oleh

Mahezza Puteh, Adik Mantan Gubernur Aceh yang Perduli Petani Samosir

Laporan Tumpal Paulus Simanjorang, Jakarta

 

Setiap bertemu dengan saya, sosok ini selalu menagih janji yang pernah saya sanggupi kepadanya.
“Horas Bang Tumpal, apa kabar? Bagaimana tentang yang kita sepakati itu. Apakah sudah bisa dilaksanakan?” tanya dia tatkala bertemu di sekretariat Lembaga Persahabatan Indonesia Amerika (PPIA) di Pancoran, Jakarta Selatan,  Minggu (8/11) lalu.
Ada pun yang dia dan saya sepakati sebelumnya adalah tentang penyaluran program bantuan permodalan murah bagi para petani di Kabupaten Samosir.
Sebagai seorang putra kelahiran Samosir, terus terang ada perasaan malu setiap kali saya ditanyai soal itu saat bertemu dengan putra Aceh ini. Tetapi dengan menekan perasaan malu, saya pastilah memberi jawaban yang membuat dia tetap optimis.
“Oh, baik Pak Puteh. Terkait apa yang kita pernah sepakati, masih terus kita konsolidasikan dan koordinasikan dengan rekan-rekan di Samosir,” jawab saya.

 

Bantuan Modal Murah untuk Petani

Kesepakatan terhadap program pemberian bantuan permodalan murah kepada petani Samosir bermula saat Mahezza mengikuti satu kunjungan ke Kabupaten Samosir yang difasilitasi oleh pemerintah setempat pada Maret 2015 lalu.
Selepas acara dengan Pemkab Samosir, atas prakarsa Koperasi Pribumi Petani Kopi (KOPPIKO) Samosir, digelar satu acara dengan para petani di Onan Runggu. Kebetulan Ketua KOPPIKO ini adalah saya sendiri.
Pucuk dicinta ulam tiba, kira-kira begitulah hal yang dialami Mahezza Puteh yang adalah adik mantan Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Abdullah Puteh ini. Apa yang diinginkannya, ditemukannya pada para petani di Onan Runggu itu.
Di sela-sela acara, dia mendatangi saya dan membisikkan sesuatu hal.
“Bang, dari apa yang aku amati, terlihat para petani yang hadir ini sangat haus akan pembimbingan,” bisiknya selepas melakukan tausyiah (nasehat, red) soal teknis pertanian, dan giliran pembicara utama saat itu melakukan tugasnya.
Mendengar bisikannya, saya langsung paham. Tausyiahnya saat itu memang benar-benar menghipnotis dan membuat para petani yang hadir benar-benar paham apa yang ditausyiahkan. Hal itu terlihat dari interaksi para petani dalam bertanya maupun dalam memberi tanggapan.
Usai acara, Puteh kembali mendatangi saya.“Ini petani harus kita bantu, Bang. Tak hanya soal teknik budidaya yang mereka tak paham. Sepertinya mereka juga terkendala soal permodalan,” katanya, kali ini tidak berbisik lagi.
Lalu dia menjabarkan  latar belakang  pendapatnya. “Tanpa mengurangi rasa hormat kepada pemerintah, para petani di Samosir perlu pendampingan dan bantuan modal. Sepertinya pihak pemerintah memiliki keterbatasan untuk hal itu,” lanjutnya lagi.

 

Pelaku Marturia sekaligus Diakonia

Awal perkenalan saya dengan Mahezza Puteh terjadi saat mengikuti satu acara yang dilakukan oleh Rudy Pesik, CEO DHL Indonesia, sekitar  Oktober 2013 lalu. Ketika saya diberitahu bahwa Mahezza adalah adik Abdulah Puteh dan aktif dalam kegiatan KKR MNC Group, sejenak saya tidak percaya.
Tetapi rasa tidak percaya itu sirna tatkala dia membicarakan berbagai hal dengan mendalilkannya kepada ayat-ayat dalam Alkitab. Dan itu semakin paripurna, tatkala soal dalil-dalil dalam Alkitab itu diterapkannya dalam konteks peningkatan produktivitas pertanian seperti yang ditausyiahkannya kepada petani Samosir dalam acara di Onan Runggu.
“Jadi Bapak Ibu, bahwa semua yang ada dalam hidup ini, semuanya sudah tertulis dalam Alkitab,” katanya seraya mengutip beberapa ayat untuk merujuk apa yang dikatakannya.
Maka tak perlu heran, setiap kali melakukan suatu kegiatan, hal yang tak pernah dilupakannya adalah melakukan pembinaan rohani terhadap peserta kegiatan yang sedang dilaksanakannya.
Dan itu pula yang mendasari kenapa dia juga minta dipersiapkan kegiatan KKR di Samosir bersama mantan balon wakil bupati Samosir Netty Berlian Situmorang, dalam rangkaian pengguliran program penyaluran bantuan modal murah kepada petani Samosir.
Akhir-akhir ini, kesibukan Mahezza Puteh meningkat setelah dia mengelola satu restoran di kawasan BSD Tangerang, yang juga digunakannya untuk kegiatan pelayanan Tuhan.
Hal itu jelas menyita waktu Mahezza. Walau demikian, keinginannya untuk membantu petani Samosir tidak pernah surut, seperti yang ditagihnya kepada Batak Today pada 8 November 2015 lalu.
“Program pemberian bantuan permodalan murah kepada para petani Samosir dan juga KKR harus terlaksana. Pokoknya tahun ini harus terwujud,” ujarnya optimis, seraya mengakhiri pertemuan di sekretariat PPIA menjelang sore hari itu. (TPS)
Foto : Mahezza Puteh. (bataktoday/tps)

News Feed