oleh

Masihkah Kita Mencintai Danau Toba?

Hari Minggu, 14 Februari 2016, berjumpa dengan Ultri Sonlahir Simangunsong, ST, MT, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba Samosir, di Kedai Kopi H, Jalan Kartini 46, Pematang Siantar, setelah sebelumnya membuat janji pada pagi hari melalui pembicaraan di telepon.

Sebuah kejutan dalam perjumpaan itu, Ultri memberikan soft-copy dari buku SUPERVOLCANO TOBA, dengan anak judul Mengungkap Tabir Sejarah Terbentuknya Danau Toba, Menuju Kawasan Geowisata Berkelas Dunia, yang diterbitkan dalam rangka Promosi Geopark Kaldera Toba Melalui Komik Anak, untuk dipublikasikan secara serial di BatakToday.com.

Titik berat dari diskusi yang berlangsung dalam pertemuan pada sore hingga malam itu, lebih kepada tantangan dan peluang bagi masyarakat Danau Toba sekitarnya dan seluruh pemangku kepentingan atas ditetapkannya Danau Toba di bawah koordinasi Badan Otorita Danau Toba (BODT). Tujuan dibentuknya badan otoritas ini adalah agar pengelolaan Danau Toba dapat lebih terkoordinasi, sehingga iklim pariwisata di daerah ini dapat lebih cepat berkembang.

Dalam sejarah pariwisata nasional, se­­belum tahun 90-an, Danau Toba telah men­­jadi salah satu tujuan favorit wisa­tawan man­ca­­negara. Kondisi ini menurun sangat drastis pada krisis moneter ta­hun 1997-1998. Namun hingga saat ini, untuk kembali seperti keadaan sebelum krisis, sangat lambat pemulihannya.

Banyak faktor yang menghambat pemulihan Danau Toba dalam pengembangannya sebagai tujuan wisata. Dari banyak faktor tersebut, yang sangat elementer adalah perubahan fungsi danau dan perilaku masyarakat sekitar dan pelaku usaha daerah Danau Toba.

Perlakuan berbagai pihak selama ini menyebabkan degradasi atau penurunan kondisi lingkungan di Danau Toba. Mulai dari erosi dan pembakaran lahan, limbah domestik, limbah keramba jaring apung dan limbah peternakan sekitar Danau Toba, serta pemanfaatan bantaran danau yang tidak tepat. Akibatnya lingkungan dan air Danau Toba tercemar, serta terjadi sedimentasi di sejumlah tempat.  Tentu hal ini secara langsung mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang ke daerah ini. Banyak yang harus berubah dari sisi lingkungan untuk pemulihan pariwisata Danau Toba.

Ultri menyebutkan bahwa yang tidak kalah pentingnya adalah faktor kesiapan masyarakat sekitar Danau Toba, dan kesiapan pemerintah daerah dan pelaku usaha untuk bertransformasi.

Setelah berbicara tentang kesiapan Pemerintah Kabupaten Toba Samosir dalam hubungannya dengan pembentukan Badan Otorita Danau Toba, satu kalimat dari Ultri yang menantang BatakToday, untuk turut dalam gerakan yang sedang berlangsung, bahwa sebagai media yang mengandung nama Batak di dalamnya, harus turut bertanggungjawab dengan keberhasilan gerakan nasional untuk menghidupkan kembali Danau Toba.

“Molo holong do roha muna tu Tao Toba i, ala mamboan goar Batak do hamu, maningon dohot do hamu di ulaonta on. (Kalau masih cinta Danau Toba, karena membawa nama Batak, kalian harus ikut dalam gerakan ini),” tantang Ultri Simangunsong.

Sebelum berpisah malam itu, Ultri menitipkan sebuah puisi yang berjudul “Masihkah?” di kotak surel BatakToday. BatakToday mengartikannya sebagai pertanyaan dan tantangan untuk kita tentang masa depan Danau Toba.

“Masihkah kita mencintai Danau Toba…?” (***)

Foto:

Danau Sidihoni, danau di atas Danau Toba (ali basri tanjung/fb)

 Masihkah edited 3

News Feed