oleh

Menko Luhut Panjaitan: Sampah Plastik di Laut Bisa Mengubah DNA Manusia

Jakarta, BatakToday –

Kondisi laut yang sehat memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, karena 50-70 persen udara yang dihirup manusia berasal dari lautan. Sekitar 80 persen sampah plastik di laut berasal dari darat. Sampah tersebut telah merusak rantai makanan biota laut, yang dalam jangka panjang bisa berpengaruh buruk terhadap manusia.

Hal ini diungkapkan Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Panjaitan, saat membuka Konferensi Serpihan Plastik Laut Indonesia, Selasa (2/11/2016) di Jakarta. Ajang tersebut diselenggarakan oleh Kemenko Kemaritiman bekerjasama dengan Bank Dunia dan Kedutaan Besar Denmark

“Selain pemanasan global, pencemaran laut juga bisa mengancam keanekaragaman hayati. Diperkirakan 20 persen dari terumbu karang telah rusak secara permanen dan sekitar 24 persen terumbu karang berada dalam risiko kepunahan. Singkatnya, polusi mengurangi kemampuan laut untuk mendukung kehidupan manusia,” papar Luhut.

Karena itulah, imbuh Luhut, Indonesia sebagai salah satu negara kepulauan terbesar harus memiliki kemampuan untuk menjaga laut, dan penjagaan kelestarian laut ini harus dilakukan dengan serius.

“Sampah plastik (di laut) itu dimakan ikan, ikannya dimakan manusia, dan menurut sains, dalam jangka waktu lama hal itu bisa mengubah DNA manusia,” ucap Luhut.

Usai membuka konferensi, Menko Luhut kepada wartawan menjelaskan bahwa pemerintah mengajak masyarakat Indonesia untuk bersama-sama melindungi laut dari sampah. Salah satu alternatif solusi untuk menangani masalah ini adalah dengan mengkonversi sampah menjadi sumber energi.

Menurut Luhut, saat ini Indonesia sedang giat melakukan pengelolaan sampah menjadi sumber energi listrik sebagai salah satu solusi untuk mengatasi masalah sampah maupun kekurangan pasokan energi listrik.

“Salah satu mesin insulator yang merupakan sumbangan Dubes Denmark ada di Semarang berkapasitas 1,3 MW. Kemudian nanti menyusul di Solo berkapasitas 7,5 MW dan akan menyusul di tujuh kota lain seperti yang sudah diputuskan pada rapat kabinet,” kata Menko Luhut kepada wartawan.

Insentif

Pemerintah, menurut Menteri Luhut, mendukung upaya-upaya untuk mengurangi dampak negatif dari sampah.

“Negara-negara Eropa menyatakan siap berinvestasi di bidang ini. Pemerintah akan memberikan insentif, dimana listrik dari sampah akan dihargai 13-16 sen per Kwh, lebih tinggi dari listrik batubara yang 9 sen per Kwh,” ucap Luhut.

Menko Luhut menjelaskan, keberadaan mesin insulator sangat membantu pemerintah setempat dalam menyelesaikan masalah sampah sekaligus menyelesaikan masalah kekurangan pasokan energi listrik. Ia memberi contoh di Solo, setiap harinya sekitar 1.000 ton sampah akan diproses dengan alat tersebut, dan listrik yang dihasilkan diharapkan dapat membantu PLN dalam memenuhi kebutuhan listrik.

“Dengan kemajuan teknologi, mesin pengolah sampah juga bisa menghasilkan air yang siap diminum. Saya agak ngeri-ngeri juga tentang hal ini. Akan tetapi, sekarang semua harus paralel karena ini menyangkut kesehatan generasi yang akan datang,” kata Menteri Luhut, (Marc/bih-maritim)

News Feed