oleh

Kontradiksi dalam Benak Gereja Batak

Oleh: Sahat P Siburian

Ibarat menu,  ibadah minggu di gereja Batak telah menyediakan pilihan: bahasa Batak dan bahasa Indonesia. Juga jadwal: pagi, siang dan sore. Bahkan acara ibadah pun tidak lagi hanya konvensional, tetapi ada kemasan baru yang disebut “ibadah alternatif” diiringi seperangkat alat musik modern.

‘Menu’ sedemikian ini tidak hanya tersaji di kawasan perkotaan seperti Pematangsiantar, Medan dan Jakarta, tetapi telah menyebar pula ke Tapanuli seperti Tarutung, Doloksanggul, Pangururan, Balige dan lain-lain. Warga jemaat dapat memilih, hendak berbahasa Batak atau berbahasa Indonesia, menentukan sendiri kapan mereka akan ikuti ibadah dan memilih ibadah konvensional atau ibadah alternatif..

Fakta tersebut jelas terlihat dalam jemaat-jemaat di gereja Batak. Sedari awal, menurut J.R. Hutauruk (2011: 3-6), sebutan gereja Batak hanya berhulu pada gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Tetapi kemudian sebutan itu ditujukan pada gereja-gereja yang lahir sejak 1920-an dan memilih memisahkan diri dari lembaga sending RMG atau dari HKBP, seperti: Huria Kristen Indonesia (HKI), Gereja Punguan Kristen Batak (GPKB), Gereja Mision Batak (GMB), Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA), dan Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD).

Semula penyelenggaraan ibadah berbahasa Indonesia di HKBP hanya di luar  daerah Tapanuli saja. Dimaksudkan untuk mengakomodasi aspirasi warga jemaat yang sudah kurang fasih berbahasa Batak, yakni mereka yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat yang dalam interaksi sehari-hari berbahasa Indonesia.

Dengan kata lain, motif yang melatari pengadaan ibadah berbahasa Indonesia lebih pada sikap akomodatif HKBP terhadap generasi muda Batak di luar Tapanuli. Jika kemudian merambat ke Tapanuli, maka boleh jadi sebagai ekspresi dari ‘kelatahan’ terhadap unsur-unsur modernitas.

Pada simpul itu, penyelenggaraan ibadah berbahasa Indonesia di HKBP pada dasarnya tidak bertolak dari sebuah perspektif nasional atau mengekpresikan semacam semangat ‘nasionalisme’. Meski tentu disadari pula bahwa bahasa Indonesia adalah sebuah penanda identitas nasional: Indonesia.

Artinya, ibadah berbahasa Indonesia itu bukanlah berlandaskan semangat gerakan nasionalisme untuk memakai bahasa Indonesia sebagaimana gencar diserukan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, melainkan lebih pada hasrat untuk mengampu kalangan etnis Batak pengguna bahasa Indonesia.

Sehingga motif HKBP untuk mengadakan ibadah berbahasa Indonesia sangat jauh berbeda dengan Gereja Kristen Indonesia (GKI). Karena sejak awal, GKI telah menyadari identitasnya sebagai bahasa Indonesia. Tetapi di beberapa jemaat, sebagaimana diuraikan Tabita Kartika Christiani dalam tulisannya “Identity in a Multicultural Church: An Experience of Indonesian Christian Church” (2007:1-3), GKI juga merayakan etnisitas dengan melayankan ibadah dalam bahasa etnis seperti Jawa dan Batak.

Menonjolkan ‘Nasionalisme’

Praktik penggunaan bahasa Indonesia dalam ibadah di HKBP mulai meluas pada tahun 1980-an. Seiring dengan ini, kegiatan rapat-rapat di HKBP pun semakin lumrah berbahasa Indonesia. Hal ini jelas terindikasi dari bahasa yang termaktub dalam notulen Sinode Godang maupun Rapat Pendeta.

Hingga tahun 1970-an, notulen-notulen Sinode Godang dan Rapat Pendeta masih setia tercatat dalam bahasa Batak, begitu pula dengan dokumen-dokumen resmi seperti Aturan dan Peraturan HKBP hanya berbahasa Batak. Tetapi mulai tahun 1980-an, notulen Sinode Godang dan Rapat Pendeta sudah terdokumentasi hanya dalam bahasa Indonesia. Sementara, Aturan dan Peraturan HKBP masih tampil dengan dua bahasa,: Batak dan Indonesia.

Bersamaan dengan itu, pada tahun 1980-an, dipopulerkan pula istilah “Sinode Agung” menggantikan istilah “Sinode Godang”. Seolah-olah istilah “Sinode Godang” itu tidak memadai lagi dipertahankan dalam komunikasi di pentas nasional.

Padahal mulai tahun 1934 istilah “Sinode Godang” telah menjadi sebuah idiom yang diciptakan HKBP dalam memperkaya khasanah bahasa Batak (sebelum tahun 1934 disebut “Synode Bolon”). Lagi pula, istilah-istilah yang kita kenal dalam bahasa Batak sangat mungkin kelak diserap memperkaya kosakata bahasa Indonesia.

Sekadar contoh dapat dilihat dalam Kamus Bahasa Indonesia terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2008. Istilah “sintua” telah tercantum dengan arti “tertua, pengetua, penatua” (hlm. 1465), “giringgiring” berarti “lonceng gereja” (hlm. 158, 490), ); “huria” diterangkan dengan arti “distrik, wilayah, sidang gereja Protestan” (hlm. 563), “libas” diartikan “memukul dengan cambuk” (hlm. 923), “ulos” dijelaskan sebagai “selendang tenun Batak” (hlm. 1176)

Selain itu, kosakata ‘gabagaba’ diartikan “daun-daunan (terutama janur) untuk hiasan; pintu gerbang yang dibuat dari bambu dan sebagainya yang dihiasi dengan janur, daun beringin, dan sebagainya;  atap dari daun rumbia; “menggaba-gabai” berarti menghiasi dengan gabagaba” (hlm. 427), ‘marga’ diterangkan dengan pengertian “lingkungan orang-orang yg seketurunan (di daerah Batak)” (hlm. 988).

Ditengarai, kecenderungan HKBP dalam forum-forum resminya berbahasa Indonesia beriringan pula dengan adanya perubahan rumusan mengenai eksistensi dan identitas HKBP dalam Tata Gerejanya. Hingga Tata Gereja HKBP 1972-1982 dinyatakan: “Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) i ma pardomuan ni halak Kristen Batak Protestan dohot Kristen sian bangso na asing pe na tardidi tu bagasan Goar ni Debata Ama, Anakna Tuhan Jesus Kristus dohot Tondi Parbadia.” (Bab I).

Tetapi dalam Tata Gereja HKBP 1982-1992 (Bab I, pasal 1) dan Tata Gereja HKBP 2002 (Bab II pasal 2.1-2) disebutkan: “Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) adalah wadah persekutuan dari orang yang berasal dari segala kelompok, kalangan suku bangsa yang berada di seluruh Indonesia, serta di seluruh dunia, yang dibaptiskan ke dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus.” (garis bawah ditambahkan!)

Dalam rumusan Tata Gereja HKBP 1972-1982 masih diperoleh kesan tentang semacam “semangat etnisitas” Batak yang khas, tercermin dalam kalimat “pardomuan ni halak Kristen Batak Protestan” (persekutuan orang Kristen Batak Protestan). Tetapi gelora semangat sedemikian, secara eksplisit tidak termaktub lagi dalam Tata Gereja HKBP 1982-1992 dan Tata Gereja HKBP 2002, tetapi  dengan spesifik menyebut “seluruh Indonesia”. Hal ini menggambarkan kesan semacam “semangat nasionalisme”.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam formulasi Tata Gereja 1972-1982 masih terasa dimensi HKBP sebagai “gereja etnis”, sedangkan HKBP dalam versi Tata Gereja 1982-1992 dan Tata Gereja 2002 sudah menyatakan diri sebagai “bukan gereja etnis” dan cenderung lebih menonjolkan ciri nasionalisme.

Semangat Etnisitas

Meski HKBP telah melazimkan diri berbahasa Indonesia dan memproklamasikan citra sebagai “bukan gereja etnis”, namun dalam “benak HKBP” senantiasa masih bersemayam kesadaran akan hakikat sosiologisnya sebagai gereja etnis Batak. Karena memang, menurut J.R.Hutauruk dalam bukunya Kemandirian Gereja  (1993: 211-218), semangat etnisitas Batak itulah yang menjadi pijakan sosiologis HKBP dalam perjalanan sejarahnya hingga kini.

Artinya, corak kekristenan HKBP adalah kekristenan yang terkonstruksi dengan merengkuh identitas etnisitas Batak, antara lain dengan menahbiskan bahasa Batak menjadi “bahasa gereja”. Pada simpul ini, penggunaan bahasa Indonesia oleh HKBP sesungguhnya bukanlah hendak menggantikan identitasnya sebagai bahasa Batak.

Gelora semangat etnisitas itu jelas terbukti dari penerbitan suplemen buku ende (nyanyian rohani) HKBP  “Sangap di Jahowa” pada tahun 2004. Suplemen ini terdiri atas 309 buah nyanyian, seluruhnya berbahasa Batak, dan telah dipadukan secara berurut menjadi buku ende HKBP.

Memang secara umum, komposisi lagu-lagu dalam “Sangap di Jahowa” masih bersandar pada langgam lagu Eropa. Tetapi selain berupa saduran maupun terjemahan dari lagu-lagu Eropa, Amerika dan Afrika, terdapat beberapa lagu yang otentik digubah menonjolkan ciri khas melodi Batak Toba. Sebutlah misalnya karya Pdt. Waldemar Silitonga (Pensilwally) yang berjudul  “Ale Amanami” (No. 840),  “Dison Adong Huboan Tuhan” (No. 848), “Husomba Ho Tuhan” (No. 857).

Selain itu, dari 309 buah nyanyian terdapat pula lima lagu yang dicantumkan sebagai berasal dari lagu “rakyat Batak”, yaitu: “Somba ma Jahowa” (No. 585) mengikuti ritme lagu Batak Toba “Taridemidem”;  “Hosianna di Anak ni Raja Daud” (No. 592) sesuai ritme lagu Batak Simalungun “Serma Dengan-dengan”; “O Tuhan Togutogu ma” (No. 743) mengacu ritme lagu Batak Toba “Aek Sarulla”; “Molo Adong Tingki Pajumpang” (No. 805) ritme lagu Batak Simalungun “Tading ma Ham”; “Sangap di Debata” (No. 863)  ritme lagu Batak Toba “Tumba”.

Kilasan data di atas memperlihatkan betapa buku ende “Sangap di Jahowa” itu tetap cukup minim memproduksi lagu dengan melodi Batak. Kendati begitu, sekali lagi, patut ditegaskan bahwa penerbitannya terselenggara dalam konteks manakala sebagian besar jemaat-jemaat HKBP tengah merayakan ibadah minggu berbahasa Indonesia. Juga pada saat HKBP dalam forum-forum resminya semakin menggandrungi penggunaan bahasa Indonesia.

Maka melalui suplemen buku ende itu terdedah sejumput indikator bahwa jauh di lubuk hati HKBP tetap mengkristal semangat etnisitas Batak. Meskipun di HKBP semakin meluas penggunaan bahasa Indonesia, namun terkesan kuat bahwa ia tetap ingin mempertahankan perannya sebagai katalisator penguatan komunitas orang Kristen Batak, terlebih melalui penggunaan bahasa Batak. Peran sedemikian ini telah ditunaikan HKBP sejak awal perjalanan sejarahnya.

Fakta mengenai hal tersebut ditandaskan seorang bahasawan bernama Jan Piter Sarumpaet dalam artikelnya “Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Batak Toba, serta Peranan Gereja di Dalamnya” (1986: 222-223). Ia menyatakan bahwa kontribusi HKBP sangat dominan bagi pembinaan, pengembangan dan penyebarluasan bahasa Batak Toba. Peran tersebut masih tetap dilakukan HKBP hingga kini. Malah belakangan ini, HKBP berkenan memfasilitasi warganya untuk mengikuti kursus bahasa Batak, seperti yang diadakan di jemaat HKBP Menteng Jalan Jambu Jakarta mulai tahun 2008.

Di sisi lain, penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai kegiatan HKBP dapat pula mengindikasikan sebuah hasrat untuk mencitrakan diri sebagai gereja berdasarkan identitas nasionalisme Indonesia. Dalam arti, ingin menegaskan keberadaan HKBP sebagai bagian integral dari bangsa Indonesia. Tetapi pada saat bersamaan, HKBP sesungguhnya sangat tidak ingin tercerabut dari akar identitas sosiologisnya, yaitu: etnisitas Batak. HKBP tetap berpretensi mempertahankan identitasnya sebagai etnisitas Batak, termasuk mengawal kelestarian bahasa Batak.

Dalam kerangka itu, terasa adanya semacam kontradiksi atau “kegamangan” dalam benak HKBP. Tata Gereja HKBP mengesankan diri sebagai “bukan gereja etnis”, tetapi pada tataran operasional tetap mencirikan diri sebagai “gereja etnis”. Situasi sedemikian ini barangkali mencerminkan sebuah karakteristik HKBP yang unik (atau mungkin ambivalensi?).

Percikan keunikan sedemikian tercermin pula dalam diri sejumlah pendeta bersama warga HKBP yang belakangan ini asik berkomunikasi di medium internet. Mereka membentuk sebuah forum jejaring sosial bertajuk “Poda ni Batak”. Substansi percakapan mereka secara implisit memijahkan pemahaman bahwa menonjolkan identitas etnis Batak tidaklah bertentangan dengan semangat nasionalisme Indonesia. Karena semangat nasionalisme bukan berarti harus menafikan unsur-unsur etnisitas atau membiarkan kekayaan budaya Batak tergerus oleh arus modernitas.

Maka boleh jadi, kinilah saatnya bagi gereja Batak, secara khusus HKBP, untuk merajut kontradiksi dalam dirinya. Hal ini dapat ditempuh dengan berani menimbang urgensi perumusan sebuah ekklesiologi yang berdimensi etnisitas Batak. Misalnya dengan menyatakan bahwa HKBP adalah gereja etnis Batak yang terbuka untuk semua kelompok etnis. Seiring dengan ini, HKBP serta-merta dapat pula melaju mengkomunikasikan misi: dari Gereja etnis Batak untuk Indonesia dan dunia.

Namun dengan menegaskan identitas sebagai “gereja etnis”, HKBP patut pula secara arif mengkonstruksi pola pelayanan kontekstual. Termasuk menyediakan nyanyian rohani berbahasa Indonesia bagi warga jemaatnya yang kurang fasih berbahasa Batak. Implementasi dari cakrawala pemikiran semacam ini barangkali merupakan sebuah kado yang cukup berharga bagi kaum muda gereja Batak kini dan masa depan. Semoga saja!***

Penulis adalah alumni Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya, tinggal di Medan.

News Feed