Mengintip Curhatan Presiden Joko Widodo kepada Ibundanya

Mengintip Curhatan Presiden Joko Widodo kepada Ibundanya

1857
Enha (Nurul Huda Haem), penulis buku Gusti Allah Mboten Sare, bersama Ibunda Presiden Joko Widodo, Sujiatmi Notomiharjo (Sumber Foto: Akun Facebook Enha)

Oleh: Enha*)

Kepada Ibunda Kepala Negara aku bertanya hati-hati, jujur wibawa sang Ibu begitu besar di hadapanku, bukan karena ia ibu dari seorang Presiden di Negeri sebesar Indonesia ini, tetapi karena kebersahajaannya, “Bu, setelah era Pilkada Jakarta, apakah Pak Jokowi ada menghubungi Ibu lalu apa yang dicurhatinya?”.

“Nak ustadz, Jokowi itu hampir setiap hari pasti menghubungi saya, itu kebiasaannya sejak kecil, ada apa saja pasti menghubungi saya, minimal mohon do’a, restu dan penguatan. Setelah pilkada selesai dan Ahok masuk penjara, Jokowi telpon ke saya, sepertinya ia bersedih, ‘Bu…. mereka ini maunya apa yaaaa, Pilkada sudah selesai, tapi kok yaa masih saja nuntut macem-macem’, saya hanya menguatkan dia Nak ustadz.” Tutur Bu Noto penuh keharuan, raut wajah sepuhnya sedikit menegang seperti menahan gejolak derita batin putra sulungnya.

“Tetapi Jokowi itu kuat, dia sudah biasa mandiri, kemandiriannya itu yang menguatkannya, dulu almarhum ayahnya sering berpesan, ‘kamu itu anak laki-laki, dan paling tua, kamu harus bisa menjaga dan memimpin tiga adik perempuanmu’, maka, dia tidak pernah merepotkan orang tua, semua dikerjakan dan ditanggung sendiri, tetapi semuanya pasti dibicarakan kepada saya, ya itu tadi, minta do’a restu dan penguatan.” Imbuh Bu Noto seraya mempersilahkan kami minum unju’an teh hangat dan otak-otak ikan. Aku menyeruput teh hangat nan segar itu dan mengambil satu bungkus otak-otak ikan kegemaranku. Aku mengambilkan satu air mineral gelas dan menyerahkannnya kepada Bu Noto, “monggo bu”, tiba-tiba mba Sita, sahabatku mengingatkanku, “Ibu masih puasa ustadz, nanti nunggu adzan maghrib”. Waduh, malu aku, sesepuh beliau kebiasaan puasa senin kamis nya masih istiqomah seperti sejak kukenal dulu.

“Bu, saat Pak Jokowi curhat soal kegaduhan di Jakarta, apakah beliau merasakan bahwa tekanan ini bukan hanya soal Pilkada tetapi ada upaya menjatuhkan beliau dari tampuk kepemimpinan?.” tanyaku menelisik lebih dalam.

“Ya begitulah Nak ustad, Jokowi memang merasakan hal itu, kasus Ahok hanya sasaran antara, entah apakah beliau akan dijatuhkan atau dihentikan di akhir periode. Tetapi saya selalu mengingatkan Jokowi untuk pasrah kepada Allah, Gusti Allah itu nda sare, Allah yang memutuskan segala yang terjadi bukan manusia.” Aku melihat wajah sang ibu menerawang jauh, mungkin pikirannya sedang melintasi ruang dan waktu menuju Istana Negara di Jakarta. Bu Noto juga menceritakan bagaimana fitnah dan berita hoax menjadi upaya paling mengerikan dalam menjegal kepemimpinan puteranya.

“Saya turut merasakan apa yang Ibu rasakan, karena itu izinkan kami berbuat Bu. Saya, mba Niken dan teman-teman masyarakat anti hoax tidak akan diam menyaksikan pemimpin kami mengalami tekanan dgn cara-cara naif seperti ini. Kami tidak akan diam Bu, seperti yang Abah Kyai Ahmad Mustofa Bisri katakan, “sing waras ojo ngalah”. Aku tidak tau apakah kalimatku ini membantu menenangkan Sang Ibu atau tidak, bagiku penting untuk menyatakan keberpihakan demi kelangsungan bangsa karena Presiden tidak boleh sendirian menghadapi semua ini.

Jokowi itu sangat mencintai Indonesia, dia mau ada perubahan yang lebih baik, dia tau negeri ini butuh keteladanan, sejak menjabat walikota, dia tidak pernah menerima uang gajinya, semuanya diserahkan kepada stafnya, mas David, untuk menyerahkan langsung kepada rakyat yang membutuhkan. Ini beneran nak ustadz, saya nda mengada2, dulu saya pernah iseng bertanya kepadanya, ‘Gajimu sebagai walikota berapa toh?’ Jokowi menjawab seperti yg saya ceritakan tadi, dia tidak pernah menerimanya kecuali hanya menanda tangani berkas penerimaan gaji saja.

Sejak menjabat walikota, Jokowi juga berupaya mendidik anak-anaknya agar bisa melanjutkan bisnis kayu yang dirintisnya sejak lama, tapi anak-anaknya nda berkenan, Gibran dan Kaesang malah merintis usaha catering dan martabak. Bisnis kayu dan pabriknya tetap berjalan dan dikelola orang kepercayaannya. Menurut Bu Noto, selama menjadi walikota, gaji sopir dan urusan dapur keluarganya benar-benar tidak diambil dari penghasilannya sebagai pejabat negara, “semuanya murni dari pabrik”, tegas Bu Noto.

Pamanku yang ikut dalam pertemuan di rumah Bu Noto yg sederhana ini, Gus Aang, Pengasuh Pesantren Assalam Bogor, sepertinya penasaran dengan model pendidikan seperti apa yang diterapkan kepada Jokowi kecil, “Apa ada keajaiban saat pak Jokowi kecil bu? Atau apa yang ibu lakukan kepada beliau?” Tanya Gus Aang. Bu Noto tertawa kecil, ia menjawab, “Nda ada yang aneh mas, seperti pada umumnya anak kecil dan ibu-ibu yang lain memperlakukan anaknya, saya hanya berpesan kepada Jokowi bahwa siapapun meski dari keluarga biasa-biasa saja akan bisa jadi orang besar dan berpangkat tinggi bila mau kerja keras, jujur, ikhlas dan tidak mau menyerah, itu yang saya tanamkan sejak Jokowi kecil.”

Sebuah jawaban yang kebenarannya kita saksikan sekarang, bangsa Indonesia tentu bangga memiliki Presiden yang visi dan misinya selalu kerja, kerja dan kerja. Semoga pekerjaan yang belum selesai ini dapat beliau lanjutkan hingga periode yang akan datang.

Adzan maghrib berkumandang, Bu Noto segera berbuka puasa, saya menyaksikannya penuh keharuan, kekuatan sang Presiden sedang duduk bersahaja hanya beberapa jengkal di sampingku. Bagi Pak Jokowi, Sang Presiden, dan bagiku juga, “Bila engkau mau berjalan memenangkan kehidupan jangan pernah lukai hati ibu, buatlah ia selalu tersenyum agar restunya membimbingmu menuju jalan kemenangan.”

Aku pamit dan segera mencium tangan Ibunda yang semakin tampak sepuh seraya lirih berkata, “akui enha sebagai anakmu ya bu,” dan airmataku mau tumpah saat beliau menjawab, “iya nak ustadz.”

Solo, 19 Mei 2017

Sumber: Akun Facebook Enha

*) Enha atau nama lengkapnya Nurul Huda Haem, adalah penulis buku “Gusti Allah Mboten Sare”