oleh

Menpar Arief Yahya: Industri Pariwisata Tulang Punggung Perekonomian Indonesia

Jakarta, BatakToday –

Presiden Joko Widodo makin meyakini pariwisata sebagai core ekonomi bangsa, maka banyak kementerian dan lembaga yang harus berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dalam membangun ekosistem, terutama dalam kaitan pengembangan destinasi dan industri pariwisata. Sektor ini juga ditempatkan sebagai prioritas pembangunan nasional, selain infrastruktur, pangan, energi dan maritim. Maka pariwisata betul-betul menjadi centrum (pusat) dan backbone (tulang punggung) perekonomian bangsa ini.

Hal itu diungkapkan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam kuliah umum pada acara Wisuda ke-37 Universitas Sahid Jakarta, Selasa (15/11/2016) lalu.

Menteri Arief menekankan, aspek sumber daya manusia (SDM) adalah hal mendasar yang harus dipersiapkan untuk menjaga sustainabilitas pariwisata sebagai core business. Diingatkannya, investasi SDM paling tidak kelihatan wujudnya, tapi sangat terasa impact-nya.

“Sejak di PT Telkom saya paling komit, bahwa investasi SDM itu sangat penting untuk win the future customers, maka saya banyak mengirim anak-anak muda potensial sekolah ke luar negeri,” cerita Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya di hadapan 274 wisudawan yang adalah calon-calon pelaku industri pariwisata itu mengungkapkan 3 alasan penting untuk menepis kekhawatiran terhadap masa depan sektor pariwisata di tanah air. Pertama, pariwisata Indonesia punya keunggulan di 4P (Product, Price, Promotion, Place). Kedua, sebagai industri kreatif, pariwisata juga menjadi core business Indonesia dan ke depan betul-betul menjadi backbone (tulang punggung) ekonomi negeri ini.

“Ketiga, dalam pengembangan SDM Pariwisata itu gunakan global standard, agar bisa bersaing di level global. Nah di kita, saat ini menggunakan regional standard yang sering disebut ASEAN MRA, Mutual Recognition Arrangement. Harus punya kompetensi se level ASEAN dulu saja,” kata Menpar Arief Yahya.

Menpar Arief Yahya pun mengajak wisudawan dan wisudawati Universitas Sahid Jakarta untuk terus menerus melakukan inovasi dan kreasi di bidang pariwisata yang peluangnya masih sangat terbuka lebar. Menurut Arief, saat ini terdapat 120 PTN dan PTS yang memiliki program studi kepariwisataan, yang telah bersepakat untuk berkoordinasi dan berpartisipasi aktif dalam pembangunan pariwisata.

“Selain itu juga komitmen untuk implementasi kurikulum berbasis kompetensi, mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), dan sertifikasi kompetensi terhadap semua lulusan yang berstandar ASEAN. Ini merupakan agenda program yang disetujui oleh setiap perguruan tinggi. Hingga tahun 2016, SDM Pariwisata tersertifikasi berstandar ASEAN berjumlah 200.000 orang. Sedangkan target 2019 adalah sebanyak 500.000 orang,” ungkapnya.

Tujuannya, ujar Menteri Arief, agar kualitas dan daya saing individu maupun kelompok SDM Pariwisata terus meningkat, baik di ASEAN maupun internasional, seraya menjadi fondasi yang kokoh bagi pembangunan pariwisata Indonesia.

“Secara khusus, perguruan tinggi pariwisata ini telah dibagi tugas untuk mendukung pengembangan 10 destinasi prioritas (10 Bali Baru), sesuai dengan kedekatan geografis maupun peminatannya. Ada di destinasi Danau Toba, Tanjung Lesung, Tanjung Kelayang, Kepulauan Seribu dan Kota Tua, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Mandalika, Labuan Bajo, Wakatobi, maupun Morotai,” katanya.

Menteri Arief mengatakan, peran perguruan tinggi diharapkan menjadi motivator, dinamisator dan fasilitator bagi seluruh stakeholder di setiap destinasi, sehingga pada akhirnya akan terwujud pariwisata berbasis masyarakat. Pemerintah dalam hal ini lebih mengedepankan tugas pokok dan fungsinya sebagai regulator, fasilitator (pendanaan, pembiayaan, pembangunan jejaring, dll.), dan supporting (pendukungan). Dengan demikian pada akhirnya pariwisata dapat menjadi urat nadi perekonomian dan kesejahteraan Indonesia.

Hadir pada acara wisuda, diantaranya Ketua Pendiri dan Pembina Yayasan Kesejahteraan Pendidikan dan Sosial Sahid Jaya, Prof Dr Sukamdani Sahid Gitosardjono; dan  Prof Dr Ir Rahman Abdullah, Rektor Universitas Sahid. (Phil/rel)

News Feed