oleh

Menguak Harapan untuk Bona Pasogit, Belajar kepada Orang Batak di Papua

Oleh: Arif JV Girsang

Dari acara Syukuran atas Pelantikan Bupati & Wakil Bupati Toba Samosir, di Balige, Sabtu (28/3), satu pelajaran berharga untuk Tanah Batak disajikan oleh rombongan Keluarga Besar Kerukunan Masyarakat Batak (KMB) Papua & Papua Barat.

Ekspresi dalam kata-kata sambutan yang disampaikan beberapa anggota rombongan ini, memberi kesimpulan betapa masyarakat Batak di Papua dan Papua Barat, punya perhatian besar dengan nasib suksesi pemimpin di Toba Samosir, yang juga mengartikan keinginan mereka untuk mendukung secara aktif demi kemajuan Toba Samosir.

Keluarga Besar KMB di Papua, bersama beberapa saudara “kandung” dari Papua, hadir dalam acara syukuran ini menyampaikan harapan dan komitmen mereka dalam mendukung pasangan Darwin Siagian-Hulman Sitorus untuk memimpin Toba Samosir 5 tahun ke depan.

Di jolo ni na torop (di depan khalayak ramai) mereka menyampaikan pernyataan, bahwa mereka datang dari Papua ke Toba Samosir, mendukung ke-bupati-an Darwin bukan untuk kepentingan pragmatis, atau kepentingan  ekonomis berupa keuntungan dari bagi-bagi proyek, jabatan, keuntungan pribadi atau kelompok lainnya.

Semata-mata keinginan tulus untuk mengantarkan persembahan, yaitu seorang Putera Terbaik Batak di Papua, Darwin Siagian untuk mengemban misi mulia, mengabdikan diri sebagai Bupati di Toba Samosir, dengan berbekal pengalaman selama puluhan tahun membangun Tanah Papua.

Pemandangan yang sangat menggugah saat itu, melihat bagaimana orang  Batak di perantauan melakukan sebuah gerakan   untuk membangkitkan Toba Samosir sebagai bagian dari Tanah Batak.

Ketua Kerukunan Masyarakat Batak Papua, Keenan Sipayung, kelahiran Desa Dolok Maraja, Saran Padang, Kecamatan Dolok Silau, Kabupaten Simalungun, yang ditemui penulis pada petang harinya, memberikan tambahan atas gambaran yang sebelumnya dipertunjukkan di depan khalayak ramai dalam acara syukuran tersebut.

Penulis menyiratkan tanda tanya besar tentang keterlibatan Keenan Sipayung, selaku seorang Putera Simalungun, turut melakukan gerakan di Toba Samosir, justru bukan melakukan gerakan aktif di Kabupaten Simalungun sebagai kampung asalnya.

Sipayung mengawalinya dengan memberi gambaran tentang potret kesatuan orang-orang Batak dari berbagai “sub-etnis-nya” bisa ditemukan di Tanah Papua, yang jauh dari tanah leluhur orang-orang Batak.

Masyarakat Batak di Papua sudah menyatu dengan baik selama ini, punya organisasi. Dan kami perhatikan, pertimbangkan masak-masak, ternyata ada Putera Terbaik Batak yang ada di Papua, yang dapat menjadi semacam persembahan kami untuk tanah leluhur, untuk membangun di Toba Samosir sebagai bagian dari Tanah Batak.

Dia (maksudnya Darwin, red.) sudah puluhan tahun bekerja dan mengabdi untuk Tanah Papua, sudah banyak hal-hal baik yang dia lakukan di sana.  Lantas kenapa tidak melakukan hal yang sama di tanah kelahirannya, Toba Samosir?

Demikian juga dengan daerah lain di Tanah Batak, atau lebih luas lagi Sumatera Utara, kami akan dorong untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Darwin saat ini.

Tujuan kami yang sebenarnya, merubah image yang selama ini tentang Sumatera Utara, bahwa Sumut itu berarti semua urusan mesti uang tunai.

Kalau bisa, mulai sekarang mari kita berubah. Kita harus mau turut membangun tanpa menjadikan uang suatu tujuan, mau maju atau memajukan seseorang menjadi pejabat atau pemimpin tanpa menggunakan jurus-jurus politik uang..

Mendukung tanpa syarat, kecuali satu syarat, yang kita utus bagus-baguslah membangun tanah kelahiran, tanah leluhur. Seseorang yang kita dukung, harus tetap memegang komitmen awal, bahwa dia “kembali” untuk membangun Tanah Batak, membangun Sumatera Utara.

Kali ini Darwin Siagian yang berangkat pulang, selanjutnya  akan kita cari lagi putera-puteri terbaik untuk kabupaten  Simalungun, Karo, dan dan kabupaten-kota lain di Sumatera Utara. Hal ini mewakili keinginan kami, menjadi kontribusi kami anak perantau dalam pembangunan Tanah Batak,” demikian Keenan Sipayung.

Keenan, yang juga anggota DPRD Kota Jayapura dari Partai Amanah Nasional, dengan tegas menyampaikan pandangan tentang dibutuhkannya kesatuan dari berbagai sub-etnis Batak dalam membangun Tanah Batak dan Sumatera Utara.

Kelihatan apa yang diinginkan warga Batak perantau di Papua, mendapat respon positip dari Darwin Siagian sebagai “perutusan” mereka. Di awal masa tugasnya, setidaknya dari statement yang dibuat Darwin dalam beberapa kesempatan, memberikan harapan yang baik untuk perbaikan ke depannya.

Bahwa para jajaran PNS di Tobasa jangan memikirkan tentang mutasi untuk 6 bulan ke depan, yang perlu adalah meningkatkan kinerja. Bahwa nantinya penempatan pejabat di Tobasa akan melalui fit and proper test, baik untuk kita tanggapi secara positip.

Bahwa fee untuk mendapatkan pekerjaan atau proyek di lingkungan Pemkab Tobasa, tidak diberlakukan “lagi”, barangkali menjadi salah satu bagian dari lompatan besar di Tanah Batak, sekaligus bagian dari Revolusi Mental yang dikampanyekan Presiden Jokowi.

Keluarga Besar Batak Papua menari ala Papua dalam rangkaian acara Syukuran Pelantikan Bupati-Wakil Bupati Tobasa, Balige 28/3/2016 (ajvg/bataktoday)
Keluarga Besar Kerukunan Masyarakat Batak Papua, menari ala Papua dalam rangkaian acara Syukuran Pelantikan Bupati-Wakil Bupati Tobasa, Balige 28/3/2016 (ajvg/bataktoday)

Sinyal untuk adanya perubahan sudah diberikan Darwin Siagian. Mari kita ikuti arah sinyal yang sudah diberikan, kita awasi sesuai dengan keberadaan kita sebagai pemangku kepentingan di Tanah Batak.

Kita yang ada di Tanah Batak, maupun warga Batak yang ada di perantauan, dapat memetik pelajaran yang baik dari apa yang telah dilakukan saudara kita dari Kerukunan Masyarakat Batak Papua. Pesan yang disampaikan sederhana, bahwa orang Batak dari berbagai sub-etnis-nya dapat bersatu, bukan hanya di perantauan, tetapi di Tanah Batak sendiri.

Kemudian, mari kita tanpa syarat, kecuali bahwa setiap yang kita utus atau pilih untuk mengabdi di Tanah Batak, tetap menjaga komitmen untuk memajukan Tanah Batak.

Dan satu lagi, mari kita merubah pandangan bahwa Sumatera Utara itu, Sumut, bukan berarti semua urusan mesti uang tunai.

Pada malam harinya, rombongan Keluarga Besar Kerukunan Masyarakat Batak Papua dan Papua Barat, beserta saudara-saudara “kandung” dari Papua, bersama-sama menari diiringi sebuah lagu dari Papua, sebagai bagian dari ekspresi rasa syukur mereka atas “diterimanya” niat mereka sebagai anak rantau, untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tanah Batak.

Tinggal bagaimana kita yang ada di Bona Pasogit, Tanah Batak, untuk menyambut dan membalas tarian itu…

Foto:

Ketua Keluarga Besar Kerukunan Masyarakat Batak Papua dan Papua Barat, menyampaikan sambutan dan pesan dalam acara Syukuran Pelantikan Bupat-Wakil Bupati Tobasa, didampingi mantan Kadis PU Papua Gading Butarbutar, dan Kadis PU Papua Michael Kambuaya, Balige, Sabtu 28/3/2016 (ajvg/bataktoday)

News Feed