Menagih “Bau TPL” kepada Menteri Luhut Panjaitan

Menagih “Bau TPL” kepada Menteri Luhut Panjaitan

222
Ilustrasi (Foto dan teks: Arif JV Girsang)

Oleh: Arif JV Girsang*)

“Saya tidak bilang soal TPL ditutup, tapi TPL harus mematuhi masalah lingkungan. Dia harus mengaudit mesinnya sendiri, karena sudah mesin tua. Dia harus ramah lingkungan, jangan sampai bau, dan dia harus memiliki HTI-nya sendiri yang cukup memenuhi kebutuhannya. Jangan sampai pohon hutan lagi dipotong untuk memenuhi kebutuhan dia.”

Ucapan di atas dari Luhut Binsar Panjaitan, saat ‘masih’ Menteri Koordinator Politik Hukum dan Hak Azasi Manusia, dalam keterangan pers usai acara penandatanganan nota kesepakatan Rencana Aksi Terpadu Penanganan Kawasan Danau Toba di Hotel Grand Aston, Medan, Senin 25/7/2016.

Baca berita: Luhut Panjaitan: Pencemaran Air Danau Toba Sudah Sangat Membahayakan

Hari ini, setahun lebih setelah Luhut Binsar Panjaitan, yang sekarang Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, mengucapkan tentang ‘bau’ dan hal lain yang harus dipenuhi PT. TPL.

Terakhir kali, penulis masih menghirup bau, ‘hasil’ dari pabrik PT. Toba Pulp Lestari (TPL) Tbk, saat memandang panorama alam Danau Toba dari tepi Jalan Sigura-gura, perbukitan Desa Tangga Batu II, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba Samosir, Kamis 14/9/2017 lalu.

Bau ‘tak ramah’ yang masih dihasilkan oleh proses pengolahan di pabrik TPL ini, sungguh tidak pantas dihirup orang-orang merdeka di Negeri Merdeka ini.

Tidak panjang, melalui tulisan yang juga pendek ini, ditagih kebenaran dari ucapan, bukan menagih janji. Sebab, jika janji, berarti hutang. Dan, barangkali Menteri Luhut Panjaitan tahu persis istilah parutang busuk, sehingga saat itu dia tidak menjanjikan bahwa tidak akan ada ‘bau’ lagi yang dihasilkan pabrik TPL.

Sekali lagi, yang ditagih kali ini hanya kebenaran dari ucapan Menteri Luhut Panjaitan, tentang bau, “Jangan sampai bau…!!!” (Kebenaran tentang isi ucapan lainnya, menyusul…)

*) Penulis adalah redaktur media online BatakToday.com