oleh

“Manajemen Agresivitas” ORMAS dan OKP, Itu Penting!!!

ORMAS dan OKP di negeri ini memiliki agresivitas yang sangat luar biasa. Kerapnya bentrokan yang terjadi oleh dan/atau antara berbagai ORMAS dan OKP, menjadi salah satu indikator kualitatif dari tingkat agresivitas tersebut. Kejadian teranyar, untuk “menyambut” Tahun Baru, berlangsung bentrokan antara Pemuda Pancasila dengan Ikatan Pemuda Karya, di Kota Medan, Jumat 30/1/2016.

Jika mundur sejenak ke masa Perang Dunia II, bangsa yang berpengaruh dan memegang andil untuk berlangsungnya perang dunia itu adalah bangsa-bangsa yang memiliki agresivitas yang mumpuni.

Sejarah menunjukkan bangsa Jepang dan Jerman adalah bangsa yang sangat agresif, sehingga menjadi “pentolan” dalam perang dunia pada masa itu. Kedua bangsa ini “berhasil” menjadi musuh dari lebih separuh bangsa di dunia ini, meskipun akhirnya berhasil dibekap oleh Amerika Serikat dan sekutunya.

Apa yang terjadi di kemudian hari, pasca Perang Dunia II, adalah kedua bangsa ini berhasil mengelola agresivitas yang dimilikinya. Mereka mengelola agresivitasnya untuk digunakan dalam bidang lain, selain untuk berperang.

Untuk dapat melakukan lompatan maju, berakselarasi, mengejar ketertinggalan setelah terpuruk, yang diperlukan juga tidak jauh dari potensi agresivitas.

Contoh sederhana, untuk menang dalam olah raga, perlu agresivitas. Untuk meningkatkan penjualan, diperlukan agresivitas. Untuk bangkit dari keterpurukan, dan mengejar ketertinggalan, juga agresivitas.

Kembali kepada keadaan Indonesia, merata di seluruh negeri, ORMAS dan OKP serta berbagai organisasi “ngeri” lainnya, sungguh memiliki agresivitas yang sangat mumpuni.

Kurangajarnya, agresivitas ini tidak dikelola dengan benar, untuk kebaikan, kemajuan, kesejahteraan, atau untuk mengharumkan nama negeri dan nama bangsa. Justru agresivitas itu dituangkan ke dalam bentuk negatif, bentuk premanisme, dan pertempuran jalanan yang mengganggu keamanan dan ketertiban.

Melihat dua keadaan dia atas, bukankah tidak sebaiknya agresivitas yang dimiliki ORMAS dan OKP ini dikelola untuk hal positip, sebagaimana bangsa Jerman dan bangsa Jepang mengelola agresivitasnya?

Lihatlah bagaimana akhirnya kedua bangsa itu, tetap menjadi “pentolan” dunia, tetapi bukan dalam bidang penciptaan perang, melainkan untuk bidang teknologi, industri, keuangan, ketersediaan SDM yang unggul, dan berbagai bidang lain.

Kita tidak minta supaya perusahaan-perusahaan yang ada merekrut anggota-anggota organisasi “ngeri” yang didominasi laki-laki ini, untuk dipekerjakan sebagai Sales Promotion Boy (SPB), yang dengan agresivitasnya akan sukses meningkatkan penjualan produk.

Dari kecenderungan organisasi-organisasi yang menampilkan sosok tiruan militer, dan sebagian lagi dengan sosok tukang jagal, akan lebih pas untuk dikelola untuk bidang yang sesuai karakternya.

Diperbantukan menjaga tapal batas RI, misalnya. Dipersiapkan jadi tukang jagal di RPH, boleh juga, apalagi dihubungkan dengan rencana swasembada daging sapi. Tentu setelah sapinya bertambah, kita juga akan kekurangan tukang jagal.

Juga tidak tertutup kemungkinan anggota-anggota yang mahir bertarung di jalanan atau di lorong-lorong, dilatih menjadi atlet-atlet handal di bidang olahraga beladiri, termasuk cabang olahraga anggar (bukan anggar jago).

Sebagaimana untuk menangani beberapa hal buruk lainnya, bencana, korupsi, atau narkoba misalnya, negara hadir secara institusional.

Maka, untuk mengelola agresivitas ORMAS dan OKP serta organisasi lain, yang sering mengganggu metabolisme kita, yang dapat dikatakan sudah dalam keadaan extra ordinary, juga diperlukan penanganan secara institusional, diatur oleh hukum dan perundang-undangan.

Indonesia sudah membutuhkan sebuah institusi, diluar POLRI, layaknya KPK sebagai sebuah lembaga adhoc yang menangani pemberantasan korupsi diluar POLRI dan Kejaksaan, untukmengelola potensi agresivitas ini. Hingga pada akhirnya nanti agresivitas yang dimiliki ORMAS dan OKP atau organisasi “ngeri” lainnya tidak lagi menjadi momok bagi kemajuan bangsa ini.

Di zaman Orde Baru, buruh melimpah dan murah dianggap sebagai salah satu “keunggulan komparatif” negeri ini untuk berkompetisi di tingkat dunia, dalam bidang industri. Bukan mustahil potensi agresivitas ORMAS dan OKP serta organisasi-organisasi lainnya, bisa dijadikan sebagai salah satu keunggulan komparatif negeri ini, untuk bangkit di antara bangsa-bangsa di dunia, di zaman “ngeri” ini.

Akan sangat disayangkan jika potensi agresivitas yang kita miliki ini hanya dikelola ala jalanan.

Akhirnya, penulis punya keyakinan untuk terwujudnya keharmonisan yang positip antar ORMAS, antar OKP di Kota Medan, dalam waktu dekat ini. Dan yang satu ini bukan sekedar intermezzo penurun tensi, karena terbetik berita bahwa penyebab bentrokan PP dengan IPK di Kota Medan, adalah dipicu masalah kecemburuan “sosial” dari salah satu pihak.

Begini keluhnya, “Pemerintah tidak adil… Satpol PP ada, Satpol IPK tidak … (***)

News Feed