oleh

Media Sosial Ada untuk Menjumpakan 4,8 Milyar Umat Manusia

Berita tentang seorang anak perempuan, Kiki Pakpahan (10) yang tersesat, ‘nyasar’ di Siantar, dengan judul berita di Bataktoday:  Mohon Bantuan!!! Anak Perempuan Ini Nyasar di Kota Siantar, Selasa (28/6), oleh para Netizen (pengguna internet) tersebar melalui media sosial, terutama Facebook.

Dari laman BatakToday di media sosial Facebook, tercatat 9 mengomentari postingan ini, 223 menyukai, dan 828 kali dibagikan, serta menjangkau 63.882 pengguna Facebook.

Dari penelusuran yang dilakukan BatakToday, laman lain, yaitu Hutagalung Cyber, salah satu laman yang berlatarbelakangkan marga Batak, mem-posting isi berita yang sama, dan tercatat 8 pengguna mengomentarinya, 57 menyukai, dan 264 kali dibagikan.

Sebuah gejala terlihat, bahwa betapa pengguna media sosial ‘masih’ menunjukkan kepeduliannya tentang “orang lain” yang hampir dipastikan sangat sedikit sekali yang mengenalnya atau pernah bertemu dengan anak perempuan bernama Kiki.

Dari catatan di atas, baik dari laman BatakToday maupun Hutagalung Cyber, secara sederhana disimpulkan bagaimana pengguna media sosial, dalam konteks Kiki ‘tersesat’, lebih mengutamakan membagikan berita tersebut daripada mengomentari.

Kiki ‘bukan siapa-siapa’ di mata publik maupun media jika dibandingkan dengan politisi, pejabat negara, atau yang namanya dianggap sebagai selebritis. Namun, semoga kita sepakat, saat itu Kiki adalah seorang anak yang membutuhkan bantuan dan pertolongan. Sehingga para Netizen merasa lebih perlu menyebarkan berita itu, daripada mengomentarinya.

Terlepas dari kemudian diketahui bahwa Kiki bukan pergi meninggalkan sebuah Panti Asuhan di Kota Binjai, tetapi Netizen pada saat itu ‘dapat’ menangkap kebingungan, kecemasan, kegelisahan, dan mungkin rasa ketakutan dari seorang Kiki, anak perempuan yang masih sangat belia di tengah ‘belantara’ yang sering kita dengar tidak bersahabat untuk seorang anak.

Baca: Terimakasih Netizen, Sri “Kiki” Rezeki Pakpahan Sudah Dijemput Keluarga

Berbagai jenis komentar, terhadap postingan atau “share”-an berita tentang Kiki. Namun dari ‘sedikit’ komentar yang ada, sebagian besar adalah “izin share” dan yang lain terutama meminta kepada barangsiapa yang mungkin mengetahui keluarga Kiki, agar segera memberitahukan keberadaannya.

Hotma Hutagalung, seorang pengusaha kedai kopi di bilangan Jalan Kartini Pematangsiantar, dari ‘kasus Kiki’, menyampaikan suatu pandangan yang positip tentang masa depan media sosial dalam komunitas, bahkan untuk yang lebih luas lagi, dunia.

“Kalau lae buka sekarang, di Facebook keluarga, komunitas, kelompok perantauan, bahkan kelompok seperti LSM, mereka itu banyak sekarang, bahkan boleh dikatakan hampir separoh, ‘siar’-nya itu menunjukkan dan menebarkan kebencian. Ternyata kita dalam ‘kasus Kiki’ ini, bisa men-“share” sesuatu yang bisa menyelamatkan, terbukti begitu kan,” ujar Hotma.

Dia juga menambahkan, pemakaian media sosial untuk hal-hal positip harus dipelihara dan dipupuk, sebab dapat membantu mengatasi persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

“Ada barang yang hilang, ada anak yang hilang, bisa lebih cepat ditemukan dengan memanfaatkan media sosial. Jadi ini harus dipelihara dan dipupuk. Selain bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari, juga supaya orang bangga terhadap dirinya saat menyadari bahwa dia menggunakan media sosial itu memang sebagai media untuk menunjukkan karakter dalam kehidupan sosialnya,” tambah Hotma.

“Jadi media sosial ini tinggal kita mau pilih, positip atau negatip. Tapi saya pikir arahnya harus ke sana, ke yang berguna bagi kehidupan di dunia. Sebagai gambaran, Mark Zuckerberg, pendiri salah satu media sosial, bercita-cita Facebook digunakan untuk menjumpakan 4,8 milyar umat manusia di bumi ini,” ujar Hotma. (***)

Foto: Ilustrasi

News Feed