oleh

Mencari Makna “Spektakuler” di Simalungun

Oleh: Arif JV Girsang­*)

Memasuki Kota Parapat, Rabu lepas tengah hari (26/04/2017), datang dari arah Pematangsiantar, disambut sebuah billboard berisi kalimat Pemerintah Kabupaten Simalungun Mewujudkan Simalungun Baru yang “Spektakuler”. 

Kata-kata di billboard dilengkapi gambar Bupati dan Wakilnya, bisa juga sebaliknya, atau memang keduanya, gambar dan kata terintegrasi.

Penulis melanjutkan perjalanan setelah mengambil foto billboard itu, dan memasuki jalan besar Kota Parapat. Sampai di sini, belum menemukan sesuatu dari Kabupaten Simalungun yang spektakuler di kota itu. Barangkali di ‘sayap’ kota Parapat yang lainnya, di tempat-tempat wisata yang tersebar di pantai danaunya, atau barangkali di perbukitan yang memagari kota.

Melanjutkan perjalanan ke Tapanuli, dan malam harinya kembali melintasi Kota Parapat untuk kembali ke Pematangsiantar, belum juga menemukan sesuatu yang spektakuler. Demikian sebelumnya ketika melintas bolak-balik dari bagian Kecamatan Girsang Sipanganbolon, Dolok Panribuan dan Kecamatan Jorlang Hataran, di sepanjang Jalan Lintas Sumateranya.

Menyimak kalimat di billboard yang disebutkan di atas, kata “mewujudkan” sebagai predikat tidak diawali kata ‘sudah-sedang-akan’. Tata Bahasa Indonesia memang ‘payah’ untuk urusan waktu yang menerangkan masa terjadinya predikat, setidaknya bukan seperti bahasa Inggris. Predikat harus didampingi sesuatu yang menerangkan masa dilangsungkannya atau akan dilangsungkannya, atau setidaknya oleh keterangan waktu.

Namun kemudian kalimat di billboard itu menimbulkan pertanyaan, pada kata ‘spektakuler’nya. Wow, setelah menyontek sebagian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), spektakuler itu bisa sesuatu yang mencolok mata atau menarik perhatian.

Berarti, kata-kata di billboard itu bisa juga diartikan jadi Pemerintah Kabupaten Simalungun Mewujudkan Simalungun Baru yang mencolok mata atau menarik perhatian. 

Tentang kapan Pemerintah Kabupaten Simalungun mewujudkan, akhirnya terjawab, yaitu pada periode kepemimpinan Bupati dan Wakilnya, tahun 2016 sampai dengan 2021. Karena, gambar keduanya ada dalam billboard yang sama dengan kalimat itu. Sampai di sini tentu masih bisa disepakati arti dari kalimat itu, bukan?

Namun jadi sedikit membuat bahu terangkat, ketika diperhatikan baik-baik. Ternyata kata spektakulernya diapit tanda petik, dituliskan “SPEKTAKULER”. Tanda petik mengapit kata, bisa jadi karena kata tersebut memiliki arti khusus atau arti lain, atau kiasan.

Bisa “gawat” ini, kalau sampai kata “SPEKTAKULER” diartikan dengan menarik perhatian, tetapi menarik perhatian yang dimaksud juga diapit tanda petik, “menarik perhatian”. Sebab, “menarik perhatian” bisa berarti macam-macam sebagai akibat dari hal-hal positip maupun negatip.

Semoga saja hingga akhir periode kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Simalungun, hingga tahun 2021 nanti, keduanya melakukan hal-hal positip yang mewujudkan Simalungun yang “SPEKTAKULER” yang juga dalam arti positip.

Namun, pembaca tentu dipersilahkan untuk mengartikan sendiri kalimat yang ada di billboard itu, yaitu: Pemerintah Kabupaten Simalungun Mewujudkan Simalungun Baru yang “Spektakuler”…! Karena Simalungun yang sebelumnya, yang lama, belum spektakuler.

*) Penulis sehari-hari bekerja sebagai jurnalis, merangkap editor, di media online BatakToday.com.

News Feed