oleh

“Keruh” di Akhir Masa Tugas Dewan Pengawas PDAM Tirtauli Siantar

Oleh: Arif JV Girsang

Kekeruhan terasa mengalir ketika Dirut PDAM Tirtauli, Badri Kalimantan, menyampaikan nota dinas tentang berakhirnya masa jabatan Dewan Pengawas PDAM Tirtauli kepada Wali Kota Siantar.

Nota dinas yang merupakan alat komunikasi internal yang berisi pemberitahuan, saran, dan laporan, dituding salah satu anggota Dewan Pengawas sebagai sebuah perintah Dirut PDAM kepada Wali Kota Siantar sebagai seorang “atasan”.

Tidak tanggung-tanggung, anggota Dewan Pengawas PDAM Tirtauli itu mengatakan agar Badri Kalimantan berobat ke rumah sakit jiwa. Sebegitu tidakwarasnya kah, sang Dirut dengan nota dinas ini, sehingga sampai diperlukan untuk berobat ke rumah sakit jiwa?

Anggota Dewan Pengawas harus mengerti dan menguasai manajemen PDAM. Sehingga harus mengerti juga tentang kepada siapa Dirut PDAM bertanggungjawab. Nota dinas sang Dirut untuk melapor dan menyarankan suatu hal yang berhubungan dengan keadaan perusahaan kepada Wali Kota, adalah dalam rangka menjalankan tugas dan tanggungjawab sebagai seorang direktur utama.

Meminjam perkataan seorang pengamat, “Justru aneh jika Badri tidak melayangkan nota dinas kepada Wali Kota.”

Beberapa hari kemudian, Badri Kalimantan dilaporkan ke Polresta Siantar, atas penyalahgunaan wewenang pada masa “silam”, oleh peristiwa tahun 2013 lalu. Sebegitu sibuknya kah Dewan Pengawas selama hampir 3 tahun terakhir, sehingga tidak punya waktu untuk menyadari dan melaporkan penyalahgunaan wewenang tersebut kepada pihak berwajib?

Anggota Dewan Pengawas harus menyediakan waktu yang cukup untuk melaksanakan tugasnya. Pengawasan dilakukan hari demi hari. Sesuatu yang ditemukan dalam melakukan pengawasan harus segera ditindaklanjuti. Bukan lantas menyimpan suatu temuan dalam pengawasan selama bertahun-tahun.

Bukan suatu alasan yang baik dalam pengawasan, bahwa selama ini terlalu sibuk, sehingga tidak punya cukup waktu untuk mengadukan pejabat PDAM yang diawasinya. Mengadukan sesuatu yang terjadi hampir 3 tahun yang lalu, dapat diartikan sebagai suatu pelaksanaan pengawasan yang buruk. Alangkah tidak bermutunya suatu pengawasan yang melaporkan suatu kejadian “sejarah” yang terjadi beberapa tahun sebelumnya.

Timbul pertanyaan, apa yang dilakukan anggota dewan pengawas tersebut selama ini, dalam menjalankan tugas pengawasannya?

Kekeruhan lain mengalir ketika Tim Seleksi Calon Pengawas PDAM Tirtauli dibentuk oleh Wali Kota Siantar. Salah satu anggota Dewan Pengawas mengatakan pembentukan tim seleksi ini cacat hukum.

Wali Kota sebagai Kepala Daerah, mewakili pemerintah sebagai pemilik perusahaan, berhak untuk mengangkat anggota dewan pengawas PDAM. Proses yang bagaimana yang dijalankan Wali Kota sebelum mengangkat anggota dewan pengawas, sejauh tidak bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan, itu dapat dilakukannya dalam melaksanakan hak dan wewenangnya.

Menjadi pertanyaan juga, bagi mereka yang bisa memberikan jawaban, hukum apa yang dilanggar Wali Kota Siantar dengan membentuk tim seleksi calon dewan pengawas PDAM, sehingga itu disebut cacat hukum?

Menjelang berakhirnya masa tugas Dewan Pengawas PDAM Tirtauli periode 2013-2016, terlihat oknum di dewan pengawas begitu gencar mengawasi sang Dirut, bahkan lebih jauh lagi ada oknum yang “mengawasi” Wali Kota Siantar sebagai pemilik modal perusahaan daerah ini.

Menjelang masa tugas Dewan Pengawas PDAM Tirtauli periode 2013-2016 yang berakhir 03 Pebruari 2016, ternyata dibarengi dengan suasana “keruh”. Semoga kekeruhan ini tidak mempengaruhi tingkat kejernihan air yang dialirkan PDAM Tirtauli kepada para konsumen.

Dengan adanya tim seleksi calon dewan pengawas, yang didampingi tim psikolog dari Universitas Sumatera Utara, diharapkan Dewan Pengawas PDAM Tirtauli yang akan datang, diisi oleh anggota-anggota yang cukup awas. Mampu mengawasi pengendalian kejernihan air yang dialirkan oleh PDAM Tirtauli, dan tentunya juga, mau menciptakan kejernihan suasana dalam menjalankan pengawasan, sejak awal hingga akhir masa tugasnya di tahun 2019 yang akan datang.

Jangan berulang lagi, sekonyong-konyong keruh menjelang masa tugasnya berakhir…

Semoga menjernihkan!

News Feed