oleh

Membumikan Ideologi Pancasila

Oleh: Harmaini Sitorus*)

Realitas Indonesia terkini cenderung mengkhawatirkan, khususnya sejak awal proses hingga akhir pertarungan Pilkada DKI Jakarta yang terasa sangat dinamis. Hal ini ditandai dengan polemik penistaan agama, pengerahan massa besar-besaran, serta aksi simpatik karangan bunga dan lilin yang terjadi di ragam wilayah di Indonesia. Realitas ini perlu dicermati secara “sangat serius” sebab “sangat potensial” untuk memicu terjadinya perpecahan di tengah-tengah masyarakat.

Dinamika dan efek politik pilkada di ibu kota negara ini dinilai akan semakin menghangatkan geliat demokrasi di Indonesia, menjadi “semakin dinamis.” Apalagi, dalam waktu dekat, pada tahun 2018, pesta pilkada akan terjadi di 171 kabupaten/kota di Indonesia. Belum lagi, dinilai akan tiba pada puncak dinamikanya, menjelang Pilpres 2019 yang akan datang.

Di sisi lain, ruang perpecahan dan kekerasan tetap menjadi perhatian serius para pihak yang merasa terganggu dengan kebijakan strategis negara, khususnya kepentingan ekonomi dan kepentingan politik. Disintegrasi bangsa cenderung selalu disulut melalui ragam cara; mulai dari propaganda, provokasi, dan agitasi akan terus dicipta dan dikelola bahkan terus diviralkan melalui ragam media, terutama media sosial yang justru efektif hingga ke pelosok desa. Tidak sekedar itu, aksi kekerasan berupa konflik horizontal dan aksi keras bom bunuh diri sudah terjadi dan sudah bukan menjadi rahasia umum lagi.

Lahirnya Unit Kerja Presiden Pemantapan Idiologi Pancasila (UKP PIP) melalui Peppres yang ditandatangani Presiden RI dan (akan) diumumkan resmi awal Juni 2017 ini, adalah upaya nyata yang ditempuh pemerintah dalam menyikapi realitas potensi perpecahan dan kekerasan yang terjadi di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebenarnya, jauh hari sebelumnya, sejak 2015, potensi perpecahan dan kekerasan itu telah dirasakan, dianalisis, dan disahuti oleh komponen anak bangsa yang kemudian mendeklarasikan Gerakan Kebajikan Pancasila. Ada 5 orang inisiator gerakan ini, yakni: Buya Syafi’i Maarif, Gus Sholah, Sabar Mangadoe, Togi Sirait, dan Syaifullah Ma’shum.

Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila untuk anak di pedesaan melalui permainan yang menggembirakan, Rumah BelajarSianjur Mula Mula (Foto-Nagoes Puratus Sinaga)
Menanamkan Nilai-Nilai Pancasila kepada anak-anak pedesaan melalui permainan yang menggembirakan, Rumah Belajar Sianjur Mula Mula (Foto: Nagoes Puratus Sinaga)

Sebagai mentor Gerakan Kebajikan Pancasila, saya sangat apresiatif menyambut Perpres ini dengan suka cita, sebab sangat selaras dengan visi terbentuknya Gerakan Kebajikan Pancasila di satu sisi dan dapat menjadi solusi nyata dalam menyikapi dan mengatasi gejolak perpecahan dan kekerasan yang semakin membumi ini. Gerakan Kebajikan Pancasila mengusulkan, agar kiranya, salah satu Program Prioritas UKP ini adalah Membumikan Nilai-Nilai Pancasila melalui Strategi Kebudayaan Berbasis Pelestarian dan Pengembangan Nilai-Nilai Budaya dan Kearifan Lokal.

Akan semakin efektif jika spirit pemantapan ideologi pancasila ini dikelola secara sistemik dan melalui ragam simpul kepemimpinan, dimulai dari tingkat bawah hingga tingkat atas. Lebih efektif bottom up daripada top down, sebab manfaat hanya bisa diukur jika spirit pemantapan itu hidup dan bergerak melalui kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat; khususnya dalam bentuk rembug rakyat atau diskusi-diskusi di tingkat akar rumput. Pelibatan tokoh-tokoh desa hingga tokoh-tokoh nasional dengan support lembaga-lembaga negara terkait dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat, dan lembaga-lembaga adat terkait yang tentunya dibutuhkan dalam proses pemantapan. Dalam hal ini; komunikasi, koordinasi, dan konsolidasi yang baik menjadi dasar untuk mengukur efektivitas dan efisiensi unit kerja ini. Tidak asing lagi, ada sekitar 75.000 desa dan sekitar 1300-an suku di negeri ini. Gerakan bottom up ini tentunya selaras dengan cita Nawacita Nomor 3, yakni: membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.

Insan Gerakan Kebajikan Pancasila berharap, kiranya UKP PIP yang hadir sebagai lembaga baru ini, tidak berperilaku dan terjebak sebagai lembaga birokrasi. Lembaga ini harus dinamis, progresif, dan adaptif terhadap setiap dinamika perubahan yang terjadi, baik di dalam negeri, maupun dunia internasional.

*) Penulis adalah mentor Gerakan Kebajikan Pancasila

News Feed