oleh

Kiosnya Dibongkar, Rusmani Minta Pemko Berlaku Adil

Pematangsiantar, BatakToday

Rusmani Hutasoit, pemilik bangunan liar di Jalan Sisingamangaraja, Kelurahan Asuhan, Kecamatan Siantar Timur, menangis histeris melihat kiosnya dibongkar Tim Penegak Peraturan Daerah (TPPD) pemerintah kota Pematangsiantar, Kamis (13/10). Dia mengaku baru setahun mendirikan kios di simpang rambung merah yang merupakan jalur hijau.

“Sebelum membangun kios,  ku jumpainya lurah untuk menanyakan resikonya, dan waktu itu jawaban lurah tidak jelas. Makanya ku beranikan membangun kios di Simpang Rambung Merah ini,” kata Rusmani kepada wartawan di sela-sela pembongkaran.

Rusmani juga mengungkapkan, untuk mendirikan bangunan dan membuka kios, dia meminjam modal sampai jutaan rupiah. Dia menyebut, mulai dari mendirikan kios hingga sampai saat ini, masih membayar cicilan pinjaman utang kepada pemilik modal.

“Setiap hari aku harus membayar cicilan utang ito. Sekarang kiosku sudah dibongkar, dari manalah uangku membayar sisa cicilan utang,” sebutnya sambil menangis.

Oleh karena itu, Rusmani sangat  menyesalkan sikap Lurah Asuhan yang dinilainya tidak memberikan pencerahan pada saat dia berkomunikasi sebelum membangun kios. Menurutnya, lurah sejak awal seharusnya mencegahnya membangun kios itu.

“Uda berdiri bangunan kios ku baru ditegur lurah. Padahal aku sudah sempat meminjam modal. Kalau tau nya aku bangunan kios ku pasti dibongkar, pasti tak kan berani aku membangun kios di Simpang Rambung Merah ini,” ujar Rusmani dengan wajah kecewa.

Rusmani berharap kepada pemerintah kota supaya TPPD bersikap adil dalam melakukan pembongkaran bangunan liar. Sebab menurutnya, bukan hanya kiosnya saja yang berdiri melanggar aturan di kota Siantar.

“Tapi itu pun, gak kan sakit hati aku, asal semua bangunan liar sama yang melanggar peraturan dibongkar,” ungkapnya.

Menanggapi keluhan Rusmani, Lurah Asuhan Flash Gordon Siregar mengatakan, sejak awal sebelum mendirikan bangunan kios liar, pihaknya selalu aktif mencegah masyarakat membangun di tempat seperti itu. Menurutnya, masyarakat kerap mengabaikan teguran pihak kelurahan, dan memilih tetap mendirikan bangunan di ruang publik.

“Kelurahan selalu mencegah masyarakat mendirikan bangunan permananen di jalur hijau. Tetapi, masyarakat selalu mengabaikan teguran kita. Nah, pada akhirnya dibongkar lah bangunannya,” ujarnya. (EM)

News Feed