oleh

Membaca Biografi sebagai Sketsa Teologi

Oleh: Sahat P Siburian –

Kini semakin banyak orang yang mempublikasikan biografi maupun autobiografi. Puluhan buku biografi tokoh lokal, regional, dan nasional kian ramai dipajang di rak toko-toko buku.

Tentu beragam alasan mengapa menulis biografi seorang tokoh. Para ahli dan peneliti mumpuni tidak sembarang menulis biografi. Mereka ini lazim bekerja di luar imperatif dan proyek kepentingan parsial, tapi cenderung terfokus demi menggelorakan kajian akademis.  Fakta maupun data disajikan secara proporsional.

Biografi sedemikian itu, meminjam istilah sejarawan Asvi Warman Adam, seringkali berdimensi ’pelurusan sejarah’. Dimaksudkan untuk semakin memperkaya preferensi publik dalam memahami sejarah. Karena sejarah dapat terdiri dari ragam versi. Tidak mutlak harus jadi monopoli rezim tertentu sebagaimana gencar dilakukan penguasa Orde Baru.

Dalam terang perspektif tersebut, Asvi Warman Adam dalam buku bertajuk “Pelurusan Sejarah Indonesia”, terbitan Ombak, Yogyakarta, 2007, mendeskripsikan sejumlah buku biografi yang dapat membantu kita memahami sejarah Indonesia dengan cara baru.

Selain buku biografi karya peneliti mumpuni, ada pula biografi yang ditulis berdasarkan pesanan. Sajian biografi jenis ini cenderung dikemas sesuai keinginan pihak yang membayar atau kepentingan pemesan. Karakteristik semacam itu jamak ditemukan dalam buku-buku biografi tokoh pengampu pemerintah Orde Baru. Buku biografi diterbitkan dengan aksentuasi tertentu sekaligus sebagai medium pengesahan dan pengajaran sejarah versi penguasa.

Membaca Biografi

Terlepas dari motif yang melatarinya, ikhtiar menulis biografi dalam format buku membutuhkan ketelatenan. Jannerson Girsang menggambarkan suatu prinsip menulis biografi dan autobiografi dalam satu frasa “menulis fakta memberi makna”, lihat situs http://harangan-sitora.blogspot.co.id/ .

Artinya, penulis biografi tidak hanya menguraikan informasi, tapi juga melakukan rekonstruksi untuk memperlihatkan makna konkret kehidupan seorang tokoh. Ini menunjukkan bahwa buku biografi merupakan hasil antara obyektivitas faktual dan subyektifitas perekonstruksi fakta. Pemilihan fakta atau sudut pandang atas sebuah peristiwa lazim didasarkan pada pandangan tokoh bersangkutan.

Kendati begitu, setiap buku biografi niscaya memproyeksikan pengalaman hidup seorang tokoh dalam konteks sosial. Melalui biografi, kita berpeluang menjawab serangkaian pertanyaan. Apa pergumulan hidup yang dialami? Apa prestasi atau kisah sukses yang diraih? Siapa tokoh yang menginspirasi hidupnya?

Selain itu, dapat pula ditelusuri apa partisipasi maupun kontribusinya untuk memperbaiki kualitas hidup kita? Bagaimana dia menyikapi realitas sosial yang beragam? Bagaimana dia berinteraksi dengan orang lain yang berbeda kultur maupun agama?

Biografi juga memungkinkan kita untuk menelisik bagaimana seorang tokoh sebagai insan beragama membangun dunia sosial dan menjalani kehidupan sehari-hari. Pertanyaan ini bertolak dari asumsi bahwa setiap orang berkomitmen untuk mengekspresikan keyakinan teologisnya dalam relasi sosial. Dalam bingkai ini pula, biografi dapat dibaca sebagai suatu sketsa teologi.

Suatu Sketsa Teologi

Gagasan membaca biografi sebagai suatu sketsa teologi terinpirasi dari pandangan teolog Korea David Kwang-sun Suh. Ia mengatakan: “biografi adalah suatu sketsa teologi”. Hal ini diuraikan dalam esai bertajuk “A Biographical Sketch of an Asian Theological Consultation”, terbitan tahun 1981, sebagaimana termaktub dalam https://yakomaradio.wordpress.com/.

Pendapat David Kwang-sun Suh memang lebih terfokus pada ‘biografi sosial’ atau biografi rakyat Korea’.  Tapi kiranya relevan pula diaplikasikan pada setiap biografi personal, karena biografi seseorang maupun otobiografi pada hakekatnya juga merupakan sebuah dokumen sosial.

Lagi pula, biografi atau autobiografi insan beragama tidak mungkin vakum dari nilai-nilai teologis sesuai agama yang dianutnya. Setiap orang pada dasarnya memiliki komitmen untuk mempertahankan dan mempromosikan nilai-nilai etis-moral yang tersemaikan dalam dirinya. Hal ini akan mengejawantah dalam ucapan, tindakan dan perbuatannya.

Dengan kata lain, dari buku biografi dapat diidentifikasi bagaimana seseorang mengarungi kehidupan sembari mengeskpresikan pengalaman rohaninya tentang Tuhan dan segala yang diperbuat-Nya. Ini berarti, dalam biografi akan tercermin pula sketsa pandangan teologis seorang tokoh.

Memang sketsa teologi itu tidak selalu eksplisit termaktub dalam biografi seorang tokoh. Sehingga membaca biografi sebagai sketsa teologi jauh dari sederhana, karena memetakan korelasi antara keyakinan teologis dengan kiprah serta kinerja seseorang, bukan pekerjaan yang mudah.

Tapi hampir dapat dipastikan, pedoman maupun pegangan hidup seseorang memiliki hubungan kausal dengan bagaimana dia memaknai kehidupan dalam praktik sosial. Pada simpul ini, keyakinan teologis seorang tokoh, secara implisit atau eksplisit, akan mewarnai sikap dan interaksinya dengan dunia sekitar.

Terus terang, membaca biografi sebagai sketsa teologi membutuhkan penjelajahan yang lebih mendalam dan komprehensif. Termasuk harus memperhatikan variabel konteks historis dan sosial, karena suatu keyakinan teologis tidak luput dari konteks kehidupan bersama.

Salah satu langkah praktis yang dapat dilakukan, yakni dengan mengidentifikasi partikel-partikel keyakinan teologis seorang tokoh dalam biografinya.

Contoh sederhana dapat kita baca pada autobiografi Ahmad Sjafii Maarif, Ketua PP Muhammadiyah 1998-2005. Diberi judul “Titik-Titik Kisar di Perjalananku: Autobiografi Ahmad Sjafii Maarif”, Penerbit Mizan, Bandung, 2009.

Rupanya Buya Ahmad Sjafii Maarif pernah berada dalam perahu fundamentalisme dengan mendukung berdirinya negara Islam di Indonesia. Tapi sekitar 1979, beliau mengalami titik kisar dan berubah menjadi pendukung Pancasila (hlm. 186-207).

Lantas Ahmad Sjafii Maarif menyatakan bahwa kelompok-kelompok yang bercita-cita mendirikan sebuah negara Islam di Indonesia sungguh keliru.  “Bagiku cara berpikir semacam ini bukan saja usang dan tidak realistis, tetapi merupakan sebuah halusinasi politik yang sia-sia” (hlm. 197).  Pernyataan ini mengabstraksikan suatu sketsa atau gambaran ringkas teologi Ahmad Sjafii Maarif dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.***

Penulis adalah alumni Program Pascasarjana Studi Media dan Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya, tinggal di Medan.

News Feed