubara yang juga merupakan keturunan orang Batak yang berasal dari daerah ini.

“Untuk berdirinya sopo, atau apa pun namanya nanti kita tetapkan, kami menghimbau seluruh suku Bangsa Batak, dari puak mana pun, untuk bersatu di desa ini, membangun tempat pertemuan ini. Semua puak dalam suku Bangsa Batak, baik Mandailing, Angkola, Toba, Karo, Pakpak, dan Simalungun, mari kita bersatu di desa ini, untuk kebersamaan kita sebagai suku Bangsa Batak. Jadi, kami pun menunggu keterlibatan semua puak Bangsa Batak, bahkan dari suku selain Batak, dalam pembangunan tempat pertemuan ini, baik untuk perencanaan, maupun pembiayaan,” tutur Edward.

Sebelum meninggalkan pantai di sekitar Kantor Kepala Desa Lumban Gaol yang baru diresmikan, BatakToday mengulang kembali salam yang selalu diserukan dalam setiap pertemuan oleh EWP Tambunan, Gubernur Sumatera Utara di masa lalu.

“Horas…, Mejuah-juah…, Njuah-juah…, Yaho’wu…, Ahoiii…!” dibalas Kepala Desa Lumban Gaol ini, dengan acungan dua jempolnya. (ajvg)

News Feed