oleh

Medan: Ruang Pamer Kemesraan?

Oleh: Sahat P Siburian*)

Dua sejoli menunjukkan kemesraan di ruang publik, bukan adegan langka di kota Medan. Adegan semacam itu kerap menghiasi suasana di sekitar alun-alun kota, kawasan tempat konsumsi seperti di pelataran dan selasar toko serba ada atau pusat-pusat perbelanjaan (mal).

Kawasan tersebut merupakan infrastruktur konsumerisme dan bagian dari ruang publik kota Medan. Ruang ini mewadahi kepentingan publik atau masyarakat umum. Setiap warga, apapun status sosialnya, secara bebas bisa menjangkaunya. Di sana, terbuka pula kesempatan yang luas bagi setiap warga, perempuan dan laki-laki, untuk berinteraksi dan mempresentasikan diri.

Lakon mesra di ruang publik dipamerkan oleh sejumlah pasangan. Mereka mungkin sebagai pasangan resmi, tunangan, pacaran, dan lain-lain. Praktik mesra atau intim, menurut antropolog Martin Slama (2010: 11-12), tampak dari kedekatan tubuh dua sejoli.

Pose kemesraan itu sering pula melibatkan laki-laki bersama perempuan yang mengenakan baju/kaus pendek dan seksi. Ukuran baju/kaus di atas pinggul, ketat, dan berwarna mencolok.

Kedua sejoli itu, nyaris tanpa canggung, mementaskan fragmen singkat bertajuk: kemesraan. Berlangsung di antara lalu lintas puluhan bahkan ratusan pejalan kaki atau “pengunjung”. Pasangan itu telah menjadikan dirinya tontonan umum, tanpa merasa telah memperolok dirinya sendiri. Mereka justru seolah ingin pamer kemersaan di ranah publik.

Fenomena kemesraan di tempat-tempat umum, disebut Martin Slama (2010: 11-12), mengindikasikan suatu perubahan dalam kehidupan intim di Indonesia.

Kebebasan Individu

Terus-terang tiada pretensi untuk menilai “benar atau salah”, apalagi memvonis “baik atau buruk”, praktik kemesraan di ruang publik. Melainkan sekadar hendak menelusuri motif yang melatarinya dalam konteks sosial yang lebih luas.

Konteks sosial praktik kemesraan di ruang publik, merujuk uraian Martin Slama (2010: 18), berkaitan dengan modernitas, terpaaan media massa dan teknologi komunikasi. Media televisi dan film Indonesia juga mereprentasikan hubungan romantis sebagai semacam kebutuhan masyarakat modern yang harus dipenuhi (Martin Slama, 2010: 5-8).

Seorang ilmuan sosial Inggris bernama Anthony Giddens, lebih melihat keintiman dan demokratisasi sebagai dua faktor yang saling mempengaruhi. Demokratisasi signifikan mempengaruhi perubahan kehidupan intim. Keintiman pun merupakan elemen penting atau inti dari kebebasan individu, emansipasi, dan “demokratisasi kehidupan sehari-hari” (Anthony Giddens, 1992: 95).

Persepsi tentang kebebasan individu boleh jadi melatari motif praktik kemesraan di ruang publik. Atas nama kebebasan individu, setiap tingkah laku dianggap sebagai otonomi personal atau sebagai urusan pribadi. Ruang publik pun dianggap sebagai ‘milik pribadi’ dan tidak lagi diperlakukan sebagai ruang bersama.

Pemahaman sedemikian itu jelas terlalu dangkal dan sumir. Ruang publik merupakan wahana bagi setiap individu dan kelompok untuk saling berinteraksi dengan semangat toleransi. Esensi kebebasan individu pun bukan berarti bisa sesuka hati. Kebebasan individu tidak lepas dari segala macam ikatan sosial dan tertib sosial. Setiap orang memiliki kebebasan untuk melakukan apa saja di ruang publik asalkan tidak mengganggu orang lain dan melabrak norma sosial.

Asas Kepantasan

Lakon kemesraan dalam bentang ruang ruang publik dapat dianggap sebagai suatu bentuk privatisasi ruang publik. Privatisasi ini ditandai dengan adanya manifestasi tanda-tanda yang bersifat pribadi ke dalam arena ruang publik.

Namun rupanya praktik kemesraan di ruang publik bukanlah fenomena umum di setiap kota besar. Tidak semua pula orang yang berkenan mengekspresikan kemesraan bersama pasangan di ruang publik.

Para perempuan berjilbab di Yogyakarta menolak mengumbar kemesraan di depan umum. Mereka dengan tegas membedakan ruang publik dengan ruang privat. Ketika berada di ruang publik, mereka menutup seluruh tubuhnya. Tetapi di ruang privat, mereka aktif merawat dan merias diri (Yuyun Sunesti, 2012:4). Perawatan dilakukan antara lain dengan rutin memakai lulur mandi, creambath rambut, mewarnai rambut dan kuku (Yuyun Sunesti, 2012: 8).

Di Singapura, sesuai hasil observasi Chua Beng Huat (2000: 47-55) di pusat perbelanjaan Takashimaya Square, para pengunjung nongkrong dan ngeceng dengan tertib. Sangat jarang orang yang tampil bermesraan terang-terangan, kalaupun ada hanya bersifat insidental.

Bagi warga Singapura, insiden bermesraan di ruang publik bukan hal yang remeh. Karena kebanyakan warga, secara kultural belum bisa menerima “tindakan mengungkapkan emosi di depan publik” (Chua Beng Huat, 2000: 54).

Kondisi itu, jelas Chua Beng Huat (2000: 58-59), berkaitan pula dengan persepsi warga Singapura tentang tingkah laku yang pantas di depan umum. Setiap tindakan yang dianggap tidak pantas akan memperolok diri sendiri dan akan menjadi tontonan khalayak serta dituding “gila pamer”.

Dengan kata lain, warga Singapura memaknai ruang publik sebagai  ruang kultural, tempat melestarikan hal-hal yang sealur dengan standar nilai masyarakat. Di ruang publik terkandung berbagai aturan konvensional agar semua tertib dan teratur.

Manakala warga Medan mengganggap pamer kemesraan di ruang publik sebagai lumrah dan wajar, berarti ada pemahaman yang tereduksi dan urgen dibenahi. Seperti tentang makna substantif kebebasan individu dan asas kepantasan tingkah laku di ranah publik. ***

*) Penulis adalah Alumni Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya, tinggal di Medan.

News Feed