oleh

Kasus Interpelasi DPRD Sumut: Samsul Hilal Yakin akan Ada Tersangka Baru

Medan, BatakToday. Dalam lanjutan penyelidikan kasus interpelasi DPRD Sumut, tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus melakukan pemanggilan terhadap sejumlah Anggota DPRD Sumut periode 2009-2014. Samsul Hilal politikus PDIP yang turut diperiksa, Rabu (16/9), menyakini akan ada tersangka baru dalam kasus yang berawal dari kasus suap terhadap hakim PTUN Medan ini.

Hal itu diutarakan Samsul kepada sejumlah wartawan saat keluar dari gedung Makosat Brimob Polda Sumut Rabu sore (16/9). “Kemungkinan akan ada tersangka baru,” ujarnya tanpa mau menyebutkan tersangka yang dimaksudkannya itu dari pihak eksekutif atau legislatif.

Samsul memaparkan, duabelas pertanyaan yang diajukan kepadanya berkaitan dengan pengajuan interpelasi terhadap gubernur dan pengesahan APBD tahun 2013. Ia juga mengatakan tim penyidik mengantungi sejumlah data tentang tahapan-tahapan aliran dana ke DPRD Sumut pada saat itu. Namun ia membantah menerima uang sebagaimana yang dijanjikan. “Saya tidak ada menerima, tapi saya menunggu makanya mobil itu (mobil dinas, red). Karena memang ada dijanjikan,” ujar Samsul.

Samsul sempat mempertahankan mobil dinas DPRD meskipun masa pengabdiannya telah berakhir. Namun kemudian mobil tersebut dijemput paksa oleh tim aset Pemprov Sumut saat Samsul tidak berada di Medan.

Dikatakannya, dari data yang ditunjukkan tim penyidik jumlah uang terakhir yang tertulis Rp 350 juta saat pengesahan APBD 2013. Ia tidak menyangkal dan juga tidak mengamini aliran dana itu. “Saya memang menunggu, makanya saat ditanya apa saya menerima atau tidak? Saya jawab ‘tidak’, tapi saya menunggu,” katanya disambut tawa khasnya.

Tim penyidik juga menkonfrontir, kenapa ada nama Samsul Hilal di daftar penerima uang tersebut. “Ya, saya kan anggota dewan, makanya nama saya ada di sana,” ujarnya.

Sumber uang tersebut, kata Samsul, tidak disebutkan penyidik. Namun ditanya tentang hubungannya dengan Randiman Tarigan, Fuad dan Alinafiah. “Apa kenal mereka ini? Apa hubungannya dengan mereka?” ujarnya menirukan pertanyaan penyidik. Juga disampaikan, bahwa dirinya siap dikonfrontir dengan orang yang mengaku telah memberikan sejumlah uang kepada dirinya.

Samsul yang saat itu menjabat sebagai Wakil Ketua Fraksi PDI Perjuangan mengaku tidak pernah dilibatkan dalam pengambilan kebijakan di dua substansi tersebut.

Selang beberapa saat, Tonies Sianturi dari PDS, dan Taufan Agung Ginting dari PDIP keluar bersamaan namun tidak bersedia bertemu dengan wartawan. Mereka langsung menaiki mobilnya dan meninggalkan Makosat Brimob. Kemudian Japorman Saragih politikus PDI Perjuangan juga keluar gedung dan hendak menuju mobilnya namun menyempatkan bertemu dengan wartawan. Ia mengamini apa yang disampaikan Samsul Hilal.

“Ya seputar-seputar itu nya itu, capek kalian nunggui di sini,” ujar Japorman.

Menurut pantauan wartawan, sejak pagi sejumlah politisi lain  yang menghadiri undangan penyidik  KPK diantaranya, Isma Fadli (Golkar), Richard Lingga (Golkar), Brilian Moktar (PDIP), Tagor Simangunsong (PDIP), Evi Diana (Golkar), Helmiati (Golkar), Biller Pasaribu (Golkar), Janter Sirait (Golkar), Effendi Napitupulu (PDIP), Syafrida Fitri (Golkar), Alamsyah Hamdani (PDIP), Sudirman Halawa (Golkar), Budiman Nadapdap (PDIP), Parluhutan Siregar (PAN, Ahmad Hosen Hutagalung (PPP), dan Abul Hasan Maturidi (PPP). Sementara dari pihak eksekutif, terdapat dua pejabat dari eksekutif yang turut hadir di Makosat Brimob, Binsar Situmorang, dan Sulaiman Hasibuan. (AFR)

Keterangan Gambar:

Samsul Hilal saat memberikan keterangan usai diperiksa tim penyidik KPK di Makosat Brimob Polda Sumut

News Feed