oleh

Mahasiswa Unimed Asal Humbahas Ikuti Pertukaran Budaya Internasional di Nusa Dua

Nusa Dua, BatakToday

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Unimed, Suwandonadi Manullang (20) mewakili Sumatera Utara dalam pertukaran budaya internasional (Inter-Culture Exchange) yang diselengarakan di Nusa Dua, Bali.  Kegiatan tersebut berlangsung selama 5 (lima) hari, mulai Senin (15/08) sampai Jumat (19/08).

Melalui kegiatan ini, diharapkan pemuda dapat lebih berpartisipasi dalam pengembangan sosial, budaya, dan pendidikan di  Indonesia kedepannya.

Inter-Culture Exchange (ICE) yang diselenggarakan oleh Yayasan Cipta Bangsa (Cipta Bangsa Foundation) ini, baru pertama kali diselenggarakan. Manajer Yayasan Cipta Bangsa, Eko Wahyudi (30) mengaku akan mengevaluasi kegiatan tahun ini dan berencana akan menyelenggarakan ICE pada tahun-tahun yang akan datang dengan segala perbaikannya

Peserta kegiatan ICE adalah hasil seleksi dari berbagai negara, dan tentunya dari Indonesia juga.

“Peserta yang mengirim aplikasi berasal dari berbagai negara. Ada dari Jerman, Myanmar, Vietnam, Filipina, dan tentunya dari Indonesia,” kata Eko kepada BatakToday (16/08).

Ketika ditanyai tentang persyaratan peserta, disebutkannya calon peserta diprioritaskan untuk pemuda yang sedang menggeluti bidang kebudayaan di Indonesia atau Asia.

“Kita telah memberikan detail dari program melalui website. Diharapkan calon peserta adalah pemuda yang sedang menggeluti bidang kebudayaan di Indonesia atau Asia. Mereka juga harus memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang baik, serta memiliki batas umur 18-27 tahun,” paparnya.

Untuk mendapatkan peserta yang sesuai dengan program, calon peserta harus mengikuti beberapa tahap seleksi yakni, pengisian formulir dalam bahasa Inggris, dilanjutkan dengan tahap wawancara, dan diakhiri dengan pembayaran biaya mengikuti program.

Program ICE ini sendiri belum mendapatkan dukungan dana dari pemerintah maupun sponsor. Eko mengaku hal tersebut dikarenakan ICE tahun ini merupakan program perdana dan masih dipertimbangkan untuk dibiayai oleh pemerintah atau lembaga-lembaga yang terkait.

“Kita tentu mengharapkan adanya kontinuitas dari program ini. Untuk itu, kita akan mengevaluasi kegiatan ini nanti, melihat feedback dari peserta dan akan mengembangkannya di tahun yang akan datang. Kemudian kita akan mengajukan permohonan bantuan dana dari pihak luar, sehingga calon peserta di waktu yang akan datang tidak dibebani biaya lagi,” katanya.

Program ICE yang telah berlangsung selama tiga (3) hari ini, memiliki agenda utama yakni Leadership and Team Working (Kepemimpinan dan Kerjasama Tim), Kunjungan Daerah Terlindung, Pelayanan Masyarakat, Kunjungan Budaya, dan Kunjungan Wisata.

Peserta ICE dan warga setempat menyambut Bulan Purnama dengan membuat “Canang”, Nusa Dua, Bali, Rabu 17/08/2016 (ice)
Peserta ICE dan warga setempat menyambut Bulan Purnama dengan membuat “Canang”, Nusa Dua, Bali, Rabu 17/08/2016 (ice)

Dapat Mengembangkan Budaya Sumut Kedepannya

Suwandonadi, selaku delegasi Sumatera Utara, diharapkan dapat mengembangkan  sosial, budaya,dan pendidikan di daerahnya pasca kegiatan. Hal itu disampaikan oleh Eko Wahyudi saat ditemui di Nusa Dua, Bali.

“Pasca kegiatan, peserta kita diharapkan dapat mengembangkan bidang sosial, budaya, dan pendidikan di daerahnya masing-masing,” ungkap Eko.

Hal senada juga disampaikan oleh pemuda Sumut yang tinggal di Bali, Dera Menra Sijabat (27).

“Sebagai delegasi Sumut, tentu kita mengharapkan Suwandonadi Manullang dapat menggugah dan menumbuhkan kesadaran akan budaya bagi pemuda lain. Lewat tulisan, delegasi dapat mengampanyekan budaya di Sumut nantinya,” ujarnya.

Dera Menra, pria kelahiran Parbatuan-Simalungun, menyinggung pentingnya komunikasi antar pemuda yang memiliki kegelisahan yang sama tentang isu kebudayaan.

“Perlu mencari teman yang memiliki kegelisahan yang sama, sehingga pengembangan budaya dapat berjalan dengan baik kedepannya,” paparnya.

Kegiatan internasional ini diyakini dapat membantu untuk membangkitkan roh budaya Indonesia, khususnya Bali. Suwandonadi berharap kegiatan sejenis dapat diselenggarakan di Sumut. Dia meyakini, program ini akan dapat mengembangkan budaya maupun wisata di Sumut.

“Kegiatan seperti ini sangat baik diselenggarakan di Sumut. Pemerintah atau siapapun harus merancang kegiatan sejenis di Sumut,” harapnya.

Suwandonadi mengaku bersedia untuk berpartisipasi positif dalam pengembangan budaya di Sumut. Pria yang juga aktif di UKMKP Unimed dan Sema FBS Unimed tersebut mengaku merasa memiliki tanggungjawab besar untuk pengembangan budaya Sumut kedepannya.

“Saya sudah didukung oleh salah satu pemerintah kabupaten di Sumut, baik moral maupun materi, berarti saya juga harus membayarnya. Saya akan menjalin komunikasi dengan berbagai organisasi untuk mengambil langkah kedepannya,” janjinya.

Peserta ICE saat mendengarkan penjelasan warga tentang salah satu tradisi masyarakat Bali, di Pura Jagat Natha Nusa Dua, Bali, Rabu 17/08/2016 (ice)
Peserta ICE saat mendengarkan penjelasan warga tentang salah satu tradisi masyarakat Bali, di Pura Jagat Natha Nusa Dua, Bali, Rabu 17/08/2016 (ice)

Perlu Dukungan Pemerintah

Sebelumnya Suwandonadi menyebutkan, dalam mengikuti program ICE ini, dia harus merogoh saku sendiri, karena pihak penyelenggara tidak sepenuhnya menanggung biaya.

Dia mendapat dukungan yang positif dari pihak Universitas Negeri Medan. Namun, tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah Sumut maupun Pemko Medan. Beberapa proposal permohonan dana mendapatkan penolakan dengan alasan tidak tersedianya anggaran untuk program tersebut.

“Disbudpar Sumut, Dispora Sumut, dan Dinas Pendidikan kota Medan menolak proposal yang saya ajukan beberapa waktu yang lampau. Mereka beralasan bahwa tidak adanya anggaran untuk programini,” sebutnya.

Kemudian pemuda kelahiran Baktiraja Humbahas ini meminta dukungan dari Pemkab Humbahas.

”Syukurlah, Pemkab  Humbahas bersedia memberikan bantuan dana kepada saya untuk mengikuti program tersebut. Bupati Humbahas, Dishubpar Humbahas, Dispora Humbahas, Disdik Humbahas, Kapolsek Baktiraja, dan tokoh masyarakat turut memberikan sumbangan dana,” tuturnya.

Kurangnya dukungan pemerintah tersebut disesalkan salah satu mahasiswi Unimed yang lain, Inriwati Saragi (19). Dia menyebutkan, pemuda membutuhkan dukungan pemerintah, sebab itu akan jadi pemacu semangat dalam mengembangkan kebudayaan.

“Salah satu kunci penting adalah dukungan pemerintah. Mereka harus mendukung baik moral maupun materi untuk pengembangan budaya Sumut,” pintanya. (ajvg)

Foto:

Suwandonadi Manullang (20), Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni Unimed asal Humbahas, mewakili Sumatera Utara dalam pertukaran budaya internasional (Inter-Culture Exchange) yang diselengarakan di Nusa Dua-Bali, di Pura Jagat Natha, Nusa Dua, Bali, Rabu 17/08/2016 (ice)

News Feed