oleh

Kawasan Danau Toba Pasca Bebasnya si “Pancagila”

Dalam persidangan dengan agenda pembacaan putusan atas kasus dugaan penistaan lambang negara dengan terdakwa Sahat S Gurning, atau dikenal dengan sebutan Kasus Pancagila, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Balige memutuskan Sahat tidak bersalah.

Saat Majelis Hakim membacakan fakta-fakta yang terungkap selama pemeriksaan di persidangan, tercatat beberapa kejanggalan sejak penangkapan dan penahanan Sahat oleh pihak Polres Toba Samosir.

Kasus ini terkesan dipaksakan dan tercium ada pesan tertentu dengan menjadikan ekspresi Sahat di media sosial berujung kepada dihadapkannya Sahat ke depan pengadilan.

Kesaksian Sahat saat diperiksa sebagai terdakwa mengungkapkan, dia tidak dipanggil untuk ditahan melainkan ditangkap. Kemudian penyidik sendiri ternyata tidak mengerti Lambang Negara yang sebenarnya. Intimidasi oleh oknum di Polres Toba Samosir juga diungkapkan Sahat dalam pemeriksaan dirinya sebagai terdakwa.

Sebelumnya juga,  dalam putusan sela Majelis Hakim pada bulan Agustus 2016, Sahat telah dibebaskan. Namun Jaksa Penuntut Umum kembali mengajukan dakwaan dengan nomor kasus dan substansi yang sama.

Di persidangan selanjutnya setelah Sahat diajukan sebagai terdakwa untuk kedua kalinya, dapat disaksikan juga betapa Jaksa Penuntut Umum memaksakan terdakwa bersalah, salah satu dengan memelintir keterangan Ahli, yaitu Shohibul Anshor Siregar seorang sosiolog. Keterangan Shohibul sebagai ahli yang menyebutkan perlu pendalaman mencari makna di balik tindakan Sahat, justru disimpulkan JPU sebagai kesalahan dari sudut pandang ilmu sosial, dan memuatnya sebagai kesimpulan atas keterangan Ahli dalam tuntutannya.

Ada apa sebenarnya dengan Kasus Pancagila? Apakah mencuatnya kasus ini, oleh postingan di media sosial seorang aktivis dari sebuah desa di Toba Samosir mengandung makna lain selain penegakan hukum, atau hanya sebuah pesanan hukum, untuk meredam tuntutan masyarakat Kawasan Danau Toba atas hak-haknya yang selama ini banyak “dikantongi” pihak lain yang berseliweran di kawasan ini?

Majelis Hakim yang menangani perkara ini akhirnya memutuskan Sahat S Gurning si “Pancagila” dari Toba tidak bersalah,  dan dibebaskan. Putusan ini dinilai sangat sederhana namun adil. Pengadilan tidak dapat menolak perkara, namun Pengadilan juga berhak dan berkewajiban menegakkan keadilan.

Persidangan yang kerap dihadiri ‘orang kampung’ bahkan ompung-ompung, merupakan pemandangan yang sedikit banyak menggambarkan terdakwa bukan penjahat atau orang tercela. Dia pemuda desa yang bekerja sehari-hari di sawah ladang. Juga ketika ditangkap, dia sedang membangun Rumah Parguruan (Rumah Belajar) dengan temannya yang lain di desanya.

Dalam postingan di media sosial, Sahat juga mencantumkan tuntutannya akan pengembalian hak-hak Masyarakat Adat, yang juga menjadi isu penting yang sedang diperjuangkan Masyarakat Adat di Kawasan Danau Toba, dan juga di seluruh Nusantara.

Postingan tentang “Pancagila”nya sudah cukup lama “tergeletak” di dinding akunnya, namun bertahun kemudian postingan itu menjadi kasus. Ada pihak yang mencari momen dan menemukan postingan itu sebagai senjata pembungkam kebebasan berekspresi saat menyampaikan kritik dan tuntutan atas ketidakadilan kepada penyelenggara Negara.

Kriminalisasi adalah cara termudah untuk menghentikan seseorang dengan pergerakannya, dan menjadi resep ampuh untuk menakuti orang atau komunitas, agar tidak mengikuti gerakan yang sama.

Dengan bebasnya Sahat si Pancagila dari Toba, makna dibalik tindakan dimenangkan Pengadilan. Ekspresi pemuda desa menang menghadapi kriminalisasi oleh oknum aparat, yang barangkali atas pesanan pihak yang terganggu dengan kebebasan berekspresi.

Setelahnya, orang muda dan orangtua di Toba, di Tapanuli, di Kawasan Danau Toba, dipersilahkan untuk tidak ragu lagi untuk mengekspresikan tuntutannya, sejauh itu tidak melanggar hukum dan perundang-undangan.

Jangan pernah takut dengan kriminalisasi oleh oknum aparat penegak hukum yang berkolaborasi dengan para “penjajah” di Tanah Batak, yang menginginkan masyarakat bungkam dan takut, walau hak-haknya dilucuti… Beranilah menuntut hak di jalan kebenaran…!!!

Terimakasih kepada Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Balige, yang telah menegakkan keadilan sesuai dengan amanat Undang-Undang… (***)

 

News Feed