oleh

Menaruh Harapan di Desa dan Rumah Belajar

Oleh: Arif JV Girsang*)

Meskipun kau tak pernah ke desa, padi-padi terus tumbuh

Meskipun kau tak pernah ke kota, orang-orang terus gelisah

Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai

Desa dimiliki oleh orang kota, kota dimiliki orang desa

Petani mencari kerja di kota, orang kota mencari kekayaan di desa

Apalagikah yang tersisa bagi kau dan aku..

Dalam rangkaian perjalanan sepekan di Kawasan Danau Toba, penulis bertemu dengan politisi Senayan, dimana keduanya sedang ‘berjuang’ dari dan untuk masyarakat desa. Bertemu dengan pendiri salah satu yayasan yang mendirikan Rumah Belajar, mengelola Kapal Belajar, dan mengembangkan kampung konservasi. Bertemu dengan inisiator Gerakan Kedaulatan Desa. Dan tak lama, di akhir pekan,  menyaksikan liputan di salah satu saluran televisi nasional, tentang anak-anak dan penggiat di Rumah Belajar Sianjur Mula Mula.

Pekan yang menginspirasi, sekaligus membuat penulis berkeinginan mengajak untuk memasuki proses pelupaan terhadap segala kemelut di negeri ini, dengan gonjang-ganjing politik, radikalisme, kekhalifahan, dan termasuk juga perlawanan terhadapnya dengan “NKRI Harga Mati”, dan mengajak kembali ke Desa yang damai dan penuh harapan.

Pertemuan dengan politisi dan dengan orang-orang sederhana yang bekerja di jalan sepi, dengan segala tantangan dan kesulitannya, memberikan banyak kata yang perlu digarisbawahi. Namun kesimpulannya, setidaknya untuk Kawasan Danau Toba, berbagi peran untuk membangun Desa dan membangun Pendidikan menjadi hal-hal yang tergarisbawahi.

Biarkan Pemerintah Pusat maupun Daerah dengan segala programnya, yang kadang rumit, dimana orang desa apalagi anak-anak, tidak tahu kapan akan tercapai. Dan saatnya untuk ‘membalikkan’ keadaan, untuk tidak menunggu pemerintah membangun atau membangunkan masyarakat desa.

Kenyataan-kenyataan positip telah ada di depan mata, layak untuk ditiru dan didukung. Dalam bekerja mereka, politisi ‘ndeso’ dan orang-orang sederhana di pelosok negeri, tidak butuh publikasi seperti pejabat dan pemerintah membutuhkan media untuk menyebarluaskan pencapaiannya. Yang mereka tahu dan inginkan ‘juga’ Kerja…Kerja…Kerja…, tak perduli di jalan sepi atau terdengar ke Istana Negara atau ke Senayan.

Ketika kita sadar dan menyaksikan apa yang mereka perbuat untuk desa dan masyarakat desa, tak lagi ada keraguan untuk memulai ‘lagi’ membangun Negeri Tercinta dari Desa dan dari Rumah Belajar di pelosok Negeri.

Meminjam kalimat Nagoes Puratus Sinaga, Pendiri Rumah Belajar Sianjur Mula Mula yang berdiri jauh di desa pedalaman negeri ini, bahwa “Pendidikan itu ibarat sebuah proses menyiapkan suatu generasi, sifatnya estafet kepada generasi selanjutnya”, dan kata-kata anak binaannya, Fernando Simbolon, “Rumah Belajar Sianjur Mula Mula akan berdiri terus…!”, layak untuk menaruh harapan dari Desa dan dari Rumah Belajar, untuk kesejahteraan generasi ini maupun generasi selanjutnya.

Menyenandungkan penggalan syair lagu diatas pada petang di tengah  diskusi tentang bergerak dari desa untuk Indonesia, penulis mengakui kebenaran syair lagu Seperti Mata Air Kehilangan Sungai, milik Franky&Jane di akhir tahun 70-an, kecuali bait terakhirnya, “Apalagikah yang tersisa bagi kau dan aku…”. Sebab yang mereka, dan kita, lakukan dan akan lakukan dari Desa dan Rumah Belajar, bukan tentang yang tersisa, tetapi tentang apa yang akan disiapkan untuk generasi, di masa kini dan masa yang akan datang…!

*) Penulis sehari-hari bekerja sebagai jurnalis merangkap editor di media online BatakToday.com

News Feed