oleh

Ketua Umum Peradi: Usut Tuntas Tewasnya Tahanan Polres Tobasa

Pematang Siantar, BatakToday-

Ketua Umum Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi), Luhut MP Pangaribuan, meminta kasus tewasnya tahanan (almarhum Andi Pangaribuan, red) di sel Kepolisian Resort (Polres) Toba Samosir diusut tuntas. Dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini mendesak agar korban diotopis supaya pengusutan berlangsung objektif. Ia juga mengingatkan, jangan dibiarkan kemungkinan adanya abuse of power.

“Intinya, kasus ini harus diusut tuntas, karena bagaimana pun setiap orang yang ada di kantor polisi harus aman,” tegas Luhut kepada BatakToday, Senin (9/11)..

Menurut Luhut, hanya ada dua kemungkinan pada kasus tewasnya almarhum Andi Pangaribuan di sel Polresta Tobasa. “Kesengajaan untuk membunuh atau kelalaian sehingga terjadi pembunuhan,” ujar mantan pengacara almarhum Gus Dur itu.

Hasil otopsi diperkirakan dua minggu

Berbeda dengan pemberitaan sebelumnya bahwa proses otopsi atas jasad almarhum Andi Pangaribuan akan dilakukan di RS TNI Pematangsiantar sesuai keterangan pihak Polres Tobasa, namun akhirnya dilaksanakan di RSUD Djasamen Saragih Pematang Siantar.

Kepada BatakToday melalui telepon selular pada Senin (9/11) malam, ketua tim forensik RSUD Djasamen Saragih, dr Reinhard Hutahaean, SpF menjelaskan, jenazah almarhum Andi Pangaribuan diterima instalasi forensik pada Sabtu malam pukul 21.00 wib, dan proses otopsi dilakukan pada malam itu juga.

“Ditemukan memar pada kelopak mata kanan, lecet pada dada kanan, lecet pada tubuh belakang. Ada tanda-tanda umum mati lemas. Ada tanda jeratan pada leher. Dari semua yang ada pada jenasah, jeratan yang ada di leher lah yang kita yakini yang mengakibatkan dia mati,” papar Reinhard.

Ketika BatakToday mempertanyakan apakah kondisi jenazah yang sudah diformalin dan dibersihkan tidak menimbulkan kesulitan dalam analisis forensik, Reinhard menjelaskan, hal itu tidak terlalu banyak mempengaruhi analisis, apalagi permasalahannya adalah korban mati lemas. Ia mengakui, ada beberapa penyuntikan formalin dilakukan di bagian leher korban, yang dipermasalahkan keluarga korban, namun ia telah menjelaskan kepada pihak keluarga, bahwa kondisi itu tidak terlalu mengganggu proses otopsi.

Tentang ada tidaknya cairan mani pada tubuh korban, Reinhard menegaskan, hal itu tidak berpengaruh dalam proses otopsi.

“Ada tidaknya cairan mani itu tidak mempengaruhi apa pun, tidak menjawab apa pun tentang sebuah kasus, apakah itu suatu pembunuhan atau bunuh diri. Tentang cairan mani itu hanya pemikiran orang awam. Ada tak ada air liur juga tidak menjawab apa pun dalam kejadian ini,” tukas Reinhard.

Selanjutnya dikatakan, bahwa yang harus difahami, asfiksia atau mati lemas bisa disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain bisa karena dibekap, dicekik, dijerat, atau bisa karena diikat.

Dalam kasus ini, lanjut Reinhard, kemungkinan penyebab asfiksia antara dijerat atau mati gantung. “Mati gantung itu bisa karena bunuh diri, bisa karena pembunuhan, bisa juga karena kecelakaan. Dijerat pun juga begitu, bisa karena bunuh diri, pembunuhan, bisa juga karena kecelakaan. Kita singkirkan dulu faktor kecelakaan, sehingga kemungkinannya apakah dibunuh atau bunuh diri,” paparnya rinci.

Diterangkan lebih lanjut, dari hasil analisa forensik ditemukan gambaran umum penyebab asfiksia, yang dalam kasus ini adalah mati gantung. “Namun apakah mati gantung disebabkan pembunuhan atau bunuh diri, itu sudah masuk ke dalam ranah penyidik,” ungkapnya.

Menurut Reinhard, penjelasan yang sama juga telah disampaikan kepada pihak ahli waris korban dan penyidik sebelum jenazah diserahkan untuk dibawa pulang pada Minggu dini hari (8/11). Ia memperkirakan hasil otopsi akan selesai dua minggu ke depan. (AJV/JAS/AP)

Foto: Ketua Umum Peradi Luhut MP Pangaribuan.

News Feed